Archive for ‘bukutulis’

December 16, 2013

BUKU TULIS #5 : Bedah Buku Fotografi “Ridwan Kamil : Menuju Bandung Juara” & Temu Penulis …{CLOSED}

Buku Tulis #5

Dalam rangka mengisi acara “Taman Foto Kita”, yaitu aktivasi fotografi dan peresmian Taman Foto Bandung,

air foto network

menyelenggarakan sebuah program

BUKU TULIS #5
Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis 

JUDUL BUKU 
Ridwan Kamil “Menuju Bandung Juara”

Buku Tulis #5

PENULIS BUKU (FOTOGRAFER)
Dudi Sugandi
Satya Andhika (Aboenk)

WAKTU
Sabtu, 21 Desember 2013
Pukul 11.00 – 12.30 wib

TEMPAT
Taman Cempaka
Jalan Taman Cempaka (Dekat Jalan Kemuning)
Bandung

KETERANGAN
* Bagi para sahabat yang memiliki akun twitter, silakan follow & mention twitter Taman Foto Bandung (@tamanfotobdg) dan air foto network (@airfotonetwork) dengan cara menuliskan nama lengkap & mencantumkan hashtag #BukuTulis5
Contoh : @tamanfotobdg @airfotonetwork | Lulus Ujianto | #BukuTulis5
* Bagi para teman taman yang memiliki akun facebook, silakan menjadi anggota grup Facebook Taman Foto Bandung >>http://on.fb.me/18yOHnI

DOORPRICE
* Buku Foto : Ridwan Kamil “Menuju Bandung Juara”

GRATIS!!!

Mari belajar, bermain & mengalir bersama kami…

INFO LANJUT
air foto network
agensi, edukasi & manajemen fotografi
surapati core blok m32
jl. phh. mustofa 39 bandung 40192
telp. +62-22-87242729
airfotonetwork@gmail.com
facebook / air foto network
twitter @airfotonetwork
http://www.airfotonetwork.com

Advertisements
January 15, 2013

Foto Liputan Program Buku Tulis #4 bersama Hengki Setiawan di AP Photo Library – Bandung 14 Januari 2013

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

Copyright (c) 2013 by air foto network
All Right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from air foto network.

January 15, 2013

Foto Liputan Program Buku Tulis #3 bersama Sri Sadono di AP Photo Library – Bandung 8 Desember 2012

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

air foto network

Copyright (c) 2013 by air foto network
All Right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from air foto network.

December 23, 2012

BUKUTULIS #4 – Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis bersama Hengki Setiawan (Penulis Buku “Inspirito: Inspirasi Kreatif Dari Foto”)…{CLOSED}

Hengky Setiawan

Menjumpai sahabat…

air foto network dan AP Photo Library mengundang sahabat pada program fotografi yaitu

BUKUTULIS #4
Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis

TENTANG PROGRAM
Bukutulis merupakan sebuah program berbagi ilmu, wawasan & pengalaman yang dikemas dalam sebuah presentasi & tanya jawab langsung dari seorang fotografer dan anak bangsa yang telah berhasil menerbitkan buku fotografi sendiri. Program yang digagas oleh air foto network & AP Photo Library ini bertujuan untuk melahirkan serta menularkan inspirasi dan ide baru di kalangan pelaku kreatif yang lain dengan harapan agar mereka dapat menelurkan karya fotografinya ke dalam sebuah buku fotografi. Karena salah satu ciri bangsa yang maju adalah bangsa yang telah banyak menerbitkan berbagai informasi, ilmu & wawasan yang mereka dapatkan untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat luas. Sejatinya, sebuah buku foto adalah kitab pengalaman visual yang tak pernah sirna ditelan oleh peradaban.

PEMBICARA
Hengki Setiawan
Fotografer & Creativity Booster

HS

BUKU FOTO
Inspirito : Inspirasi Kreatif dari foto
Cara Indah Merangsang Kreativitas

PROFIL SINGKAT PENULIS BUKU
Hengki Setiawan adalah seorang Creativity Booster, profesi yang belum ditekuni orang di Indonesia. Melalui seminar, pelatihan dan tulisannya, dia mencoba menggali potensi kreativitas individu. Dia percaya bahwa pada dasarnya setiap orang bisa dilatih untuk menjadi kreatif dan kreativitas adalah kata kunci kesuksesan. Tinggal di Perth, Western Australia dan Surabaya, lulusan Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya dan Edith Cowan University Perth ini sekarang menekuni bidang konsultasi dan pelatihan di bidang kreativitas, khususnya di bidang idea creativity. Dia adalah founder CreathinX Australia. Dia mengembangkan ‘3 Jurus Panas Berpikir Kreatif’ yang gampang dimengerti dan telah ditularkan ke ribuan orang melalui berbagi acara dan tulisannya. Pengalamannya yang lengkap sebagai praktisi, dosen, pengasuh radio talk show, kolumnis di Jawa Pos, konsultan dan trainer membuat tulisannya enak dibaca, ringan tapi berbobot, praktis, tidak teoritis dan sarat dengan contoh. Hobi fotografinya membuat dia berkesempatan berpameran foto, menjadi kurator pameran dan juga juri lomba foto. Silakan untuk mengunjungi websitenya di –> www.hengki-setiawan.com www.creathinx.com

WAKTU
Senin 14 Januari 2013
Pukul 18.30 – 20.30 WIB

TEMPAT
AP Photo Library
Komplek surapati core blok m32 Lt 1
jl. phh. mustofa 39
Bandung

ap photo library

KETERANGAN
*Peserta tidak dikenakan biaya/gratis.
*Bagi para peserta yang ingin mengikuti program ini, wajib melakukan registrasi dengan cara mem-follow & mention Twitter air foto network (@airfotonetwork) dengan cara menuliskan nama lengkap & mencantumkan hashtag (#BukuTulis4)
Contoh : @airfotonetwork | Mick Jagger | #BukuTulis4 serta wajib menge-like Fan Page Facebook milik air foto network –> http://on.fb.me/NdGD2h

