Archive for April 4th, 2012

April 4, 2012

PHOTO RENDEZVOUS #11 – Presentasi Karya Foto, Cerita Pemotretan & Diskusi “Taiwan Story” bersama Tommy Lee…{CLOSED}

Menjumpai Sahabat

APC Institute mengundang para sahabat untuk menghadiri program

PHOTO RENDEZVOUS #11
Presentasi Karya Foto, Cerita Pemotretan & Diskusi

TEMA
“Taiwan Story”

PEMBICARA
Tommy Lee
Curator, Photographer & Director of Press Information Division (Taipei Economic & Trade Office in Indonesia)

(c) apc institute

PENERJEMAH
Sabina Satriyani Puspita

TEMPAT
Gedung Indonesia Menggugat (GIM)
Jalan Perintis Kemerdekaan No.5
Bandung

WAKTU
Rabu 11 April 2012
Pukul 15.00 s/d 17.00 WIB

KETERANGAN
Program ini bebas untuk umum dan tidak dikenakan biaya (Free).
Bagi sahabat yang ingin hadir mohon menuliskan nama, nomor handphone & asal institusi/kampus/klub di kolom “comments” pada posting ini.

TENTANG PHOTO RENDEZVOUS
Photo Rendezvous adalah sebuah program edukasi yang diinisiasi oleh APC Institute berupa presentasi foto, diskusi dan cerita di balik pemotretan yang disampaikan oleh seorang pembicara. Penyelenggaraan program Photo Rendezvous tidak memiliki jadwal yang tetap. Karenanya kehadiran Photo Rendezvous ibarat maling yang tidak pernah mengentuk pintu sebelumnya. Photo Rendezvous bisa hadir sebulan sekali, sebulan tidak sama sekali, seminggu sekali, tiga kali sehari, atau sekali-sekali saja. Satu hal yang pasti, Photo Rendezvous akan selalu hadir selama fotografi kita belum mati. Sebab Photo Rendezvous ini ada dengan harapan agar fotografi selalu hidup dan dapat memberikan ruh bagi kita semua yang mengaku sebagai masyarakat visual. Oleh karena itu kami berharap agar Photo Rendezvous dapat menciptakan jejaring di antara komunitas kreatif, membangun rasa persaudaraan dalam satu jiwa serta menghasilkan karya-karya yang dapat meninggalkan jejak peradaban bagi manusia. Sehingga tidak akan pernah ada kata kesepian dalam fotografi kita.

Mari mengalir sampai jauh…

INFO LANJUT
APC Institute
photography network centre
education – creativity – management
surapati core blok m32
jl. phh. mustofa 39 bandung
ph. +62-22-87242729 / 70160771
apc_institute@yahoo.com
facebook: APC institute & twitter: @apcinstitute
http://www.airfotonetwork.wordpress.com

April 4, 2012

Tulisan mengenai Surat Perpisahan Lin Jue-ming (Tokoh Revolusi Cina) dengan Sang Istri pada Pameran Foto “Retracing of Our Steps”

Courtesy of Kuomintang PartyArchives

Sayangku,

Aku tuliskan surat ini sebagai persiapanku untuk berpisah denganmu! Saat menuliskan surat ini aku masih hidup di dunia ini, ketika kau membacanya aku telah meninggal dunia. Tetes air mata dan tinta jatuh bersamaan, tak kuasa menyelesaikan suratku ini. Namun karena takut kau tidak akan mengerti deritaku, berpikir bahwa aku tega meninggalkanmu dan tidak paham akan hatimu yang tak ingin membiarkanku berpulang ke maut, maka aku ‘kan selesaikan juga surat ini.

Aku sungguh mencintaimu. Oleh karena cintaku inilah, membuat aku beranikan diri berpulang kepadaNya. Sejak bertemu denganmu, aku selalu berjanji padaNya untuk jadikan kau kekasihku—bagian dari keluargaku. Tetapi di saat amisnya darah memenuhi semua tempat, dan manusia jahat bak anjing serigala ganas menguasai seluruh jalan, berapa banyak keluarga yang dapat hidup berbahagia?

Aku tak pernah curahkan isi hatiku, dan inilah kesalahanku. Tapi jika aku mengatakannya padamu, aku takut kau ‘kan mengkhawatirkan diriku sepanjang hari. Aku korbankan hidup, tak bersuara, dan membiarkanmu resah; sejujurnya ini bukanlah kemauanku! Aku sungguh mencintaimu hingga aku selalu takut usahaku tidak cukup bagimu. Beruntungnya kau menikah denganku, namun malangnya kita dilahirkan di negeri China yang sekarang. Beruntungnya aku dapat menikah denganmu, tapi malangnya mengapa kita bisa dilahirkan di negeri China yang sekarang?Betapa malangnya nasib kita ini!

Duh! Secarik kertas tak mampu menampung sejuta rasa. Seribu bahasa pun tak mampu mengungkapkannya, namun kau dapat memahaminya. Aku tak dapat bertemu denganmu sekarang. Aku pun tahu kau tak dapat berpisah denganku, hingga kau nanti ‘kan menjumpai bayangan diriku didalam mimpi. Aduh, pedihnya!

Demikian kutuliskan surat ini. Rindukanmu di tengah malam, bulan ke-3, akhir tahun Revolusi.

Surat di atas merupakan surat perpisahan antara seorang tokoh revolusi Lin Jue-ming dengan sang istri, pada malam sebelum Jue-ming ikut berjuang dalam Revolusi Guangzhou di bulan Maret 1910, setahun sebelum terbentuknya Republik China. Demi masa depan rakyat China, Jue-Ming mengorbankan rumah tangga bahagianya untuk bergabung dengan pejuang revolusi ke-10 pimpinan Bapak Bangsa Republik China, Sun Yat-sen. Pemberontakan dipimpin oleh suku Huang, Xing, Hu, dan Han untuk berperang melawan regim Qing hingga titik darah penghabisan. Pada akhirnya, kekalahan yang dialami karena jumlah pasukan yang lebih sedikit, hanya menyisakansuratperpisahan ini, yang mampu menggambarkan kepada dunia perasaan sang pejuang semasa hidupnya.

Di antara para pejuang muda revolusi ke-10 yang mengorbankan nyawanya, sebanyak 72 pemuda disemayamkan di atas gundukan bunga kuning. Jasa para pemuda yang telah mengorbankan nyawanya itu dan membangkitkan hati seluruh rakyat. Enam bulan kemudian, usaha pemberontakan Wuchang yang terjadi pada tanggal 10 Oktober berakhir dengan kesuksesan. Ini sekaligus meletakkan fondasi yang kokoh bagi lahirnya Republik Chinapada tanggal 1 Januari 1912. Maka untuk memperingati peristiwa tersebut, Pemerintah Republik Chinasejak itu menetapkan 29 Maret sebagai Hari Pemuda.

Sama halnya dengan semangat pemuda Republik China yang berapi-api, Bapak Bangsa Indonesia Bung Karno yang selepas kelulusannya dari Institut Teknologi Bandung di tahun 1926, mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1927 untuk menyuarakan bangsa yang merdeka. Pada tahun 1928, PNI berganti nama menjadi Partai Nasional Indonesia, yang menyuarakan sikap non-kooperatif dan menggalangmassauntuk bersumpah mencapaiIndonesiayang merdeka. Bung Karno dan segenap pimpinan PNI ditangkap pada tahun 1929 dan diadili oleh pengadilan kolonial Belanda di Bandung pada akhir tahun 1930. Bung Karno dinyatakan bersalah dan menerima hukuman 4 tahun penjara. PNI pun dibubarkan.

Gedung Indonesia Menggugat (GIM) yang terletak diBandungmerupakan tempat pengadilan kolonial tersebut. Tempat inilah yang menjadi saksi semangat perjuangan Bapak BangsaIndonesia, Bung Karno; dan memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.

Tak peduli karena mengorbankan percintaan pribadi, demi cinta terhadap tanah air yang demokratis, atau karena pembelaan prinsip pribadilah yang menjadikan revolusi sukses atau negara dapat menjadi merdeka; namun semuanya itu membuahkan pengaruh besar untuk perjuangan yang sama tetapi dengan kisah yang berbeda. Hal inilah yang menggugah kami untuk membuka pameran foto “Menelusuri Jejak 100 Tahun Berdirinya Republik China” pada tanggal 29 Maret. Melalui latar belakang panjang penyelenggaraannya di GIM, semoga pameran foto ini mampu menggambarkan kisah 100 tahunnya Republik China kepada masyarakat Indonesia, dan mengenang jasa-jasa para pejuang.

Kurator
Tommy Lee
Galih Sedayu
(Penerjemah : Sabina Satriyani Puspita)

導言

 

『意映卿卿如晤;

吾今以此書與汝永別矣!吾作此書時,尚是世中之人;汝看此書時,吾已成為陰間一鬼。吾作此書,淚珠和筆墨齊下,不能竟書而欲擱筆。又恐汝不察吾衷,謂吾忍捨汝而死也,謂吾不知汝之不欲吾死也,故遂忍悲為汝言之。

吾至愛汝,即此愛汝一念,使吾勇於就死也。吾自遇汝以來,常願天下有情人都成眷屬;然遍地腥膻,滿街狼犬,稱心快意,幾家能夠?

吾平生未嘗以吾所志語汝,是吾不是處;然語之又恐汝日日為吾擔憂。吾犠牲百死不詞,而使汝擔憂,的的非吾所思。吾愛汝至,所以為汝謀者惟恐未盡。汝幸而偶我,又何不幸而生今日之中國;吾幸而得汝,又何不幸而生今日之中國?卒不能獨善其身!嗟夫!紙短情長,所未盡者尚有萬千,汝可以類此得之!吾今不能見汝矣;汝不能舍吾,其時時於夢中得我乎!一慟!

辛末三月念六月四鼓,意洞手書。』

這是中華民國創建前一年1910年3月,革命志士林覺民在參加廣州革命赴義前夕,親手寫給愛妻的訣別書。他為了中國人民的未來,捨下大好的錦繡前程與幸福家庭,義無反顧參加由中華民國國父孫逸仙領導的第十次國民革命,在黃興與胡漢民等人率領下在廣州起義,與滿清政府作殊死戰。終因寡不敵眾不幸落敗,只留下這篇『與妻訣別書』,與世人分享他的生命情懷。

在第十次革命中拋頭灑熱血犠牲的青年菁英中,有72人合葬於廣州的黃花崗上。為了感念他們勇於奉獻生命的偉大情操,喚醒全中國人的心,為六個月後的辛亥雙十武昌起義成功,奠下厚實的基礎,讓中華民國能在1912年1月1日順利誔生。中華民國政府明定每年的3月29日為青年節,以資紀念。

同樣是青年的滿腔熱血,印尼國父蘇卡諾1926年從萬隆理工學院畢業後,1927年組『印尼民族主義協會』,積極追求獨立建國,1928年改名『印尼國民黨』,主張以不合作的方式,組織群眾誓言達成印尼的獨立。1929年蘇卡諾與其他的國民黨領袖被捕,1930年底在萬隆的荷蘭殖民法庭公開受審,以違反秩序罪被判處4年有期徒刑,並宣佈解散印尼國民黨。

現在萬隆的『印尼控訴館』(Gedung Indonesia Menggugat, GIM)就是當年殖民法庭所在地,它見證了印尼國國父蘇卡諾年青時的奮鬥精神,深具歷史意義。

