Tulisan mengenai Surat Perpisahan Lin Jue-ming (Tokoh Revolusi Cina) dengan Sang Istri pada Pameran Foto “Retracing of Our Steps”

Courtesy of Kuomintang PartyArchives

Sayangku,

Aku tuliskan surat ini sebagai persiapanku untuk berpisah denganmu! Saat menuliskan surat ini aku masih hidup di dunia ini, ketika kau membacanya aku telah meninggal dunia. Tetes air mata dan tinta jatuh bersamaan, tak kuasa menyelesaikan suratku ini. Namun karena takut kau tidak akan mengerti deritaku, berpikir bahwa aku tega meninggalkanmu dan tidak paham akan hatimu yang tak ingin membiarkanku berpulang ke maut, maka aku ‘kan selesaikan juga surat ini.

Aku sungguh mencintaimu. Oleh karena cintaku inilah, membuat aku beranikan diri berpulang kepadaNya. Sejak bertemu denganmu, aku selalu berjanji padaNya untuk jadikan kau kekasihku—bagian dari keluargaku. Tetapi di saat amisnya darah memenuhi semua tempat, dan manusia jahat bak anjing serigala ganas menguasai seluruh jalan, berapa banyak keluarga yang dapat hidup berbahagia?

Aku tak pernah curahkan isi hatiku, dan inilah kesalahanku. Tapi jika aku mengatakannya padamu, aku takut kau ‘kan mengkhawatirkan diriku sepanjang hari. Aku korbankan hidup, tak bersuara, dan membiarkanmu resah; sejujurnya ini bukanlah kemauanku! Aku sungguh mencintaimu hingga aku selalu takut usahaku tidak cukup bagimu. Beruntungnya kau menikah denganku, namun malangnya kita dilahirkan di negeri China yang sekarang. Beruntungnya aku dapat menikah denganmu, tapi malangnya mengapa kita bisa dilahirkan di negeri China yang sekarang?Betapa malangnya nasib kita ini!

Duh! Secarik kertas tak mampu menampung sejuta rasa. Seribu bahasa pun tak mampu mengungkapkannya, namun kau dapat memahaminya. Aku tak dapat bertemu denganmu sekarang. Aku pun tahu kau tak dapat berpisah denganku, hingga kau nanti ‘kan menjumpai bayangan diriku didalam mimpi. Aduh, pedihnya!

Demikian kutuliskan surat ini. Rindukanmu di tengah malam, bulan ke-3, akhir tahun Revolusi.

Surat di atas merupakan surat perpisahan antara seorang tokoh revolusi Lin Jue-ming dengan sang istri, pada malam sebelum Jue-ming ikut berjuang dalam Revolusi Guangzhou di bulan Maret 1910, setahun sebelum terbentuknya Republik China. Demi masa depan rakyat China, Jue-Ming mengorbankan rumah tangga bahagianya untuk bergabung dengan pejuang revolusi ke-10 pimpinan Bapak Bangsa Republik China, Sun Yat-sen. Pemberontakan dipimpin oleh suku Huang, Xing, Hu, dan Han untuk berperang melawan regim Qing hingga titik darah penghabisan. Pada akhirnya, kekalahan yang dialami karena jumlah pasukan yang lebih sedikit, hanya menyisakansuratperpisahan ini, yang mampu menggambarkan kepada dunia perasaan sang pejuang semasa hidupnya.

Di antara para pejuang muda revolusi ke-10 yang mengorbankan nyawanya, sebanyak 72 pemuda disemayamkan di atas gundukan bunga kuning. Jasa para pemuda yang telah mengorbankan nyawanya itu dan membangkitkan hati seluruh rakyat. Enam bulan kemudian, usaha pemberontakan Wuchang yang terjadi pada tanggal 10 Oktober berakhir dengan kesuksesan. Ini sekaligus meletakkan fondasi yang kokoh bagi lahirnya Republik Chinapada tanggal 1 Januari 1912. Maka untuk memperingati peristiwa tersebut, Pemerintah Republik Chinasejak itu menetapkan 29 Maret sebagai Hari Pemuda.

Sama halnya dengan semangat pemuda Republik China yang berapi-api, Bapak Bangsa Indonesia Bung Karno yang selepas kelulusannya dari Institut Teknologi Bandung di tahun 1926, mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1927 untuk menyuarakan bangsa yang merdeka. Pada tahun 1928, PNI berganti nama menjadi Partai Nasional Indonesia, yang menyuarakan sikap non-kooperatif dan menggalangmassauntuk bersumpah mencapaiIndonesiayang merdeka. Bung Karno dan segenap pimpinan PNI ditangkap pada tahun 1929 dan diadili oleh pengadilan kolonial Belanda di Bandung pada akhir tahun 1930. Bung Karno dinyatakan bersalah dan menerima hukuman 4 tahun penjara. PNI pun dibubarkan.

Gedung Indonesia Menggugat (GIM) yang terletak diBandungmerupakan tempat pengadilan kolonial tersebut. Tempat inilah yang menjadi saksi semangat perjuangan Bapak BangsaIndonesia, Bung Karno; dan memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.

Tak peduli karena mengorbankan percintaan pribadi, demi cinta terhadap tanah air yang demokratis, atau karena pembelaan prinsip pribadilah yang menjadikan revolusi sukses atau negara dapat menjadi merdeka; namun semuanya itu membuahkan pengaruh besar untuk perjuangan yang sama tetapi dengan kisah yang berbeda. Hal inilah yang menggugah kami untuk membuka pameran foto “Menelusuri Jejak 100 Tahun Berdirinya Republik China” pada tanggal 29 Maret. Melalui latar belakang panjang penyelenggaraannya di GIM, semoga pameran foto ini mampu menggambarkan kisah 100 tahunnya Republik China kepada masyarakat Indonesia, dan mengenang jasa-jasa para pejuang.