Mengalir sampai jauh…

INFO LANJUT
air foto network
agency, management & school of photography
surapati core blok m32
jl. phh. mustofa 39 bandung 40192
ph. +62-22-87242729
airfotonetwork@gmail.com
facebook / air foto network
twitter @airfotonetwork
http://www.airfotonetwork.com

November 28, 2012

BUKUTULIS #3 – Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis bersama Sri Sadono (Penulis Buku “Fotomaster”)…{CLOSED}

Menjumpai sahabat…

air foto network dan AP Photo Library mengundang sahabat pada program fotografi yaitu

BUKUTULIS #3
Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis

TENTANG PROGRAM
Bukutulis merupakan sebuah program berbagi ilmu, wawasan & pengalaman yang dikemas dalam sebuah presentasi & tanya jawab langsung dari seorang fotografer dan anak bangsa yang telah berhasil menerbitkan buku fotografi sendiri. Program yang digagas oleh air foto network & AP Photo Library ini bertujuan untuk melahirkan serta menularkan inspirasi dan ide baru di kalangan pelaku kreatif yang lain dengan harapan agar mereka dapat menelurkan karya fotografinya ke dalam sebuah buku fotografi. Karena salah satu ciri bangsa yang maju adalah bangsa yang telah banyak menerbitkan berbagai informasi, ilmu & wawasan yang mereka dapatkan untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat luas. Sejatinya, sebuah buku foto adalah kitab pengalaman visual yang tak pernah sirna ditelan oleh peradaban.

PEMBICARA
Sri Sadono
Fotografer & Penulis Buku “Fotomaster”
@srisadonous

PROFIL SINGKAT PENULIS BUKU
Sri Sadono lahir dan tumbuh di Klaten, Jawa Tengah. Belajar fotografi secara otodidak mulai dari tahun 2005, sejak fotografi digital mulai berkembang di Indonesia. Berawal mulai memegang kamera saku digital, penulis telah menerbitkan buku fotografi pertamanya “Kamera Digital Saku: Bikin Foto Kenangan Lebih Berkesan”, yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (2006). Saat ini, penulis juga menjadi pengajar untuk Komunitas Sahabat Anak (www.sahabatanak.com) yang bergerak dalam pendidikan gratis untuk anak-anak jalanan dan editor lepas untuk Majalah CFVd.

WAKTU
Sabtu 8 Desember 2012
Pukul 15.00 – 17.00 WIB

TEMPAT
AP Photo Library
Komplek surapati core blok m32
jl. phh. mustofa 39
Bandung

KETERANGAN
*Peserta tidak dikenakan biaya/gratis.
*Bagi para peserta yang ingin mengikuti program ini, wajib melakukan registrasi dengan cara mem-follow & mention Twitter air foto network (@airfotonetwork) dengan cara menuliskan nama lengkap & mencantumkan hashtag (#BukuTulis)
Contoh : @airfotonetwork | Stephanie Zubaidah | #BukuTulis serta wajib menge-like Fan Page Facebook milik air foto network –> http://on.fb.me/NdGD2h
*Doorprice berupa 1 buah buku “Fotomaster” akan diberikan di akhir program ini.
*Buku “Fotomaster” ini dapat dibeli di kantor air foto network seharga Rp 155.000,-

Mengalir sampai jauh…

INFO LANJUT
air foto network
agency, management & school of photography
surapati core blok m32
jl. phh. mustofa 39 bandung 40192
ph. +62-22-87242729
airfotonetwork@gmail.com
facebook / air foto network
twitter @airfotonetwork
http://www.airfotonetwork.com

February 5, 2012

Tulisan & Foto Liputan Program Bukutulis #2 (Bedah Buku Foto & Temu Penulis) bersama Riza Marlon (Penulis “Living Treasures of Indonesia”)

RIZA MARLON MELAWAN
Oleh Galih Sedayu

Seribu Riza Marlon tidak akan pernah bisa untuk dapat merekam seluruh kehidupan alam & satwa liar di indonesia. Meski begitu, pendokumentasian tersebut harus tetap kita lakukan.
– Riza Marlon –

Indonesia adalah negara yang menempati urutan kedua terbesar di dunia setelah Brasil dalam hal biodiversity atau keanekaragaman hayati. Meski pendapat ini rasa-rasanya perlu dikaji kembali karena berdasarkan faktanya, sebagian besar masyarakat masih belum sepenuhnya mempercayai tingkat validitas dan akurasi dari data yang dihasilkan oleh penelitian tersebut. Bahkan bukan tidak mungkin sebenarnya Indonesia bisa menempati posisi teratas di planet bumi ini dalam hal kekayaan alam dan keanekaragaman hayati tersebut. Nature & Wildlife Photography. Tema inilah yang diangkat dalam sebuah presentasi & dialog ringan pada sebuah program fotografi yang bernama Bukutulis (Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis) yang digagas oleh APC Institute. Program Bukutulis #2 ini diselenggarakan pada tanggal 4 Februari 2012 di jalan RE.Martadinata No 48 Bandung atas bantuan dan kerjasama Goethe-Institut. Program ini dibuat sekaligus mengisi rangkaian kegiatan “Deutscher Fotobuchpreis 2011”, sebuah pameran buku fotografi terbaik karya para fotografer jerman yang berlangsung sejak tanggal 17 Januari hingga 11 februari 2012. Riza Marlon, seorang fotografer wildlife Indonesia yang telah sukses menerbitkan buku fotografi “Living Treasures of Indonesia”, didaulat untuk menjadi tamu undangan dan nara sumber guna mengupas habis segala hal yang ada di dalam buku tersebut. Sebagai informasi, buku ini merupakan buku foto pertama yang pernah ada mengenai keanekaragaman hayati di Indonesia yang dibuat oleh seorang fotografer anak bangsa sendiri.

Riza Marlon adalah seorang pria sederhana kelahiran kota Jakarta pada tanggal 12 Januari 1960. Caca, begitu sebutan akrab Riza Marlon. Sesungguhnya Caca telah menekuni dunia fotografi sejak bangku SMA. Lalu kemampuan fotografinya semakin berkembang kala caca mengambil kuliah di Universitas Nasional (UNAS) Jakarta. Di kampus tersebut, Caca memilih fakultas biologi, sebuah bidang yang sangat sesuai dengan ketertarikannya pada dunia binatang sejak ia masih kecil. Pada saat itu Caca banyak bergabung dan mengikuti kelompok-kelompok yang berhubungan dengan kehidupan alam liar khususnya dunia binatang seperti kelompok burung, kelompok ular, kelompok primatologi, dan lain sebagainya. Pada saat awal Caca menggeluti dunia fotografi, ia sempat memotret pekerjaan komersil seperti foto produk & foto pernikahan untuk menambah biaya dan uang saku kuliahnya. Baru pada tahun 1990, caca memutuskan untuk mulai serius menekuni pekerjaan memotret binatang dan alam liar. Berbekal biaya sendiri yang sangat terbatas, caca mulai melakukan penjelajahannya di pulau-pulau Indonesia untuk merekam satwa liar. Setelah berkarir selama 20 tahun lebih lamanya, caca akhirnya berhasil membukukan hasil karya fotonya  yaitu “Living Treasures of Indonesia” yang telah sukses diluncurkan pada tanggal 5 – 14 November 2011 di Jakarta.

Tepat pukul 15.00 WIB, caca membuka program bukutulis #2 ini dengan sebuah presentasi singkat mengenai nature & wildlife photography. Caca berujar bahwasanya ladang fotografi wildlife ini ibarat sebuah lahan yang kering. Karena secara umum bidang fotografi ini masih sangat jarang peminatnya. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti peralatan fotografi yang mahal, memerlukan fisik yang tangguh serta medan pemotretan yang sangat sulit dijangkau. Padahal caca melihat bagaimana sebenarnya negara Indonesia yang memiliki kurang lebih 17.000 pulau ini, memiliki aset alam & satwa liar yang sangat berharga. Namun demikian tidak banyak orang/individu dan kelompok dari bangsa kita yang mau melakukan sesuatu demi kelangsungan aset alam Indonesia tersebut. Caca mengungkapkan bahwa sebenarnya Indonesia banyak memiliki para ahli binatang tetapi sangat jarang dari mereka yang mengambil tindakan nyata untuk melindungi binatang-binatang tersebut dari kepunahan. Caca menyebutkan ada 4  kelompok satwa liar di Indonesia yaitu kelompok serangga, kelompok binatang menyusui (mammalia), kelompok reptile & amphibian (hervet), serta kelompok burung (aves). Kesemuanya itu tersedia di Indonesia dan menunggu sebuah pendataan visual yang lengkap. Oleh karena itu caca memilih untuk mencurahkan sebagian besar hidupnya dalam mendokumentasikan kehidupan satwa liar Indonesia yang sangat beragam tersebut.

Menurut caca, fotografi alam & satwa liar itu sangat erat hubungannya dengan berbagai hal yaitu kejujuran, menangkap momen & merekam sejarah alam (dokumentasi). Lalu caca memulai slide show karya foto satwa hasil bidikannya dan bercerita banyak tentang sejumlah pengalaman yang ditemui di lapangan. Misalnya saja ketika caca ikut memotret proses penangkapan gajah sumatera di alam liar yang diinisiasi oleh pemerintah setempat dengan maksud melindungi gajah-gajah tersebut dan menempatkannya di sebuah cagar alam. Karena di lapangan banyak cara-cara yang keliru ketika proses penangkapan dan penangkaran, akhirnya dari 13 ekor gajah yang berhasil ditangkap, 8 ekor diantaranya mati sia-sia sebelum sempat diselamatkan. Kemudian caca memperlihatkan foto-foto satwa liar seperti badak sumatra, babi rusa, ular pit-viper, julang Sulawesi, bondol jawa, cendrawasih papua, dan masih banyak lagi. Ada foto dan cerita menarik yang disampaikan oleh caca mengenai seekor burung yang bernama burung pintar. Menurutnya burung tersebut tidaklah menarik secara fisik. Tetapi keunikannya terletak ketika burung tersebut membuat sarang dengan diameter lebih kurang 1,5 meter yang dilakukannya selama 6 bulan. Dalam kurun waktu itu burung tersebut rajin mengumpulkan barang-barang apapun yang ditemuinya untuk kemudian dijadikan sarang. Dari mulai batu kerikil, ranting pohon, bahkan hingga bungkus indomie dan batu baterai ABC. Dengan tekun burung tersebut membawa satu persatu barang-barang yang tidak terpakai tersebut di dalam paruhnya sambil meloncat perlahan dan kemudian menjadikan sebuah sarang. Alasan burung pintar ini membuat sarang tersebut adalah untuk menarik lawan jenisnya sehingga pada saatnya nanti burung yang tertarik itu akan dikawininya. Sangat terbayang alangkah uletnya usaha burung pintar ini untuk mencari pasangan dan niat besarnya untuk kawin. Setelah itu caca melanjutkan presentasinya mengenai berbagai ancaman terhadap alam dan flora fauna di Indonesia. Dari mulai pembukaan lahan untuk perkebunan hingga perburuan satwa liar yang tidak terkendali. Dalam foto-foto tersebut kita bisa melihat berbagai peristiwa yang mengkhawatirkan seperti binatang kera yang diburu di Sulawesi, berbagai ular sanca yang dikuliti, dan masih banyak lagi.

Setelah sesi presentasi mengenai nature & wildlife photography, caca mempersilahkan para peserta bukutulis untuk bertanya. Pertanyaan pertama yang dilontarkan yaitu mengenai hal apa yang dilakukan caca ketika mengetahui bahwasanya ada ancaman terhadap alam & kehidupan satwa liar di Indonesia. Lalu caca bercerita pengalaman masa mudanya ketika masa kuliah. Pada saat itu caca bersama dengan para sahabatnya kerap sekali melakukan pengaduan dan laporan baik secara lisan maupun tertulis mengenai berbagai pelanggaran dan pengrusakan terhadap alam yang mereka temui di lapangan. Hasilnya? Tak ada, menurut caca. Pemerintah maupun instansi terkait biasanya tidak bereaksi dan mengambil tindakan nyata terhadap  semua laporan yg telah diterima oleh masyarakat. Hingga akhirnya caca pun kesal dan merasa letih dengan semuanya serta kemudian mengambil sikap untuk melawan itu semua melalui fotografi. Bagaimanapun juga kita harus mengakui bahwa perlawanan caca mengenai ancaman terhadap alam & kehidupan satwa liar yang dituangkan ke dalam bentuk buku fotografi “Living Treasures of Indonesia” terbukti cukup efektif. Bahkan Museum Library salah satu perpustakaan terbesar di dunia yang ada di inggris mengajukan permohonan untuk mengkoleksi buku foto karya Riza Marlon tersebut. Ironisnya, museum arsip nasional Indonesia belum pernah sekalipun menghubungi caca untuk mendapatkan buku foto tersebut. Padahal apabila pihak museum arsip nasional Indonesia memintanya, caca berniat untuk memberikan beberapa buku fotonya secara cuma-cuma.

Pertanyaan selanjutnya yang dilontarkan salah satu peserta lebih bersifat teknis. Merek kamera apa yang digunakan oleh caca untuk merekam foto-foto satwa liar tersebut. Lalu caca berujar bahwa ia tidak fanatik terhadap merek kamera tertentu. Karena caca pun pernah menggunakan kamera dari segala merek ketika memotret di lapangan. Yang terpenting adalah hasil akhir berupa karya foto terbaik yang kita miliki ujarnya. Lalu caca pun mengambil contoh bahwa sekitar tahun 2007 ada sebuah lembaga yang membuat program pendokumentasian perburuan ikan paus yang dilakukan oleh para nelayan lamalera di Nusa Tenggara Timur. Yang ditugaskan untuk memotret peristiwa perburuan ikan paus tersebut adalah para penduduk setempat dan nelayan lamalera. Mereka diberikan pinjaman kamera saku/poket untuk mendokumentasikan segala kegiatan perburuan ikan paus tersebut selama 7 bulan dimana sebelumnya caca memberikan pelatihan fotografi singkat kepada mereka. Ternyata hasilnya di luar dugaan. Foto-foto yang mereka rekam banyak memiliki kualitas yang baik meski mereka sebenarnya bukanlah fotografer profesional. Jadi menurut caca bahwa kamera itu adalah alat sehingga bukan menjadi kendala untuk memotret sesuatu yang kita senangi.

Kemudian beberapa pertanyaan tentang bagaimana pasar fotografi wildlife di indonesia, proses-proses apa yang dilakukan sebelum pemotretan, foto apa yang paling membuat caca terkesan hingga masalah ijin & copyright mengenai pemotretan satwa liar, diajukan oleh beberapa penanya dalam sesi tanya jawab. Caca pun menjawab satu per satu segala pertanyaan yang diajukan itu dengan sabar.  Untuk masalah pasar fotografi wildlife, ia menyebutkan bahwa pasarnya masih terbuka lebar. Biasanya perusahaan-perusahaan asing maupun lokal, LSM dan biro foto di Indonesia membutuhkan sejumlah foto satwa liar baik itu untuk keperluan kartu pos, kalendar tahunan dan lain-lain. Sehingga caca menjadikan peluang itu semua menjadi bisnis penyewaan stok foto. Caca membaginya ke dalam kelas-kelas tertentu dengan harga sewa yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat kesulitan memotret, kelangkaan obyek, & sistem sewa. Pada umumnya caca hanya memberikan hak pakai kepada para penyewa foto selama kurun waktu tertentu, bukan memberikan seluruh hak cipta karyanya (copyright). Caca pun bercerita bagaimana pentingnya sebuah riset dan pengumpulan informasi yang dilakukan sebelum pemotretan. Sehingga dengan modal yang ada, caca bisa secara optimal mendapatkan karya foto sesuai yang diinginkannya. Caca juga bercerita tentang salah satu pengalaman yang mengesankan ketika ia mendapat penugasan untuk memotret burung cendrawasih di papua. Untuk memotret burung cendrawasih yang sedang menari, caca musti mendaki gunung selama 24 jam lamanya pada ketinggian 2000 meter.

Setelah sesi tanya jawab tentang nature & wildlife photography selesai, caca memaparkan tahapan-tahapan mengenai proses pembuatan buku dari mulai pengumpulan data & foto, seleksi/kurasi foto, proses layout buku, penulisan teks, pembuatan contoh buku (mock up), pencarian sponsor, pengurusan ISBN dan ijin penerbitan, hingga proses proof print & proof reader sebelum kemudian buku tersebut dicetak. Buku foto karya caca ini dibuat dengan edisi bahasa inggris dan disusun berdasarkan pola sebaran bio-geografi yang menyangkut kehidupan satwa liar di Indonesia. Sebenarnya wacana untuk menerbitkan buku foto ini sudah muncul 2 tahun sebelum buku tersebut diluncurkan. Tetapi pada pelaksanaannya, caca mengalami kesulitan untuk mencari penerbit yang bersedia untuk mencetak bukunya. Padahal karya foto dan desain bukunya sudah ada dan tinggal siap untuk dicetak.Namun tetap saja banyak penerbit yang tidak percaya bahwa buku semacam ini bisa laku di pasaran. Akhirnya caca memutuskan untuk menerbitkan sendiri buku fotonya. Kegigihan caca selanjutnya bertemu dengan sebuah kesempatan besar. Salah satu pemilik percetakan ternama di Jakarta (Indonesia Printer) akhirnya bersedia membantu caca dengan mencetak buku fotonya meski sistemnya caca harus berhutang. Padahal waktu itu caca sudah menentukan tanggal dan membuat publikasi tentang peluncuran buku fotonya. Karena waktu yang sangat singkat dan usaha caca untuk mendapatkan uang untuk biaya cetak sekitar 250 juta rupiah tidak membuahkan hasil, akhirnya caca bersedia menerima tawaran tersebut. 3 jam sebelum peluncuran bukunya, caca hanya membawa 5 buah buku, sementara proses pencetakan buku foto tersebut masih berjalan . Tepat saat buku fotonya diluncurkan akhirnya sekitar 150 buah buku dikirimkan dari tempat percetakan ke tempat pameran foto berlangsung. Meski sebenarnya jumlah buku foto yang dicetak oleh caca secara keseluruhan sebanyak 1000 buku. Walaubagaimanapun, caca menyadari dan memaklumi situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Sebulan kemudian ternyata caca mampu melunasi hutangnya kepada pihak percetakan dari uang hasil penjualan bukunya.

Saat ini caca pun merasa sedikit lebih tenang sambil tetap berkarya untuk membuat buku foto selanjutnya. Di penghujung perbincangan, caca pun berkata bahwa ia mensyukuri segala jerih payahnya dalam hidup sehingga mampu melalui 2 buah momen terbesar yang ia alami. Momen yang pertama adalah ketika ia berhasil lulus kuliah di Universitas Nasional Jakarta dengan segala upaya dan daya juangnya. Seperti yang ia ceritakan bahwa pada saat kuliah ia mengalami berbagai hal yang sulit dari mulai mencari uang dengan memotret untuk membiayai kuliahnya hingga harus hidup dengan berpindah dari kost-an teman yang satu ke kost-an teman yang lain bak kaum nomaden. Lalu momen kedua adalah terwujudnya cita-cita untuk menerbitkan buku foto karyanya sendiri. Dari semua cerita yang ia sampaikan, setidaknya kita semua mendapat pelajaran berharga dari seorang Riza Marlon bahwa kecintaan, totalitas dan keyakinan pada akhirnya dapat membawa kita ke jalan yang dituju. Dan caca membuktikan semuanya itu kepada kita agar kelak ada orang yang meneruskan jejak perlawanannya terhadap ancaman bagi kehidupan flora fauna di Indonesia melalui fotografi. Demi sebuah hembusan nafas yang selalu ditiupkan oleh alam dan satwa liar di bumi pertiwi ini.

(c) apc institute – 2012

January 22, 2012

Tulisan & Foto Liputan Program Bukutulis #1 (Bedah Buku Foto & Temu Penulis) bersama Erik Prasetya di Goethe-Institut Bandung

MENJAWAB ESTETIKA FOTOGRAFI
Oleh Galih Sedayu

Estetika Banal. Frasa ini menjadi sebuah perbincangan & dialog menarik saat disuguhkan dalam sebuah program fotografi perdana bernama Bukutulis (Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis) yang digagas oleh APC Institute bekerjasama dengan Goethe-Institut Bandung. Program Bukutulis #1 ini digelar pada tanggal 21 Januari 2012 dengan memanfaatkan sebuah ruang kreatif milik Goethe-Institut Bandung di Jalan RE.Martadinata 48. Program ini dibuat sekaligus mengisi rangkaian kegiatan “Deutscher Fotobuchpreis 2011”, sebuah pameran buku fotografi terbaik karya para fotografer jerman yang berlangsung sejak tanggal 17 Januari hingga 11 februari 2012. Pada kesempatan kali ini, Erik Prasetya, seorang fotografer yang telah berhasil menerbitkan buku fotografi “Jakarta Estetika Banal”, dihadirkan untuk menjadi nara sumber sekaligus pembicara yang mengupas tuntas tentang isi buku tersebut.

Erik Prasetya adalah seorang fotografer kelahiran tahun 1958 asal kota Padang, Sumatera Barat . Ia sempat mengeyam pendidikan kampus di Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai mahasiswa jurusan tambang pada tahun 1977. Saat itu ia pun aktif melakukan kegiatan panjat tebing hingga akhirnya hobi tersebut mempertemukan dirinya dengan Harry Suliztiarto, seorang sahabat yang tidak hanya mengajarkan olah raga  panjat tebing  namun sekaligus menjadi guru fotografi pertama dalam hidupnya. Erik pun pernah bekerja menjadi kontributor foto khusus petualangan di majalah mutiara dan mendapat berbagai penugasan khusus dari wartawan senior Ed Zoelverdi (almarhum). Akhirnya sekitar tahun 1990, ia mulai menekuni esai foto yang ditampilkan pada rubrik “Kamera” majalah tempo. Pada tahun 1997, ia berkesempatan untuk bekerja dalam satu tim bersama Sebastiao Ribeiro Salgado, seorang fotografer kelas dunia asal brazil yang terkenal dengan karya buku fotografinya yang berjudul “Workers”. Sebenarnya Erik Prasetya sudah sejak kecil mengenal kamera, dimana kala ia berumur sepuluh tahun, ibundanya membelikan kamera Yashica Mat. Tak heran ketika ia beranjak dewasa, kecintaannya terhadap dunia fotografi semakin menggebu-gebu.

Program bedah buku ini dimulai pada pukul 15.00 WIB dengan paparan Erik Prasetya tentang berbagai hal di dalam fotografi. Diantaranya adalah mengenai pemilihan karya fotografi. Ia berujar bahwa sangatlah mudah melakukan pemotretan untuk kegiatan yang bersifat komersil, ataupun pemotretan yang dilakukan berdasarkan penugasan dari media. Ketika berhadapan dengan seorang editor misalnya, ia menegaskan bahwa seorang fotografer dapat dengan mudahnya mengirimkan karya foto sesuai dengan keinginan pemesan ataupun editor tersebut. Dengan bahasanya ia menyebutkan bahwa sangatlah mudah mengacc karya foto kita untuk editor. Tetapi menurutnya, hal yang paling sulit dilakukan adalah mengacc karya foto kita kepada diri sendiri.

Setelah itu Erik Prasetya memulai paparannya tentang buku fotografi. Baginya, sebuah buku memungkinkan para pembaca untuk masuk ke dalam suasana batin fotografer. Ia mengambil contoh karya foto esai hasil rekaman fotografer Elinor Carucci yang berjudul Closer. Dimana dengan bebasnya ia memotret secara personal seluruh anggota keluarganya, bahkan pada saat berpose telanjang. Kemudian karya foto yang berjudul “Bloodies & Other Bonds” yang dibuat oleh fotografer belanda yang bernama Diana Block, sengaja dipresentasikan olehnya agar kita dapat melihat bahwasanya kadang persepsi orang yang melihat sebuah karya foto bisa saja keliru. Misalnya saja foto yang menggambarkan dua orang pria dewasa kembar yang tengah berpose sambil membuka bajunya, seolah-olah memiliki kesan tabu. Padahal realita sebenarnya yang terjadi pada karya foto tersebut adalah hal-hal biasa yang kerap dilakukan oleh kedua orang pria kembar itu, dari mulai mandi bersama, tidur telanjang bersama dan lain sebagainya.

Kemudian Erik Prasetya bercerita tentang proses kreatif untuk menghasilkan sebuah buku fotografi dari mulai perencanaan awal, pengerjaan dan penerbitan. Kadang pada prosesnya, seringkali ia menemukan beberapa kegagalan. Salah satu contohnya Ia tunjukkan dengan memperlihatkan buku fotografi “Jakarta Estetika Banal” yang pada awal pengerjaannya di desain dengan format vertikal serta dibubuhkan satu buah font huruf “J” berwarna merah di tengah-tengah cover buku. Baginya buku itu malahan tampak seperti buku desain grafis ketimbang buku fotografi. Oleh karena itu, akhirnya format buku tersebut diubah menjadi horizontal dengan meniadakan font huruf “J” yang tadinya ditampilkan di cover depan buku tersebut. Ia pun mengungkapkan pengalamannya tentang proses scan foto sebagai materi buku tersebut, dikarenakan semua karya fotonya dihasilkan dengan media film. Pada akhirnya Ia menemukan sebuah pengetahuan yang sangat berharga bahwa ternyata karya foto yang dihasilkan dari proses scan negatif tidak lebih baik daripada hasil proses scan yang berasal dari karya foto yang telah dicetak sebelumnya. Alhasil ia pun melakukan proses scan ulang terhadap sebagian besar karya fotonya. Lalu ada hal yang menarik yaitu ketika proses mencetak buku foto tersebut, ternyata erik mengawasi secara langsung prosesnya di depan mesin percetakan. Kurang lebih selama  50 jam dengan setia ia menunggu dan mengecek langsung hasil cetakan bukunya satu persatu.

Pada presentasi selanjutnya erik menceritakan hal mengenai buku foto macam apa yang akan dibuat olehnya. Karena menurutnya sebuah buku itu bisa berisikan tentang 2 hal yaitu kebutuhan yang selalu ada atau sesuatu yang baru. Sebagai perumpamaan ia menyebutkan semisal seorang fotografer yang membuat buku foto yang bertajuk “Bandung Kota Kembang” dan seorang fotografer lain yang membuat buku bertajuk “Bandung Kota Kambing”. Pastinya 2 buku tersebut memiliki perbedaan yang mendasar dalam hal cara pendekatannya. Kemudian Erik bercerita mengenai latar belakang pembuatan buku foto estetika banal. Ia mengatakan bahwa saat ini estetika fotografi masih banyak mengekor pada estetika seni rupa, padahal sebenarnya fotografi sangat bisa menyumbangkan estetikanya sendiri. Meskipun sebenarnya ia tidak berusaha untuk memisahkan kedua estetika itu. Menurutnya, dalam sejarah pun, fotografi kebanyakan menjadi milik kelas menengah dan bersifat voyeuristik (mengintip) terhadap the other (yang lain). Sehingga muncul sebuah pertanyaan, “Bisakah fotografi merekam kelasnya sendiri?”

Selanjutnya ia menunjukkan foto karya Sebastiao Salgado yang memvisualkan isu kelaparan dengan obyek 4 orang penduduk di daerah afrika. Lalu ia membandingkan komposisi foto tersebut dengan lukisan-lukisan abad ke-16 yang mencuatkan cerita tentang  Sodom & Gomora. Di sana terlihat beberapa kemiripan komposisi yang dibuat dari karya foto Sebastiao Salgado, dimana rata-rata selalu ada 3 orang yang komposisinya diletakkan di depan dan 1 orang yang diletakkan di belakang. Sebagaimana kita tahu bahwa salgado adalah seorang fotografer yang religius sehingga karya fotonya selalu mengacu pada kisah-kisah yang terjadi di Alkitab agama nasrani. Begitu juga salah satu karya foto James Nachtwey (fotografer perang) yang mendeskripsikan seorang pria kurus kering tengah merangkak di sebuah bencana kelaparan di daerah sudan. Karya fotonya dianggap memiliki kemiripan dengan salah satu karya patung dari seorang seniman dunia.

Sesungguhnya seorang Erik Prasetya sebenarnya menawarkan sebuah cara dan pendekatan lain ketika merekam obyek yang difotonya hingga menjadi sebuah buku. Meski sebenarnya ia pun mengakui bahwasanya ia tidak lepas dari pengaruh pendekatan fotografi klasik semisal romantisme, metaforisme, dan jurnalisme. Pendekatan Estetika Banal (begitu ia menyebutnya), digunakan oleh erik ketika membuat karya fotonya. Ia mencoba untuk tidak memotret drama keseharian. Ia mencoba untuk membuat hubungan dengan obyek yang direkam menjadi lebih dialogis. Ia pun berusaha mencari pola sintagmatik yang tepat untuk menggambarkan hal-hal yang bersifat paradigmatik pada karya fotonya.

Akhirnya muncul sesi tanya jawab setelah paparan Erik Prasetya selesai. Tema, seorang mahasiswa Unpas menanyakan perihal tentang mengapa karya foto Erik dalam buku “Jakarta Estetika Banal”nya, selalu menyertakan puisi-puisi karya Chairil Anwar, Goenawan Muhamad, Joko Pinurbo, Wiji Thukul dan Zen Hae. Lalu Erik pun menjawab bahwasanya puisi-puisi tersebut ia butuhkan untuk menjadi kait bagi segala cerita dan tema yang ada di dalam karya fotonya. Sebagai contoh puisi  dari Goenawan Muhamad yang berbunyi “Di kota itu gerimis, kata orang, telah jadi logam”. Sesudah puisi tersebut, dalam bukunya Erik menampilkan foto seorang petani kerang hijau di daerah Cilincing, Jakarta. Ia mengemukakan bahwa relevansi foto tersebut dengan kata-kata puisi karya Goenawan Muhamad sangatlah erat. Karena di saat musim hujan, petani kerang hijau selalu libur untuk mencari nafkah. Bukan karena kekurangan kerang hijau, tetapi mereka tidak berani mengambil kerang hijau pada saat musim hujan berlangsung dikarenakan kerang-kerang tersebut mengandung kadar merkuri (logam) yang sangat tinggi. Tentunya kita semua tahu bahwa kerang hijau memiliki kemampuan menahan merkuri di dalam tubuhnya ketika hujan. Inspirasi menggunakan puisi Goenawan Muhamad tersebut sebenarnya muncul tatkala Erik melakukan obrolan kecil dengan seorang petani daun bawang di tepi kali malang, Jakarta. Petani itu mengatakan bahwa setiap kali hujan, daun bawangnya pasti bolong-bolong terkena kandungan logam yang dihasilkan dari curah hujan kota Jakarta. Dari peristiwa-peristiwa tersebut, seharusnya kita dapat melihat betapa parahnya polusi di kota Jakarta.

Pernyataan tentang buku foto “Jakarta Estetika Banal” diungkapkan oleh Deni Sugandi (ketua pinhole bandung & pemilik fotolisis) dan Sandi Jaya Saputra (Fotografer Lepas & Asisten Lab Foto Fikom Unpad). Menurut mereka berdua, karya foto Erik yang ditampilkan dalam buku tersebut tidak mencerminkan tentang makna banal sesungguhnya serta tidak menjawab pertanyaan tentang estetika banal itu sendiri, meski sebenarnya mereka pun tidak menjelaskan dengan gamblang perpektif banal seperti apa yang diharapkan dalam tampilan visual. Kemudian Erik pun menjawab bahwa pada dasarnya ia mengakui bahwa tidak semua foto yang ia buat dalam bukunya merupakan terjemahan visual tentang banal sesungguhnya. Baginya sangat sulit untuk membuat sebuah pendekatan estetika banal yang akurat dan mutlak benar. Tapi setidaknya menurut erik ada upaya untuk memberikan sebuah peluang lain dalam estetika fotografi dengan tidak menampilkan dominasi karya foto piktorial. Memang menurut catatan saya, dari sejumlah buku fotografi resmi yang diterbitkan oleh fotografer Indonesia dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, buku foto “Jakarta Estetika Banal” ini memiliki pendekatan dan eksekusi yang berbeda (entah apapun itu namanya) dibandingkan dengan buku foto yang yang lain. Menurut saya, mungkin satu-satunya buku foto yang memiliki kemiripan ide dan eksekusi dengan buku Erik Prasetya adalah buku foto karya Kusnadi yang berjudul “Fotografi Seni Kusnadi” yang dibuat pada tahun 1994.

Meski begitu, Erik menepis anggapan keliru dengan mengatakan bahwa ia tidak mempersoalkan ataupun berusaha memisahkan antara estetika fotografi dengan estetika seni rupa. Baginya buku yang ia buat adalah sebentuk perlawanan kecil yang ia coba dilakukan (meski tidak sempurna) untuk mengekspan berbagai peluang estetika yang ada. Bukan mengajak orang untuk meninggalkan estetika seni rupa ataupun mengajak orang untuk membuat karya dengan estetika fotografi. Lalu ada Danu (seorang pecinta fotografi dan punya hobi menyulam) yang memberikan opini bahwa seharusnya seorang fotografer lebih banyak memiliki referensi literature tulis  yang lebih banyak ketimbang referensi visual. Kemudian Erik pun menjawab bahwa ketika seorang fotografer berkarya, referensi itu sesungguhnya bisa didapat dari segala hal entah itu novel, film, buku cerita dan sebagainya. Tepat pukul 17.15 WIB, program bukutulis ini akhirnya berakhir. Sebelum ditutup, Erik sempat berujar bahwa ia menyadari apabila buah karyanya yang telah digarap selama 25 tahun itu tidak selesai hingga di buku foto “Jakarta Estetika Banal”saja. Erik memiliki harapan semoga dalam kurun waktu 3 atau 4 tahun ke depan, ia memiliki kesempatan untuk menerbitkan sebuah buku fotografi yang lain. Tentunya dengan cara seorang Erik Prasetya. Dimana kita bisa bebas memilih. Suka atau tidak suka.

(c) apc institute – 2012

January 13, 2012

BUKUTULIS #2 – Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis bersama Riza Marlon (Penulis Buku “Living Treasures of Indonesia)…{CLOSED}

Menjumpai sahabat…

APC Institute bekerjasama dengan Goethe-Institut Bandung mempersembahkan sebuah program fotografi yaitu

BUKUTULIS #2
Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis

TENTANG PROGRAM
Bukutulis merupakan sebuah program berbagi ilmu, wawasan & pengalaman yang dikemas dalam sebuah presentasi & tanya jawab langsung dari seorang fotografer dan anak bangsa yang telah berhasil menerbitkan buku fotografi sendiri. Program yang digagas oleh APC Institute ini bertujuan untuk melahirkan serta menularkan inspirasi dan ide baru di kalangan pelaku kreatif yang lain dengan harapan agar mereka dapat menelurkan karya fotografinya ke dalam sebuah buku fotografi. Karena salah satu ciri bangsa yang maju adalah bangsa yang telah banyak menerbitkan berbagai informasi, ilmu & wawasan yang mereka dapatkan untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat luas. Sejatinya, sebuah buku foto adalah kitab pengalaman visual yang tak pernah sirna ditelan oleh peradaban.

PEMBICARA
Riza Marlon
Fotografer Wild Life & Penulis Buku “Living Treasures of Indonesia”

WAKTU
Sabtu 4 Februari 2012
Pukul 15.00 – 17.00 WIB

TEMPAT
Goethe-Institut Bandung
Jalan RE. Martadinata No 48
Bandung

*Bagi sahabat yang ingin hadir mohon menuliskan nama, nomor handphone & asal institusi/kampus/klub di kolom “comments” pada posting ini.

FREE ENTRY!!

Mari bergerak bersama kami…

INFO LANJUT
apc institute
photography network centre
education – commercial – management
surapati core blok m32
jl. phh. mustofa 39 bandung
ph. +62-22-87242729 / 70160771
apc_institute@yahoo.com
facebook: apc institute & twitter: @apcinstitute
http://www.airfotonetwork.wordpress.com

January 11, 2012

BUKUTULIS #1 – Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis bersama Erik Prasetya (Penulis Buku “Jakarta Estetika Banal”)…{CLOSED}

Menjumpai sahabat…

APC Institute bekerjasama dengan Goethe-Institut Bandung mempersembahkan sebuah program fotografi yaitu

BUKUTULIS #1
Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis

TENTANG PROGRAM
Bukutulis merupakan sebuah program berbagi ilmu, wawasan & pengalaman yang dikemas dalam sebuah presentasi & tanya jawab langsung dari seorang fotografer dan anak bangsa yang telah berhasil menerbitkan buku fotografi sendiri. Program yang digagas oleh APC Institute ini bertujuan untuk melahirkan serta menularkan inspirasi dan ide baru di kalangan pelaku kreatif yang lain dengan harapan agar mereka dapat menelurkan karya fotografinya ke dalam sebuah buku fotografi. Karena salah satu ciri bangsa yang maju adalah bangsa yang telah banyak menerbitkan berbagai informasi, ilmu & wawasan yang mereka dapatkan untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat luas. Sejatinya, sebuah buku foto adalah kitab pengalaman visual yang tak pernah sirna ditelan oleh peradaban.

PEMBICARA
Erik Prasetya
Fotografer & Penulis Buku “Jakarta Estetika Banal”

WAKTU
Sabtu 21 Januari 2012
Pukul 15.00 – 17.00 WIB

TEMPAT
Goethe-Institut Bandung
Jalan RE. Martadinata No 48
Bandung

*Bagi sahabat yang ingin hadir mohon menuliskan nama, nomor handphone & asal institusi/kampus/klub di kolom “comments” pada posting ini.

FREE ENTRY!!

Mari bergerak bersama kami…

INFO LANJUT
APC Institute
air photography communications
agensi, edukasi & manajemen fotografi
surapati core blok m32
jalan phh.mustofa 39 bandung
telepon 022-87242729 / 70160771
apc_institute@yahoo.com
facebook: apc institute & twitter: @apcinstitute
http://www.airfotonetwork.wordpress.com