Tulisan & Foto Liputan Program Bukutulis #1 (Bedah Buku Foto & Temu Penulis) bersama Erik Prasetya di Goethe-Institut Bandung

MENJAWAB ESTETIKA FOTOGRAFI
Oleh Galih Sedayu

Estetika Banal. Frasa ini menjadi sebuah perbincangan & dialog menarik saat disuguhkan dalam sebuah program fotografi perdana bernama Bukutulis (Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis) yang digagas oleh APC Institute bekerjasama dengan Goethe-Institut Bandung. Program Bukutulis #1 ini digelar pada tanggal 21 Januari 2012 dengan memanfaatkan sebuah ruang kreatif milik Goethe-Institut Bandung di Jalan RE.Martadinata 48. Program ini dibuat sekaligus mengisi rangkaian kegiatan “Deutscher Fotobuchpreis 2011”, sebuah pameran buku fotografi terbaik karya para fotografer jerman yang berlangsung sejak tanggal 17 Januari hingga 11 februari 2012. Pada kesempatan kali ini, Erik Prasetya, seorang fotografer yang telah berhasil menerbitkan buku fotografi “Jakarta Estetika Banal”, dihadirkan untuk menjadi nara sumber sekaligus pembicara yang mengupas tuntas tentang isi buku tersebut.

Erik Prasetya adalah seorang fotografer kelahiran tahun 1958 asal kota Padang, Sumatera Barat . Ia sempat mengeyam pendidikan kampus di Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai mahasiswa jurusan tambang pada tahun 1977. Saat itu ia pun aktif melakukan kegiatan panjat tebing hingga akhirnya hobi tersebut mempertemukan dirinya dengan Harry Suliztiarto, seorang sahabat yang tidak hanya mengajarkan olah raga  panjat tebing  namun sekaligus menjadi guru fotografi pertama dalam hidupnya. Erik pun pernah bekerja menjadi kontributor foto khusus petualangan di majalah mutiara dan mendapat berbagai penugasan khusus dari wartawan senior Ed Zoelverdi (almarhum). Akhirnya sekitar tahun 1990, ia mulai menekuni esai foto yang ditampilkan pada rubrik “Kamera” majalah tempo. Pada tahun 1997, ia berkesempatan untuk bekerja dalam satu tim bersama Sebastiao Ribeiro Salgado, seorang fotografer kelas dunia asal brazil yang terkenal dengan karya buku fotografinya yang berjudul “Workers”. Sebenarnya Erik Prasetya sudah sejak kecil mengenal kamera, dimana kala ia berumur sepuluh tahun, ibundanya membelikan kamera Yashica Mat. Tak heran ketika ia beranjak dewasa, kecintaannya terhadap dunia fotografi semakin menggebu-gebu.

Program bedah buku ini dimulai pada pukul 15.00 WIB dengan paparan Erik Prasetya tentang berbagai hal di dalam fotografi. Diantaranya adalah mengenai pemilihan karya fotografi. Ia berujar bahwa sangatlah mudah melakukan pemotretan untuk kegiatan yang bersifat komersil, ataupun pemotretan yang dilakukan berdasarkan penugasan dari media. Ketika berhadapan dengan seorang editor misalnya, ia menegaskan bahwa seorang fotografer dapat dengan mudahnya mengirimkan karya foto sesuai dengan keinginan pemesan ataupun editor tersebut. Dengan bahasanya ia menyebutkan bahwa sangatlah mudah mengacc karya foto kita untuk editor. Tetapi menurutnya, hal yang paling sulit dilakukan adalah mengacc karya foto kita kepada diri sendiri.

Setelah itu Erik Prasetya memulai paparannya tentang buku fotografi. Baginya, sebuah buku memungkinkan para pembaca untuk masuk ke dalam suasana batin fotografer. Ia mengambil contoh karya foto esai hasil rekaman fotografer Elinor Carucci yang berjudul Closer. Dimana dengan bebasnya ia memotret secara personal seluruh anggota keluarganya, bahkan pada saat berpose telanjang. Kemudian karya foto yang berjudul “Bloodies & Other Bonds” yang dibuat oleh fotografer belanda yang bernama Diana Block, sengaja dipresentasikan olehnya agar kita dapat melihat bahwasanya kadang persepsi orang yang melihat sebuah karya foto bisa saja keliru. Misalnya saja foto yang menggambarkan dua orang pria dewasa kembar yang tengah berpose sambil membuka bajunya, seolah-olah memiliki kesan tabu. Padahal realita sebenarnya yang terjadi pada karya foto tersebut adalah hal-hal biasa yang kerap dilakukan oleh kedua orang pria kembar itu, dari mulai mandi bersama, tidur telanjang bersama dan lain sebagainya.

