Archive for May, 2011

May 30, 2011

Photo Documentation of “Taking Photographs with Simple Eyes” Photography Workshop

pemberian materi fotografi oleh julius tomasowa

para peserta workshop fotografi

suasana workshop fotografi

evaluasi & diskusi hasil karya workshop fotografi

foto peserta workshop fotografi

May 30, 2011

Photo Documentation of Bragakeun Bragaku Photography Workshop

First Workshop Presentation by Julius Tomasowa

Second Workshop Presentation by Galih Sedayu

Work Presentation from all workshop participant

Photo Clinique of Old Camera & Manual Lens Community by Ujang Bedog

Photo Group of All Workshop Participant

May 30, 2011

Video Highlight Klinik Foto Sabuga 2005

Video Highlight Program Klinik Foto Sabuga di Gedung Sasana Budaya Ganesha ITB tanggal 25 Juli 2005 yang diselenggarakan oleh APC Institute bekerjasama dengan Republic of Entertainment dan Sabuga.

http://www.youtube.com/watch?v=8BBmyea8_GQ&feature=player_embedded

May 30, 2011

Video Highlight of Braga Photo Fest 2007

Video Highlight Program Braga Photo Fest 2007 di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) Jalan Naripan Bandung yang diselenggarakan oleh APC Institute bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat (Disbudpar Jabar).

http://www.youtube.com/watch?v=7MzUHjQY0qk&feature=player_embedded

May 30, 2011

Kisah Sedih Media Fotografi

Oleh Karlina

Dunia fotografi berduka. Berbagai media fotografi yang muncul menghiasi berpamitan satu per satu. Media fotografi berguguran seperti daun kering yang diserang ganasnya tantangan. Perkembangan dunia fotografi rupanya tidak diikuti dengan cerahnya penjualan media fotografi. Apa yang menjadi penyebabnya?

Perkembangan fotografi menyesuaikan zaman. Sejak zaman dulu manusia berusaha mendokumentasikan peristiwa. Terlihat dengan adanya gambar-gambar pada dinding gua, kulit kayu, kulit binatang, relief, dan lainnya. Kebutuhan untuk mengabadikan peristiwa dapat terwujud dengan kemunculan fotografi. Dunia fotografi di Indonesia boleh bangga. Indonesia hanya membutuh waktu dua tahun untuk mengenal fotografi sejak ditemukan pada 19 Agustus 1939 oleh Louis Jacques Mande Daguerre.

Pergolakan politik Indonesia pata tahun 1998 memunculkan dominasi foto esai dan jurnalistik. Memasuki abad 21, perkembangan teknologi mulai memasyarakat. Kemajuan teknologi menunjang kemajuan peralatan fotografi menuju digital. Olah digital memancing kreativitas fotografer. Masyarakat lebih sadar teknologi. Fotografi memasyarakat dengan kemudahan fasilitas yang ditawarkan kamera digital.

Riadi Rahardja, pemilik sekolah fotografi INOVA, merasa turut berduka karena kematian media fotografi. “Banyak orang yang merasa kehilangan, terutama di daerah yang sulit untuk belajar fotografi,”ujar Riadi. Media fotografi banyak yang bangkrut karena kurang baik dalam menangani bisnis. Market yang ditujukan juga terlalu sempit karena membahas fotografi dasar berarti mengambil market amatir serius yang jumlahnya sangat sedikit.

Jika media fotografi dapat membentuk suatu spesialis mengingat perkembangan media sekarang banyak yang khusus komunitas. Secara prinsip, pemilik media menilai itu peluang bisnis. Misalnya, media kawasan Kelapa Gading di Jakarta. Media berdasarkan kawasan, belum  berdasarkan minat atau hobi. “Sebetulnya media fotografi masih punya peluang,”tegas Riadi. Hanya masalahnya bagaimana menggarap dan menilai siapa yang membutuhkan fotografi.

Urusan iklan harusnya tidak menjadi masalah. Tapi, sering kali medianya sendiri yang membatasi iklan hanya dari pengusaha fotografi saja. Padahal jika seorang mampu membeli kamera digital belasan juta, maka ia mampu membeli barang mahal lainnya. Di sini pemasang iklan mencari celah. Bisa iklan mobil, barang seni, atau lainnya.

Indonesia tidak bisa menghasilkan media yang sangat segmented.Media fotografi Indonesia masih general dan berusaha menjawab semua permasalahan. Literatur fotografi hampir tidak ada. “Jangan-jangan kemampuan menulis hanya sampai fotografi dasar saja,”kata Riadi. Pria lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi jurusan Hubungan Masyarakat tahun 1983 ini mengeluhkan tidak adanya media fotografi yang mampu memberikan penjelasan detail tentang lighting studio. Peletakan alat studio tidak dijelaskan, hanya diberikan contoh hasil. “Jika ada media fotografi yang bisa membahas hal seperti itu mustinya akan ditelah oleh orang-orang professional,”kata Riadi.

“Minat bacanya masih kurang,”kata Aceng Abdullah, Dosen Fotografi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran jurusan Jurnalistik. Orang lebih senang bertanya daripada harus membaca buku untuk mendapat ilmu fotografi.

Masyarakat Indonesia juga kekurangan daya beli sehingga walau tertarik sekalipun tidak mampu membeli media fotografi yang relatif mahal itu. Media fotografi harus banyak berjuang untuk memasyarakatkan fotografi diIndonesia.

Buletin PAF, Sesepuh Media Fotografi

Klub foto amatir berhasil bertahan selama 80 tahun di Indonesia. Eksistensinya pun tidak diragukan karena telah banyak mencetak fotografer andal dengan karya yang mengagungkan. Perhimpunan Amatir Foto (PAF) lahir pada 15 Februari 1924 dari sebuah pertemuan di Hotel Preanger, Bandung. Preanger Amateur Fotograafen Vereeniging, nama awal PAF, menjadi klub foto tertua di Indonesia yang masih aktif. Penggantian namaPreanger Amateur Fotograafen Vereeniging menjadi Perhimpunan Amatir Foto, secara de facto pada tahun 1954 ketika  Indonesia melaksanakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda. Tapi, secara de jure baru terlaksana tahun 1972.

Prof. C.P. Wolff Schoemaker, seorang arsitek Belanda lulusanTechnische Hogeschool-Bandoeng (sekarang ITB) yang karyanya antara lainGrand Hotel Preanger (Hotel Preanger), Villa Isola (Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia), Het Sterrewacht Bosscha(Observatori Bosscha, Lembang), Het Gebeo Gebouw (Kantor PLN, Bandung), De Groote Kerk(Gereja GPIB-Bethel), dan De Kathedraal (Jalan Merdeka) merupakan pengurus dan pencipta logo PAF pertama.

Anggota PAF menjadi bagian dari sejarah dengan foto-foto peristiwa keganasan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), Januari 1950, dengan tokohnya Kapten Westerling. Njoo Swie Goan (alm), anggota PAF, mengabadikan foto Kapten Lembong yang terkapar di jalan sebagai bukti sejarah.

Buletin PAF bermula dari tiga lembar bulletin yang bernama De Lens, yang tanggal terbitnya 10 Maart 1937 (nomor 3) dan Agustus 1937 (nomor 8) berisikan informasi tentang Het Eerste Nederlandsch-Indische Fotosalon(Juli-Agustus 1937) dan rencana Het Tweede Nederlandsch-Indische Fotosalon (25 Juli-2Agustus 1938). Foto yang masuk datang dari Pulau Jawa, Sumatra, Borneo, dan Celebes, bahkan dari luar Hindia Belanda, karena melibatkan peraturan pabean untuk izin masuk karya foto.

Sesepuh fotografi Indonesia, Prof. DR. R.M. Soelarko, menjadi motor penggerak PAF bersama Dr. Ganda Kodyat (alm) dan dibantu Dr. A. Kamarga (alm) selama tahun 1950-an dan paruh awal 1960-an. Generasi penerusnya terdiri atas Leonardi Rustandi (alm), Ir. Iin Hardiono, Ir. Ridwan Gunawan, Dr. J.O. Wuisan, Estian Agustia, dan Drs. Budi Darmawan, menerbitkan Bulletin PAF yang menjadi cikal-bakal Majalah Foto Indonesia, tahun 1969. Majalah Foto Indonesia menyelenggarakan event berjudul Lomba FI 1970, yang mempelopori Salonfoto Indonesia dan Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia pada 30 Desember 1973 di Taman Ismail Marzuki,Jakarta. Majalah Fotografi Indonesia berkembang menjadi MajalahFotomedia di tangan manajemen Kompas-Gramedia Group (1993-2003). Tulisan-tulisan Prof. DR. R.M. Soelarko, Leonardi Rustandi, Dr. A. Kamarga, dan Ir. Iwan Zahar, memperkaya pustaka fotografi lewat media fotografi.

Kepemimpinan PAF kini sudah beralih ke Dedy H. Siswandi.Bulletin PAF merupakan usaha warisan dari kegiatan PAF sebelumnya. Bulletin PAF menjadi sarana komunikasi antar anggota tampak lebih baik dari  mengalami kemajuan bentuk. Produk  yang ditampilkan sudah bermacam-macam. Media fotografi perlu terbuka untuk berbagai macam pemasang iklan, mulai dari Rp 30,000,. Bullein PAF adalah tanda eksistensi PAF di masyarakat fotografiBandung.

Pendanaan tidak lepas sehingga Bulletin PAF sanggup hidup hingga saat itu. Bulletin yang dibagikan secara gratis didanai dari iuran anggota fotografer. Iklan yang muncul merupakan perkembangan dari pendanaan. Iuran anggota PAF hanya Rp 100.000,00 per tahun. Dengan oplah 500 eksemplar, Bulletin PAF menjadi sarana media komunikasi anara anggota aktif dan pasif sehingga nilainya tinggi.

Bulletin PAF juga tidak lepas dari berbagai tantangan. Tahun 1998, saat krisis moneter melanda Indonesia Bulletin PAF terkena imbasnya. Bulletin PAF berhenti beredar. Molojaknya harga kertas menyebabkan Bulletin PAF hanya mampu hadir dalam bentuk newsletter pada tahun 2001-2002. Tapi, setelah memasuki tahun 2004 dibuat bulletin yang lebih baik.

Karakteristik kegiatan PAF merupakan wadah para amatir yang tidak berprofesi, tapi hobi fotografi, ada yang jobless yang akhirnya menjadi fotografer dan membuat media fotografi. Dalam menjaga komunikasi, PAF juga memiliki milis Bandung PAF. Namun, tidak semua bisa mengakses karena tidak aktif menggunakan internet. Pertemuan rutin setiap bulan di sekretariat PAF dan di sana dapat melihat papan komunikasi yang ada.

Jika ingin membandingkan, media fotografi di luar negri lebih spesifik daripada media fotografi di Indonesia. Misalnya, ada yang hanya berisikan perkembangan peralatan. Perkembangan teknologi digital juga dinilai menarik. Teknik konvensional kadang mencapai titik jemu karena bahannya kurang berkembang. “Segmen fotografi dasar itu selalu ada,”kata Dedy H. Siswandi. Fotografi dasar harus tetap menjadi sisipan dalam media fotografi Indonesia.

Indonesia lama untuk mencapai tahap spesifikasi media fotografi. Di luar negri bisa berkembang majalah-majalah yang terspesialisasi seperti fotografi outdoor, alat, binatang, dan lainnya. Bisnis media fotografi di luar negri bisa subur karena memang banyak pembelinya. Bahkan, orang yang tidak tertarik dengan fotografi juga membelinya karena menarik.

Konsep Bulletin PAF juga general sama seperti media fotografi lainnya. Seperti biasa karena untuk menjawab kebutuhan banyak pihak. Pembahasan berita utama biasanya tentang kegiatan yang aktual, info-info kegiatan dan lomba merupakan yang paling digemari. Galeri yang diletakkan di tengah majalah harus ada untuk mencirikan Bulletin PAF sebagai media fotografi.Galeri foto diambil dari pemenang-pemenang loba foto bulanan. Topik lepas dalam Bulletin PAF merupakan artikel kiriman anggota yang berisikan cerita tentang perjalanan ke tempat tertentu untuk hunting foto. Bahan info tentang teknis digital, konvensional, kamar gelap diambil dari majalah luar negri atau kiriman artikel dari anggota PAF.

PAF tidak membahas content foto karena foto-fotonya lebih menganutgaya salon foto¾foto yang mengutamakan kecantikan penampilan dan teknis kamera¾ tidak seperti foto jurnalistik. Bulletin PAF sempat menuliskan tentang fotografi sebagai seni. Namun, jangkauannya jadi terlalu luas. Pembacanya sendiri lebih menggemari pembahasan teknis kamera dalam pemotretan. Dalam penjuarian foto bulanan PAF lebih mengutamakan ide atau kreativitas, komposisi dan mutu cetak. Misalnya, sala satu kaya foto Dedy yang diambil tahun 2000 dengan teknis ditigal. Hal itu dinilai menarik karena temanya waktu itu tidak umum.

Ketika Fotomedia ditutup, banyak anggota PAF yang berduka. Akhirnya, mereka memilih media fotografi. Majalah lebih mudah dinikmati karena bisa dibaca sambil tidur-tiduran. Berbeda halnya dengan internet yang menyita waktu untuk duduk di depan komputer. Tapi, situs fotografi memudahkan orang untuk mengakses ilmu fotografi, seperti website fotografer.net. Fotografer juga lebih berani memamerkan hasil karyanya karena hanya tinggal menguploadfoto.

Tulisan sangat diperlukan dalam menjelaskan ide sebuah foto. Kepala fotografer dipenuhi oleh gambar sehingga kemampuan menulis kurang. “Foto bisa bicara, tapi bisa diperkuat dengan tulisan,”kata Dedy. Dengan menulis, konsep foto bisa tersampaikan. “Harus punya kemampuan verbal, baik menulis maupun lisan. Tidak hanya bisa memotret,”menurut Dedy.

Kematian media fotografi dapat disebabkan masalah komersil. Tapi, mungkin tidak direspon oleh masyarakat karena isinya kurang menarik. Segmen fotografi sangat sempit. Tapi, sekarang fotografi mulai memasyarakat lewat kamera digital. PAF juga berusaha memasyarakatkan fotografi dengan lomba Rally Foto yang bekerjasama dengan Fujifilm. Rally Foto lebih menekankan bukan pada sisi teknis pemotretan, tapi menjawab soal yang diberikan dengan gambar. “Itu salah satu cara untuk menggairahkan fotografi di masyarakat. Jika masyarakat terus-menerus dijejali media fotografi, mungkin akan bertambah komunitasnya,”kata Dedy.

Fotografi sebagai dunia seni memang tidak pernah usai. Kita tidak akan pernah usai mencari ilmu. Setiap foto memiliki psoses kreativitas. “Saya melihat majalah-majalah lama. Karena di kepala saya sudah ada konsep dan tujuan, begitu melihat foto saya terinspirasi. Inspirasi bisa datang dari mana saja,”kata Dedy. Tapi, tidak hanya berhenti di situ saja. Proses akhir harus tetap “eksekusi” dengan mencari objek yang akan difoto. “Biasanya trigger ide-ide muncul dari majalah-majalah,”kata Dedy.

Seorang pelukis dalam mencari ide sebelumnya melakukan kontemplasi. Pelukis itu bisa terinspirasi dari novel atau yang lain. Banya cara untuk mendapatkan ide. Perbedaan fotografer dengan pelukis terletak pada eksekusinya. Pelukis tinggal menuangkan idenya dalam kanvas, sedangkan fotografer harus terus mencari posisi akhir eksekusinya.

Teknis dalam media fotografi sangat diperlukan. Tapi, media fotografi harus memunculkan inspirasi baik dari tulisan maupun teknis.”Saya sampai sekarang punya ide, tapi tidak dapat dieksekusi karena kemampuan teknis saya kurang,”kata Dedy. Setiap fotografer memerlukan kehadiran media fotografi untuk mengapresiasi banyak foto untuk mengasah kemampuan. Mungkin, hal ini yang dapat menjadi celah untuk media fotografi yang hidup nanti. Semoga masih banyak cara untuk menghidupkan kembali media fotografi yang sudah mati.

Menelusuri Jejak Media Fotografi Indonesia

Media fotografi hadir menghiasi dunia fotografi sebagai media pembelajaran. Banyak fotografer yang mengalami metamorfosa dari ketidaktahuan hingga mencapai tahap professional. Tapi media fotografi harus bicara pada khalayak pembaca yang beragam. Pilihan yang muncul menjadi kendala di kemudian hari. Apakah kebutuhan semua khalayak fotografi harus disajikan dalam satu media? Hal ini berakibat media fotografi seakan ingin berlomba menjawab semua segmen. Tapi, pada akhirnya tidak semua segmen merasa terpuaskan.

Perkembangan media fotografi mengalami banyak rintangan. Baik yang muncul dari pembaca, maupun kendala manajemen. Tapi, mengapa sebuah media bisa mati? Kematian media fotografi pun tidak hanya terjadi pada satu penerbit. Media fotografi berguguran satu per satu. Jumlah yang berduka tidak sanggup menahan oplah yang tidak pernah bergeming. Ada apa dengan media fotografi.

Demi menjawab hal tersebut, penulis, Karlina Octaviany mewawancara Galih Sedayu, pekan lalu di Jonas Foto. Pria lulusan Manajemen Industri Universitas Jendral A. Yani ini tergabung dalam Persatuan Amatir Foto, Persatuan Fotografer Indonesia, Komunitas Pemotret Bandung, dan klub fotografi lainnya. Berikut petikan wawancaranya:

Apa saja media fotografi yang Anda ketahui?

Fotografi itu dunia yang luas. Jika bicara tentang media, berarti suatu wadah. Media fotografi yang berkembang di Bandung ada Fotoklik, Fotomedia, dan yang masih aktif Fotoplus. Dulu, Darwis Triadi membuat media fotografi A,walaupun kemuadian mati.  Bulletin PAF yang dibuat secara rutin untuk intern anggota PAF dan dibagikan secara gratis. Dulu, Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) di Jakarta mengeluarkan Fantasma dengan spirit jurnalistik. Hanya keluar beberapa edisi karena terhambat masalah dana sehingga akhirnya ditutup. Media fotografi berupa majalah yaitu Fotoklik dengan Prestige Foto Studio sebagai pengurusnya. Tapi, mati juga sehingga menyisakan sepenggal kecil media fotografi yang lahir dalam bentuk bulletin.

Apa yang menyebabkan media fotografi tersebut mati?

Berdasarkan penafsiran saya, orang membangun fondasi dari atas sehingga tidak kontinyu. Tidak hanya memerlukan spirit untuk menjadi pionir. Tetap diperlukan dana. Coba lihat bulletin PAF sebenarnya bentuk sederhana. Kita usahakan dengan swadaya pun bisa terealisasi. Tapi, untuk media fotografi yang eksklusif mengalami jatuh-bangun karena harus menghidupi karyawannya, dan membiayai percetakan. Jika tidak didukung dengan kemampuan manajemen dan dana, pasti mati. Ada juga media fotografi yang spesialiswedding, bernama My Perfect Wedding. Saat ini telah keluar dua edisi. Kita tunggu sampai berapa lama mereka bertahan? Saya hanya bisa mendukung.

Dalam membangun media fotografi, Apakah kemampuan fotografer harus bersinergi dengan kemampuan menulis?

Tergantung visi dan misi media fotografi itu. Misalnya, bulletin PAF yang berisikan karya-karya fotografer, kegiatan fotografi di Bandung, hunting foto, dan lainnya. Jika Anda melihat media fotografi Fantasma, memang diperlukan kemampuan menulis seperti jurnalis. Karena terdapat foto dan katerangan foto (caption photo).

Bagaimana tanggapan Anda tentang penyeragaman nilai foto dari sisi teknis dan mengabaikan makna foto?

Dalam Fotomedia terdapat rubrik tentang pengambilan teknis. Jika Anda mengirimkan foto ke sana harus dilengkapi dengan data teknis seperti ISO,shutter speed, diafragma, dan lainnya. Tergantung segmen. Jika untuk pemula masih “masuk” karena pemula wajib tahu tentang teknis kamera. Tapi, untuk level tertentu sudah tidak diperlukan teknik, lebih ke content terutama dalam duania jurnalistik. Data teknis dapat diabaikan dengan asumsi bahwa fotografer sudah mengerti teknis, tapi yang penting content. Apakah Anda pernah mendengar fotografer Kevin Carter? Dia memotret anak kecil Somalia yang sedang mengambil makanan. Namun, ketika itu anak tersebut jatuh dan di belakangnya terdapat burung Nazar. Foto itu mendapat Pulitzer, tapi fotografernya mendapat kecaman masyarakatKarena tidak tahan akhirnya fotografer itu bunuh diri. Ironisnya, anak yang jatuh itu tetap hidup. Foto jurnalistik tidak lagi membahas hal teknis, tapi bagaimana foto membawa pesan.

Mengapa media fotografi selalu membahas fotografi dasar?

Mungkin karena pendidikan fotografi di Indonesia tertinggal jauh dengan Eropa. Alat-alat fotografi juga ketinggalan 10 tahun.Jika di sana levelnya sudahadvance, di sini terus membahas fotografi dasar. Mungkin karena kultur orang Indonesia lebih lama menyerap ilmu fotografi dasar atau pengetahuan orang-orang hanya sampai dasar saja. Hal ini mungkin menyebabkan munculnya sekolah-sekolah fotografi atau kursus yang mengkhususkan diri pada fotografi dasar. Tapi, untuk level advance sebaiknya menimba ilmu lebih tinggi lagi. Makanya, banyak yang memilih belajar ke luar negri atau dengan otodidak. Banyak yang belajar dari buku-buku fotografi yang banyak beredar.

Menurut Anda, lebih efektif mana belajar lewat buku atau majalah?

Sama saja. Tapi, majalah memiliki keterbatasan media. Buku dapat membahas permasalahan dari awal sampai akhir. Kita tinggal menilai secara sistematis. Majalah membahas per edisi pengenalan kamera, berikutnya foto outdoor.Jika harus memilih, saya pilih buku.

Apakah ada korelasi antara kurangnya minat mendalami fotografi dengan matinya media fotografi?

Berdasarkan pengalaman, ada segelintir orang yang mempelajari fotografi karena keharusan untuk makan. Jadi, hanya bisa motret dan dari hasil itu mendapatkan uang. Tapi, ada orang yang ingin mempelajari lebih dalam sampai dikatakan fotografer professional sehingga ilmu fotografi digali lebih dalam. Ada yang ketika belajar fotografi dasar merasa tidak tertarik dan memilih membuka lab cuci-cetak. Ada yang memilih menjadi dosen. Dunia fotografi itu cakupannya luas sehingga pilihan orang terhadap aplikasi ilmunya itu berbeda-beda.

Jika fotografer terspesialisasi, apakah media fotografi juga akan terspesialisasi?

Bahkan ada sub-subnya. Misalnya kebutuhan akan fotografer fashion. Kebutuhan akan menjadi fotografer fashion yang cirri khasnya ekstrem, pictorial, kontemporal atau eksperimental. Suatu saat pasti akan ada kebutuhan seperti itu, tapi masih lama. Apalagi di Indonesia baru ada fotografer spesialiswedding atau portrait.

Apakah situs fotografi mempengaruhi penjualan media fotografi?

Pasti sedikit-banyak berpengaruh. Tapi, media fotografi dalam bentuk cetak sangat diperlukan. Berdasarkan pengalaman, fotografer atau pelaku bisnis perlu informasi tentang produk baru, bisnis yang lagi in, atau tentang teknis. Karena saya bergabung denan beberapa komunitas fotografi, saya tahu bahwa teman-teman fotografer lebih mudah mengakses informasi dengan membaca daripadabrowsing.

Apa penyebab kematian media fotografi secara keseluruhan?

Saya melihat, pertama pasar harus dicreate. Tidak ada yang memelihara komunitas. Setelah Fotomedia tidak ada muncul situs-situs internet seperti Fotografer. Net. Hal ini membuktikan bahwa mereka perlu komunitas. Media fotografi seperti Fotomedia, Fotoklik, dan lain-lain tidak menjaga komunitas pembaca. Kedua, untuk masalah modal tergantung pelaku bisnis. Tapi, yang penting rasa loyalitas muncul dari komunitas pembaca. Apabila dijaga dan dipelihara mereka aka loyal untuk terus membeli.

Segmen pembaca mana yang Anda nilai komersial?

Kesulitannya di Bandung belum merata. Di Jakarta mulai merata antara fotografer komersial, wedding, dan potrait. Saya melihat Bandung banyak yang bergelut di bidang wedding, banyak yang cenderung ke arah sana. Pada saat ingin berkerativitas mereka butuh wadah atau media yang menambah kemampuan mereka. Tidak perlu takut karena konsumen, pasti banyak yang membeli.

Harapan Anda terhadap media fotografi?

Pertama, fotografer senang jika karyanya medapat publisitas. Jika ada satu media bisa berisi tentang kara-karya fotografer. Tidak usah membahas teknis terus, tapi apa yang disampaikan oleh foto. Bisa juga tentang info produk. Timbul kebosanan karena pembahasan selalu fotografi dasar.

Akhir Tragis Media Fotografi

Sebuah kisah bahagia muncul ketika media fotografi tampak menjamur. Semua berpikir media fotografi adalah pangsa pasar yang komersial. Kemudian, media-media itu disadarkan oleh kejatuhan oplahnya. Euphoria itu langsung berhenti. Media fotografi terseret oleh defisit anggaran yang membebani mereka. Ada yang bertahan, tapi banyak yang tumbang.

Kematian media fotografi saling menyusul. Menyisakan luka yang mendalam bagi yang mengenalnya. Begitu banyak yang berduka, tapi tidak mampu mengubah kenyataan. Media fotografi dinilai sebagai media yang tidak mendatangkan profit. Berbagai cara sudah ditempuh oleh media fotografi untuk menaikkan pamornya. Penulis artikel dipilih orang-orang yag senior di bidang fotografi, mengikuti tren fotografi, dan banyak lagi cara.

Jumlah pemilik kamera di Indonesia yang cukup besar, mencapai jutaan. Sayangnya dari angka itu yang ingin mendalami ilmu fotografi tidak sampai 5%. Berbagai langkah telah ditempuh, tapi tidak membawa langit cerah pada media fotografi. Apakah kesalahan media fotografi?

Handoyo, mantan pemilik media fotografi, Fotoklik, mengungkapkan alasan penutupan media itu. Fotoklik beredar tahun Januari 2001. Terbit sebanyak 3000-5000 eksemplar. Pria lulusan Seni Rupa ITB ini pada awalnya mencita-citakan untuk berbagi ilmu kepada masyarakat tentang luasnya fotografi dan kemiskinan Indonesia akan ilmunya. “Tapi, tidak ada yang mau mengurus. Jadi, berhenti sekarang,”keluh Handoyo.Awalnya, Handoyo merintis usaha ini karena kecintaannya pada dunia fotografi. Bahkan, pria pemilik Prestige Foto Studio ini berusaha keras mempertahankan Fotoklik di tengah kerugian yang dideritanya.

Bahan untuk isi Fotoklik disadur dari internet dan menerjemahkan media luar negri. Tapi, untuk melakukan penerjemahan harus memiliki dasar fotografi yang kuat karena banyaknya istilah fotografi. Handoyo pernah mempekerjakan lulusan Sastra Inggris Universitas Maranatha. Hasilnya sangat mengecewakan. Bahasa yang digunakan sangat kaku sehingga tidak enak dibaca.  Fotoklik menangani semua segmen fotografi, baik yang professional, maupun pemula. Dengan berbekal tiga orang pengurus, Fotoklik hanya mampu bertahan tujuh edisi.

Proses pembuatannya sangat menguras waktu. “Sampai tidak tidur,”keluh Handoyo. Kemampuan utnuk menulis ulang nyatanya tidak mudah. Menerjemahkan artikel-artikel berbahasa Inggris membutuhkan proses yang lama. Mulai dari penerjemahan, editing, print ulang, bikin film, koreksi lagi,approve cetak, koreksi, baru dicetak. Tapi, tetap saja banyak yang terlewat seperti penulisan merk. Handoyo pernah mengalami peristiwa tidak menyenangkan karena review yang ditulisnya tentang kamera Samsung yang kurang baik. Perusahaan Samsung mengamcam menuntutnya karena tulisan Handoyo itu. Setelah dibujuk dengan iklan gratis satu halaman penuh dan berwarna, Samsung tidak berkutik. Tapi, lagi-lagi Handoyo merugi.

Biaya produksi untuk satu majalah mencapai Rp 10.500,00. Kemudian, dijual   Rp 15.000,00. Keuntungan yang didapat dari penjualan satu majalah hanya Rp 4.500,00. Namun, harus mendapat potongan 20% sehingga hanya menyisakan keuntungan            Rp 500,00. Sungguh tragis untuk nasib sebuah majalah hobi eksklusif. “Akhirnya, ini proyek rugi. TekorRp 80 juta,”ujar Handoyo.

Kesulitan yang paling besar dirasakan Handoyo ketika mencari SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkompeten di dunia fotografi. Sedihnya, tidak ada yang bersedia. Pertama, karena banyak menguras waktu. Kedua, kurangnya dedikasi yang tinggi pada dunia fotografi. Banyak orang yang takut karyanya dijiplak jika membagi ilmunya dalam media fotografi. “Ilmu fotografi itu tidak akan bisa dijiplak sebetulnya,”tegas Handoyo.

Handoyo mengeluhkan waktunya yang tersita karena pekerjaannya yang lain, seperti pemilik studio foto, arsitek, dan desain interior. Kadang, Handoyo harus bersedia merelakan Fotoklikyang seharusnya terbit satu bulan sekali molor hingga dua bulan. Sedangkan, media sangat memerlukan kontinuitas. Akibatnya pembaca menjadi malas sehingga penjualan menurun.

Kendala lain yang muncul ketika Handoyo harus mendistribusikannya. Dalam mendistribusikan media harus melakukan survei tempat yang akan memakan biaya besar. Padahal survei sangat bermanfaat untuk mengetahui tempat yang potensial untuk memasarkan media. Akhirnya, hanya bisa mendistribusikan ke Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, dan Surabaya. Sedangkan, kota-kota kecil merupakan potensial market. Seharusnya untuk pemasaran memerlukan sales. Tapi, dengan untung Rp 500,00 tidak mungkin untuk menggaji orang lagi.

Iklan juga menjadi masalah besar. Banyak pemasang iklan yang enggan masuk karena mahalnya harga pemasangan iklan. Tarif untuk satu halaman iklan mencapai Rp 7,5 juta. Para pemasang iklan mundur karena mereka lebih memilih memasang iklan di media dengan jangkauan nasional seperti Kompas.Handoyo membatasi iklan yang masuk harus berkaitan dengan fotografi.

Majalah fotografi di luar negri sukses karena mereka mampu menekan biaya produksi dengan jumlah pemasang iklan yang banyak. Pemasang iklan di Indonesia kurang menghargai majalah fotografi. Misalnya, Nikon¾produsen kamera¾ lebih memilih iklan di koran daripada media fotografi.

Banyak orang Indonesia kurang pengetahuannya di bidang fotografi. Mengapa? Karena miskinnya majalah fotografi dan perkembangan ilmu fotografi sangat miskin. Mungkin karena fotografi masih barang mewah di Indonesia. Karena negara kita berbentuk segitiga dan yang terbanyak kalangan bawah. Akibatnya fotografi tidak bisa dinikmati semua orang. Akhirnya, satu media fotografi gugur.

Mendekati Pasar dengan Wedding

Media fotografi yang spesialis sangat sedikit jumlahnya. Salah satunga adalah majalah Seasonsyang konsentrasinya di bidang wedding. Hasilnya ternyata tidak mengecewakan. Banyak sponsor yang berdatangan pada media gratis ini. Hadi Lesmana, pemilik majalah Seasons,merasa perlu mendekati pasar dengan hal yang berhubungan langsung dengan mereka. Sehingga pembaca tidak terbatas pada fotografer wedding saja, tapi juga para pengusaha dan orang yang hendak menikah.

Iklan yang masuk dapat dari berbagai aspek, seperti tata rias, gaun,event organizer, katering, dan fotografer. Pengusaha di bidang weddingternyata sangat menjamur di Bandung. Tapi, belum ada media di Bandung yang memfasilitasi mereka untuk berpromosi. Oleh karena itu, Hadi dan teman-temannya memutuskan membuka majalah yang bergerak di bidang wedding. Untuk isi, Hadi lebih memilih dengan sistem kerjasama  yang menguntungkan kedua pihak.

Spesialisasi merupakan hal yang sering dilupakan media fotografi. “Segmentasi mereka tidak kena sehingga masyarakat kurang aware,” kata Hadi. Media fotografi banyak bermunculan dalam wajah yang nyaris sama, mengupas fotografi dasar. Akibatnya, media tidak punya  ciri khas.

Perkembangan media fotografi  seharusnya menampilkan angle yang berbeda sehingga masyarakat tidak bosan. Hampir semua memilih fotgrafi dasar sehingga tidak menghasilkan sesuatu yang baru.

Dalam menjaga komunitas, Seasons akan memilih segmen pasar dengan meletakkan medianya secara terbatas terutama untuk kalangan menengah ke atas. “Sehingga kita dapat menghajar pasar secar jelas,”ungkap Hadi.

Media fotografi seharusnya sudah mulai berpikir segmented. Jangan ingin menjawab semua kebutuhan sampai tidak ada satu pun yang terpuaskan. Spesialisasi yang dipilih juga harus melihat target market yang ada. Pasar potensial harus segera dibidik sebelum ada yang mengambil duluan. Ingin menjadi perintis atau follower?

Media Fotografi Lemah Menangkap Pasar

”Kasihan, ”ujar Dudi Sugandi, redaktur foto Pikiran Rakyat (PR),menyayangkan banyaknya media fotografi yang berguguran. Kesalahan terbesar media fotografi pada kelemahan menangkap pasar. PR dulu pernah memberikan sisipan koran tentang fotografi yang bernama Klik. Tanggapan masyarakat sangat positif. Sayangnya, karena krisis moneter PR menguruskan halamannya hingga Klik harus tamat.

Klik lebih berisi tentang wawasan daripada teknis. Sedangkan, media fotografi banyak bergerak di teknis sehingga orang yang sudah memiliki keahlian fotografi malas untuk membeli. Pengelola media harusnya menyediakan orang yang suka menulis dan tertarik di dunia fotografi. “Jika dilandasi rasa suka, sebetulnya tidak masalah,”ungkap Dudi. Pekerjaan sebagai wartawan juga memiliki tingkat stress yang tinggi karena deadline. Tapi, karena mereka suka maka tidak terasa sebagai beban.

Bekal yang diperlukan dalam membuat media fotografi terutama dalam masalah SDM. Dunia fotografi baru dirasakan perlu ketika akan mendokumentasikan perjalanan. Tapi, orang lupa ketika presentasi mereka perlu fotografi, orang asuransi butuh untuk data, penjual properti, dan lainnya.

Perkembangan teknologi membuat dunia fotografi meningkat. Saat fotografi sudah memasyarakat, media fotografi sudah tidak ada. Media fotografi di sini bisa bertindak untuk mengenalkan dunia fotografi yang bersentuhan langsung dengan pasar. Misalnya, penerangan teknologi tentang kamera handphone yang sedang marak sekarang.

“Syaratnya, bisa membaca pasar sekarang, pasar dunia fotografi ke depannya, dan contentfotografi,”kata Dudi tentang syarat yang diperlukan media fotografi. Majalah otomotif yang juga bergerak di bidang hobi bisa lebih sukses karena pembahasannya menyentuh kehidupan sehari-hari. Sedangkan, kebutuhan akan fotografi baru terasa pada momen khusus. Tapi, sekarang fotografi sudah menyentuh kehidupan sehari-hari dengan kemunculanhandphonekamera. Media fotografi harusnya menangkap pasar yang dekat di hati masyarakat, bukan secara eksklusif.

Media fotografi bisa bergerak di bidang yang dekat dengan kehidupan, terutama fotografi digital. Banyak orang yang hanya tahu memakai, tapi tidak tahu fungsi kamera. Media fotografi harus dapat mengenalkan fungsi-fungsi itu. Misalnya, seseorang tahu jika dengan diafragma 5,6 hasil foto dalam kondisi yang sama akan bagus. Tapi, ia tidak mengerti mengapa diafragmanya harus 5,6.

Orang dulu berpikir untuk suka dunia fotografi karena hobi yang mahal. Misalnya, biaya kamera, film, cuci-cetak, dan lainnya. Jika suka pun mereka terus berpikir untuk balik-modalnya nanti. Akhirnya, fotografi kurang diminati karena dinilai terlalu eksklusif. Profesi fotografer juga belum dapat menjadi penghidupan. Misalnya, di PAF (Perhimpunan Amtir Foto) banyak yang suka fotografi. Tapi, menjadikan fotografi sebagai bagian dari hidup, bukan profesi.

Media fotografi kurang mampu membaca pasar dengan terus-menerus menampilkan fotografi dasar. Orang cenderung bosan karena hampir semua membahas hal yang sama. “Harus ada yang dimunculkan secara kreatif,”kata Dudi. Seharusnya

fotografi menangkap hal yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Misalnya, untuk kamera handphone dengan kemampuan megapixel yang ada mampu hingga perbesaran 4R.

Kemunculan situs fotografi dinilai Dudi sangat berpengaruh. “Sekarang orang bisa lebih belajar sendiri,”ungkapnya. Dulu, jika ingin otodidak harus banyak bertanya, membeli buku fotografi yang mahal, dan mengikuti seminar fotografi. Sekarang, ilmu fotografi lebih mudah diakses dari internet.

Media fotografi diperlukan untuk menambah pengetahuan. Fotografi dasar lebih cepat diserap dengan digital karena langsung dapat menilai hasilnya.  Lewat foto-fotonya di Pikiran Rakyat, Dudi mengharap masyarakat lebih tertarik dengan dunia fotografi. Misalnya, PR Minggu banyak memuat karya foto dengan teknis tertentu.”Orang akan terbiasa melihat foto-foto yang aneh,”kata Dudi. Suarat kabar memberikan pembelajaran pada masyarakat.

Perkembangan digital mengembangkan fotografi sehingga memasyarakat. Sudah saatnya, media fotografi mulai bangkit dari ketakutan akan kegagalan masa lalu. Masyarakat kini sudah mulai bergerak maju. Tinggal tunggu saja kapan media fotografi akan maju.

*Tulisan ini dimuat oleh APC Institute dengan menyadur tulisan yang dibuat oleh Karlina pada tanggal 15 november 2006 dari sumber http://journalin.multiply.com/journal/item/15/Media_Fotografi_Quo_Vadis

May 30, 2011

Menelanjangi Isu Plagiat Yang Sebenarnya : mengupas plagiat dalam fotografi dari tema, gagasan & bentuk.

Oleh Deni Sugandi

Isu plagiat, yang selalu berkonotasi seram ini, selalu mampir dalam berbagai wacana seni. Dalam wahana fotografi, kegiatan meniru dan menjiplak tersebut, hingga kini masih dalam batas abu-abu. Sampai sekarangpun, belum pernah ada kajian khusus apa itu plagiat atau bukan. Saya sendiri mencoba menyelami persoalan ini, menggali kembali peristiwa seperti ini yang pernah diungkap di media masa, dengan konteks untuk kebutuhan kompetisi fotografi.

Kembali pada tahun 1997, pada saat penyelenggaraan Salon Foto Indonesia (Foto Media, April 1998) pihak panitia dan juri menerima karya yang disebut plagiat. Tiga karya Okky Adiwijaya dinyatakan menjiplak, meniru kemudian menerbitkan dalam kontes fotografi nasional, SFI tahun 1997. Diantaranya karyanya dengan judul “Lover” peraih medali perak pada SFI ke-18 tahun 1997, yang ternyata sangat persis dengan karya foto Daniel J. Cox, dari sebuah artikel “How Pros Photograph Animals” pada majalah Popular Photography edisi Agustus 1996.

Begitu pula terulang, pada tahun 2000 lalu, karya Dedy H. Siswandi juara pertama untuk kategori Momokrom, dengan judul “Swimmer” pada SFI ke-21, disinyalir benar-benar meniru karya fotografer Choo Chee Yoong yang pernah diterbitkan dimajalah Photo Asia edisi Januari 1996.

Pada International Photo Contest, yang diselenggarakan oleh BINUS, tahun 2009, kembali tuduhan plagiat tersebut muncul. Kebebasan bersuara melalui jejaring sosial, Ricky N. Sastramiharja menyatakan dengan keras, bahwa karya Sutanta Aditya Lubis, sebagai pemenang lomba BINUS 2009 untuk kategori umum, adalah mirip dengan karya James Nachtwey, dengan judul “ Chechnya, 1996 – Ruins of central Grozny”

Sekali lagi, belum pernah ada kajian khusus. Baik itu dari fotografer senior pendahulu kita, seperti Alm. Kartono Ryadi, Santoso Alimin, Edwin Raharjo, Ir. Goenadi Haryanto, Stanley Bratawira, Paul I. Zacharia, Tubagus P. Svarajati, Budi Darmawan, Alm. K.C. Limarga, Solichin Margo, Aslam Subandi, Oscar Motuloh, jim Supangkat (baca Foto Media 1998 & 2000) tidak pernah menyatakan analisis khusus apa itu plagiat. Semua yang tertulis dalam artikel Foto Media tersebut hanya opini tanpa ada usaha untuk menjelaskan lebih dalam lagi persoalan ini. Sungguh sangat disesalkan, pekerjaan rumah ini belum pernah tuntas hingga kini, semenjak fotografi hadir pertama kali, menginjak tanah Batavia sejak tahun 1840.

Mengupas apa itu plagiat dan bukan tentunya memerlukan parameter tertentu, sehingga akan mudah untuk berpijak. Sistem menyamakan pemahaman terlebih dahulu adalah cara yang paling adil, dalam menilai apakah ini termasuk atau tidak. Arti plagiat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Online) http://pusatbahasa.diknas.go.id/, yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional RI mempunyai arti demikian:

pla•gi•at n pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri, msl menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri; jiplakan.

Dalam konteks visual fotografi bisa berarti meniru gagasan karya orang lain, kemudian menyatakan bahwa gagasan tersebut menjadi miliknya. Ini baru tahap gagasan saja, belum dilihat dari bentuk. Gagasan tersebut bisa saja ditiru karena faktor kognitif, sensasi-persepsi, memori dan imajinasi dalam melihat dan mencerap foto-foto yang pernah dilihat sebelumnya, kemudian dihadirkan kembali dalam bentuk gaya yang berbeda.

Bagaimana plagiat itu dikupas?
Perlu dipahami terlebih dahulu batasnya. Kita yakini terlebih dahulu bahwa dalam proses penciptaan karya tidak ada gagasan original. Sebaliknya, meniru nyaris sama itu pasti sangat memungkinkan. Jadi plagiat atau bukan akan mudah sekali dikupas. Cara apresiasi awal suatu karya foto ialah dengan mendeskripsikan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya, yaitu obyek foto (subject matter) meliputi di dalamnya adalah menyebutkan karater obyek-obyek yang muncul didalam foto tersebut; orang, benda, tempat atau kejadian/peristiwa yang terjadi.

Visual elemen atau unsur-unsur yang menyusun, mengatur dan membangun foto sebagai berikut: titik, garis, bidang, bentuk, cahaya, warna, tekstur, massa, ruang dan volume disebut bentuk dan teknis (form). Deskripsi tersebut dapat dilihat dari rentang nada (shades of gray/tonal) hitam ke putih, kontras obyek, kontras jenis film/negatif (noise untuk digital) kontras kertas, format film, sudut pandang, jarak obyek, lensa yang digunakan, pembingkaian, ruang tajam, tingkat ketajaman fokus dan sebagainya.

Media. Material pembangun karya foto tersebut. Misalnya cetakan momochrome dengan menggunakan media kertas cetak tertentu, dengan proses lanjutan (paska-produksi menggunakan teknik digital imaging). Deskripsi media pun meliputi seluruh aspek yang turut membangun terciptanya ekspresi seniman pada karyanya, serta dampak yang timbul pada pelihatnya.

Terakhir adalah melihat dari gaya/style. Adalah menyangkut kondisi sosial-politik-ekonomi dan semangat jaman saat itu (zeitgeist) termasuk didalamnya gerakan seni, periode waktu serta faktor geografis, yang memperngaruhi proses penciptaan karya. Ciri seperti ini bisa dikenali dari obyek foto, teknis pemotretan dan media foto.

Mengupas tuduhan palgiat Sutanta Aditya Lubis versus James Nachtwey
Dua anak, dengan menggunakan lensa lebar, memenggal separuh kepala anak tersebut. Point of interest gambar ini bukan anak tersebut, tetapi informasi yang terkandungnnya, lingkungan dalam gambar ini menjelaskan, sama-sama sebuah produk perang; James Nachtwey menjelaskan kehancuran sebuah kota di Central Grozn di Checnya tahun 1996 (Dengan judul Ruins of Central Grozn), sedangkan karya Sutanta Aditya Lubis memaparkan “perang” himpitan ekonomi di pinggiran kota. Bila disandingkan, dua foto tersebut memang terlihat sama, baik itu pemilihan sudut pengambilan-dari atas, perspektif yang dihasilkan dari efek lensa lebar atau menghadirkan kepala anak separuh, sehingga si pemotret bisa leluasa mengeksplorasi latar pendukung yang mewakili kekuatan anak tersebut. Ide dan gagasan sama, namun maknanya bisa berbeda.

Tema dan pesan kedua foto tersebut sama, sama-sama berusaha menampilkan sisi realitas manusia yang buram. Sisi buram ini yang saya lihat tidak lagi menampilkan manusia sebagai tokoh sentral atau sebagai subyek, melainkan sebagai obyek dari sistem sosial, budaya, politik dan sistem ekonomi tertentu. Jelas keduanya menggunakan narasi visual negatif.

Bila dianalisa dari alur dan bentuk, kedua foto tersebut nyaris memiliki pola yang sama, pengambilan sudut lebar, dengan demikian dapat mengambil informasi lingkungan yang lebih banyak. Dengan penggunaan lensa lebar, perspektif menuju pada titik yang sama. Bisa diperhatikan garis maya pada karya foto Sutanta, jalur kereta api, menuju titik perspektif yang sama dengan karya Nachwey, deskripsi rentang nada/tonal menggunakan pemilihan paska-produksi hiram dan putih, intensitas cahaya pada saat pengambilan, low kontras dan aspek teknik burning-dodging.

Dalam menterjemahkan gaya, baik Sutanta dan Nachwey, sama-sama menggunakan metode EDFAT, metode yang diperkenalkan Walter Cronkite School of Journalism and Telecomunication, Arizona State University. Sebagai metode EDFAT mungkin tepat digunakan sebagai pembingbing dalam setiap penugasan ataupun mengembangkan suatu konsep fotogafi pribadi (Motuloh, Oscar, 1999, hal 6). EDFAT adalah suatu metode pemotretan untuk melatih optis melihat sesuatu dengan detail yang tajam. Tahapan-tahapannya yang dilakukan pada setiap unsur dari metode ini adalah suatu proses dalam mengincar suatu bentuk visual atas peristiwa bernilai (Prasetya, Andhika, 2003, hal 26).

Huruf E, berarti “Entire” dikenal sebagai established shoot, ruang luas wilayah pengamatan, “Detail” adalah suatu pilihan atas bagian terntentu dari keseluruhan padangan terdahulu (Entire). Tahap ini adalah saat penentuan Point of Interest. Sutanta mengambil mata anak yang tertutup perban, karena menderita penyakit mata, bermaksud mengantarkan menuju lingkungannya (latar). “Frame” adalah proses membingkai detail yang telah terpilih. Cara pengaturan komposisi, pola, tekstur dan bentuk subyek pemotretan antara dua karya tersebut sama. “Angle” atau sudut pengambilan, sama-sama dilakukan dari atas, top angle, karena kedua fotografer sama-sama tinggi dibandingkan si anak tersebut. Tahapan terakhir dari EDFAT, adalah “Time” tahap penentuan kehadiran anak tersebut (saya berkesimpulan tidak ada upaya pengaturan subyek) pada seting waktu yang sama, sama-sama menggunakan kecepatan tinggi, membekukan gerakan. Hanya pemilihan ruang tajam saja yang berbeda.

Palgiat itu?
Karya Sutanta dan Nachtwey, baik itu dari bentuk, gagasan dan tema, jelas karya ini bila disandikan ada kesetaraan. Persamaan karya ini, ternyata mudah sekali terjadi. Kalau memang Sutanta menyadari karya ini ada kesamaan dengan karya fotografi sebelumnya, yang pernah dikenal publik (dipublikasikan) dan kemudian dihadirkan diruang publik, misalnya dalam lomba foto, tentu saja karya ini harus dipertanggung jawabkan pada publik pula dan Sutanta harus siap menjawab. Hal demikian lumrah terjadi pada dunia jurnalistik, lihat saja karya essay foto Rama Surya “Yang kuat yang kalah” bila dibandingkan dengan karya Sebastian Salgado dalam essainya “An Uncertain Grace” sebagian besar sama dan sebangun (congruent), yang sangat dipengaruhi gaya pemotretan fotografer-fotografer pendahulunya: Henri Cartier Bresson dan Eugen Smith. Sutanta Aditya Lubis terinspirasi karya-karya James Nachtwey adalah sah-sah saja. Tetapi bilamana karya tersebut turut membuka wawasan publik dan kemudian publik tergerak membawa perubahani, karya foto tersebut sudah tidak penting lagi, juga tidak penting lagi berbicara apakah itu plagiat atau bukan. (denisugandi@gmail.com)

Referensi foto:
http://6ix2o9ine.blogspot.com/2010/05/plagiat.html

*Tulisan ini dimuat oleh APC Institute dengan seizin penulisnya yaitu Deni Sugandi.

May 30, 2011

Merekam berbagai citra hidup dalam satu jiwa (Tulisan singkat tentang Photo Story)

Oleh Galih Sedayu

Di dalam dunia fotografi kita telah banyak mengenal istilah karya Single Photo (foto tunggal). Pada umumnya telah banyak para pemotret yang menghasilkan karya Single Photo tersebut misalnya saja foto seorang bocah kecil, sebuah bangunan tua ataupun sekilas pemandangan pagi. Ada istilah lain tentang karya foto dalam dunia fotografi yang berbeda dengan karya foto tunggal yaitu Photo Story. Ada juga yang menyebutnya dengan istilahPicture Story atau Photo Essay. Apa itu sebenarnya Photo Story?

Photo Story atau Foto Cerita adalah kumpulan karya foto yang dibuat dengan tujuan untuk menyampaikan sebuah cerita dari suatu tempat, peristiwa ataupun sebuah isu yang ada. Dimana foto-foto tersebut merepresentasikan karakter serta menyuguhkan emosi bagi yang melihatnya, berdasarkan sebuah konsep yang menggabungkan antara seni dan jurnalisme. Semua karya Photo Story merupakan kumpulan karya foto, tetapi tidak semua kumpulan karya foto merupakan karya Photo Story.

Ada dua Jenis Photo Story. Yang pertama adalah Foto Naratif yaitu kumpulan karya foto berdasarkan urutan dari sebuah kejadian atau peristiwa. Misalnya foto-foto tentang seorang ibu penjual jamu dimana si pemotret mengikuti dan merekam segala aktivitas ibu penjual jamu tersebut dari mulai mempersiapkan dagangan jamunya di rumah, berangkat keluar rumah untuk menjajakan jamunya hingga pulang kembali ke rumah. Jenis Photo Story yang kedua adalah Foto Tematik yaitu kumpulan karya foto yang memfokuskan pada sebuah tema sentral dimana foto-foto yang diambil tidak melulu mentitik-fokuskan pada sebuah tempat ataupun peristiwa tertentu. Tetapi foto-foto tersebut relevan dengan tema yang diambil misalnya isu pendidikan yang rendah, pengentasan kemiskinan, polusi pabrik dan lain sebagainya.

Adapun langkah- langkah yang dilakukan untuk membuat sebuah Photo Story yaitu:

  1. Tentukan sebuah topik atau tema
  2. Lakukan penelitian kecil
  3. Membuat sebuah cerita yang nyata
  4. Mencari emosi & karakter
  5. Eksekusi foto

Eksekusi Photo Story yang baik yaitu foto-foto yang   bercerita dimana foto-foto tersebut dapat berdiri sendiri, foto-foto dengan berbagai penyajian (sudut lebar, potret, detail), foto-foto yang memiliki urutan foto yang baik (menarik, logis & efektif bercerita), foto-foto yang memiliki Informasi & Emosi (mampu menyampaikan sebuah pesan yang baik) dan foto-foto yang menyertakan caption atau keterangan tentang foto.

Dalam proses pemilihan & penyusunan urutan Photo Story ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:

  1. The Lead Photo, yaitu Foto yang paling menonjol dari seluruh rangkaian foto.
  2. The Scene, yaitu Foto yang menggambarkan suasana atau tempat dari tema sentral.
  3. The Portraits, yaitu Foto potret yang dramatik & menggugah emosi.
  4. The Details Photo, yaitu Foto yang terfokus pada detail sebuah obyek misalnya bangunan, wajah ataupun benda.
  5. The Semiotic Photo, yaitu Foto sederhana yang memiliki nilai simbolis dan makna tertentu dari sebuah cerita
  6. The Signature Photo, yaitu Foto yang menangkap sebuah kesimpulan dari sebuah cerita.
  7. The Clincher Photo, yaitu Foto yang menentukan akhir dari sebuah cerita berupa harapan, kebahagiaan atau sesuatu yang membangkitkan inspirasi.

Ketika kita membuat Photo Story ada beberapa hal lain yang dapat mempengaruhi hasil karya diantaranya adalah penguasaan teknis pemotretan, wawasan & kreativitas pemotret, kejelian pemotret dalam merekam obyek foto, dan totalitas pemotret. Sehingga ketika kita memiliki semua hal itu, niscaya foto-foto yang telah kita hasilkan akan mengeluarkan sebuah citra yang utuh dari peristiswa atau isu yang kita pilih.

Akhir kata semoga segala citraan yang dihadirkan kembali oleh mata fotografi kita dapat menjadi adegan-adegan beku bersejarah yang terus dikenang dan terus dibagikan bagi kelangsungan peradaban cahaya juga bagi kelangsungan hidup manusia sampai akhir hayatnya.

A PHOTO STORY BY DILIP VISHWAMITRA BHATIA
“Happy Home and School for the Blind”

(c) Dilip Vishwamitra Bhatia

May 30, 2011

Menunggu Pemberontakan Fotografi

Oleh Ricky N.Sastramihardja

Potrét manéhna. Nu katampa minggu kamari.
Dipiguraan.Disimpen dihadé-hadé.
Anteng diteuteup.Jadi batur dina simpé
Aduh éndahna

Potret Si Dia. Diterima minggu lalu.
Diberi figura, disimpan dengan baik.
Terpaku menatapnya. Menjadi teman dalam sepi.
Oh indahnya…

Lagu Potret Manéhna , Ciptaan Adang Céngos & dipopulerkan Nining Méida.

Teknologi fotografi dewasa ini mencapai puncak evolusinya dengan berkembangnya teknologi fotografi digital. Bila 10 tahun lalu foto tercepat adalah foto yang diproduksi dengan kamera Polaroid, sekarang ini ini foto tersaji cepat melalui ponsel berkamera (atau kamera berponsel). Tinggal klik dan langsung jadi, tidak harus dicuci cetak terlebih dulu. 10 tahun lalu fotografi analog adalah klangenan dan permainan orang dewasa, kini fotografi digital menjadi bagian dari permainan anak-anak, bahkan yang belum bisa membaca sekalipun. Teknologi fotografi dewasa ini memang sebuah pemberontakan yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh Joseph Niépce, Daguerre, atau bahkan Ibnu Al Haitam/Alhazen yang mewarisi dunia dasar-dasar ilmu optik 1).

Fotografi tadinya hanya milik orang dengan kasta dan penghasilan tertentu, kini menjadi sesuatu yang biasa, murah, dan mudah. Biasa, karena bahkan hanya dengan sebuah ponsel berkamera setiap orang bisa memotret apa saja yang ia inginkan. Murah, karena tidak ada lagi pengeluaran untuk membeli rol film serta biaya cuci cetak, selain membeli perangkat kamera. Mudah, karena tanpa harus belajar banyak teori teknis fotografi seseorang bisa memotret. Kapan saja, di mana saja, siapa saja. Sepertinya mengulang impian George Eastman yang melahirkan Kodak Brownie pada tahun 1900 yang menginginkan fotografi yang mudah dan murah 2).

Pada perkembangannya, fotografi sebagai alat, adalah gabungan ilmu tentang mekanika, elektronika, komputer dan informatika, piranti lunak, juga optik. Sebagai sebuah hasil atau konten, fotografi berada di banyak wilayah: dokumentasi, jurnalistik, seni, hingga ilmu kedokteran. Ilmu Fotografi kemudian menemukan jatidirinya bersamaan dengan ilmu-ilmu lain. Bahkan di dunia antropologi, fotografi menjadi salah satu hal yang harus dikuasai para antropolog sebagai metode penelitian 3). Dunia kedokteran pun sangat akrab dengan dunia fotografi, misalnya dengan penggunaan mesin rontgen untuk memotret bagian dalam tubuh manusia. Para peneliti ekologi pun menggunakan perangkat jebakan kamera (camera trap) untuk memastikan keberadaan satwa liar yang hampir punah. Ilmu sejarah yang tergantung pada ilmu-ilmu lain, menggunakan foto sebagai salahsatu cara untuk menafsirkan sejarah masa lalu. Baru-baru ini terbit sebuah buku biografi Sutan Sjahrir yang ditulis oleh wartawan senior Indonesia. Bersama Ignas Kleden, Rosihan Anwar mengurai biografi tokoh pergerakan Indonesia yang tercantum dalam 100 foto yang berhubungan secara kontekstual dengan tokoh dan ketokohan Sutan Sjahrir 4).

Para petinggi militer pun menggunakan fotografi untuk kegiatan intelejen dan mencitrakan wilayah-wilayah tertentu yang dicurigai berkaitan dengan aktivitas musuh. Saya teringat pada film The Great Raid yang diputar sebuah televisi swasta beberapa waktu lalu. Film ini berkisah bagaimana pihak Sekutu pada perang Dunia II mengirimkan satu pasukan penyelamat untuk menyelamatkan tentara Amerika yang menjadi tahanan perang (POW) di Filipina. Keberhasilan pasukan tersebut tidak lepas dari data intelijen yang menyertakan sebuah foto udara (aerial) yang menunjukan lokasi dan posisi penjara militer Jepang yang jadi target penyerbuan.

Seorang Roland Barthes menggunakan medium fotografi sebagai sarana untuk mengembangkan teorinya tentang strukturalisme. Perlu diketahui, sebelum menulis Camera Lucida: Reflection on Photography pada tahun 1980 dengan premis ‘studium’ dan ‘punctum’ untuk menjelaskan ‘the impossible text’ 5) dalam sebuah karya foto, Barthes adalah peneliti dan penulis di bidang Kesusastraan serta Cultural Studies yang sangat berminat dalam pengkajian sinema dan fotografi. Sebelum Camera Lucida, Barthes pernah menuliskan pandangannya mengenai dunia fotografi dan pencitraan dalam ‘Image-Music-Text yang terbit tahun 1977. Nama Barthes dapat disejajarkan sebagai salah satu punggawa Strukturalisme yang bersumber pada Strukturalisme yang dihujahkan oleh Ferdinand de Saussure juga C.S. Pierce dalam ilmu bahasa (linguistik).

***

Pada perkembangan fotografi di tanah air, perkembangan fotografi sebagai ilmu inter-disiplin sepertinya masih belum segempita dengan fotografi sebagai karya dokumentasi atau ekspresi estetika. Masih sangat jarang ditemukan literatur yang membahas fotografi sebagai ilmu inter-disiplin yang tidak hanya melulu berbicara tentang teknis fotografi. Sekolah-sekolah tinggi dan universitas yang mengajarkan fotografi sebagai ilmu pun masih berkutat pada fotografi praktis, yakni cara dan teori memotret yang baik dan benar.

Dengan kata lain, institusi pendidikan masih berorientasi untuk menghasilkan fotografer yang ‘juara’ dalam hal teknis dan teori tentang memotret. Tidak jauh berbeda dengan lembaga pendidikan luar sekolah atau tempat kursus fotografi yang secara praktis memang bertujuan mencetak seorang fotografer. Saya rasa ini sangat berkaitan dengan kenyataan bahwa fotografi Indonesia sangat berkaitan dengan industri pencitraan dan komodifikasi identitas yang secara ekonomi menguntungkan banyak pihak.

Bisa dilihat misalnya dunia internet adalah tempat bertukar foto paling mutakhir bagi para penggunanya. Dalam sebuah jejaring sosial yang memberikan kemudahan dalam berbagi foto, setiap saat menawarkan berbagai foto yang dibuat oleh para penggunanya. Para pengguna situs yang memang berprofesi sebagai fotografer, mengunggah karya foto-fotonya — yang sebenarnya dapat dikatakan nyaris seragam– mulai dari foto bergaya jurnalistik, fashion, glamour, landscape, bahkan sekedar foto dokumentasi kongkow dengan sesamanya. Para pengguna situs yang bukan fotografer pun tidak mau kalah dengan mengunggah foto-foto yang sifatnya tergolong foto dokumentasi, bahkan dokumentasi kegiatan yang sangat pribadi.

Kegiatan fotografi yang ditayangkan di televisi pun masih sekedar sebagai penarik rating belaka. Saya masih ingat beberapa waktu lalu ada sebuah stasiun televisi yang menayangkan acara behind the scene-nya pemotretan model untuk sebuah majalah hiburan pria. Acara tersebut sebetulnya sangat menarik dengan hadirnya model-model perempuan yang cantik, berpakaian minim, dan berpose sensual. Akan tetapi, diskursus yang berkembang dari acara itu hanya dua. Pertama adalah diskursus berbagi masalah proses kreatif yang umumnya membicarakan pengolahan ide dan teknis. Diskursus ke dua adalah hal yang tidak tayang yakni pembicaraan para laki-laki di luar konteks fotografi: seksualitas dada dan paha. Kedua diskursus itu menempatkan fotografi hanya sebagai media ‘penggugah’ seksualitas. Program itu juga berhasil menyudutkan fotografi hanya sebagi aktivitas motret model dan landscape saja. Persis seperti yang selalu dirisaukan seorang kolega saya dalam berbagai kesempatan diskusi.

Itulah seperti apa yang saya maksud sebagai fotografi Indonesia masih lekat dengan berkaitan dengan industri pencitraan dan komodifikasi identitas. Fotografi Indonesia memang masih sangat ganjen dengan aktivitas memotret model dan landscape, sementara persoalan-persoalan lain disisihkan karena dianggap tidak komersial. Foto-foto bertema kebudayaan Indonesia pun akhirnya terjebak pada foto yang menampilkan budaya-budaya yang dianggap an sich dan eksotis: memakai baju adat/tradisional, menari, menabuh gamelan, melakukan aktivitas ritual, dan selesai sampai situ. Dengan kata lain, fotografi Indonesia masih menyimpan jejak-jejak kolonialisme yang akut di dalam tubuhnya. Persis seperti yang dilakukan oleh Kolonialis Belanda yang memotret eksotisme Nusantara sebagai upaya menaklukan negara jajahan melalui gambar 6).

Dunia pengkajian fotografi ilmiah pun masih dimarjinalkan. Masih sangat sedikit literatur yang bisa kita temukan yang membahas fotografi dengan keterkaitannya dengan ilmu lain. Bahkan literatur sejarah fotografi di Indonesia pun masih sangat minim. Buku-buku yang sudah pernah terbit tidak pernah dicetak ulang karena nampaknya fotografer Indonesia tidak terlalu suka membaca. Ini bisa kita buktikan dengan gugurnya banyak majalah foto di Indonesia. Sepertinya tidak banyak fotografer atau akademisi di Indonesia yang mau menggali hal-hal lain di luar persoalan teknis dan teknologi fotografi. Majalah-majalah yang masih ada atau situs-situs di internet yang berbahasa Indonesia pun lebih sering mengulas produk peralatan fotografi seolah hendak menjadikan fotografer menjadi mahluk yang konsumeristis dengan jargon teknologi canggih menjanjikan gambar yang baik.

Bila dibandingkan dengan sastra Indonesia misalnya, fotografi Indonesia jauh tertinggal. Sastra dalam evolusinya, hingga dewasa ini berada di dua ranah yang berbeda yang saling berkaitan satu sama lain: sastra sebagai ilmu, dan sastra sebagai karya. Sebagai ilmu, sastra berada di wilayah penelitian dan pengkajian karya dari berbagi sudut pandang manusia. Mulai dari pembahasan bahasa, teknis penulisan, hingga penafsiran makna. Sebagai karya, sastra diproduksi dalam kemasan yang dikenal orang diantaranya sebagai puisi/sajak, cerita pendek, juga novel. Wilayah proses kreatif dalam berkarya yang berhubungan dengan sisi teknis, saya rasa berada di wilayah ini. Dari sisi komersial, sastra juga memiliki tempat tersendiri, walau untuk hal ini masih jarang dibahas. Pembahasan komodifikasi sastra umumnya sering dibahas sebagai bagian dari cultural studies atau post-modernism yang berada di wilayah sastra sebagai ilmu.

Contoh lain di wilayah seni rupa, seni rupa tidak melulu berkutat pada masalah cara melukis, cara membuat patung dan sebagainya. Tetapi juga menguraikan simbol-simbol dan makna yang terdapat di dalam sebuah karya. Tidak pernah rasanya saya membaca artikel tentang keberhasilan pelukis Basuki Abdullah adalah karena ia melukis menggunakan kuas, cat, dan kanvas merek tertentu. Atau tentang perupa Tisna Sanjaya yang gemilang menciptakan instalasi bambu dengan memakai bambu merek tertentu yang dipotong dengan golok dan gergaji merk tertentu, misalnya.

Sebaliknya dengan dunia fotografi Indonesia. Di dunia fotografi Indonesia merk kamera tertentu dengan jenis lensa tertentu seolah menjadi jaminan kualitas karya foto seseorang. Kualitas fotografer seolah ditentukan dengan alat dan teknis yang digunakan, bukan pada bagaimana karyanya menjadi simbol keberhasilan pengolahan gagasan kreatif. Mengenai hal ini, seorang senior dengan sebal pernah mengatakan bahwa dengan membeli xxxxx (xxxxx: merk kamera sejuta umat di Indonesia) tidak membuat seseorang menjadi fotografer.

Berbeda dengan fotografi Barat sana (baca: Amerika Serikat dan Eropa). Dengan sedikit usaha melalui Google, saya menemukan banyak sekali situs yang membicarakan fotografi sebagai diskursus non-teknikal. Dengan beberapa kali klik di sebuah situs, dalam satu malam saja saya bisa mengunduh ratusan e-book tentang fotografi dan keterkaitannya dengan banyak hal. Mulai buku panduan memotret model bugil hingga memotret bebatuan dan kekayaan mineral. Mulai dari membahas fotografi sebagai media dokumentasi, fotografi dan ideologi, hingga fotografi sebagai piranti komodifikasi dan kapitalisasi. Di dalamnya terselip juga buku-buku yang menjadikan fotografi sebagai cara untuk mengembangkan pemikiran mengenai perkembangan budaya populer dan sistem pertandaan.

***

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam upaya mengembangkan fotografi sebagai ilmu dan sebagai karya. Dari segi ilmu, dibutuhkan banyak akademisi, penulis, dan pemikir yang mau meluangkan waktunya untuk turut serta mengembangkan fotografi agar bisa berkembang menjadi ilmu dan diskursus seperti yang terjadi di dunia seni lainnya. Dari segi karya, masih sangat terbuka peluang bagi para fotografer untuk melampiaskan kegelisahan estetika dan ideologisnya menjadi karya yang bisa disejajarkan dengan fotografer luar. Tidak sekedar mengekor Ansel Adams, Henri Cartier Bresson, atau Andy Warhol misalnya, tetapi bisa memiliki ciri khas pribadi yang bisa dikenang sepanjang masa. Bagi para fotografer komersial, teknologi fotografi digital telah membuka lapangan kerja yang luas dengan berbagai kemudahan yang memanjakan.

Dari sisi lain, memang diperlukan pula komunitas fotografi yang mendukung terciptanya alam dan atmosfir yang akan menghasilkan semua itu. Komunitas tersebut bisa berupa kelompok hobi, kelompok diskusi fotografi, atau institusi pendidikan fotografi dan seni. Tanpa habitat dan ekosistem yang sesuai, keinginan itu tidak akan pernah terealisasi. Karena bagaimanapun juga, menyitir Ibnu Khaldun, manusia adalah produk yang dikonstruksi oleh pemikiran dan kebiasaan sosial lingkungan tertentu. Harapan terbesar tentu ditujukan untuk lingkungan akademis di perguruan tinggi. Karena institusi pendidikanlah yang bisa melakukan penggodogan terhadap berbagai diskursus fotografi sebagai ilmu inter-disiplin yang bisa memanusiakan manusia, mengembalikan manusia pada khittah kemanusiaanya yang beradab. Para akademisi biasanya memiliki metode yang bisa dikembangkan untuk mendidik fotografer yang mumpuni secara praktis maupun secara akademik. Hal ini perlu dilakukan agar bisa meng-counter tekanan industri dan kapitalisasi yang hanya menempatkan manusia sebagai komoditas ekonomi belaka yang divisualkan dalam foto-foto, yang sebetulnya tidak bermakna apa-apa selain estetika yang semu dan palsu.

21 Februari 2010
Ricky N. Sastramihardja
Pecinta Kopi dan Fotografi

————————–
1)Ibnu Al Haitham atau Alhazen (965-1039 M), adalah ilmuwan Mesir yang menemukan dasar-dasar ilmu optik. Eric Renner dalam Pinhole Photography, From Historic Technique to Digital Application (Elsevier inc, London; 2010) menjelaskan bahwa Ibnu Al Haitam ini menulis dasar teori yang kemudian dikembangkan menjadi perangkat fotografi generasi awal, kamera obskura. Teori dasar Ibnu Al Haitam ini juga kemudian dikembangkan oleh Rene Descartes dan Johannes Kepler.
2)George Eastman adalah pendiri perusahaan fotografi KODAK yang sangat berambisi untuk menjadikan fotografi sebagai kegiatan yang mudah dilakukan. Tidak hanya untuk profesional tetapi juga untuk amatir, bahkan kanak-kanak. Kecerdasannya antara lain dengan menciptakan slogan Kodak yang terkenal, “You press the button, we do the rest”, yang kemudian diwujudkannya dalam kamera Kodak Brownie di awal tahun 1900. Baca:Encylopedia of Nineteenth Century Photographs Volume I, A-I. John Hannavy (ed.); Routledge New York; 2008.
3)Baca: Visual Anthropology: Photography As a Research Method. John Collier, Malcom Collier; University of New Mexico; 1986).
4)Sutan Sjahrir: Demokrat sejati, Pejuang Kemanusiaan. H. Rosihan Anwar, Penerbit Buku Kompas, Jakarta; 2010.
5)Dalam sebuah pengkajian mengenai semiotika, ST. Soenardi dalam Semiotika Negativa (Kanal, Yogyakarta; 2002) menyebutkan bahwa Studium adalah kebutuhan kultural akan fantasi, sedangkan punctum atau punctuation adalah identitas imajiner. Perlu diketahui juga, Barthes bukanlah fotografer walau ia memiliki minat khusus terhadap itu. Tidak pernah diketahui apakah ia memiliki karya foto atau tidak. Baca juga: Roland Barthes. Graham Allen, Routledge, New York; 2003.
6)Dalam sejarah panjang Kolonialisme di Indonesia, Yudhi Soerjoatmodjo mengungkapkan bahwa fotografer-fotografer asing dari Woodbbury and Page yang bertugas di Hindia Belanda, selain memotret untuk keperluan bisnis, juga memotret untuk keperluan penaklukan negara jajahan. Foto-foto tersebut dipergunakan sebagai cara untuk mendefinisikan wilayah Nusantara dalam kepentingan Kerajaan Belanda. Di sini mungkin penafsiran fotografi secara non-fotografis melalui ilmu budaya, sosial, dan politik dilakukan untuk memetakan kondisi negara jajahan. Fotografi ini juga melahirkan fotografi salon yang kuat pengaruhnya di Indonesia hingga dewasa ini.

*Tulisan ini dimuat oleh APC Institute dengan seizin penulisnya yaitu Ricky N. Sastramihardja.

May 30, 2011

Kassian Cephas, Legenda Pemotret Indonesia dan Saksi Sejarah Fotografi Tanah Air

Oleh galih sedayu

Kassian Cephas, 1905 (Courtesy P.Cephas)

Kassian Cephas. Tidak bisa dipungkiri bahwa nama besar tersebut erat kaitannya dengan keberadaan  dan identitas fotografi indonesia. Cephas banyak disebut sebagai pelopor pemotret pribumi yang pertama di indonesia. Terlahir dengan nama Kasihan di Kota Yogyakarta pada tanggal 15 Januari 1845, merupakan putra dari seorang ayah yang bernama Kartodrono dan seorang ibu yang bernama Minah. Tetapi beberapa literatur menyebutkan bahwa Cephas merupakan anak asli orang belanda yang bernama Frederik Bernard Franciscus Schalk dan lahir pada tanggal 15 Februari 1844. Setelah masuk kristen protestan dan dibaptis pada tanggal 27 Desember 1860 di sebuah gereja di Kota Purworejo, nama Kasihan berubah menjadi Kassian Cephas. Nama “Cephas” tersebut merupakan nama baptis yang sama artinya dengan Petrus dalam bahasa indonesia.

Cephas belajar fotografi untuk pertama kalinya kepada seorang fotografer dan pelukis yang bernama Isodore Van Kinsbergen di Jawa Tengah poda kurun waktu 1863-1875. Selain Kinsbergen, Cephas pun sempat berguru kepada Simon Willem Camerik, seorang fotografer dan pelukis yang kerap mendapatkan tugas memotret kraton Yogyakarta dari Sultan Hamengkubuwono VII. Pada tahun 1870 ketika Camerik meninggalkan Yogyakarta, Cephas diberi amanat oleh Sultan Hamengkubuwono VII sebagai fotografer dan pelukis resmi kraton Yogyakarta.  Karya foto pertama Cephas menggambarkan obyek Candi Borobudur yang dibuat pada tahun 1872.

Circa 1890. KITLV 40154; 11×16 cm ; albumen print

Cephas memiliki sebuah studio foto di daerah Loji Kecil yang sekarang letaknya berada di Jalan Mayor Suryotomo dekat Sungai Code di Jawa Tengah. Cephas pun mempunyai seorang asisten foto yang bernama Damoen. Nama Cephas semakin bersinar ketika Isaac Groneman yaitu seorang dokter resmi sultan asal belanda memujinya di sebuah artikel yang ia tulis untuk untuk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Lembaga Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia) pada tahun 1884. Kemudian Cephas bergabung dengan sebuah perkumpulan yang didirikan oleh Isaac Groneman dan J.W. Ijzerman mendirikan Vereeniging voor Oudheid-, Land,- Taal- en Volskenkunde te Yogjakarta (Union for Archeology, Geography, Language and Etnography of Yogyakarta) pada tahun 1885 ( yang selanjutnya disebut Vereeniging voor Oudheid). Karir Cephas pun semakin meningkat ketika ia bergabung dengan perkumpulan tersebut. Terbukti ketika karya-karya foto Cephas masuk ke dalam dua buah buku yang dibuat oleh Isaac Groneman, In den Kedaton te Jogjakartadan De garebeg’s te Ngayogyakarta dan diterbitkan oleh penerbit komersial Brill di kota Leiden pada tahun 1888. In den Kedaton berisi tulisan dan gambar collotypes tarian tradisional Jawa. Sedangkan De garebeg’s berisi tulisan dan gambar upacara Garebeg. Semua gambar foto collotype dibuat Chepas atas ijin dari Sultan Hamengkubuwono VII. Kompilasi karya Cephas pun kemudian dijadikan souvenir bagi kaum elit eropa yang akan pulang ke negaranya serta kaum pejabat baru belanda yang mulai bertugas di Kota Yogyakarta.

Tittle Page of De garebeg’s

Pada tahun 1889-1890 Pemerintah Hindia Belanda menunjuk Cephas untuk membuat foto tentang situs-situs Hindu-Jawa Kuno di Jawa Tengah. Dimana Candi Borubudur merupakan salah satu obyek foto situs tersebut setelah penemuan dasar tersembunyi yang memuat relief Karmavibhanga pada tahun 1885 oleh J.W. Ijzerman. Setelah berakhirnya proyek pengangkatan relief Candi Borobudur di akhir tahun 1891, jumlah foto yang dihasilkan Chepas adalah 164 foto dasar tersembunyi, 160 foto relief dan 4 foto situs Borobudur. Pada saat yang bersamaan, Cephas memperoleh status gelijkgesteld met Europanen (sejajar dengan orang Eropa) untuk dirinya dan kedua anaknya, Sem dan Fares dari Pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1892 Chepas diangkat sebagai anggota luar biasa Lembaga Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia. Cephas pun pernah mendapat kesempatan untuk memotret kunjungan Raja Rama V (Chulalongkorn) dari Thailand ketika raja tersebut menyambangi Yogyakarta pada tahun 1896. Salah satu jejak karya Cephas yang lain adalah Buku Wajang orang Pregiwa yang dibuat oleh Sultan Hamengkubuwono VII untuk kemudian diberikan kepada Ratu Wilhelmina dan Pangeran Hendrik dari Mecklenburg-Schwerin sebagai hadiah pernikahan mereka berdua.

Cover of the Wajang orang Pergiwa

Pada saat Cephas berumur 60 tahun, beliau mulai pensiun dari bisnis fotografi yang digelutinya. Dimana Sem, putra Cephas lah yang meneruskan karirnya di dunia fotografi. Tanggal 16 November 1912 menjadi hari yang bersejarah. Kassian Cephas meninggal dunia setelah mengalami sakit yang berkepanjangan. Cephas dimakamkan di Kuburan Sasanalaya yang terletak antara pasar Beringharjo dan Loji kecil. Begitulah sekelumit episode singkat tentang kehidupan Kassian Cephas, seorang pahlawan fotografi indonesia yang menjadi legenda. Yang ironisnya kadang dilupakan oleh sebagian individu yang menyebut dirinya fotografer indonesia. Walaubagaimanapun nama Kassian Cephas harus terus tercatat di dalam lembaran sejarah fotografi indonesia. Seorang tokoh yang begitu banyak menghadirkan jejak karyanya seiring dengan sejarah perkembangan bangsa indonesia. Agar menjadi bagi kita sebuah kisah yang terus menyulut api semangat dan menanamkan pohon inspirasi tidak hanya bagi para pewarta cahaya melainkan juga bagi sebuah bangsa yang merdeka.

Sumber Pustaka :

* Groeneveld, Anneke. (ed.). 1989. Toekang Potret100 Jaar Fotografie in Nederlandsch Indie 1839-1939. Amsterdam: Fragment.

* Knaap, Gerit. 1999. Chepas, Yogyakarta; Photography in the service of Sultan. Leiden: KITLV Press.

May 30, 2011

TRIBUTE TO NATURE – Pameran Fotografi & Digital Imaging @ Gedung Indonesia Menggugat…{CLOSED}

Menjumpai sahabat…

APC INSTITUTE bekerjasama dengan TEH KOTAK dan TELINGAMATA COMMUNICATIONSmengundang Rekan-Rekan untuk menghadiri Pameran Karya Fotografi & Digital Imaging

“TRIBUTE TO NATURE”

PAMERAN KARYA
Gedung Indonesia Menggugat (GIM)
Jalan Perintis Kemerdekaan No 5 Bandung
Tanggal 22 – 24 April 2011

AGENDA PROGRAM PAMERAN

KARTINI PHOTO SHOOT
Lomba Memotret Model Ala Kartini Modern
Halaman GIM
Sabtu, 23 April 2011
Pukul: 07.00 – 09.00 Wib.
3 orang pemenang lomba memotret model masing-masing akan mendapatkan trofi & hadiah sebesar Rp 1 juta.
Pendaftaran via email ke apc_institute@yahoo.com (mohon kirimkan data berupa nama, alamat, telepon, & asal lembaga/institusi)
FREE REGISTRATION
Model: Diah Kamil & Indah

(c) Diah Kamil

(c) Noni

PEMBUKAAN PAMERAN & PENGUMUMAN PEMENANG KOMPETISI
FREE INVITATION
Ruang Utama GIM
Sabtu, 23 April 2011
Pukul: 10.00 Wib.
Opening Performance: Laskar Panggung (Sutradara Yusef Muldiyana)


Pukul: 11.00 Wib.
Pengumuman Pemenang Kompetisi Tribute To Nature
Pukul: 12.00 Wib.
Makan Siang

FRESH & GREEN – Fashion & Architecture Photography Seminar
FREE ENTRY
Aula GIM
Sabtu, 23 April 2011
Moderator: Deni Sugandi


Pukul: 13.00 – 14.30 Wib.
“Fashion Photography Seminar”
Pembicara: Nurulita Adriani (Fotografer Fesyen)

Portfolio Nurulita Adriani


Pukul: 15.00 – 16.30 Wib.
“Green Architecture Photography Seminar”
Pembicara: Ridwan Kamil (Arsitek & Fotografer)

Portfolio Ridwan Kamil


MUSIKAMERA –  ACOUSTIC LIVE PERFORMANCE
FREE ENTRY
Aula GIM
Sabtu, 23 April 2011
Pukul: 18.30 – 21.00 Wib.

MUSISI PENGISI PROGRAM

*Teman Sebangku
Adalah sepasang teman berasal dari kota Bandung yang menyukai musik dan menjadikannya sebagai media untuk berbagi, apapun ceritanya. Si lelaki memetik gitar nylon (Dolly Harahap) dan si perempuan (Sarrringa) bersenandung. Semoga kamu senang mendengarkannya.

*Pidi Baiq
Manusia nyentrik ini merupakan seorang Imam Besar The Panasdalam. Lahir pada tanggal 8 Agustus 1972 dan saat ini tinggal di Kota Bandung. Pidi Baiq merupakan lulusan FSRD ITB dan lain-lain setelah itu. Ia juga menjadi ketua “Front Pembela Islam Kristen Hindu & Budha. Aktif menulis dan telah menerbitkan buku “Serial Drunken”. Hal yang paling disukai olehnya adalah bahwa Ia merupakan ayah dan suami terbaik di dunia. Musisi ini merupakan penyanyi tunggal & merangkap pemain gitar, yang akan menampilkan beberapa lagu andalannya selama setengah jam. 


*Cozy Street Corner
Band ini mendefinisikan grup musik mereka sebagai sesuatu yang “Hangat & Nyaman”. Berdiri pada tanggal 8 September 1986. Kelompok musik yang terdiri dari 3 (tiga) orang penampil ini, memilih format memainkan alat musik, menciptakan dan membawakan lagu sendiri dari panggung ke panggung pertunjukan (keliling). Dengan konsep musik yang menonjolkan orisinalitas dan ke’Indonesiaan’ (baca: indigenous), mereka ‘bergerilya’ mempromosikan konsep produk musik dalam bentuk album serta format ‘live’, termasuk ‘paparan musikal’. Dalam penampilan karya dan pertunjukan (live performances) Cozy Street Corner mengutamakan pada kesederhanaan materi, mudah diterima dan dicerna, juga peduli pada detil-detil untuk mencapai kesempurnaan komposisi, harmoni dan daya tarik karya secara utuh. Cozy Street Corner juga senantiasa menghadirkan suasana cozy serta komunikasi yang ‘cair’ baik antar para penampil maupun dengan pemirsanya.


DOOR PRICE
Bagi para pengunjung pameran akan disediakan door price berupa 2 BUAH SEPEDA MTB & SOUVENIR di penghujung acara pada hari sabtu tanggal 23 april 2011.

PESERTA PAMERAN
Agum Kurniawan (Jakarta) – Agus Sucipta (Bali) – Ahmad Samsudin (Semarang) – Anom Manik Agung (Bali) – Ari Sanjaya Liem (Jakarta) – Charles Adi Prabowo (Surabaya) – Dede Sudiana (Bogor) – Diver Dantika (Bandung) – Donni Arifianto (Bandung) – Edison Paulus (Bandung) – Hari Agung (Jatim) – Hendra Mulya (Bandung) – IB Ngurah Primarta (Bali) – I Ketut Widiatmika (Bali) – I Made Kristo Joelyanta (Bali) – I Made Gede Suherman (Bali) – Kaharudin (Batam) – Kusnadi (Bandung) – Muhammad Nasrul Akbar (Bandung) – Nur Efendi (Bali) – Oki Lutfi (Bandung) – Ricky Rohimat (Bandung) – Sutarya Partadisastra (Bandung) – Tamdy Septiandi (Bandung) – Taufik Noor Aditama (Bandung) – Varhan Christihap (Depok).

PENDUKUNG PAMERAN
APC Institute
Frontline
Tempo Koran & Majalah
Radio MGT
Gedung Indonesia Menggugat (GIM)
Bandung Creative City Forum (BCCF)
Laskar Panggung
Cozy Street Corner
Pidi Baiq
Teman Sebangku
Fotografi Bergerak
Perpustakaan Fotografi Andhika Prasetya
Cawan Photo Space

UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terima kasih kami haturkan kepada Samudera Prawirawidjaja (PT Ultra Jaya Milk Industry and Trading Company, Tbk), Adi Barnas & Ferry Kurniawan (Teh Kotak). Terimakasih kepada Para Dewan Juri (Achmad Sadikin, Adithya Zen, Dudi Sugandi, Ferry Ardianto & Galih Sedayu). Terimakasih kepada para partisipan kompetisi & peserta pameran. Terimakasih kepada Hasina Hakim & Dipa Ramsay (Frontline), Hanif & Efron (Gedung Indonesia Menggugat), Nurulita & Ridwan Kamil (Pembicara Seminar), Deni Sugandi (Moderator Seminar), Yusef Muldiyana (Laskar Panggung), Cozy Street Corner (Chris Takarbessy, Adoy & Boby), Pidi Baiq (Ketua Front Pembela Islam Kristen Hindu & Budha), Teman Sebangku (Doly Harahap, Sarrringa & Uq), Astrid (The Kartipah Wedding & Guess House), Radio MGT (Budi Darma Putra, Sari Indah & Dani), Martin (Pengelola Soundsystem), Azis Saleh & Manchoe (Kreator Trofi), Para Model (Diah Kamil & Indah), Julius Tomasowa, Rani Nuraeni, Christine Listya, Ruli Suryono, Ricky N Sastramiharja, Rulli Maulana Putra, Levana Lelev, Puy, Vera Ridzka, Pandit Andrea, Ivan, Reza, Yakob Gunawan, Endang Ruhimat, Avip Febriansyah, Syarif Hidayat, Udo, Aldhira, Sulhan Safi’i, Rime. Terima kasih kepada Fiki Satari, Rizky Adiwilaga, Tita Larasati, Maulana Yudiman, Fatiadi M Paham, Man Jasad, Ade Tinamei (Bandung Creative City Forum/BCCF). Terima kasih kepada para sahabat media: Wartawan Foto Bandung/WFB, Aliansi Jurnalis Indonesia/AJI & Forum Diskusi Wartawan Bandung/FDWB. Terima kasih kepada seluruh komunitas & institusi fotografi: Komunitas Pemotret Bandung (KPB), Perhimpunan Amatir Foto (PAF), Brigade Poto #, Pinhole Bandung (Kampi & KLJ Bandung), Klastic, LFM-ITB, Maphac Clubs, Jepret IMA-G ITB, Performa UPI, MM, Hobi Foto Bandung, Geuring Photography, 25 Graphy, Komunitas Seni Fotografi, B3 Komunitas Lensa Manual, Capslock, Capture IM Telkom, Forum Fotografi Kampus (FFK), Spektrum Unpad, Kokang Itenas, Pony Itenas, Bidik Stikom, Parasastra Unpad, AF Unpar, Potret Unpar, Jepret Unisba, Steril, Titik Fokus, ISO 77, JPOP, Illuminati, Medicourse, Sekolah Foto Tcap Budhi Ipoeng, Satya Bodhi, Humanika, Inova, Fotolisis. Terimakasih kepada keluarga APC Institute, Telingamata Communications, Perpustakaan Fotografi Andhika Prasetya, Cawan Photo Space & Fotografi Bergerak.

INFO LANJUT
apc institute
agency, program management & school of photography
surapati core blok m32
jalan phh.mustofa 39 bandung
telepon 022-87242729 / 70160771
contact person: rani (022-92347207)
apc_institute@yahoo.com
facebook/apc institute & twitter @apcinstitute
http://www.apcinstitute.com & http://www.fotografibergerak.com