無論是化兒女私情為民族國家的大愛,或是慷慨激昂地為自己的理念辯護,都可以為一個國家的革命成功或民族獨立,產生異曲同工的影響能量。這就是我們選擇在3月29日為『中華民國建國百年回顧展』開幕,以及透過印尼控訴館舉辦攝影展的遠緣由,希望透過這個攝影展能與印尼民眾分享中華民國一百年來故事,並藉以緬懷先賢先烈們的犠牲奉獻。

策展人

李東明

佳里‧瑟答優

(意映卿卿如晤:

我今天寫這封信是準備要與妳永別了!在寫這封信時,我還是活在世間的一個人;但當妳在看到這封信時,我已成了陰間鬼魂。寫這封信時,我淚珠與筆墨一起落下,竟無法寫完而想停筆,但又深怕妳不明白我的苦衷,以為我忍得捨妳而去,也不了解妳不想讓我赴死的心意,所以我忍住悲痛為妳寫完這封信。

我好愛妳,就因為這份愛,讓我勇於赴死。我自從遇見妳以來,就常許願天下有情人都能成為眷屬。但如今到處都可聞到血腥惡臭的氣味,滿街也都可見到像凶犬惡狼般的壞人;想要心滿意足快樂過活,又有幾個家庭能夠做得到?…

我從來没有把自己的志願告訴,這是我的不對。但告訴妳,又怕妳成天為我擔憂。我犠牲生命,百死不辭,而讓妳擔憂,實在不是我所想要的啊!我好愛妳,所以總怕為妳做得不夠;妳有緣嫁給我,卻又不幸正好生於今天的中國;而我也有幸娶妳,又怎麼不幸地生在今天的中國?我們終究是不可能只顧著自己,而對腐敗的滿清政權視而不見!

唉!紙短情長,千言萬語都訴說不完,妳應該可以推想而知。我現在不能去看妳,我知道妳會捨不得我,到時候又會在夢中不斷看到我的身影!哀痛啊!

辛亥年末三月間,想念妳於半夜時分,意洞親筆。)

April 4, 2012

Tulisan Kurator pada Katalog Pameran Foto 100 Tahun Republik Cina “Retracing Our Steps”

Courtesy of Kuomintang PartyArchives

SEABAD KEBEBASAN 

The basis of a democratic state is liberty.
-Aristoteles (384-322 SM)
dari “Politics”

Namanya sohor sebagai penggerak  pembebasan  rakyat Cina dari kungkungan kekaisaran Qing  yg luar biasa zalim dan korup.  Pemimpin gerakan “mission imposible”  itu adalah seorang dokter suku Han bernama Sun Wen, namun dunia mengenal namanya sebagai Sun Yat-sen (1866-1925).  Dialah pengobar Revolusi Xinhai yang sukses menumbangkan domino feodalisme Dinasti Qing hingga ke akar sumsumnya.  Revolusi yang menghapuskan 268 tahun tirani imperium Qing, seraya membungkusnya sebagai  keranda akhir sejarah kekaisaran Cina

Masyarakat Cina  mendukung Tiga Prinsip Rakyat yang dikumandangkan Sun Yat-sen menyublim mekar di sanubari mereka. Semboyan yang  menggelorakan perlawanan dari hati yang tertindas dan akan terus kekal bergema  sepanjang masa. Tiga Prinsip Rakyat yang dihembuskan Sun  adalah,  Nasionalisme (Minzu), Demokrasi (Minquan) dan Kesejahteraan Rakyat (Minsheng).  yang dikreasi  dari falsafah Abraham Lincoln, presiden AS semasa perang saudara yang mengibarkan semboyan “dari, oleh dan untuk rakyat”,  dipadu dengan refleksi ajaran bijak filsuf termasyur Cina,  Confusius.  Tiga Prinsip Rakyat Sun  melandasi tetesan  perlawanan rakyat tanpa henti atas karang  tirani yang sebelumnya tak pernah  terbayangkan akan pecah dan hancur berkeping tak bersisa. Kezaliman akhirnya tumpas  oleh tekad membara, kejujuran nurani dan  keagungan jiwa untuk  meraih kebebasan.

Sun Yat-sen diakui sebagai Bapak Republik China. Beliau adalah Pendiri Republik China setelah kemenangan Revolusi pada 10 Oktober 1911. Baik masyarakat di Cina daratan maupun Taiwan, setiap tahun merayakan peringatan kemenangan Revolusi pada 10 Oktober 1911 saat kekaisaran Qing bertekuk lutut dan terpaksa menghamparkan permadani merah mereka untuk  kawulanya.

Penaklukan bersejarah,  menyusul berhasilnya pemberontakan Wuhan, Hubei tahun 1911, yang digerakkan Sun dan kendali lapangannya dipimpin  oleh tangan kanan Sun,  Huang Xing (1874-1916), ahli militer yang kemudian atas jasa perjuangannya diangkat menjadi Pangab pertama Republik Nasionalis Cina. Pada saat krusial itu Sun sendiri tengah berada di Denver, AS melakukan rangkaian kampanye penggalangan dukungan atas gerakan perlawanan  mereka di dunia Barat.

Pameran “The Centennial ROC” yang diselenggarakan pada bulan Oktober 2011 di ruang pamer utama Galeri Foto Jurnalistik Antara, serta pameran “Retracing Our Steps- A Photo Journey Through the ROC’s 1st Century” pada tanggal 29 Maret 2012 di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, mencoba merefleksikan  perjalanan demokrasi  dan proses pembangunan Republik China hingga progresnya seratus tahun kemudian.  Pameran peringatan juga  digelar untuk mengapresiasi sekaligus merayakan kebebasan sebagai  upaya insan  manusia untuk meraih kembali martabat yang tercerabut dan membentangkannya sebagai jalan bagi demokrasi.  “The Centennial”  juga adalah  godam sejarah yang selalu mengingatkan betapa mulianya kebebasan demokrasi bagi kemanusiaan majemuk yang adil dan beradab. Meskipun sejarah pula yang mencatatkan bahwa titian menuju kebebasan selalu penuh  pengorbanan yang terkadang berlumur darah dan air mata. Seperti yang juga dialami Indonesia saat memperjuangkan kemerdekaannya. Atau,  ketika Mahatma Gandhi  memimpin  pembebasan India, serta Nelson Mandela yang memerdekakan rakyat Afrika Selatan dari segregasi apartheid.

Kebebasan demokrasi bukanlah takdir yang jatuh dari langit,  dia harus diraih dengan pengorbanan apapun,  atas nama  kemuliaan insan  manusia.

Oscar Motuloh
Tommy Lee
Galih Sedayu
Kurator

Courtesy of Kuomintang PartyArchives

中華民國  建國百年回顧攝影展

自由為民主國家的基石

–亞里斯多德

他之所以受人敬仰,因為他是拯救被清朝專制和腐敗政權壓迫的中國人民的救星,這位啟動“不可能任務”的革命運動發起人,名叫孫文,漢族醫生,世人稱他為孫逸仙或孫中山先生(1866-1925)。他和同志們發動的辛亥革命,徹底推翻清朝長達268年的封建政權,他是結束中國君主專政的偉人。

中國人民逐漸認同孫中山先生所主張的三民主義,激發被壓迫者內心對自由民主的嚮往,世代流傳。中山先生宣揚民主、民權、民生的三民主義,是效法美國前總統林肯在內戰期間宣揚的“民有、民治、民享”的立國原則,並結合中國偉大哲學家孔子的儒家思想。孫中山先生的三民主義以人民為基礎,在人民的決心、誠實與良知的引領下,終於讓中國君主專政的政權,粉碎地不留任何痕跡。

孫中山先生於1911年10月10日辛亥革命成功之後,創建中華民國,並成為中華民國的國父。無論在中國大陸或台灣,兩地人民在每年的10月10日都會分別慶祝辛亥革命成功的意義。

孫中山先生的革命得力助手黃興(1874-1916),1911年在湖北武漢發動起義時,中山先生還在美國的丹佛市宣傳推翻滿清政權的活動,希望能夠得到西方世界的支持。清朝專制政權在民主自由的大趨勢下,不得不放下政權,黃興也因建國有功,擔任中華民國首任三軍總參謀長。

2011年10月間,在安塔拉通訊社新聞攝影藝廊舉辦“中華民國建國百年攝影展”,以及2012年3月29日在萬隆舉辦建國百年回顧攝影展的目的,都是為了忠實呈現在臺灣的中華民國,建國100年來的發展過程,讓觀賞民眾有機會透過歷史影像,瞭解這個自由民主國家曾經走過的坎坷道路。歷史記載,邁向自由的道路永遠必須通過流血流淚的犧牲,就好像印尼在爭取獨立自由時必須面對的各種犧牲,或者甘地領導印度走向自由,曼德拉從南非的黑人種族隔離制度中,把南非人民帶上自由民主的大道。

自由民主的果實並非天上掉下來的運氣,它必須通過各種的犧牲來爭取。

策展人

奧斯卡‧蒙督魯

李東明

佳里‧瑟答優

Courtesy of Kuomintang PartyArchives

A HUNDRED YEARS OF FREEDOM

The basis of a democratic state is liberty.
-Aristoteles (384-322 SM)
dari “Politics”

His name had been so famous as a Chinese people freedom movement initiator from the occupation of Qing Empire which was so cruel and full of corruption. The leader of that “mission impossible” movement was a doctor from the Han clan named Sun Wen. The world recognizes him as Sun Yat-sen (1866-1925). He was the one who inspired the Xinhai Revolution which successfully blew down the feudalism of the Qing Dinasty until its roots. The revolution which vanished 268 years of tyranny by the Qing Empire also noted as the end of autocratic monarchy in Chinese history.

People of China supported and lived with the Three Principles of the People by Sun Yat-sen. The slogan which stirred up a resistance from the suppressed souls would resound forever. Sun’s theory of the Three Principles of the People, which are Nationalism (Minzu), Democracy (Minquan) and People’s Welfare (Minsheng), were derived from the philosophy by Abraham Lincoln, the former President of the United States during the civil war. He introduced the slogan “of the people, by the people, for the people.” The philosophy then was combined with a reflection of a wisdom taught by Confucius, a world-famous philosopher from China. Sun’s Three Principles of the People served as a basis for the perpetual people’s struggle against tyranny which had never been predicted to be shattered into pieces. Guided by people’s determination, integrity and conscious, the revolution finally destroyed the tyrannical regime.

Sun Yat-sen was crowned as the Founding Father of the Republic of China following the Revolution victory on October 10, 1911. Nowadays, People both in mainland China and Taiwan celebrate the Revolution victory annually.

The historical victory following the successful Wuhan rebellion, Hubei in 1911, was initiated by Sun and led by his supporter, Huang Xing (1874-1916), a military expert,  who was then announced as the first military commander of the Republic of China. At that crucial moment, Sun was in Denver, Colorado, U.S.A. campaigning for their struggle against Qing regime.

The exhibition of “The Centennial ROC”, first held on October 2011 in the main showroom of the Galeri Foto Jurnalistik Antara, then the exhibition of “Retracing Our Steps- A Photo Journey Through the ROC’s 1st Century” on March 2012 in Bandung’s Gedung Indonesia Menggugat, try to reflect the democratic journey and development progress throughout the one hundred years of the Republic of China. “The Centennial ROC” also reminds how great freedom is to a plural and civilized society, although history also records that freedom takes sacrifice, bloods and tears. This is also what Indonesia experienced when it struggled for its independence. Or when Mahatma Gandhi led the freedom movement in India and Nelson Mandela who freed people in South Africa from the apartheid policy.

The freedom of democracy will not be achieved without pain. It must be achieved by every possible sacrifice, in the name of dignity.

Oscar Motuloh
Tommy Lee
Galih Sedayu
Curators