Kemudian Erik Prasetya bercerita tentang proses kreatif untuk menghasilkan sebuah buku fotografi dari mulai perencanaan awal, pengerjaan dan penerbitan. Kadang pada prosesnya, seringkali ia menemukan beberapa kegagalan. Salah satu contohnya Ia tunjukkan dengan memperlihatkan buku fotografi “Jakarta Estetika Banal” yang pada awal pengerjaannya di desain dengan format vertikal serta dibubuhkan satu buah font huruf “J” berwarna merah di tengah-tengah cover buku. Baginya buku itu malahan tampak seperti buku desain grafis ketimbang buku fotografi. Oleh karena itu, akhirnya format buku tersebut diubah menjadi horizontal dengan meniadakan font huruf “J” yang tadinya ditampilkan di cover depan buku tersebut. Ia pun mengungkapkan pengalamannya tentang proses scan foto sebagai materi buku tersebut, dikarenakan semua karya fotonya dihasilkan dengan media film. Pada akhirnya Ia menemukan sebuah pengetahuan yang sangat berharga bahwa ternyata karya foto yang dihasilkan dari proses scan negatif tidak lebih baik daripada hasil proses scan yang berasal dari karya foto yang telah dicetak sebelumnya. Alhasil ia pun melakukan proses scan ulang terhadap sebagian besar karya fotonya. Lalu ada hal yang menarik yaitu ketika proses mencetak buku foto tersebut, ternyata erik mengawasi secara langsung prosesnya di depan mesin percetakan. Kurang lebih selama  50 jam dengan setia ia menunggu dan mengecek langsung hasil cetakan bukunya satu persatu.

Pada presentasi selanjutnya erik menceritakan hal mengenai buku foto macam apa yang akan dibuat olehnya. Karena menurutnya sebuah buku itu bisa berisikan tentang 2 hal yaitu kebutuhan yang selalu ada atau sesuatu yang baru. Sebagai perumpamaan ia menyebutkan semisal seorang fotografer yang membuat buku foto yang bertajuk “Bandung Kota Kembang” dan seorang fotografer lain yang membuat buku bertajuk “Bandung Kota Kambing”. Pastinya 2 buku tersebut memiliki perbedaan yang mendasar dalam hal cara pendekatannya. Kemudian Erik bercerita mengenai latar belakang pembuatan buku foto estetika banal. Ia mengatakan bahwa saat ini estetika fotografi masih banyak mengekor pada estetika seni rupa, padahal sebenarnya fotografi sangat bisa menyumbangkan estetikanya sendiri. Meskipun sebenarnya ia tidak berusaha untuk memisahkan kedua estetika itu. Menurutnya, dalam sejarah pun, fotografi kebanyakan menjadi milik kelas menengah dan bersifat voyeuristik (mengintip) terhadap the other (yang lain). Sehingga muncul sebuah pertanyaan, “Bisakah fotografi merekam kelasnya sendiri?”

Selanjutnya ia menunjukkan foto karya Sebastiao Salgado yang memvisualkan isu kelaparan dengan obyek 4 orang penduduk di daerah afrika. Lalu ia membandingkan komposisi foto tersebut dengan lukisan-lukisan abad ke-16 yang mencuatkan cerita tentang  Sodom & Gomora. Di sana terlihat beberapa kemiripan komposisi yang dibuat dari karya foto Sebastiao Salgado, dimana rata-rata selalu ada 3 orang yang komposisinya diletakkan di depan dan 1 orang yang diletakkan di belakang. Sebagaimana kita tahu bahwa salgado adalah seorang fotografer yang religius sehingga karya fotonya selalu mengacu pada kisah-kisah yang terjadi di Alkitab agama nasrani. Begitu juga salah satu karya foto James Nachtwey (fotografer perang) yang mendeskripsikan seorang pria kurus kering tengah merangkak di sebuah bencana kelaparan di daerah sudan. Karya fotonya dianggap memiliki kemiripan dengan salah satu karya patung dari seorang seniman dunia.

Sesungguhnya seorang Erik Prasetya sebenarnya menawarkan sebuah cara dan pendekatan lain ketika merekam obyek yang difotonya hingga menjadi sebuah buku. Meski sebenarnya ia pun mengakui bahwasanya ia tidak lepas dari pengaruh pendekatan fotografi klasik semisal romantisme, metaforisme, dan jurnalisme. Pendekatan Estetika Banal (begitu ia menyebutnya), digunakan oleh erik ketika membuat karya fotonya. Ia mencoba untuk tidak memotret drama keseharian. Ia mencoba untuk membuat hubungan dengan obyek yang direkam menjadi lebih dialogis. Ia pun berusaha mencari pola sintagmatik yang tepat untuk menggambarkan hal-hal yang bersifat paradigmatik pada karya fotonya.