Kurator
Tommy Lee
Galih Sedayu
(Penerjemah : Sabina Satriyani Puspita)

導言

 

『意映卿卿如晤;

吾今以此書與汝永別矣!吾作此書時,尚是世中之人;汝看此書時,吾已成為陰間一鬼。吾作此書,淚珠和筆墨齊下,不能竟書而欲擱筆。又恐汝不察吾衷,謂吾忍捨汝而死也,謂吾不知汝之不欲吾死也,故遂忍悲為汝言之。

吾至愛汝,即此愛汝一念,使吾勇於就死也。吾自遇汝以來,常願天下有情人都成眷屬;然遍地腥膻,滿街狼犬,稱心快意,幾家能夠?

吾平生未嘗以吾所志語汝,是吾不是處;然語之又恐汝日日為吾擔憂。吾犠牲百死不詞,而使汝擔憂,的的非吾所思。吾愛汝至,所以為汝謀者惟恐未盡。汝幸而偶我,又何不幸而生今日之中國;吾幸而得汝,又何不幸而生今日之中國?卒不能獨善其身!嗟夫!紙短情長,所未盡者尚有萬千,汝可以類此得之!吾今不能見汝矣;汝不能舍吾,其時時於夢中得我乎!一慟!

辛末三月念六月四鼓,意洞手書。』

這是中華民國創建前一年1910年3月,革命志士林覺民在參加廣州革命赴義前夕,親手寫給愛妻的訣別書。他為了中國人民的未來,捨下大好的錦繡前程與幸福家庭,義無反顧參加由中華民國國父孫逸仙領導的第十次國民革命,在黃興與胡漢民等人率領下在廣州起義,與滿清政府作殊死戰。終因寡不敵眾不幸落敗,只留下這篇『與妻訣別書』,與世人分享他的生命情懷。

在第十次革命中拋頭灑熱血犠牲的青年菁英中,有72人合葬於廣州的黃花崗上。為了感念他們勇於奉獻生命的偉大情操,喚醒全中國人的心,為六個月後的辛亥雙十武昌起義成功,奠下厚實的基礎,讓中華民國能在1912年1月1日順利誔生。中華民國政府明定每年的3月29日為青年節,以資紀念。

同樣是青年的滿腔熱血,印尼國父蘇卡諾1926年從萬隆理工學院畢業後,1927年組『印尼民族主義協會』,積極追求獨立建國,1928年改名『印尼國民黨』,主張以不合作的方式,組織群眾誓言達成印尼的獨立。1929年蘇卡諾與其他的國民黨領袖被捕,1930年底在萬隆的荷蘭殖民法庭公開受審,以違反秩序罪被判處4年有期徒刑,並宣佈解散印尼國民黨。

現在萬隆的『印尼控訴館』(Gedung Indonesia Menggugat, GIM)就是當年殖民法庭所在地,它見證了印尼國國父蘇卡諾年青時的奮鬥精神,深具歷史意義。

無論是化兒女私情為民族國家的大愛,或是慷慨激昂地為自己的理念辯護,都可以為一個國家的革命成功或民族獨立,產生異曲同工的影響能量。這就是我們選擇在3月29日為『中華民國建國百年回顧展』開幕,以及透過印尼控訴館舉辦攝影展的遠緣由,希望透過這個攝影展能與印尼民眾分享中華民國一百年來故事,並藉以緬懷先賢先烈們的犠牲奉獻。

策展人

李東明

佳里‧瑟答優

(意映卿卿如晤:

我今天寫這封信是準備要與妳永別了!在寫這封信時,我還是活在世間的一個人;但當妳在看到這封信時,我已成了陰間鬼魂。寫這封信時,我淚珠與筆墨一起落下,竟無法寫完而想停筆,但又深怕妳不明白我的苦衷,以為我忍得捨妳而去,也不了解妳不想讓我赴死的心意,所以我忍住悲痛為妳寫完這封信。

我好愛妳,就因為這份愛,讓我勇於赴死。我自從遇見妳以來,就常許願天下有情人都能成為眷屬。但如今到處都可聞到血腥惡臭的氣味,滿街也都可見到像凶犬惡狼般的壞人;想要心滿意足快樂過活,又有幾個家庭能夠做得到?…

我從來没有把自己的志願告訴,這是我的不對。但告訴妳,又怕妳成天為我擔憂。我犠牲生命,百死不辭,而讓妳擔憂,實在不是我所想要的啊!我好愛妳,所以總怕為妳做得不夠;妳有緣嫁給我,卻又不幸正好生於今天的中國;而我也有幸娶妳,又怎麼不幸地生在今天的中國?我們終究是不可能只顧著自己,而對腐敗的滿清政權視而不見!

唉!紙短情長,千言萬語都訴說不完,妳應該可以推想而知。我現在不能去看妳,我知道妳會捨不得我,到時候又會在夢中不斷看到我的身影!哀痛啊!

辛亥年末三月間,想念妳於半夜時分,意洞親筆。)

Advertisements

2 Comments to “Tulisan mengenai Surat Perpisahan Lin Jue-ming (Tokoh Revolusi Cina) dengan Sang Istri pada Pameran Foto “Retracing of Our Steps””

  1. Selamat Mas Galih atas penyelenggaraan acaranya..sukses..perencanaan, persipan dan pelaksnaan acara tersebut tentunya membutuhkan upaya yang tidak sedikit..semoga APC Institute semakin maju..Amiin (Pri)

  2. Terima kasih banyak mas pri. Atas segala dukungannya. Salam.

    -apc-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: