Archive for ‘articles’

July 31, 2015

Foto Kegiatan Nongkrong #2 | Pemutaran Film Fotografi “A Thousand Times Good Night” & Diskusi | 31 Juli 2015

Nongkrong #2

Nongkrong #2

Nongkrong #2

Nongkrong #2

Nongkrong #2

Nongkrong #2

Nongkrong #2

copyright (c) 2015 by air foto network
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from air foto network.

July 22, 2014

liputan pameran foto “bandung nu urang” | taman cempaka 19 juli 2014

air foto network dan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah & Perindustrian Perdagangan (KUKM & Indag) kota Bandung mengadakan sebuah program yang bertajuk “Bandung Nu Urang”. Program ini berupa workshop dan pameran fotografi yang bertujuan untuk mengangkat isu perihal industri kreatif kota Bandung. Tahap pertama yang dilakukan yaitu workshop fotografi pada tanggal 9 s/d 11 Mei 2014 di Hotel Gino Feruci tepatnya di jalan Braga, Bandung. Peserta workshop terdiri dari 30 orang terpilih yang merupakan para pelaku industri kreatif fotografi di kota Bandung. Selama 3 hari, mereka dibekali materi fotografi & industri kreatif yang diberikan oleh galih sedayu (pegiat kreatif & pengajar fotografi), dudi sugandi (jurnalis foto) dan sandi jaya saputra (fotografer). Setelah itu para peserta diberikan penugasan untuk membuat karya foto perihal industri kreatif kota bandung dengan tema yang telah dipilih oleh masing-masing peserta.

Sebagai salah satu bentuk kesadaran bersama untuk memberikan edukasi kepada publik, maka Pameran Foto “Bandung Nu Urang” hasil karya peserta workshop ini pun digelar pada tanggal 19 Juli 2014 di Taman Foto Bandung yang berlokasi di Jalan Taman Cempaka, Riau, Bandung. Sebanyak 27 orang, karya fotonya lolos pada saat presentasi dan proses kurasi yang dilaksanakan pada tanggal 31 Mei 2014 di kantor air foto network. Adapun para fotografer & pelaku kreatif bidang fotografi yang berpartisipasi dalam pameran foto ini yaitu Amirudin Fuad Ridlo, Ardiles Klimarsen, Arya Magindra, Arya Marta, Ayi Rahmat Hidayat, Barly Isham Arsatadany, Eligius Adi Darma, Endras Septiano, Fitra Ananta Sujawoto, Gunawan Winata, Ivan Arsiandi, Jakobus Gunawan, Julius Tomasowa, Krisna Satmoko, Lestari Perangin Angin, Mia Sjahir, Myke Jeanneta, Refa I Adiredja, Rifan Wahyudi, Satya Andhika, Ruli Suryono, Ryan Riana, Siti Desintha, Sjuaibun Iljas, Sudarmanto Edris, Walgi Efriyan dan Wiwit Setyoko. Pada saat pameran tersebut diluncurkan pula jurnal fotografi “Bandung Nu Urang” yang berisi karya foto para peserta workshop tersebut. Jurnal fotografi ini akan mengawali pembuatan buku fotografi yang menurut rencananya akan diwujudkan tahun depan.

Cuaca yang bersahabat, pengunjung yang ceria & taman yang indah menjadi saksi kemeriahan acara pameran foto “Bandung Nu Urang” tersebut. Acara dimulai dari pukul 11.oo wib s/d 12.oo wib dengan agenda bebersih sampah. Kemudian dari pukul 12.00 wib s/d 13.00 wib, para peserta “look #2” (model photo shoot in the park) mulai melakukan registrasi ulang. Lalu pukul 13.00 wib s/d 15.00 wib, acara pemotretan model pun dimulai yang diikuti oleh ratusan peserta. Tepat pukul 15.00 wib s/d 16.00 wib, acara pembukaan acara pameran foto “Bandung Nu Urang” pun dimulai. Lagu Indonesia Raya terdengar berkumandang membuka acara ini. Terlihat pula ibu Atalia Kamil (istri wali kota bandung) hadir di acara tersebut. Setelah itu pukul 16.00 wib s/d 17.30 dilanjutkan dengan program “musikamera #5” yaitu konser akustik bersama wow percussion & cozy street corner. Kemudian acara dilanjutkan dengan buka puasa bersama dan kemudian pemgumuman pemenang “look #2”. Semoga acara seperti ini dapat terwujud kembali di tahun depan. “Bandung Nu Urang” dengan tema yang lain.

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

bandung nu urang

copyright (c) 2014 by air foto network
all right reserved. no part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from air foto network.

February 26, 2014

press release acara peluncuran buku foto “bandung ; from spaces to places” karya galih sedayu

pada hari sabtu tanggal 22 februari 2014 pukul 18.00 s/d 22.00 wib telah dilaksanakan acara peluncuran buku foto karya galih sedayu yang berjudul “bandung ; from spaces to places” bertempat di kampung pulosari, di tengah taman hijau warga, di bawah kolong jembatan pasopati, di pinggir sungai cikapundung, bandung.

agenda acara peluncuran buku foto ini terdiri dari picture book show karya galih sedayu yang diiringi alunan gitar akustik dari kris takarbessy (vokalis & gitaris cozy street corner), film screening, networking nite dan musikamera yaitu konser musik kampung yang menampilkan beberapa musisi yaitu bahtera (kelompok musik anak jalanan), ilham (musisi tuna netra) dan pidi baiq (ketua front pembela islam, kristen, hindu & budha).

menurut galih sedayu, peluncuran buku foto ini merupakan jejak karya pertama yang dibuat olehnya. hasil karya yang dibukukan tersebut merupakan proyek foto yang dikerjakan olehnya dari tahun 2009 hingga 2013. buku foto ini berisikan himpunan imaji sebagian kecil cerita perihal kota bandung. isu utama yang diangkat adalah mengenai aktivasi dan pemanfaatan ruang publik dari mulai hutan, taman, sungai hingga kampung sebuah kota.

kemudian galih sedayu pun mengungkapkan opininya, bahwa sesungguhnya buku foto ini tidak lebih penting ketimbang kepedulian warga untuk mulai mendatangi, menyentuh dan menghidupkan ruang-ruang publik yang ada di kota bandung. ujarnya, “kiranya buku ini tidak hanya sekedar menjadi buku fotografi saja melainkan dapat menjadi sebuah buku berbagi, baik itu berbagi isi, berbagi informasi & berbagi inspirasi. agar kota bandung ini selalu ada yang memiliki”.

spesifikasi buku
* judul : bandung ; from spaces to places foto network
* fotografer : galih sedayu
* tulisan pengantar : ridwan kamil
* penerbit : air foto network
* ukuran buku : 21,5 x 30 cm
* tebal buku : 158 halaman
* jumlah cetakan : 500 eksemplar
* cetakan pertama : bandung, desember 2013
* kontak pemesanan : 022-87242729
* isbn : 978-602-14408-1-0

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

copyright (c) by galih sedayu 
all right reserved. no part of this pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

January 29, 2013

Karya-Karya Foto Termahal di Dunia {Versi Wikipedia}

1. Andreas Gursky, Rhein II (1999), $4,338,500, in November 2011.

2. Cindy Sherman, Untitled #96 (1981), $3,890,500, in May 2011.

3. Andreas Gursky, 99 Cent II Diptychon (2001), $3,346,456, in February 2007. A second print of 99 Cent II Diptychon sold for $2.48 million in November 2006. Third print sold for $2.25 million on May 2006.

 

4. Edward Steichen, The Pond-Moonlight (1904), $2,928,000, in February 2006

5. Cindy Sherman, Untitled #153 (1985), $2,700,000, in November 2010.

6. Unknown photographer, Billy the Kid (1879–80), tintype portrait, $2,300,000, in June 2011.

7. Dmitry Medvedev, Tobolsk Kremlin (2009), $1,750,000, in January 2010, Saint Petersburg.

8. Edward Weston, Nude (1925), $1,609,000, in April 2008.

9. Alfred Stieglitz, Georgia O’Keeffe (Hands) (1919), $1,470,000, in February 2006.

10. Alfred Stieglitz, Georgia O’Keeffe Nude (1919), $1,360,000, in February 2006.

11. Richard Prince, Untitled (Cowboy) (1989), $1,248,000, in November 2005

12. Richard Avedon, Dovima with elephants (1955), $1,151,976, in November 2010

13. Edward Weston, Nautilus (1927), $1,082,500, in April 2010.

14. Peter Lik, One (2010), $1,000,000, in December 2010.

15. Jeff Wall, Untangling (1994), $1 Million AUD, in 2006.

16. Eugène Atget, Joueur d’Orgue, (1898–1899), $686,500, in April 2010.

17. Robert Mapplethorpe, Andy Warhol (1987), $643,200, in October 2006.

18. Ansel Adams, Moonrise, Hernandez, New Mexico (1948), $609,600, in 2006.

*Sumber : Wikipedia

April 4, 2012

Tulisan mengenai Surat Perpisahan Lin Jue-ming (Tokoh Revolusi Cina) dengan Sang Istri pada Pameran Foto “Retracing of Our Steps”

Courtesy of Kuomintang PartyArchives

Sayangku,

Aku tuliskan surat ini sebagai persiapanku untuk berpisah denganmu! Saat menuliskan surat ini aku masih hidup di dunia ini, ketika kau membacanya aku telah meninggal dunia. Tetes air mata dan tinta jatuh bersamaan, tak kuasa menyelesaikan suratku ini. Namun karena takut kau tidak akan mengerti deritaku, berpikir bahwa aku tega meninggalkanmu dan tidak paham akan hatimu yang tak ingin membiarkanku berpulang ke maut, maka aku ‘kan selesaikan juga surat ini.

Aku sungguh mencintaimu. Oleh karena cintaku inilah, membuat aku beranikan diri berpulang kepadaNya. Sejak bertemu denganmu, aku selalu berjanji padaNya untuk jadikan kau kekasihku—bagian dari keluargaku. Tetapi di saat amisnya darah memenuhi semua tempat, dan manusia jahat bak anjing serigala ganas menguasai seluruh jalan, berapa banyak keluarga yang dapat hidup berbahagia?

Aku tak pernah curahkan isi hatiku, dan inilah kesalahanku. Tapi jika aku mengatakannya padamu, aku takut kau ‘kan mengkhawatirkan diriku sepanjang hari. Aku korbankan hidup, tak bersuara, dan membiarkanmu resah; sejujurnya ini bukanlah kemauanku! Aku sungguh mencintaimu hingga aku selalu takut usahaku tidak cukup bagimu. Beruntungnya kau menikah denganku, namun malangnya kita dilahirkan di negeri China yang sekarang. Beruntungnya aku dapat menikah denganmu, tapi malangnya mengapa kita bisa dilahirkan di negeri China yang sekarang?Betapa malangnya nasib kita ini!

Duh! Secarik kertas tak mampu menampung sejuta rasa. Seribu bahasa pun tak mampu mengungkapkannya, namun kau dapat memahaminya. Aku tak dapat bertemu denganmu sekarang. Aku pun tahu kau tak dapat berpisah denganku, hingga kau nanti ‘kan menjumpai bayangan diriku didalam mimpi. Aduh, pedihnya!

Demikian kutuliskan surat ini. Rindukanmu di tengah malam, bulan ke-3, akhir tahun Revolusi.

Surat di atas merupakan surat perpisahan antara seorang tokoh revolusi Lin Jue-ming dengan sang istri, pada malam sebelum Jue-ming ikut berjuang dalam Revolusi Guangzhou di bulan Maret 1910, setahun sebelum terbentuknya Republik China. Demi masa depan rakyat China, Jue-Ming mengorbankan rumah tangga bahagianya untuk bergabung dengan pejuang revolusi ke-10 pimpinan Bapak Bangsa Republik China, Sun Yat-sen. Pemberontakan dipimpin oleh suku Huang, Xing, Hu, dan Han untuk berperang melawan regim Qing hingga titik darah penghabisan. Pada akhirnya, kekalahan yang dialami karena jumlah pasukan yang lebih sedikit, hanya menyisakansuratperpisahan ini, yang mampu menggambarkan kepada dunia perasaan sang pejuang semasa hidupnya.

Di antara para pejuang muda revolusi ke-10 yang mengorbankan nyawanya, sebanyak 72 pemuda disemayamkan di atas gundukan bunga kuning. Jasa para pemuda yang telah mengorbankan nyawanya itu dan membangkitkan hati seluruh rakyat. Enam bulan kemudian, usaha pemberontakan Wuchang yang terjadi pada tanggal 10 Oktober berakhir dengan kesuksesan. Ini sekaligus meletakkan fondasi yang kokoh bagi lahirnya Republik Chinapada tanggal 1 Januari 1912. Maka untuk memperingati peristiwa tersebut, Pemerintah Republik Chinasejak itu menetapkan 29 Maret sebagai Hari Pemuda.

Sama halnya dengan semangat pemuda Republik China yang berapi-api, Bapak Bangsa Indonesia Bung Karno yang selepas kelulusannya dari Institut Teknologi Bandung di tahun 1926, mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1927 untuk menyuarakan bangsa yang merdeka. Pada tahun 1928, PNI berganti nama menjadi Partai Nasional Indonesia, yang menyuarakan sikap non-kooperatif dan menggalangmassauntuk bersumpah mencapaiIndonesiayang merdeka. Bung Karno dan segenap pimpinan PNI ditangkap pada tahun 1929 dan diadili oleh pengadilan kolonial Belanda di Bandung pada akhir tahun 1930. Bung Karno dinyatakan bersalah dan menerima hukuman 4 tahun penjara. PNI pun dibubarkan.

Gedung Indonesia Menggugat (GIM) yang terletak diBandungmerupakan tempat pengadilan kolonial tersebut. Tempat inilah yang menjadi saksi semangat perjuangan Bapak BangsaIndonesia, Bung Karno; dan memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.

Tak peduli karena mengorbankan percintaan pribadi, demi cinta terhadap tanah air yang demokratis, atau karena pembelaan prinsip pribadilah yang menjadikan revolusi sukses atau negara dapat menjadi merdeka; namun semuanya itu membuahkan pengaruh besar untuk perjuangan yang sama tetapi dengan kisah yang berbeda. Hal inilah yang menggugah kami untuk membuka pameran foto “Menelusuri Jejak 100 Tahun Berdirinya Republik China” pada tanggal 29 Maret. Melalui latar belakang panjang penyelenggaraannya di GIM, semoga pameran foto ini mampu menggambarkan kisah 100 tahunnya Republik China kepada masyarakat Indonesia, dan mengenang jasa-jasa para pejuang.

Kurator
Tommy Lee
Galih Sedayu
(Penerjemah : Sabina Satriyani Puspita)

導言

 

『意映卿卿如晤;

吾今以此書與汝永別矣!吾作此書時,尚是世中之人;汝看此書時,吾已成為陰間一鬼。吾作此書,淚珠和筆墨齊下,不能竟書而欲擱筆。又恐汝不察吾衷,謂吾忍捨汝而死也,謂吾不知汝之不欲吾死也,故遂忍悲為汝言之。

吾至愛汝,即此愛汝一念,使吾勇於就死也。吾自遇汝以來,常願天下有情人都成眷屬;然遍地腥膻,滿街狼犬,稱心快意,幾家能夠?

吾平生未嘗以吾所志語汝,是吾不是處;然語之又恐汝日日為吾擔憂。吾犠牲百死不詞,而使汝擔憂,的的非吾所思。吾愛汝至,所以為汝謀者惟恐未盡。汝幸而偶我,又何不幸而生今日之中國;吾幸而得汝,又何不幸而生今日之中國?卒不能獨善其身!嗟夫!紙短情長,所未盡者尚有萬千,汝可以類此得之!吾今不能見汝矣;汝不能舍吾,其時時於夢中得我乎!一慟!

辛末三月念六月四鼓,意洞手書。』

這是中華民國創建前一年1910年3月,革命志士林覺民在參加廣州革命赴義前夕,親手寫給愛妻的訣別書。他為了中國人民的未來,捨下大好的錦繡前程與幸福家庭,義無反顧參加由中華民國國父孫逸仙領導的第十次國民革命,在黃興與胡漢民等人率領下在廣州起義,與滿清政府作殊死戰。終因寡不敵眾不幸落敗,只留下這篇『與妻訣別書』,與世人分享他的生命情懷。

在第十次革命中拋頭灑熱血犠牲的青年菁英中,有72人合葬於廣州的黃花崗上。為了感念他們勇於奉獻生命的偉大情操,喚醒全中國人的心,為六個月後的辛亥雙十武昌起義成功,奠下厚實的基礎,讓中華民國能在1912年1月1日順利誔生。中華民國政府明定每年的3月29日為青年節,以資紀念。

同樣是青年的滿腔熱血,印尼國父蘇卡諾1926年從萬隆理工學院畢業後,1927年組『印尼民族主義協會』,積極追求獨立建國,1928年改名『印尼國民黨』,主張以不合作的方式,組織群眾誓言達成印尼的獨立。1929年蘇卡諾與其他的國民黨領袖被捕,1930年底在萬隆的荷蘭殖民法庭公開受審,以違反秩序罪被判處4年有期徒刑,並宣佈解散印尼國民黨。

現在萬隆的『印尼控訴館』(Gedung Indonesia Menggugat, GIM)就是當年殖民法庭所在地,它見證了印尼國國父蘇卡諾年青時的奮鬥精神,深具歷史意義。

無論是化兒女私情為民族國家的大愛,或是慷慨激昂地為自己的理念辯護,都可以為一個國家的革命成功或民族獨立,產生異曲同工的影響能量。這就是我們選擇在3月29日為『中華民國建國百年回顧展』開幕,以及透過印尼控訴館舉辦攝影展的遠緣由,希望透過這個攝影展能與印尼民眾分享中華民國一百年來故事,並藉以緬懷先賢先烈們的犠牲奉獻。

策展人

李東明

佳里‧瑟答優

(意映卿卿如晤:

我今天寫這封信是準備要與妳永別了!在寫這封信時,我還是活在世間的一個人;但當妳在看到這封信時,我已成了陰間鬼魂。寫這封信時,我淚珠與筆墨一起落下,竟無法寫完而想停筆,但又深怕妳不明白我的苦衷,以為我忍得捨妳而去,也不了解妳不想讓我赴死的心意,所以我忍住悲痛為妳寫完這封信。

我好愛妳,就因為這份愛,讓我勇於赴死。我自從遇見妳以來,就常許願天下有情人都能成為眷屬。但如今到處都可聞到血腥惡臭的氣味,滿街也都可見到像凶犬惡狼般的壞人;想要心滿意足快樂過活,又有幾個家庭能夠做得到?…

我從來没有把自己的志願告訴,這是我的不對。但告訴妳,又怕妳成天為我擔憂。我犠牲生命,百死不辭,而讓妳擔憂,實在不是我所想要的啊!我好愛妳,所以總怕為妳做得不夠;妳有緣嫁給我,卻又不幸正好生於今天的中國;而我也有幸娶妳,又怎麼不幸地生在今天的中國?我們終究是不可能只顧著自己,而對腐敗的滿清政權視而不見!

唉!紙短情長,千言萬語都訴說不完,妳應該可以推想而知。我現在不能去看妳,我知道妳會捨不得我,到時候又會在夢中不斷看到我的身影!哀痛啊!

辛亥年末三月間,想念妳於半夜時分,意洞親筆。)

April 4, 2012

Tulisan Kurator pada Katalog Pameran Foto 100 Tahun Republik Cina “Retracing Our Steps”

Courtesy of Kuomintang PartyArchives

SEABAD KEBEBASAN 

The basis of a democratic state is liberty.
-Aristoteles (384-322 SM)
dari “Politics”

Namanya sohor sebagai penggerak  pembebasan  rakyat Cina dari kungkungan kekaisaran Qing  yg luar biasa zalim dan korup.  Pemimpin gerakan “mission imposible”  itu adalah seorang dokter suku Han bernama Sun Wen, namun dunia mengenal namanya sebagai Sun Yat-sen (1866-1925).  Dialah pengobar Revolusi Xinhai yang sukses menumbangkan domino feodalisme Dinasti Qing hingga ke akar sumsumnya.  Revolusi yang menghapuskan 268 tahun tirani imperium Qing, seraya membungkusnya sebagai  keranda akhir sejarah kekaisaran Cina

Masyarakat Cina  mendukung Tiga Prinsip Rakyat yang dikumandangkan Sun Yat-sen menyublim mekar di sanubari mereka. Semboyan yang  menggelorakan perlawanan dari hati yang tertindas dan akan terus kekal bergema  sepanjang masa. Tiga Prinsip Rakyat yang dihembuskan Sun  adalah,  Nasionalisme (Minzu), Demokrasi (Minquan) dan Kesejahteraan Rakyat (Minsheng).  yang dikreasi  dari falsafah Abraham Lincoln, presiden AS semasa perang saudara yang mengibarkan semboyan “dari, oleh dan untuk rakyat”,  dipadu dengan refleksi ajaran bijak filsuf termasyur Cina,  Confusius.  Tiga Prinsip Rakyat Sun  melandasi tetesan  perlawanan rakyat tanpa henti atas karang  tirani yang sebelumnya tak pernah  terbayangkan akan pecah dan hancur berkeping tak bersisa. Kezaliman akhirnya tumpas  oleh tekad membara, kejujuran nurani dan  keagungan jiwa untuk  meraih kebebasan.

Sun Yat-sen diakui sebagai Bapak Republik China. Beliau adalah Pendiri Republik China setelah kemenangan Revolusi pada 10 Oktober 1911. Baik masyarakat di Cina daratan maupun Taiwan, setiap tahun merayakan peringatan kemenangan Revolusi pada 10 Oktober 1911 saat kekaisaran Qing bertekuk lutut dan terpaksa menghamparkan permadani merah mereka untuk  kawulanya.

Penaklukan bersejarah,  menyusul berhasilnya pemberontakan Wuhan, Hubei tahun 1911, yang digerakkan Sun dan kendali lapangannya dipimpin  oleh tangan kanan Sun,  Huang Xing (1874-1916), ahli militer yang kemudian atas jasa perjuangannya diangkat menjadi Pangab pertama Republik Nasionalis Cina. Pada saat krusial itu Sun sendiri tengah berada di Denver, AS melakukan rangkaian kampanye penggalangan dukungan atas gerakan perlawanan  mereka di dunia Barat.

Pameran “The Centennial ROC” yang diselenggarakan pada bulan Oktober 2011 di ruang pamer utama Galeri Foto Jurnalistik Antara, serta pameran “Retracing Our Steps- A Photo Journey Through the ROC’s 1st Century” pada tanggal 29 Maret 2012 di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, mencoba merefleksikan  perjalanan demokrasi  dan proses pembangunan Republik China hingga progresnya seratus tahun kemudian.  Pameran peringatan juga  digelar untuk mengapresiasi sekaligus merayakan kebebasan sebagai  upaya insan  manusia untuk meraih kembali martabat yang tercerabut dan membentangkannya sebagai jalan bagi demokrasi.  “The Centennial”  juga adalah  godam sejarah yang selalu mengingatkan betapa mulianya kebebasan demokrasi bagi kemanusiaan majemuk yang adil dan beradab. Meskipun sejarah pula yang mencatatkan bahwa titian menuju kebebasan selalu penuh  pengorbanan yang terkadang berlumur darah dan air mata. Seperti yang juga dialami Indonesia saat memperjuangkan kemerdekaannya. Atau,  ketika Mahatma Gandhi  memimpin  pembebasan India, serta Nelson Mandela yang memerdekakan rakyat Afrika Selatan dari segregasi apartheid.

Kebebasan demokrasi bukanlah takdir yang jatuh dari langit,  dia harus diraih dengan pengorbanan apapun,  atas nama  kemuliaan insan  manusia.

Oscar Motuloh
Tommy Lee
Galih Sedayu
Kurator

Courtesy of Kuomintang PartyArchives

中華民國  建國百年回顧攝影展

自由為民主國家的基石

–亞里斯多德

他之所以受人敬仰,因為他是拯救被清朝專制和腐敗政權壓迫的中國人民的救星,這位啟動“不可能任務”的革命運動發起人,名叫孫文,漢族醫生,世人稱他為孫逸仙或孫中山先生(1866-1925)。他和同志們發動的辛亥革命,徹底推翻清朝長達268年的封建政權,他是結束中國君主專政的偉人。

中國人民逐漸認同孫中山先生所主張的三民主義,激發被壓迫者內心對自由民主的嚮往,世代流傳。中山先生宣揚民主、民權、民生的三民主義,是效法美國前總統林肯在內戰期間宣揚的“民有、民治、民享”的立國原則,並結合中國偉大哲學家孔子的儒家思想。孫中山先生的三民主義以人民為基礎,在人民的決心、誠實與良知的引領下,終於讓中國君主專政的政權,粉碎地不留任何痕跡。

孫中山先生於1911年10月10日辛亥革命成功之後,創建中華民國,並成為中華民國的國父。無論在中國大陸或台灣,兩地人民在每年的10月10日都會分別慶祝辛亥革命成功的意義。

孫中山先生的革命得力助手黃興(1874-1916),1911年在湖北武漢發動起義時,中山先生還在美國的丹佛市宣傳推翻滿清政權的活動,希望能夠得到西方世界的支持。清朝專制政權在民主自由的大趨勢下,不得不放下政權,黃興也因建國有功,擔任中華民國首任三軍總參謀長。

2011年10月間,在安塔拉通訊社新聞攝影藝廊舉辦“中華民國建國百年攝影展”,以及2012年3月29日在萬隆舉辦建國百年回顧攝影展的目的,都是為了忠實呈現在臺灣的中華民國,建國100年來的發展過程,讓觀賞民眾有機會透過歷史影像,瞭解這個自由民主國家曾經走過的坎坷道路。歷史記載,邁向自由的道路永遠必須通過流血流淚的犧牲,就好像印尼在爭取獨立自由時必須面對的各種犧牲,或者甘地領導印度走向自由,曼德拉從南非的黑人種族隔離制度中,把南非人民帶上自由民主的大道。

自由民主的果實並非天上掉下來的運氣,它必須通過各種的犧牲來爭取。

策展人

奧斯卡‧蒙督魯

李東明

佳里‧瑟答優

Courtesy of Kuomintang PartyArchives

A HUNDRED YEARS OF FREEDOM

The basis of a democratic state is liberty.
-Aristoteles (384-322 SM)
dari “Politics”

His name had been so famous as a Chinese people freedom movement initiator from the occupation of Qing Empire which was so cruel and full of corruption. The leader of that “mission impossible” movement was a doctor from the Han clan named Sun Wen. The world recognizes him as Sun Yat-sen (1866-1925). He was the one who inspired the Xinhai Revolution which successfully blew down the feudalism of the Qing Dinasty until its roots. The revolution which vanished 268 years of tyranny by the Qing Empire also noted as the end of autocratic monarchy in Chinese history.

People of China supported and lived with the Three Principles of the People by Sun Yat-sen. The slogan which stirred up a resistance from the suppressed souls would resound forever. Sun’s theory of the Three Principles of the People, which are Nationalism (Minzu), Democracy (Minquan) and People’s Welfare (Minsheng), were derived from the philosophy by Abraham Lincoln, the former President of the United States during the civil war. He introduced the slogan “of the people, by the people, for the people.” The philosophy then was combined with a reflection of a wisdom taught by Confucius, a world-famous philosopher from China. Sun’s Three Principles of the People served as a basis for the perpetual people’s struggle against tyranny which had never been predicted to be shattered into pieces. Guided by people’s determination, integrity and conscious, the revolution finally destroyed the tyrannical regime.

Sun Yat-sen was crowned as the Founding Father of the Republic of China following the Revolution victory on October 10, 1911. Nowadays, People both in mainland China and Taiwan celebrate the Revolution victory annually.

The historical victory following the successful Wuhan rebellion, Hubei in 1911, was initiated by Sun and led by his supporter, Huang Xing (1874-1916), a military expert,  who was then announced as the first military commander of the Republic of China. At that crucial moment, Sun was in Denver, Colorado, U.S.A. campaigning for their struggle against Qing regime.

The exhibition of “The Centennial ROC”, first held on October 2011 in the main showroom of the Galeri Foto Jurnalistik Antara, then the exhibition of “Retracing Our Steps- A Photo Journey Through the ROC’s 1st Century” on March 2012 in Bandung’s Gedung Indonesia Menggugat, try to reflect the democratic journey and development progress throughout the one hundred years of the Republic of China. “The Centennial ROC” also reminds how great freedom is to a plural and civilized society, although history also records that freedom takes sacrifice, bloods and tears. This is also what Indonesia experienced when it struggled for its independence. Or when Mahatma Gandhi led the freedom movement in India and Nelson Mandela who freed people in South Africa from the apartheid policy.

The freedom of democracy will not be achieved without pain. It must be achieved by every possible sacrifice, in the name of dignity.

Oscar Motuloh
Tommy Lee
Galih Sedayu
Curators

April 3, 2012

REKAM JEJAK 100 TAHUN REPUBLIK CINA

Courtesy of Kuomintang PartyArchives

REKAM JEJAK 100 TAHUN REPUBLIK CINA
Oleh Galih Sedayu

Meletusnya salah satu peristiwa besar bersejarah di dunia yakni Revolusi Cina (Xìnhài Gémìng)  pada tanggal 10 Oktober 1911, meninggalkan sebuah nama besar yang selalu melekat di dinding sejarah Cina Modern. Dialah Sun Yat-sen (1866 – 1925), seorang anak petani miskin kelahiran  Guang Dong Cina, yang berhasil meruntuhkan kekaisaran Dinasti Qing (1644 – 1911) yang sangat korup dan penuh intrik di bawah kepemimpinan Kaisar Pu Yi yang saat itu masih berumur 5 tahun. Sebuah film bertajuk “The Last Emperor” yang diproduksi tahun 1987 hasil sentuhan sutradara Bernardo Bertolucci ataupun film “1911 Revolution” yang dibintangi oleh Jackie Chan (yang berperan sebagai Huang Xing) & Winston Chao (yang berperan sebagai Sun Yat-sen), dapat menjadi gambaran nyata tentang peristiwa bersejarah tersebut. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 12 Februari 1912 ini sekaligus menjadi pertanda berakhirnya sistem pemerintahan monarki (kerajaan) di Cina yang telah berlangsung selama berabad-abad, dan kemudian digantikan oleh sistem republik yang diusung oleh Sun Yat-sen. Akhirnya Sun Yat-sen pun menjadi tokoh yang paling berjasa di dalam kelahiran Republik Cina pada tahun 1912 dan kemudian ia pun menjabat menjadi presiden Republik Cina pada tahun 1923 hingga tahun 1925. Setelah Sun Yat-sen wafat pada tanggal 12 Maret 1925, perjuangan untuk menyatukan Cina berhasil diteruskan oleh Chiang Kai Shek di bawah pemerintahan nasionalis Kuomintang. Meski akhirnya Chiang Kai Shek mesti tersingkir ke Pulau Formosa (Taiwan) setelah meletusnya perang saudara antara kelompok nasionalis dengan komunis. Tetapi dengan tetap merayakan hari kemerdekaan yang berlangsung hingga kini setiap tanggal 10 Oktober (10-10) yang terkenal dengan sebutan “Double Ten” di Taiwan.

Sun Yat-sen membekali masyarakat Cina dengan tiga prinsip rakyat (San Min Cu I) yang juga menjadi azas ideologi politiknya. Tiga prinsip tersebut yang telah lama divisikan oleh Sun Yat-sen sejak ia mendirikan T’ung meng Hui (Liga Revolusioner Gabungan) pada tahun 1905 terdiri dari Nasionalisme (Minzu), Demokrasi (Minquan), dan Sosialisme/Kesejahteraan Rakyat (Minsheng). Prinsip Sun Yat-sen ini pun menginspirasi Tokoh Proklamator Indonesia, Bung Karno, untuk kemudian diterapkan dalam merumuskan pancasila. Bung Karno pun mengakui hal tersebut seperti yang ia utarakan dalam rapat BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945. Dimana antara lain Bung karno menyatakan bahwa ketika ia berumur 16 tahun, saat duduk di bangku sekolahan H.B.S. di Surabaya pada tahun 1918, ajaran tentang kebangsaan dari Sun Yat-sen di dalam tulisannya “San Min Cu I” atau “The THREE people’s Principles”, benar-benar tertanam di dalam dirinya. Sehingga Bung Karno pun berujar kala itu, “Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr.Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah bahwasanya Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat dengan sehormat-hormatnya merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen, sampai masuk ke liang kubur.” Kemudian prinsip “San Min Cu I” yang diusung oleh Sun Yat-sen ini digabungkan dengan ajaran dari guru Bung Karno yaitu A.Baars dari Belanda yang menyatakan “Jangan berpaham kebangsaan, tetapi berpahamlah rasa kemanusiaan seluruh dunia.” Sehingga dari kedua orang inilah Bung Karno mengolah dan merumuskan sila-sila dari Pancasila menjadi: Kebangsaan Indonesia (yang kemudian menjadi “Persatuan Indonesia”), Peri Kemanusiaan (yang kemudian menjadi Kemanusiaan yang adil dan beradab), Mufakat atau demokrasi (yang kemudian menjadi Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan). Kemudian Bung Karno menambahkannya sendiri dengan azas Ketuhanan (yang kemudian menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa).

Tahun 2012 ini menjadi genap seabad sejak Sun Yat-sen mendirikan Republik Cina pada tahun 1912. Untuk memperingati 100 tahun perjuangan rakyat Republik Cina serta seraya mengumandangkan simbol kebebasan yang mereka perjuangkan ke seluruh dunia, maka Pameran Foto yang bertajuk “Retracing Our Steps – A Photo Journey through  the ROC’s 1st Century”digelar di Kota Bandung. Pameran Foto ini diselenggarakan berkat kerja sama antara Taipei Economic & Trade Office (TETO) Jakarta, Goverment Information Office (GIO), dan APC Institute serta didukung oleh Taiwan Business Club Bandung & Galeri Foto Jurnalistik Antara. Pameran Foto “Retracing Our Steps” ini berlangsung sejak tanggal 29 Maret 2012 (yang menjadi hari pemuda Republik Cina) hingga 11 April 2012 di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan No.5 Bandung. Gedung Indonesia Menggugat (GIM) menjadi tempat yang dipilih untuk penyelenggaraan Pameran Foto ini, atas dasar kesamaan semangat kebebasan yang lahir dari gedung bersejarah ini. Dimana Gedung Indonesia Menggugat tersebut dahulu merupakan gedung ruang peradilan Belanda yang bernama “Landraad”, yang merupakan tempat Bung Karno ditangkap dan diadili pada tanggal 4 Juni 1927 demi memperjuangkan sebuah kemerdekaan. Sebanyak 40 buah karya foto yang mengulas sejarah Republik Cina sejak 100 tahun silam hingga masa kini, disuguhkan bagi masyarakat yang ingin mengenal banyak tentang negara Taiwan atau Republik Cina. Pameran Foto ini sesungguhnya merupakan sebuah pesan kepada dunia mengenai arti sebuah kedaulatan negara dan pentingnya membangun hubungan antar manusia di dunia. Yang bebas dari belenggu tirani serta jauh dari tubuh yang terkekang. Karena walaubagaimanapun merdeka adalah jawaban satu-satunya.

February 5, 2012

Tulisan & Foto Liputan Program Bukutulis #2 (Bedah Buku Foto & Temu Penulis) bersama Riza Marlon (Penulis “Living Treasures of Indonesia”)

RIZA MARLON MELAWAN
Oleh Galih Sedayu

Seribu Riza Marlon tidak akan pernah bisa untuk dapat merekam seluruh kehidupan alam & satwa liar di indonesia. Meski begitu, pendokumentasian tersebut harus tetap kita lakukan.
– Riza Marlon –

Indonesia adalah negara yang menempati urutan kedua terbesar di dunia setelah Brasil dalam hal biodiversity atau keanekaragaman hayati. Meski pendapat ini rasa-rasanya perlu dikaji kembali karena berdasarkan faktanya, sebagian besar masyarakat masih belum sepenuhnya mempercayai tingkat validitas dan akurasi dari data yang dihasilkan oleh penelitian tersebut. Bahkan bukan tidak mungkin sebenarnya Indonesia bisa menempati posisi teratas di planet bumi ini dalam hal kekayaan alam dan keanekaragaman hayati tersebut. Nature & Wildlife Photography. Tema inilah yang diangkat dalam sebuah presentasi & dialog ringan pada sebuah program fotografi yang bernama Bukutulis (Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis) yang digagas oleh APC Institute. Program Bukutulis #2 ini diselenggarakan pada tanggal 4 Februari 2012 di jalan RE.Martadinata No 48 Bandung atas bantuan dan kerjasama Goethe-Institut. Program ini dibuat sekaligus mengisi rangkaian kegiatan “Deutscher Fotobuchpreis 2011”, sebuah pameran buku fotografi terbaik karya para fotografer jerman yang berlangsung sejak tanggal 17 Januari hingga 11 februari 2012. Riza Marlon, seorang fotografer wildlife Indonesia yang telah sukses menerbitkan buku fotografi “Living Treasures of Indonesia”, didaulat untuk menjadi tamu undangan dan nara sumber guna mengupas habis segala hal yang ada di dalam buku tersebut. Sebagai informasi, buku ini merupakan buku foto pertama yang pernah ada mengenai keanekaragaman hayati di Indonesia yang dibuat oleh seorang fotografer anak bangsa sendiri.

Riza Marlon adalah seorang pria sederhana kelahiran kota Jakarta pada tanggal 12 Januari 1960. Caca, begitu sebutan akrab Riza Marlon. Sesungguhnya Caca telah menekuni dunia fotografi sejak bangku SMA. Lalu kemampuan fotografinya semakin berkembang kala caca mengambil kuliah di Universitas Nasional (UNAS) Jakarta. Di kampus tersebut, Caca memilih fakultas biologi, sebuah bidang yang sangat sesuai dengan ketertarikannya pada dunia binatang sejak ia masih kecil. Pada saat itu Caca banyak bergabung dan mengikuti kelompok-kelompok yang berhubungan dengan kehidupan alam liar khususnya dunia binatang seperti kelompok burung, kelompok ular, kelompok primatologi, dan lain sebagainya. Pada saat awal Caca menggeluti dunia fotografi, ia sempat memotret pekerjaan komersil seperti foto produk & foto pernikahan untuk menambah biaya dan uang saku kuliahnya. Baru pada tahun 1990, caca memutuskan untuk mulai serius menekuni pekerjaan memotret binatang dan alam liar. Berbekal biaya sendiri yang sangat terbatas, caca mulai melakukan penjelajahannya di pulau-pulau Indonesia untuk merekam satwa liar. Setelah berkarir selama 20 tahun lebih lamanya, caca akhirnya berhasil membukukan hasil karya fotonya  yaitu “Living Treasures of Indonesia” yang telah sukses diluncurkan pada tanggal 5 – 14 November 2011 di Jakarta.

Tepat pukul 15.00 WIB, caca membuka program bukutulis #2 ini dengan sebuah presentasi singkat mengenai nature & wildlife photography. Caca berujar bahwasanya ladang fotografi wildlife ini ibarat sebuah lahan yang kering. Karena secara umum bidang fotografi ini masih sangat jarang peminatnya. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti peralatan fotografi yang mahal, memerlukan fisik yang tangguh serta medan pemotretan yang sangat sulit dijangkau. Padahal caca melihat bagaimana sebenarnya negara Indonesia yang memiliki kurang lebih 17.000 pulau ini, memiliki aset alam & satwa liar yang sangat berharga. Namun demikian tidak banyak orang/individu dan kelompok dari bangsa kita yang mau melakukan sesuatu demi kelangsungan aset alam Indonesia tersebut. Caca mengungkapkan bahwa sebenarnya Indonesia banyak memiliki para ahli binatang tetapi sangat jarang dari mereka yang mengambil tindakan nyata untuk melindungi binatang-binatang tersebut dari kepunahan. Caca menyebutkan ada 4  kelompok satwa liar di Indonesia yaitu kelompok serangga, kelompok binatang menyusui (mammalia), kelompok reptile & amphibian (hervet), serta kelompok burung (aves). Kesemuanya itu tersedia di Indonesia dan menunggu sebuah pendataan visual yang lengkap. Oleh karena itu caca memilih untuk mencurahkan sebagian besar hidupnya dalam mendokumentasikan kehidupan satwa liar Indonesia yang sangat beragam tersebut.

Menurut caca, fotografi alam & satwa liar itu sangat erat hubungannya dengan berbagai hal yaitu kejujuran, menangkap momen & merekam sejarah alam (dokumentasi). Lalu caca memulai slide show karya foto satwa hasil bidikannya dan bercerita banyak tentang sejumlah pengalaman yang ditemui di lapangan. Misalnya saja ketika caca ikut memotret proses penangkapan gajah sumatera di alam liar yang diinisiasi oleh pemerintah setempat dengan maksud melindungi gajah-gajah tersebut dan menempatkannya di sebuah cagar alam. Karena di lapangan banyak cara-cara yang keliru ketika proses penangkapan dan penangkaran, akhirnya dari 13 ekor gajah yang berhasil ditangkap, 8 ekor diantaranya mati sia-sia sebelum sempat diselamatkan. Kemudian caca memperlihatkan foto-foto satwa liar seperti badak sumatra, babi rusa, ular pit-viper, julang Sulawesi, bondol jawa, cendrawasih papua, dan masih banyak lagi. Ada foto dan cerita menarik yang disampaikan oleh caca mengenai seekor burung yang bernama burung pintar. Menurutnya burung tersebut tidaklah menarik secara fisik. Tetapi keunikannya terletak ketika burung tersebut membuat sarang dengan diameter lebih kurang 1,5 meter yang dilakukannya selama 6 bulan. Dalam kurun waktu itu burung tersebut rajin mengumpulkan barang-barang apapun yang ditemuinya untuk kemudian dijadikan sarang. Dari mulai batu kerikil, ranting pohon, bahkan hingga bungkus indomie dan batu baterai ABC. Dengan tekun burung tersebut membawa satu persatu barang-barang yang tidak terpakai tersebut di dalam paruhnya sambil meloncat perlahan dan kemudian menjadikan sebuah sarang. Alasan burung pintar ini membuat sarang tersebut adalah untuk menarik lawan jenisnya sehingga pada saatnya nanti burung yang tertarik itu akan dikawininya. Sangat terbayang alangkah uletnya usaha burung pintar ini untuk mencari pasangan dan niat besarnya untuk kawin. Setelah itu caca melanjutkan presentasinya mengenai berbagai ancaman terhadap alam dan flora fauna di Indonesia. Dari mulai pembukaan lahan untuk perkebunan hingga perburuan satwa liar yang tidak terkendali. Dalam foto-foto tersebut kita bisa melihat berbagai peristiwa yang mengkhawatirkan seperti binatang kera yang diburu di Sulawesi, berbagai ular sanca yang dikuliti, dan masih banyak lagi.

Setelah sesi presentasi mengenai nature & wildlife photography, caca mempersilahkan para peserta bukutulis untuk bertanya. Pertanyaan pertama yang dilontarkan yaitu mengenai hal apa yang dilakukan caca ketika mengetahui bahwasanya ada ancaman terhadap alam & kehidupan satwa liar di Indonesia. Lalu caca bercerita pengalaman masa mudanya ketika masa kuliah. Pada saat itu caca bersama dengan para sahabatnya kerap sekali melakukan pengaduan dan laporan baik secara lisan maupun tertulis mengenai berbagai pelanggaran dan pengrusakan terhadap alam yang mereka temui di lapangan. Hasilnya? Tak ada, menurut caca. Pemerintah maupun instansi terkait biasanya tidak bereaksi dan mengambil tindakan nyata terhadap  semua laporan yg telah diterima oleh masyarakat. Hingga akhirnya caca pun kesal dan merasa letih dengan semuanya serta kemudian mengambil sikap untuk melawan itu semua melalui fotografi. Bagaimanapun juga kita harus mengakui bahwa perlawanan caca mengenai ancaman terhadap alam & kehidupan satwa liar yang dituangkan ke dalam bentuk buku fotografi “Living Treasures of Indonesia” terbukti cukup efektif. Bahkan Museum Library salah satu perpustakaan terbesar di dunia yang ada di inggris mengajukan permohonan untuk mengkoleksi buku foto karya Riza Marlon tersebut. Ironisnya, museum arsip nasional Indonesia belum pernah sekalipun menghubungi caca untuk mendapatkan buku foto tersebut. Padahal apabila pihak museum arsip nasional Indonesia memintanya, caca berniat untuk memberikan beberapa buku fotonya secara cuma-cuma.

Pertanyaan selanjutnya yang dilontarkan salah satu peserta lebih bersifat teknis. Merek kamera apa yang digunakan oleh caca untuk merekam foto-foto satwa liar tersebut. Lalu caca berujar bahwa ia tidak fanatik terhadap merek kamera tertentu. Karena caca pun pernah menggunakan kamera dari segala merek ketika memotret di lapangan. Yang terpenting adalah hasil akhir berupa karya foto terbaik yang kita miliki ujarnya. Lalu caca pun mengambil contoh bahwa sekitar tahun 2007 ada sebuah lembaga yang membuat program pendokumentasian perburuan ikan paus yang dilakukan oleh para nelayan lamalera di Nusa Tenggara Timur. Yang ditugaskan untuk memotret peristiwa perburuan ikan paus tersebut adalah para penduduk setempat dan nelayan lamalera. Mereka diberikan pinjaman kamera saku/poket untuk mendokumentasikan segala kegiatan perburuan ikan paus tersebut selama 7 bulan dimana sebelumnya caca memberikan pelatihan fotografi singkat kepada mereka. Ternyata hasilnya di luar dugaan. Foto-foto yang mereka rekam banyak memiliki kualitas yang baik meski mereka sebenarnya bukanlah fotografer profesional. Jadi menurut caca bahwa kamera itu adalah alat sehingga bukan menjadi kendala untuk memotret sesuatu yang kita senangi.

Kemudian beberapa pertanyaan tentang bagaimana pasar fotografi wildlife di indonesia, proses-proses apa yang dilakukan sebelum pemotretan, foto apa yang paling membuat caca terkesan hingga masalah ijin & copyright mengenai pemotretan satwa liar, diajukan oleh beberapa penanya dalam sesi tanya jawab. Caca pun menjawab satu per satu segala pertanyaan yang diajukan itu dengan sabar.  Untuk masalah pasar fotografi wildlife, ia menyebutkan bahwa pasarnya masih terbuka lebar. Biasanya perusahaan-perusahaan asing maupun lokal, LSM dan biro foto di Indonesia membutuhkan sejumlah foto satwa liar baik itu untuk keperluan kartu pos, kalendar tahunan dan lain-lain. Sehingga caca menjadikan peluang itu semua menjadi bisnis penyewaan stok foto. Caca membaginya ke dalam kelas-kelas tertentu dengan harga sewa yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat kesulitan memotret, kelangkaan obyek, & sistem sewa. Pada umumnya caca hanya memberikan hak pakai kepada para penyewa foto selama kurun waktu tertentu, bukan memberikan seluruh hak cipta karyanya (copyright). Caca pun bercerita bagaimana pentingnya sebuah riset dan pengumpulan informasi yang dilakukan sebelum pemotretan. Sehingga dengan modal yang ada, caca bisa secara optimal mendapatkan karya foto sesuai yang diinginkannya. Caca juga bercerita tentang salah satu pengalaman yang mengesankan ketika ia mendapat penugasan untuk memotret burung cendrawasih di papua. Untuk memotret burung cendrawasih yang sedang menari, caca musti mendaki gunung selama 24 jam lamanya pada ketinggian 2000 meter.

Setelah sesi tanya jawab tentang nature & wildlife photography selesai, caca memaparkan tahapan-tahapan mengenai proses pembuatan buku dari mulai pengumpulan data & foto, seleksi/kurasi foto, proses layout buku, penulisan teks, pembuatan contoh buku (mock up), pencarian sponsor, pengurusan ISBN dan ijin penerbitan, hingga proses proof print & proof reader sebelum kemudian buku tersebut dicetak. Buku foto karya caca ini dibuat dengan edisi bahasa inggris dan disusun berdasarkan pola sebaran bio-geografi yang menyangkut kehidupan satwa liar di Indonesia. Sebenarnya wacana untuk menerbitkan buku foto ini sudah muncul 2 tahun sebelum buku tersebut diluncurkan. Tetapi pada pelaksanaannya, caca mengalami kesulitan untuk mencari penerbit yang bersedia untuk mencetak bukunya. Padahal karya foto dan desain bukunya sudah ada dan tinggal siap untuk dicetak.Namun tetap saja banyak penerbit yang tidak percaya bahwa buku semacam ini bisa laku di pasaran. Akhirnya caca memutuskan untuk menerbitkan sendiri buku fotonya. Kegigihan caca selanjutnya bertemu dengan sebuah kesempatan besar. Salah satu pemilik percetakan ternama di Jakarta (Indonesia Printer) akhirnya bersedia membantu caca dengan mencetak buku fotonya meski sistemnya caca harus berhutang. Padahal waktu itu caca sudah menentukan tanggal dan membuat publikasi tentang peluncuran buku fotonya. Karena waktu yang sangat singkat dan usaha caca untuk mendapatkan uang untuk biaya cetak sekitar 250 juta rupiah tidak membuahkan hasil, akhirnya caca bersedia menerima tawaran tersebut. 3 jam sebelum peluncuran bukunya, caca hanya membawa 5 buah buku, sementara proses pencetakan buku foto tersebut masih berjalan . Tepat saat buku fotonya diluncurkan akhirnya sekitar 150 buah buku dikirimkan dari tempat percetakan ke tempat pameran foto berlangsung. Meski sebenarnya jumlah buku foto yang dicetak oleh caca secara keseluruhan sebanyak 1000 buku. Walaubagaimanapun, caca menyadari dan memaklumi situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Sebulan kemudian ternyata caca mampu melunasi hutangnya kepada pihak percetakan dari uang hasil penjualan bukunya.

Saat ini caca pun merasa sedikit lebih tenang sambil tetap berkarya untuk membuat buku foto selanjutnya. Di penghujung perbincangan, caca pun berkata bahwa ia mensyukuri segala jerih payahnya dalam hidup sehingga mampu melalui 2 buah momen terbesar yang ia alami. Momen yang pertama adalah ketika ia berhasil lulus kuliah di Universitas Nasional Jakarta dengan segala upaya dan daya juangnya. Seperti yang ia ceritakan bahwa pada saat kuliah ia mengalami berbagai hal yang sulit dari mulai mencari uang dengan memotret untuk membiayai kuliahnya hingga harus hidup dengan berpindah dari kost-an teman yang satu ke kost-an teman yang lain bak kaum nomaden. Lalu momen kedua adalah terwujudnya cita-cita untuk menerbitkan buku foto karyanya sendiri. Dari semua cerita yang ia sampaikan, setidaknya kita semua mendapat pelajaran berharga dari seorang Riza Marlon bahwa kecintaan, totalitas dan keyakinan pada akhirnya dapat membawa kita ke jalan yang dituju. Dan caca membuktikan semuanya itu kepada kita agar kelak ada orang yang meneruskan jejak perlawanannya terhadap ancaman bagi kehidupan flora fauna di Indonesia melalui fotografi. Demi sebuah hembusan nafas yang selalu ditiupkan oleh alam dan satwa liar di bumi pertiwi ini.

(c) apc institute – 2012

January 22, 2012

Tulisan & Foto Liputan Program Bukutulis #1 (Bedah Buku Foto & Temu Penulis) bersama Erik Prasetya di Goethe-Institut Bandung

MENJAWAB ESTETIKA FOTOGRAFI
Oleh Galih Sedayu

Estetika Banal. Frasa ini menjadi sebuah perbincangan & dialog menarik saat disuguhkan dalam sebuah program fotografi perdana bernama Bukutulis (Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis) yang digagas oleh APC Institute bekerjasama dengan Goethe-Institut Bandung. Program Bukutulis #1 ini digelar pada tanggal 21 Januari 2012 dengan memanfaatkan sebuah ruang kreatif milik Goethe-Institut Bandung di Jalan RE.Martadinata 48. Program ini dibuat sekaligus mengisi rangkaian kegiatan “Deutscher Fotobuchpreis 2011”, sebuah pameran buku fotografi terbaik karya para fotografer jerman yang berlangsung sejak tanggal 17 Januari hingga 11 februari 2012. Pada kesempatan kali ini, Erik Prasetya, seorang fotografer yang telah berhasil menerbitkan buku fotografi “Jakarta Estetika Banal”, dihadirkan untuk menjadi nara sumber sekaligus pembicara yang mengupas tuntas tentang isi buku tersebut.

Erik Prasetya adalah seorang fotografer kelahiran tahun 1958 asal kota Padang, Sumatera Barat . Ia sempat mengeyam pendidikan kampus di Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai mahasiswa jurusan tambang pada tahun 1977. Saat itu ia pun aktif melakukan kegiatan panjat tebing hingga akhirnya hobi tersebut mempertemukan dirinya dengan Harry Suliztiarto, seorang sahabat yang tidak hanya mengajarkan olah raga  panjat tebing  namun sekaligus menjadi guru fotografi pertama dalam hidupnya. Erik pun pernah bekerja menjadi kontributor foto khusus petualangan di majalah mutiara dan mendapat berbagai penugasan khusus dari wartawan senior Ed Zoelverdi (almarhum). Akhirnya sekitar tahun 1990, ia mulai menekuni esai foto yang ditampilkan pada rubrik “Kamera” majalah tempo. Pada tahun 1997, ia berkesempatan untuk bekerja dalam satu tim bersama Sebastiao Ribeiro Salgado, seorang fotografer kelas dunia asal brazil yang terkenal dengan karya buku fotografinya yang berjudul “Workers”. Sebenarnya Erik Prasetya sudah sejak kecil mengenal kamera, dimana kala ia berumur sepuluh tahun, ibundanya membelikan kamera Yashica Mat. Tak heran ketika ia beranjak dewasa, kecintaannya terhadap dunia fotografi semakin menggebu-gebu.

Program bedah buku ini dimulai pada pukul 15.00 WIB dengan paparan Erik Prasetya tentang berbagai hal di dalam fotografi. Diantaranya adalah mengenai pemilihan karya fotografi. Ia berujar bahwa sangatlah mudah melakukan pemotretan untuk kegiatan yang bersifat komersil, ataupun pemotretan yang dilakukan berdasarkan penugasan dari media. Ketika berhadapan dengan seorang editor misalnya, ia menegaskan bahwa seorang fotografer dapat dengan mudahnya mengirimkan karya foto sesuai dengan keinginan pemesan ataupun editor tersebut. Dengan bahasanya ia menyebutkan bahwa sangatlah mudah mengacc karya foto kita untuk editor. Tetapi menurutnya, hal yang paling sulit dilakukan adalah mengacc karya foto kita kepada diri sendiri.

Setelah itu Erik Prasetya memulai paparannya tentang buku fotografi. Baginya, sebuah buku memungkinkan para pembaca untuk masuk ke dalam suasana batin fotografer. Ia mengambil contoh karya foto esai hasil rekaman fotografer Elinor Carucci yang berjudul Closer. Dimana dengan bebasnya ia memotret secara personal seluruh anggota keluarganya, bahkan pada saat berpose telanjang. Kemudian karya foto yang berjudul “Bloodies & Other Bonds” yang dibuat oleh fotografer belanda yang bernama Diana Block, sengaja dipresentasikan olehnya agar kita dapat melihat bahwasanya kadang persepsi orang yang melihat sebuah karya foto bisa saja keliru. Misalnya saja foto yang menggambarkan dua orang pria dewasa kembar yang tengah berpose sambil membuka bajunya, seolah-olah memiliki kesan tabu. Padahal realita sebenarnya yang terjadi pada karya foto tersebut adalah hal-hal biasa yang kerap dilakukan oleh kedua orang pria kembar itu, dari mulai mandi bersama, tidur telanjang bersama dan lain sebagainya.

Kemudian Erik Prasetya bercerita tentang proses kreatif untuk menghasilkan sebuah buku fotografi dari mulai perencanaan awal, pengerjaan dan penerbitan. Kadang pada prosesnya, seringkali ia menemukan beberapa kegagalan. Salah satu contohnya Ia tunjukkan dengan memperlihatkan buku fotografi “Jakarta Estetika Banal” yang pada awal pengerjaannya di desain dengan format vertikal serta dibubuhkan satu buah font huruf “J” berwarna merah di tengah-tengah cover buku. Baginya buku itu malahan tampak seperti buku desain grafis ketimbang buku fotografi. Oleh karena itu, akhirnya format buku tersebut diubah menjadi horizontal dengan meniadakan font huruf “J” yang tadinya ditampilkan di cover depan buku tersebut. Ia pun mengungkapkan pengalamannya tentang proses scan foto sebagai materi buku tersebut, dikarenakan semua karya fotonya dihasilkan dengan media film. Pada akhirnya Ia menemukan sebuah pengetahuan yang sangat berharga bahwa ternyata karya foto yang dihasilkan dari proses scan negatif tidak lebih baik daripada hasil proses scan yang berasal dari karya foto yang telah dicetak sebelumnya. Alhasil ia pun melakukan proses scan ulang terhadap sebagian besar karya fotonya. Lalu ada hal yang menarik yaitu ketika proses mencetak buku foto tersebut, ternyata erik mengawasi secara langsung prosesnya di depan mesin percetakan. Kurang lebih selama  50 jam dengan setia ia menunggu dan mengecek langsung hasil cetakan bukunya satu persatu.

Pada presentasi selanjutnya erik menceritakan hal mengenai buku foto macam apa yang akan dibuat olehnya. Karena menurutnya sebuah buku itu bisa berisikan tentang 2 hal yaitu kebutuhan yang selalu ada atau sesuatu yang baru. Sebagai perumpamaan ia menyebutkan semisal seorang fotografer yang membuat buku foto yang bertajuk “Bandung Kota Kembang” dan seorang fotografer lain yang membuat buku bertajuk “Bandung Kota Kambing”. Pastinya 2 buku tersebut memiliki perbedaan yang mendasar dalam hal cara pendekatannya. Kemudian Erik bercerita mengenai latar belakang pembuatan buku foto estetika banal. Ia mengatakan bahwa saat ini estetika fotografi masih banyak mengekor pada estetika seni rupa, padahal sebenarnya fotografi sangat bisa menyumbangkan estetikanya sendiri. Meskipun sebenarnya ia tidak berusaha untuk memisahkan kedua estetika itu. Menurutnya, dalam sejarah pun, fotografi kebanyakan menjadi milik kelas menengah dan bersifat voyeuristik (mengintip) terhadap the other (yang lain). Sehingga muncul sebuah pertanyaan, “Bisakah fotografi merekam kelasnya sendiri?”

Selanjutnya ia menunjukkan foto karya Sebastiao Salgado yang memvisualkan isu kelaparan dengan obyek 4 orang penduduk di daerah afrika. Lalu ia membandingkan komposisi foto tersebut dengan lukisan-lukisan abad ke-16 yang mencuatkan cerita tentang  Sodom & Gomora. Di sana terlihat beberapa kemiripan komposisi yang dibuat dari karya foto Sebastiao Salgado, dimana rata-rata selalu ada 3 orang yang komposisinya diletakkan di depan dan 1 orang yang diletakkan di belakang. Sebagaimana kita tahu bahwa salgado adalah seorang fotografer yang religius sehingga karya fotonya selalu mengacu pada kisah-kisah yang terjadi di Alkitab agama nasrani. Begitu juga salah satu karya foto James Nachtwey (fotografer perang) yang mendeskripsikan seorang pria kurus kering tengah merangkak di sebuah bencana kelaparan di daerah sudan. Karya fotonya dianggap memiliki kemiripan dengan salah satu karya patung dari seorang seniman dunia.

Sesungguhnya seorang Erik Prasetya sebenarnya menawarkan sebuah cara dan pendekatan lain ketika merekam obyek yang difotonya hingga menjadi sebuah buku. Meski sebenarnya ia pun mengakui bahwasanya ia tidak lepas dari pengaruh pendekatan fotografi klasik semisal romantisme, metaforisme, dan jurnalisme. Pendekatan Estetika Banal (begitu ia menyebutnya), digunakan oleh erik ketika membuat karya fotonya. Ia mencoba untuk tidak memotret drama keseharian. Ia mencoba untuk membuat hubungan dengan obyek yang direkam menjadi lebih dialogis. Ia pun berusaha mencari pola sintagmatik yang tepat untuk menggambarkan hal-hal yang bersifat paradigmatik pada karya fotonya.

Akhirnya muncul sesi tanya jawab setelah paparan Erik Prasetya selesai. Tema, seorang mahasiswa Unpas menanyakan perihal tentang mengapa karya foto Erik dalam buku “Jakarta Estetika Banal”nya, selalu menyertakan puisi-puisi karya Chairil Anwar, Goenawan Muhamad, Joko Pinurbo, Wiji Thukul dan Zen Hae. Lalu Erik pun menjawab bahwasanya puisi-puisi tersebut ia butuhkan untuk menjadi kait bagi segala cerita dan tema yang ada di dalam karya fotonya. Sebagai contoh puisi  dari Goenawan Muhamad yang berbunyi “Di kota itu gerimis, kata orang, telah jadi logam”. Sesudah puisi tersebut, dalam bukunya Erik menampilkan foto seorang petani kerang hijau di daerah Cilincing, Jakarta. Ia mengemukakan bahwa relevansi foto tersebut dengan kata-kata puisi karya Goenawan Muhamad sangatlah erat. Karena di saat musim hujan, petani kerang hijau selalu libur untuk mencari nafkah. Bukan karena kekurangan kerang hijau, tetapi mereka tidak berani mengambil kerang hijau pada saat musim hujan berlangsung dikarenakan kerang-kerang tersebut mengandung kadar merkuri (logam) yang sangat tinggi. Tentunya kita semua tahu bahwa kerang hijau memiliki kemampuan menahan merkuri di dalam tubuhnya ketika hujan. Inspirasi menggunakan puisi Goenawan Muhamad tersebut sebenarnya muncul tatkala Erik melakukan obrolan kecil dengan seorang petani daun bawang di tepi kali malang, Jakarta. Petani itu mengatakan bahwa setiap kali hujan, daun bawangnya pasti bolong-bolong terkena kandungan logam yang dihasilkan dari curah hujan kota Jakarta. Dari peristiwa-peristiwa tersebut, seharusnya kita dapat melihat betapa parahnya polusi di kota Jakarta.

Pernyataan tentang buku foto “Jakarta Estetika Banal” diungkapkan oleh Deni Sugandi (ketua pinhole bandung & pemilik fotolisis) dan Sandi Jaya Saputra (Fotografer Lepas & Asisten Lab Foto Fikom Unpad). Menurut mereka berdua, karya foto Erik yang ditampilkan dalam buku tersebut tidak mencerminkan tentang makna banal sesungguhnya serta tidak menjawab pertanyaan tentang estetika banal itu sendiri, meski sebenarnya mereka pun tidak menjelaskan dengan gamblang perpektif banal seperti apa yang diharapkan dalam tampilan visual. Kemudian Erik pun menjawab bahwa pada dasarnya ia mengakui bahwa tidak semua foto yang ia buat dalam bukunya merupakan terjemahan visual tentang banal sesungguhnya. Baginya sangat sulit untuk membuat sebuah pendekatan estetika banal yang akurat dan mutlak benar. Tapi setidaknya menurut erik ada upaya untuk memberikan sebuah peluang lain dalam estetika fotografi dengan tidak menampilkan dominasi karya foto piktorial. Memang menurut catatan saya, dari sejumlah buku fotografi resmi yang diterbitkan oleh fotografer Indonesia dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, buku foto “Jakarta Estetika Banal” ini memiliki pendekatan dan eksekusi yang berbeda (entah apapun itu namanya) dibandingkan dengan buku foto yang yang lain. Menurut saya, mungkin satu-satunya buku foto yang memiliki kemiripan ide dan eksekusi dengan buku Erik Prasetya adalah buku foto karya Kusnadi yang berjudul “Fotografi Seni Kusnadi” yang dibuat pada tahun 1994.

Meski begitu, Erik menepis anggapan keliru dengan mengatakan bahwa ia tidak mempersoalkan ataupun berusaha memisahkan antara estetika fotografi dengan estetika seni rupa. Baginya buku yang ia buat adalah sebentuk perlawanan kecil yang ia coba dilakukan (meski tidak sempurna) untuk mengekspan berbagai peluang estetika yang ada. Bukan mengajak orang untuk meninggalkan estetika seni rupa ataupun mengajak orang untuk membuat karya dengan estetika fotografi. Lalu ada Danu (seorang pecinta fotografi dan punya hobi menyulam) yang memberikan opini bahwa seharusnya seorang fotografer lebih banyak memiliki referensi literature tulis  yang lebih banyak ketimbang referensi visual. Kemudian Erik pun menjawab bahwa ketika seorang fotografer berkarya, referensi itu sesungguhnya bisa didapat dari segala hal entah itu novel, film, buku cerita dan sebagainya. Tepat pukul 17.15 WIB, program bukutulis ini akhirnya berakhir. Sebelum ditutup, Erik sempat berujar bahwa ia menyadari apabila buah karyanya yang telah digarap selama 25 tahun itu tidak selesai hingga di buku foto “Jakarta Estetika Banal”saja. Erik memiliki harapan semoga dalam kurun waktu 3 atau 4 tahun ke depan, ia memiliki kesempatan untuk menerbitkan sebuah buku fotografi yang lain. Tentunya dengan cara seorang Erik Prasetya. Dimana kita bisa bebas memilih. Suka atau tidak suka.

(c) apc institute – 2012

December 11, 2011

Liputan Kemilau Nusantara Photo Contest 2011 @ CHIP Foto Video Edisi Desember 2011

(c) apc institute – 2011