Akhirnya muncul sesi tanya jawab setelah paparan Erik Prasetya selesai. Tema, seorang mahasiswa Unpas menanyakan perihal tentang mengapa karya foto Erik dalam buku “Jakarta Estetika Banal”nya, selalu menyertakan puisi-puisi karya Chairil Anwar, Goenawan Muhamad, Joko Pinurbo, Wiji Thukul dan Zen Hae. Lalu Erik pun menjawab bahwasanya puisi-puisi tersebut ia butuhkan untuk menjadi kait bagi segala cerita dan tema yang ada di dalam karya fotonya. Sebagai contoh puisi  dari Goenawan Muhamad yang berbunyi “Di kota itu gerimis, kata orang, telah jadi logam”. Sesudah puisi tersebut, dalam bukunya Erik menampilkan foto seorang petani kerang hijau di daerah Cilincing, Jakarta. Ia mengemukakan bahwa relevansi foto tersebut dengan kata-kata puisi karya Goenawan Muhamad sangatlah erat. Karena di saat musim hujan, petani kerang hijau selalu libur untuk mencari nafkah. Bukan karena kekurangan kerang hijau, tetapi mereka tidak berani mengambil kerang hijau pada saat musim hujan berlangsung dikarenakan kerang-kerang tersebut mengandung kadar merkuri (logam) yang sangat tinggi. Tentunya kita semua tahu bahwa kerang hijau memiliki kemampuan menahan merkuri di dalam tubuhnya ketika hujan. Inspirasi menggunakan puisi Goenawan Muhamad tersebut sebenarnya muncul tatkala Erik melakukan obrolan kecil dengan seorang petani daun bawang di tepi kali malang, Jakarta. Petani itu mengatakan bahwa setiap kali hujan, daun bawangnya pasti bolong-bolong terkena kandungan logam yang dihasilkan dari curah hujan kota Jakarta. Dari peristiwa-peristiwa tersebut, seharusnya kita dapat melihat betapa parahnya polusi di kota Jakarta.

Pernyataan tentang buku foto “Jakarta Estetika Banal” diungkapkan oleh Deni Sugandi (ketua pinhole bandung & pemilik fotolisis) dan Sandi Jaya Saputra (Fotografer Lepas & Asisten Lab Foto Fikom Unpad). Menurut mereka berdua, karya foto Erik yang ditampilkan dalam buku tersebut tidak mencerminkan tentang makna banal sesungguhnya serta tidak menjawab pertanyaan tentang estetika banal itu sendiri, meski sebenarnya mereka pun tidak menjelaskan dengan gamblang perpektif banal seperti apa yang diharapkan dalam tampilan visual. Kemudian Erik pun menjawab bahwa pada dasarnya ia mengakui bahwa tidak semua foto yang ia buat dalam bukunya merupakan terjemahan visual tentang banal sesungguhnya. Baginya sangat sulit untuk membuat sebuah pendekatan estetika banal yang akurat dan mutlak benar. Tapi setidaknya menurut erik ada upaya untuk memberikan sebuah peluang lain dalam estetika fotografi dengan tidak menampilkan dominasi karya foto piktorial. Memang menurut catatan saya, dari sejumlah buku fotografi resmi yang diterbitkan oleh fotografer Indonesia dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, buku foto “Jakarta Estetika Banal” ini memiliki pendekatan dan eksekusi yang berbeda (entah apapun itu namanya) dibandingkan dengan buku foto yang yang lain. Menurut saya, mungkin satu-satunya buku foto yang memiliki kemiripan ide dan eksekusi dengan buku Erik Prasetya adalah buku foto karya Kusnadi yang berjudul “Fotografi Seni Kusnadi” yang dibuat pada tahun 1994.

Meski begitu, Erik menepis anggapan keliru dengan mengatakan bahwa ia tidak mempersoalkan ataupun berusaha memisahkan antara estetika fotografi dengan estetika seni rupa. Baginya buku yang ia buat adalah sebentuk perlawanan kecil yang ia coba dilakukan (meski tidak sempurna) untuk mengekspan berbagai peluang estetika yang ada. Bukan mengajak orang untuk meninggalkan estetika seni rupa ataupun mengajak orang untuk membuat karya dengan estetika fotografi. Lalu ada Danu (seorang pecinta fotografi dan punya hobi menyulam) yang memberikan opini bahwa seharusnya seorang fotografer lebih banyak memiliki referensi literature tulis  yang lebih banyak ketimbang referensi visual. Kemudian Erik pun menjawab bahwa ketika seorang fotografer berkarya, referensi itu sesungguhnya bisa didapat dari segala hal entah itu novel, film, buku cerita dan sebagainya. Tepat pukul 17.15 WIB, program bukutulis ini akhirnya berakhir. Sebelum ditutup, Erik sempat berujar bahwa ia menyadari apabila buah karyanya yang telah digarap selama 25 tahun itu tidak selesai hingga di buku foto “Jakarta Estetika Banal”saja. Erik memiliki harapan semoga dalam kurun waktu 3 atau 4 tahun ke depan, ia memiliki kesempatan untuk menerbitkan sebuah buku fotografi yang lain. Tentunya dengan cara seorang Erik Prasetya. Dimana kita bisa bebas memilih. Suka atau tidak suka.

(c) apc institute – 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: