Archive for May 30th, 2011

May 30, 2011

Menunggu Pemberontakan Fotografi

Oleh Ricky N.Sastramihardja

Potrét manéhna. Nu katampa minggu kamari.
Dipiguraan.Disimpen dihadé-hadé.
Anteng diteuteup.Jadi batur dina simpé
Aduh éndahna

Potret Si Dia. Diterima minggu lalu.
Diberi figura, disimpan dengan baik.
Terpaku menatapnya. Menjadi teman dalam sepi.
Oh indahnya…

Lagu Potret Manéhna , Ciptaan Adang Céngos & dipopulerkan Nining Méida.

Teknologi fotografi dewasa ini mencapai puncak evolusinya dengan berkembangnya teknologi fotografi digital. Bila 10 tahun lalu foto tercepat adalah foto yang diproduksi dengan kamera Polaroid, sekarang ini ini foto tersaji cepat melalui ponsel berkamera (atau kamera berponsel). Tinggal klik dan langsung jadi, tidak harus dicuci cetak terlebih dulu. 10 tahun lalu fotografi analog adalah klangenan dan permainan orang dewasa, kini fotografi digital menjadi bagian dari permainan anak-anak, bahkan yang belum bisa membaca sekalipun. Teknologi fotografi dewasa ini memang sebuah pemberontakan yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh Joseph Niépce, Daguerre, atau bahkan Ibnu Al Haitam/Alhazen yang mewarisi dunia dasar-dasar ilmu optik 1).

Fotografi tadinya hanya milik orang dengan kasta dan penghasilan tertentu, kini menjadi sesuatu yang biasa, murah, dan mudah. Biasa, karena bahkan hanya dengan sebuah ponsel berkamera setiap orang bisa memotret apa saja yang ia inginkan. Murah, karena tidak ada lagi pengeluaran untuk membeli rol film serta biaya cuci cetak, selain membeli perangkat kamera. Mudah, karena tanpa harus belajar banyak teori teknis fotografi seseorang bisa memotret. Kapan saja, di mana saja, siapa saja. Sepertinya mengulang impian George Eastman yang melahirkan Kodak Brownie pada tahun 1900 yang menginginkan fotografi yang mudah dan murah 2).

Pada perkembangannya, fotografi sebagai alat, adalah gabungan ilmu tentang mekanika, elektronika, komputer dan informatika, piranti lunak, juga optik. Sebagai sebuah hasil atau konten, fotografi berada di banyak wilayah: dokumentasi, jurnalistik, seni, hingga ilmu kedokteran. Ilmu Fotografi kemudian menemukan jatidirinya bersamaan dengan ilmu-ilmu lain. Bahkan di dunia antropologi, fotografi menjadi salah satu hal yang harus dikuasai para antropolog sebagai metode penelitian 3). Dunia kedokteran pun sangat akrab dengan dunia fotografi, misalnya dengan penggunaan mesin rontgen untuk memotret bagian dalam tubuh manusia. Para peneliti ekologi pun menggunakan perangkat jebakan kamera (camera trap) untuk memastikan keberadaan satwa liar yang hampir punah. Ilmu sejarah yang tergantung pada ilmu-ilmu lain, menggunakan foto sebagai salahsatu cara untuk menafsirkan sejarah masa lalu. Baru-baru ini terbit sebuah buku biografi Sutan Sjahrir yang ditulis oleh wartawan senior Indonesia. Bersama Ignas Kleden, Rosihan Anwar mengurai biografi tokoh pergerakan Indonesia yang tercantum dalam 100 foto yang berhubungan secara kontekstual dengan tokoh dan ketokohan Sutan Sjahrir 4).

Para petinggi militer pun menggunakan fotografi untuk kegiatan intelejen dan mencitrakan wilayah-wilayah tertentu yang dicurigai berkaitan dengan aktivitas musuh. Saya teringat pada film The Great Raid yang diputar sebuah televisi swasta beberapa waktu lalu. Film ini berkisah bagaimana pihak Sekutu pada perang Dunia II mengirimkan satu pasukan penyelamat untuk menyelamatkan tentara Amerika yang menjadi tahanan perang (POW) di Filipina. Keberhasilan pasukan tersebut tidak lepas dari data intelijen yang menyertakan sebuah foto udara (aerial) yang menunjukan lokasi dan posisi penjara militer Jepang yang jadi target penyerbuan.

Seorang Roland Barthes menggunakan medium fotografi sebagai sarana untuk mengembangkan teorinya tentang strukturalisme. Perlu diketahui, sebelum menulis Camera Lucida: Reflection on Photography pada tahun 1980 dengan premis ‘studium’ dan ‘punctum’ untuk menjelaskan ‘the impossible text’ 5) dalam sebuah karya foto, Barthes adalah peneliti dan penulis di bidang Kesusastraan serta Cultural Studies yang sangat berminat dalam pengkajian sinema dan fotografi. Sebelum Camera Lucida, Barthes pernah menuliskan pandangannya mengenai dunia fotografi dan pencitraan dalam ‘Image-Music-Text yang terbit tahun 1977. Nama Barthes dapat disejajarkan sebagai salah satu punggawa Strukturalisme yang bersumber pada Strukturalisme yang dihujahkan oleh Ferdinand de Saussure juga C.S. Pierce dalam ilmu bahasa (linguistik).

***

Pada perkembangan fotografi di tanah air, perkembangan fotografi sebagai ilmu inter-disiplin sepertinya masih belum segempita dengan fotografi sebagai karya dokumentasi atau ekspresi estetika. Masih sangat jarang ditemukan literatur yang membahas fotografi sebagai ilmu inter-disiplin yang tidak hanya melulu berbicara tentang teknis fotografi. Sekolah-sekolah tinggi dan universitas yang mengajarkan fotografi sebagai ilmu pun masih berkutat pada fotografi praktis, yakni cara dan teori memotret yang baik dan benar.

Dengan kata lain, institusi pendidikan masih berorientasi untuk menghasilkan fotografer yang ‘juara’ dalam hal teknis dan teori tentang memotret. Tidak jauh berbeda dengan lembaga pendidikan luar sekolah atau tempat kursus fotografi yang secara praktis memang bertujuan mencetak seorang fotografer. Saya rasa ini sangat berkaitan dengan kenyataan bahwa fotografi Indonesia sangat berkaitan dengan industri pencitraan dan komodifikasi identitas yang secara ekonomi menguntungkan banyak pihak.

Bisa dilihat misalnya dunia internet adalah tempat bertukar foto paling mutakhir bagi para penggunanya. Dalam sebuah jejaring sosial yang memberikan kemudahan dalam berbagi foto, setiap saat menawarkan berbagai foto yang dibuat oleh para penggunanya. Para pengguna situs yang memang berprofesi sebagai fotografer, mengunggah karya foto-fotonya — yang sebenarnya dapat dikatakan nyaris seragam– mulai dari foto bergaya jurnalistik, fashion, glamour, landscape, bahkan sekedar foto dokumentasi kongkow dengan sesamanya. Para pengguna situs yang bukan fotografer pun tidak mau kalah dengan mengunggah foto-foto yang sifatnya tergolong foto dokumentasi, bahkan dokumentasi kegiatan yang sangat pribadi.

Kegiatan fotografi yang ditayangkan di televisi pun masih sekedar sebagai penarik rating belaka. Saya masih ingat beberapa waktu lalu ada sebuah stasiun televisi yang menayangkan acara behind the scene-nya pemotretan model untuk sebuah majalah hiburan pria. Acara tersebut sebetulnya sangat menarik dengan hadirnya model-model perempuan yang cantik, berpakaian minim, dan berpose sensual. Akan tetapi, diskursus yang berkembang dari acara itu hanya dua. Pertama adalah diskursus berbagi masalah proses kreatif yang umumnya membicarakan pengolahan ide dan teknis. Diskursus ke dua adalah hal yang tidak tayang yakni pembicaraan para laki-laki di luar konteks fotografi: seksualitas dada dan paha. Kedua diskursus itu menempatkan fotografi hanya sebagai media ‘penggugah’ seksualitas. Program itu juga berhasil menyudutkan fotografi hanya sebagi aktivitas motret model dan landscape saja. Persis seperti yang selalu dirisaukan seorang kolega saya dalam berbagai kesempatan diskusi.

Itulah seperti apa yang saya maksud sebagai fotografi Indonesia masih lekat dengan berkaitan dengan industri pencitraan dan komodifikasi identitas. Fotografi Indonesia memang masih sangat ganjen dengan aktivitas memotret model dan landscape, sementara persoalan-persoalan lain disisihkan karena dianggap tidak komersial. Foto-foto bertema kebudayaan Indonesia pun akhirnya terjebak pada foto yang menampilkan budaya-budaya yang dianggap an sich dan eksotis: memakai baju adat/tradisional, menari, menabuh gamelan, melakukan aktivitas ritual, dan selesai sampai situ. Dengan kata lain, fotografi Indonesia masih menyimpan jejak-jejak kolonialisme yang akut di dalam tubuhnya. Persis seperti yang dilakukan oleh Kolonialis Belanda yang memotret eksotisme Nusantara sebagai upaya menaklukan negara jajahan melalui gambar 6).

Dunia pengkajian fotografi ilmiah pun masih dimarjinalkan. Masih sangat sedikit literatur yang bisa kita temukan yang membahas fotografi dengan keterkaitannya dengan ilmu lain. Bahkan literatur sejarah fotografi di Indonesia pun masih sangat minim. Buku-buku yang sudah pernah terbit tidak pernah dicetak ulang karena nampaknya fotografer Indonesia tidak terlalu suka membaca. Ini bisa kita buktikan dengan gugurnya banyak majalah foto di Indonesia. Sepertinya tidak banyak fotografer atau akademisi di Indonesia yang mau menggali hal-hal lain di luar persoalan teknis dan teknologi fotografi. Majalah-majalah yang masih ada atau situs-situs di internet yang berbahasa Indonesia pun lebih sering mengulas produk peralatan fotografi seolah hendak menjadikan fotografer menjadi mahluk yang konsumeristis dengan jargon teknologi canggih menjanjikan gambar yang baik.

Bila dibandingkan dengan sastra Indonesia misalnya, fotografi Indonesia jauh tertinggal. Sastra dalam evolusinya, hingga dewasa ini berada di dua ranah yang berbeda yang saling berkaitan satu sama lain: sastra sebagai ilmu, dan sastra sebagai karya. Sebagai ilmu, sastra berada di wilayah penelitian dan pengkajian karya dari berbagi sudut pandang manusia. Mulai dari pembahasan bahasa, teknis penulisan, hingga penafsiran makna. Sebagai karya, sastra diproduksi dalam kemasan yang dikenal orang diantaranya sebagai puisi/sajak, cerita pendek, juga novel. Wilayah proses kreatif dalam berkarya yang berhubungan dengan sisi teknis, saya rasa berada di wilayah ini. Dari sisi komersial, sastra juga memiliki tempat tersendiri, walau untuk hal ini masih jarang dibahas. Pembahasan komodifikasi sastra umumnya sering dibahas sebagai bagian dari cultural studies atau post-modernism yang berada di wilayah sastra sebagai ilmu.

Contoh lain di wilayah seni rupa, seni rupa tidak melulu berkutat pada masalah cara melukis, cara membuat patung dan sebagainya. Tetapi juga menguraikan simbol-simbol dan makna yang terdapat di dalam sebuah karya. Tidak pernah rasanya saya membaca artikel tentang keberhasilan pelukis Basuki Abdullah adalah karena ia melukis menggunakan kuas, cat, dan kanvas merek tertentu. Atau tentang perupa Tisna Sanjaya yang gemilang menciptakan instalasi bambu dengan memakai bambu merek tertentu yang dipotong dengan golok dan gergaji merk tertentu, misalnya.

Sebaliknya dengan dunia fotografi Indonesia. Di dunia fotografi Indonesia merk kamera tertentu dengan jenis lensa tertentu seolah menjadi jaminan kualitas karya foto seseorang. Kualitas fotografer seolah ditentukan dengan alat dan teknis yang digunakan, bukan pada bagaimana karyanya menjadi simbol keberhasilan pengolahan gagasan kreatif. Mengenai hal ini, seorang senior dengan sebal pernah mengatakan bahwa dengan membeli xxxxx (xxxxx: merk kamera sejuta umat di Indonesia) tidak membuat seseorang menjadi fotografer.

Berbeda dengan fotografi Barat sana (baca: Amerika Serikat dan Eropa). Dengan sedikit usaha melalui Google, saya menemukan banyak sekali situs yang membicarakan fotografi sebagai diskursus non-teknikal. Dengan beberapa kali klik di sebuah situs, dalam satu malam saja saya bisa mengunduh ratusan e-book tentang fotografi dan keterkaitannya dengan banyak hal. Mulai buku panduan memotret model bugil hingga memotret bebatuan dan kekayaan mineral. Mulai dari membahas fotografi sebagai media dokumentasi, fotografi dan ideologi, hingga fotografi sebagai piranti komodifikasi dan kapitalisasi. Di dalamnya terselip juga buku-buku yang menjadikan fotografi sebagai cara untuk mengembangkan pemikiran mengenai perkembangan budaya populer dan sistem pertandaan.

***

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam upaya mengembangkan fotografi sebagai ilmu dan sebagai karya. Dari segi ilmu, dibutuhkan banyak akademisi, penulis, dan pemikir yang mau meluangkan waktunya untuk turut serta mengembangkan fotografi agar bisa berkembang menjadi ilmu dan diskursus seperti yang terjadi di dunia seni lainnya. Dari segi karya, masih sangat terbuka peluang bagi para fotografer untuk melampiaskan kegelisahan estetika dan ideologisnya menjadi karya yang bisa disejajarkan dengan fotografer luar. Tidak sekedar mengekor Ansel Adams, Henri Cartier Bresson, atau Andy Warhol misalnya, tetapi bisa memiliki ciri khas pribadi yang bisa dikenang sepanjang masa. Bagi para fotografer komersial, teknologi fotografi digital telah membuka lapangan kerja yang luas dengan berbagai kemudahan yang memanjakan.

Dari sisi lain, memang diperlukan pula komunitas fotografi yang mendukung terciptanya alam dan atmosfir yang akan menghasilkan semua itu. Komunitas tersebut bisa berupa kelompok hobi, kelompok diskusi fotografi, atau institusi pendidikan fotografi dan seni. Tanpa habitat dan ekosistem yang sesuai, keinginan itu tidak akan pernah terealisasi. Karena bagaimanapun juga, menyitir Ibnu Khaldun, manusia adalah produk yang dikonstruksi oleh pemikiran dan kebiasaan sosial lingkungan tertentu. Harapan terbesar tentu ditujukan untuk lingkungan akademis di perguruan tinggi. Karena institusi pendidikanlah yang bisa melakukan penggodogan terhadap berbagai diskursus fotografi sebagai ilmu inter-disiplin yang bisa memanusiakan manusia, mengembalikan manusia pada khittah kemanusiaanya yang beradab. Para akademisi biasanya memiliki metode yang bisa dikembangkan untuk mendidik fotografer yang mumpuni secara praktis maupun secara akademik. Hal ini perlu dilakukan agar bisa meng-counter tekanan industri dan kapitalisasi yang hanya menempatkan manusia sebagai komoditas ekonomi belaka yang divisualkan dalam foto-foto, yang sebetulnya tidak bermakna apa-apa selain estetika yang semu dan palsu.

21 Februari 2010
Ricky N. Sastramihardja
Pecinta Kopi dan Fotografi

————————–
1)Ibnu Al Haitham atau Alhazen (965-1039 M), adalah ilmuwan Mesir yang menemukan dasar-dasar ilmu optik. Eric Renner dalam Pinhole Photography, From Historic Technique to Digital Application (Elsevier inc, London; 2010) menjelaskan bahwa Ibnu Al Haitam ini menulis dasar teori yang kemudian dikembangkan menjadi perangkat fotografi generasi awal, kamera obskura. Teori dasar Ibnu Al Haitam ini juga kemudian dikembangkan oleh Rene Descartes dan Johannes Kepler.
2)George Eastman adalah pendiri perusahaan fotografi KODAK yang sangat berambisi untuk menjadikan fotografi sebagai kegiatan yang mudah dilakukan. Tidak hanya untuk profesional tetapi juga untuk amatir, bahkan kanak-kanak. Kecerdasannya antara lain dengan menciptakan slogan Kodak yang terkenal, “You press the button, we do the rest”, yang kemudian diwujudkannya dalam kamera Kodak Brownie di awal tahun 1900. Baca:Encylopedia of Nineteenth Century Photographs Volume I, A-I. John Hannavy (ed.); Routledge New York; 2008.
3)Baca: Visual Anthropology: Photography As a Research Method. John Collier, Malcom Collier; University of New Mexico; 1986).
4)Sutan Sjahrir: Demokrat sejati, Pejuang Kemanusiaan. H. Rosihan Anwar, Penerbit Buku Kompas, Jakarta; 2010.
5)Dalam sebuah pengkajian mengenai semiotika, ST. Soenardi dalam Semiotika Negativa (Kanal, Yogyakarta; 2002) menyebutkan bahwa Studium adalah kebutuhan kultural akan fantasi, sedangkan punctum atau punctuation adalah identitas imajiner. Perlu diketahui juga, Barthes bukanlah fotografer walau ia memiliki minat khusus terhadap itu. Tidak pernah diketahui apakah ia memiliki karya foto atau tidak. Baca juga: Roland Barthes. Graham Allen, Routledge, New York; 2003.
6)Dalam sejarah panjang Kolonialisme di Indonesia, Yudhi Soerjoatmodjo mengungkapkan bahwa fotografer-fotografer asing dari Woodbbury and Page yang bertugas di Hindia Belanda, selain memotret untuk keperluan bisnis, juga memotret untuk keperluan penaklukan negara jajahan. Foto-foto tersebut dipergunakan sebagai cara untuk mendefinisikan wilayah Nusantara dalam kepentingan Kerajaan Belanda. Di sini mungkin penafsiran fotografi secara non-fotografis melalui ilmu budaya, sosial, dan politik dilakukan untuk memetakan kondisi negara jajahan. Fotografi ini juga melahirkan fotografi salon yang kuat pengaruhnya di Indonesia hingga dewasa ini.

*Tulisan ini dimuat oleh APC Institute dengan seizin penulisnya yaitu Ricky N. Sastramihardja.

May 30, 2011

Kassian Cephas, Legenda Pemotret Indonesia dan Saksi Sejarah Fotografi Tanah Air

Oleh galih sedayu

Kassian Cephas, 1905 (Courtesy P.Cephas)

Kassian Cephas. Tidak bisa dipungkiri bahwa nama besar tersebut erat kaitannya dengan keberadaan  dan identitas fotografi indonesia. Cephas banyak disebut sebagai pelopor pemotret pribumi yang pertama di indonesia. Terlahir dengan nama Kasihan di Kota Yogyakarta pada tanggal 15 Januari 1845, merupakan putra dari seorang ayah yang bernama Kartodrono dan seorang ibu yang bernama Minah. Tetapi beberapa literatur menyebutkan bahwa Cephas merupakan anak asli orang belanda yang bernama Frederik Bernard Franciscus Schalk dan lahir pada tanggal 15 Februari 1844. Setelah masuk kristen protestan dan dibaptis pada tanggal 27 Desember 1860 di sebuah gereja di Kota Purworejo, nama Kasihan berubah menjadi Kassian Cephas. Nama “Cephas” tersebut merupakan nama baptis yang sama artinya dengan Petrus dalam bahasa indonesia.

Cephas belajar fotografi untuk pertama kalinya kepada seorang fotografer dan pelukis yang bernama Isodore Van Kinsbergen di Jawa Tengah poda kurun waktu 1863-1875. Selain Kinsbergen, Cephas pun sempat berguru kepada Simon Willem Camerik, seorang fotografer dan pelukis yang kerap mendapatkan tugas memotret kraton Yogyakarta dari Sultan Hamengkubuwono VII. Pada tahun 1870 ketika Camerik meninggalkan Yogyakarta, Cephas diberi amanat oleh Sultan Hamengkubuwono VII sebagai fotografer dan pelukis resmi kraton Yogyakarta.  Karya foto pertama Cephas menggambarkan obyek Candi Borobudur yang dibuat pada tahun 1872.

Circa 1890. KITLV 40154; 11×16 cm ; albumen print

Cephas memiliki sebuah studio foto di daerah Loji Kecil yang sekarang letaknya berada di Jalan Mayor Suryotomo dekat Sungai Code di Jawa Tengah. Cephas pun mempunyai seorang asisten foto yang bernama Damoen. Nama Cephas semakin bersinar ketika Isaac Groneman yaitu seorang dokter resmi sultan asal belanda memujinya di sebuah artikel yang ia tulis untuk untuk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Lembaga Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia) pada tahun 1884. Kemudian Cephas bergabung dengan sebuah perkumpulan yang didirikan oleh Isaac Groneman dan J.W. Ijzerman mendirikan Vereeniging voor Oudheid-, Land,- Taal- en Volskenkunde te Yogjakarta (Union for Archeology, Geography, Language and Etnography of Yogyakarta) pada tahun 1885 ( yang selanjutnya disebut Vereeniging voor Oudheid). Karir Cephas pun semakin meningkat ketika ia bergabung dengan perkumpulan tersebut. Terbukti ketika karya-karya foto Cephas masuk ke dalam dua buah buku yang dibuat oleh Isaac Groneman, In den Kedaton te Jogjakartadan De garebeg’s te Ngayogyakarta dan diterbitkan oleh penerbit komersial Brill di kota Leiden pada tahun 1888. In den Kedaton berisi tulisan dan gambar collotypes tarian tradisional Jawa. Sedangkan De garebeg’s berisi tulisan dan gambar upacara Garebeg. Semua gambar foto collotype dibuat Chepas atas ijin dari Sultan Hamengkubuwono VII. Kompilasi karya Cephas pun kemudian dijadikan souvenir bagi kaum elit eropa yang akan pulang ke negaranya serta kaum pejabat baru belanda yang mulai bertugas di Kota Yogyakarta.

Tittle Page of De garebeg’s

Pada tahun 1889-1890 Pemerintah Hindia Belanda menunjuk Cephas untuk membuat foto tentang situs-situs Hindu-Jawa Kuno di Jawa Tengah. Dimana Candi Borubudur merupakan salah satu obyek foto situs tersebut setelah penemuan dasar tersembunyi yang memuat relief Karmavibhanga pada tahun 1885 oleh J.W. Ijzerman. Setelah berakhirnya proyek pengangkatan relief Candi Borobudur di akhir tahun 1891, jumlah foto yang dihasilkan Chepas adalah 164 foto dasar tersembunyi, 160 foto relief dan 4 foto situs Borobudur. Pada saat yang bersamaan, Cephas memperoleh status gelijkgesteld met Europanen (sejajar dengan orang Eropa) untuk dirinya dan kedua anaknya, Sem dan Fares dari Pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1892 Chepas diangkat sebagai anggota luar biasa Lembaga Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia. Cephas pun pernah mendapat kesempatan untuk memotret kunjungan Raja Rama V (Chulalongkorn) dari Thailand ketika raja tersebut menyambangi Yogyakarta pada tahun 1896. Salah satu jejak karya Cephas yang lain adalah Buku Wajang orang Pregiwa yang dibuat oleh Sultan Hamengkubuwono VII untuk kemudian diberikan kepada Ratu Wilhelmina dan Pangeran Hendrik dari Mecklenburg-Schwerin sebagai hadiah pernikahan mereka berdua.

Cover of the Wajang orang Pergiwa

Pada saat Cephas berumur 60 tahun, beliau mulai pensiun dari bisnis fotografi yang digelutinya. Dimana Sem, putra Cephas lah yang meneruskan karirnya di dunia fotografi. Tanggal 16 November 1912 menjadi hari yang bersejarah. Kassian Cephas meninggal dunia setelah mengalami sakit yang berkepanjangan. Cephas dimakamkan di Kuburan Sasanalaya yang terletak antara pasar Beringharjo dan Loji kecil. Begitulah sekelumit episode singkat tentang kehidupan Kassian Cephas, seorang pahlawan fotografi indonesia yang menjadi legenda. Yang ironisnya kadang dilupakan oleh sebagian individu yang menyebut dirinya fotografer indonesia. Walaubagaimanapun nama Kassian Cephas harus terus tercatat di dalam lembaran sejarah fotografi indonesia. Seorang tokoh yang begitu banyak menghadirkan jejak karyanya seiring dengan sejarah perkembangan bangsa indonesia. Agar menjadi bagi kita sebuah kisah yang terus menyulut api semangat dan menanamkan pohon inspirasi tidak hanya bagi para pewarta cahaya melainkan juga bagi sebuah bangsa yang merdeka.

Sumber Pustaka :

* Groeneveld, Anneke. (ed.). 1989. Toekang Potret100 Jaar Fotografie in Nederlandsch Indie 1839-1939. Amsterdam: Fragment.

* Knaap, Gerit. 1999. Chepas, Yogyakarta; Photography in the service of Sultan. Leiden: KITLV Press.

May 30, 2011

TRIBUTE TO NATURE – Pameran Fotografi & Digital Imaging @ Gedung Indonesia Menggugat…{CLOSED}

Menjumpai sahabat…

APC INSTITUTE bekerjasama dengan TEH KOTAK dan TELINGAMATA COMMUNICATIONSmengundang Rekan-Rekan untuk menghadiri Pameran Karya Fotografi & Digital Imaging

“TRIBUTE TO NATURE”

PAMERAN KARYA
Gedung Indonesia Menggugat (GIM)
Jalan Perintis Kemerdekaan No 5 Bandung
Tanggal 22 – 24 April 2011

AGENDA PROGRAM PAMERAN

KARTINI PHOTO SHOOT
Lomba Memotret Model Ala Kartini Modern
Halaman GIM
Sabtu, 23 April 2011
Pukul: 07.00 – 09.00 Wib.
3 orang pemenang lomba memotret model masing-masing akan mendapatkan trofi & hadiah sebesar Rp 1 juta.
Pendaftaran via email ke apc_institute@yahoo.com (mohon kirimkan data berupa nama, alamat, telepon, & asal lembaga/institusi)
FREE REGISTRATION
Model: Diah Kamil & Indah

(c) Diah Kamil

(c) Noni

PEMBUKAAN PAMERAN & PENGUMUMAN PEMENANG KOMPETISI
FREE INVITATION
Ruang Utama GIM
Sabtu, 23 April 2011
Pukul: 10.00 Wib.
Opening Performance: Laskar Panggung (Sutradara Yusef Muldiyana)


Pukul: 11.00 Wib.
Pengumuman Pemenang Kompetisi Tribute To Nature
Pukul: 12.00 Wib.
Makan Siang

FRESH & GREEN – Fashion & Architecture Photography Seminar
FREE ENTRY
Aula GIM
Sabtu, 23 April 2011
Moderator: Deni Sugandi


Pukul: 13.00 – 14.30 Wib.
“Fashion Photography Seminar”
Pembicara: Nurulita Adriani (Fotografer Fesyen)

Portfolio Nurulita Adriani


Pukul: 15.00 – 16.30 Wib.
“Green Architecture Photography Seminar”
Pembicara: Ridwan Kamil (Arsitek & Fotografer)

Portfolio Ridwan Kamil


MUSIKAMERA –  ACOUSTIC LIVE PERFORMANCE
FREE ENTRY
Aula GIM
Sabtu, 23 April 2011
Pukul: 18.30 – 21.00 Wib.

MUSISI PENGISI PROGRAM

*Teman Sebangku
Adalah sepasang teman berasal dari kota Bandung yang menyukai musik dan menjadikannya sebagai media untuk berbagi, apapun ceritanya. Si lelaki memetik gitar nylon (Dolly Harahap) dan si perempuan (Sarrringa) bersenandung. Semoga kamu senang mendengarkannya.

*Pidi Baiq
Manusia nyentrik ini merupakan seorang Imam Besar The Panasdalam. Lahir pada tanggal 8 Agustus 1972 dan saat ini tinggal di Kota Bandung. Pidi Baiq merupakan lulusan FSRD ITB dan lain-lain setelah itu. Ia juga menjadi ketua “Front Pembela Islam Kristen Hindu & Budha. Aktif menulis dan telah menerbitkan buku “Serial Drunken”. Hal yang paling disukai olehnya adalah bahwa Ia merupakan ayah dan suami terbaik di dunia. Musisi ini merupakan penyanyi tunggal & merangkap pemain gitar, yang akan menampilkan beberapa lagu andalannya selama setengah jam. 


*Cozy Street Corner
Band ini mendefinisikan grup musik mereka sebagai sesuatu yang “Hangat & Nyaman”. Berdiri pada tanggal 8 September 1986. Kelompok musik yang terdiri dari 3 (tiga) orang penampil ini, memilih format memainkan alat musik, menciptakan dan membawakan lagu sendiri dari panggung ke panggung pertunjukan (keliling). Dengan konsep musik yang menonjolkan orisinalitas dan ke’Indonesiaan’ (baca: indigenous), mereka ‘bergerilya’ mempromosikan konsep produk musik dalam bentuk album serta format ‘live’, termasuk ‘paparan musikal’. Dalam penampilan karya dan pertunjukan (live performances) Cozy Street Corner mengutamakan pada kesederhanaan materi, mudah diterima dan dicerna, juga peduli pada detil-detil untuk mencapai kesempurnaan komposisi, harmoni dan daya tarik karya secara utuh. Cozy Street Corner juga senantiasa menghadirkan suasana cozy serta komunikasi yang ‘cair’ baik antar para penampil maupun dengan pemirsanya.


DOOR PRICE
Bagi para pengunjung pameran akan disediakan door price berupa 2 BUAH SEPEDA MTB & SOUVENIR di penghujung acara pada hari sabtu tanggal 23 april 2011.

PESERTA PAMERAN
Agum Kurniawan (Jakarta) – Agus Sucipta (Bali) – Ahmad Samsudin (Semarang) – Anom Manik Agung (Bali) – Ari Sanjaya Liem (Jakarta) – Charles Adi Prabowo (Surabaya) – Dede Sudiana (Bogor) – Diver Dantika (Bandung) – Donni Arifianto (Bandung) – Edison Paulus (Bandung) – Hari Agung (Jatim) – Hendra Mulya (Bandung) – IB Ngurah Primarta (Bali) – I Ketut Widiatmika (Bali) – I Made Kristo Joelyanta (Bali) – I Made Gede Suherman (Bali) – Kaharudin (Batam) – Kusnadi (Bandung) – Muhammad Nasrul Akbar (Bandung) – Nur Efendi (Bali) – Oki Lutfi (Bandung) – Ricky Rohimat (Bandung) – Sutarya Partadisastra (Bandung) – Tamdy Septiandi (Bandung) – Taufik Noor Aditama (Bandung) – Varhan Christihap (Depok).

PENDUKUNG PAMERAN
APC Institute
Frontline
Tempo Koran & Majalah
Radio MGT
Gedung Indonesia Menggugat (GIM)
Bandung Creative City Forum (BCCF)
Laskar Panggung
Cozy Street Corner
Pidi Baiq
Teman Sebangku
Fotografi Bergerak
Perpustakaan Fotografi Andhika Prasetya
Cawan Photo Space

UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terima kasih kami haturkan kepada Samudera Prawirawidjaja (PT Ultra Jaya Milk Industry and Trading Company, Tbk), Adi Barnas & Ferry Kurniawan (Teh Kotak). Terimakasih kepada Para Dewan Juri (Achmad Sadikin, Adithya Zen, Dudi Sugandi, Ferry Ardianto & Galih Sedayu). Terimakasih kepada para partisipan kompetisi & peserta pameran. Terimakasih kepada Hasina Hakim & Dipa Ramsay (Frontline), Hanif & Efron (Gedung Indonesia Menggugat), Nurulita & Ridwan Kamil (Pembicara Seminar), Deni Sugandi (Moderator Seminar), Yusef Muldiyana (Laskar Panggung), Cozy Street Corner (Chris Takarbessy, Adoy & Boby), Pidi Baiq (Ketua Front Pembela Islam Kristen Hindu & Budha), Teman Sebangku (Doly Harahap, Sarrringa & Uq), Astrid (The Kartipah Wedding & Guess House), Radio MGT (Budi Darma Putra, Sari Indah & Dani), Martin (Pengelola Soundsystem), Azis Saleh & Manchoe (Kreator Trofi), Para Model (Diah Kamil & Indah), Julius Tomasowa, Rani Nuraeni, Christine Listya, Ruli Suryono, Ricky N Sastramiharja, Rulli Maulana Putra, Levana Lelev, Puy, Vera Ridzka, Pandit Andrea, Ivan, Reza, Yakob Gunawan, Endang Ruhimat, Avip Febriansyah, Syarif Hidayat, Udo, Aldhira, Sulhan Safi’i, Rime. Terima kasih kepada Fiki Satari, Rizky Adiwilaga, Tita Larasati, Maulana Yudiman, Fatiadi M Paham, Man Jasad, Ade Tinamei (Bandung Creative City Forum/BCCF). Terima kasih kepada para sahabat media: Wartawan Foto Bandung/WFB, Aliansi Jurnalis Indonesia/AJI & Forum Diskusi Wartawan Bandung/FDWB. Terima kasih kepada seluruh komunitas & institusi fotografi: Komunitas Pemotret Bandung (KPB), Perhimpunan Amatir Foto (PAF), Brigade Poto #, Pinhole Bandung (Kampi & KLJ Bandung), Klastic, LFM-ITB, Maphac Clubs, Jepret IMA-G ITB, Performa UPI, MM, Hobi Foto Bandung, Geuring Photography, 25 Graphy, Komunitas Seni Fotografi, B3 Komunitas Lensa Manual, Capslock, Capture IM Telkom, Forum Fotografi Kampus (FFK), Spektrum Unpad, Kokang Itenas, Pony Itenas, Bidik Stikom, Parasastra Unpad, AF Unpar, Potret Unpar, Jepret Unisba, Steril, Titik Fokus, ISO 77, JPOP, Illuminati, Medicourse, Sekolah Foto Tcap Budhi Ipoeng, Satya Bodhi, Humanika, Inova, Fotolisis. Terimakasih kepada keluarga APC Institute, Telingamata Communications, Perpustakaan Fotografi Andhika Prasetya, Cawan Photo Space & Fotografi Bergerak.

INFO LANJUT
apc institute
agency, program management & school of photography
surapati core blok m32
jalan phh.mustofa 39 bandung
telepon 022-87242729 / 70160771
contact person: rani (022-92347207)
apc_institute@yahoo.com
facebook/apc institute & twitter @apcinstitute
http://www.apcinstitute.com & http://www.fotografibergerak.com

May 30, 2011

Nyaah Ka Kolot Photo Contest 2011…{CLOSED}

Menjumpai sahabat,

Lembaga Lansia Indonesia (LLI) Jabar, Pikiran Rakyat dan APC Institute mengundang para sahabat untuk berkolaborasi pada program:

NYAAH KA KOLOT PHOTO CONTEST
Lomba Foto tentang segala aktivitas orang-orang lanjut usia (lansia) dan potret kepedulian masyarakat terhadap para lansia yang ada di sekitar kita.

HADIAH
Juara ke-1 : Trofi Gubernur Jabar & Uang Tunai Rp 3.000.000,-
Juara ke-2 : Trofi Gubernur Jabar & Uang Tunai Rp 2.000.000,-
Juara ke-3 : Trofi Gubernur Jabar & Uang Tunai Rp 1.000.000,-
Juara Harapan : Sertifikat & Uang Tunai Rp 500.000,- (2 orang)

REGULASI & KETENTUAN LOMBA FOTO

Lomba foto terbuka untuk masyarakat umum dan tidak dikenakan biaya.

Jumlah foto yang dikirimkan oleh masing-masing peserta bebas dengan ukuran foto 8R (20 x 25 cm) atau 8RP (20 x 30 cm) yang dikirim beserta soft copy file format jpeg ke dalam cd dan dibalik fotonya ditempel kertas yang berisi keterangan tentang: judul foto, deskripsi foto, nama, alamat lengkap, nomor telepon & alamat email.

Warna foto bebas & olah digital diperbolehkan kecuali menambah atau mengurangi unsur gambar dalam sebuah foto.

Seluruh foto yang masuk menjadi dokumen Lembaga Lansia Indonesia Jawa Barat. Hak cipta foto tetap menjadi milik fotografer. Foto pemenang lomba dapat digunakan oleh Lembaga Lansia Indonesia untuk kepentingan promosi dan publikasi.

Peserta yang menjadi pemenang lomba foto wajib menyerahkan surat pernyataan fotografer/pemotret mengenai pertanggung-jawaban hasil karya foto.

Keputusan Dewan Juri mutlak, sah & tidak dapat diganggu gugat.

Karya peserta dikirimkan kedalam amplop tertutup dan dibelakang amplop wajib dicantumkan nama, alamat, nomor hp & email untuk kepentingan konfirmasi penerimaan kepada peserta yang ditujukan kepada

Panitia Nyaah Ka Kolot Photo Contest 2011
apc institute
surapati core blok m32
jalan phh.mustofa 39
bandung 40192

WAKTU
Batas Akhir Pengumpulan Foto : Senin 6 Juni 2011
Penjurian Lomba Foto : Selasa 7 Juni 2011
Pengumuman pemenang : Rabu 8 Juni 2011, dapat dilihat di http://www.fotografibergerak.com.

DEWAN JURI
Dudi Sugandi (Redaktur Foto Pikiran Rakyat)
Galih Sedayu (Fotografer & Pendiri APC Institute)
H.R. Nuriana (Ketua LLI Jabar)

Mari bergerak bersama kami…

INFORMASI & TEMPAT PENDAFTARAN
apc institute
agency, program management & school of photography
surapati core blok m32
jalan phh.mustofa 39 bandung
telepon 022-87242729 / 70160771
contact person: rani (022-92347207)
apc_institute@yahoo.com
facebook/apc institute & twitter @apcinstitute
http://www.apcinstitute.com & http://www.fotografibergerak.com

May 30, 2011

Liputan Video Kemilau Nusantara Photo Contest 2007 (Bandung TV)

Juara ke-3 Kemilau Nusantara Photo Contest 2007 (c) Sandhi Irawan

Video Liputan di Bandung TV tentang Kegiatan Kemilau Nusantara Photo Contest 2007 di Lapangan Gasibu Bandung yang diselenggarakan oleh APC Institute bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat (Disbudpar Jabar).

http://www.youtube.com/watch?v=S8Ltlx2Ye5U&feature=player_embedded

May 30, 2011

Karya Pemenang Kompetisi “Tribute to Nature” Kategori Fotografi & Digital Imaging

KATEGORI FOTOGRAFI

Juara ke-1 (c) Anom Manik Agung, Bali – KF

Juara ke-2 (c) Kristo Joelyanta, Bali – KF

Juara ke-3 (c) Edison Paulus, Bandung – KF

Juara Harapan I (c) Muhamad Nasrul Akbar, Bandung – KF

Juara Harapan II (c) Ricky Rochimat, Bandung – KF

KATEGORI DIGITAL IMAGING

Juara ke-1 (c) Ari Sanjaya Lim, Jakarta – KDI

Juara ke-2 (c) Diver Dantika, Bandung – KDI

Juara ke-3 (c) Agum Kurniawan, Jakarta – KDI

Juara Harapan I (c) Varhan Christihap, Depok – KDI

Juara Harapan II (c) Charles Adi Prabowo, Surabaya – KDI

Selamat kepada para pemenang kompetisi “Tribute To Nature” dan sampai berjumpa di program yang selanjutnya. Salam.

INFO LANJUT
apc institute
agency, program management & school of photography
surapati core blok m32
jalan phh.mustofa 39 bandung
telepon 022-87242729 / 70160771
contact person: rani (022-92347207)
apc_institute@yahoo.com
facebook/apc institute & twitter @apcinstitute
http://www.apcinstitute.com & http://www.fotografibergerak.com

May 30, 2011

TU7UH – Presentasi Interaktif Foto Cerita & Dialog (7 Menit,7 Karya,7 Cerita)

Menjumpai Sahabat

APC Institute bekerjasama dengan Bandung Creative City Forum (BCCF) mengundang para sahabat untuk berkolaborasi pada program

TU7UH
Presentasi Interaktif Foto Cerita & Dialog (7 Menit,7 Karya,7 Cerita)

TENTANG PROGRAM
Tu7uh merupakan sebuah program berupa presentasi interaktif karya foto cerita dengan mengusung satu tema tertentu. Karya foto ini disajikan oleh para partisipan yang membuat foto cerita dengan genre fotografi yang berbeda-beda semisal foto jurnalistik, fine art, glamour, piktorial, konseptual, digital imaging dan sebagainya. Misalnya foto jurnalistik dengan tema “Banjir di Kota Kembang”, Foto fine art dengan tema “Neraka Kehidupan”, Foto Glamour dengan tema “Kesepian”, dan lain-lain. Program ini dihadirkan sebagai sebuah forum untuk saling berbagi dan saling menginspirasi lewat karya foto cerita yang disuguhkan oleh para partisipan.

WAKTU
Minggu 7 Agustus 2011
Pukul 7 Malam

TEMPAT
Cawan Photo Space
Surapati Core Blok M32 Lantai 3
Jalan PHH.Mustofa 39
Bandung 40192

PARA PEMBICARA
Edi Omen
Andri Gurnita
Galih Sedayu
Dan lain-lain

SYARAT & KETENTUAN

Terbuka untuk masyarakat umum.

Para partisipan dapat mengikuti program ini dan diharapkan mengirimkan 7 buah karya foto ceritanya sebagai bahan presentasi (ditulis keterangan: nama, tema karya foto & nomor telepon) melalui email ke apc_institute@yahoo.com selambat-lambatnya pada hari Senin 1 Agustus 2011.

Karya Foto yang dikirim disimpan dalam format jpeg dengan sisi terpanjang 1200 pixel

Karya foto yang dibuat dapat menggunakan jenis kamera apapun (kamera DSLR, pocket, lubang jarum/pinhole, lomo, analog/film, hp, dll).

Para partisipan terpilih hanya akan diberikan waktu selama 7 Menit untuk mempresentasikan 7 karya foto milik masing-masing.

Presentasi karya dapat berupa preview, slide show, klip foto dengan backsound, display foto yang dicetak, instalasi foto, dan sebagainya.

Hak cipta karya foto merupakan milik fotografer atau pemotret. APC Institute tidak berhak menggunakan foto-foto yang terpilih ataupun yang masuk tanpa seijin dari fotografer/pemotret yang bersangkutan kecuali untuk keperluan yang berhubungan dengan program ini.

APC Institute akan menyediakan sertifikat penghargaan kepada para partisipan yang telah mempresentasikan karyanya di depan publik.

FREE ENTRY!!!

Mari bergerak bersama kami…

INFO LANJUT
apc institute
agency, program management & school of photography
surapati core blok m32
jalan phh.mustofa 39 bandung
telepon 022-87242729 / 70160771
contact person: rani (022-92347207)
apc_institute@yahoo.com
facebook/apc institute & twitter @apcinstitute
http://www.apcinstitute.com

May 30, 2011

BMW – Business & Management Workshop of Photography…{CLOSED}

Menjumpai sahabat…

APC Institute  menghadirkan sebuah program yaitu

BMW
Business & Management Workshop of Photography

TUJUAN
Para peserta workshop dapat menerapkan berbagai metoda, menyerap pengalaman & mengembangkan wawasan yang disampaikan oleh para pembicara ke dalam sebuah bisnis usaha fotografi yang baru atau telah dimulai.

SASARAN PESERTA
Mahasiswa/i
Pekerja Lepas
Masyarakat Umum

WAKTU
Sabtu 25 Juni 2011
Pukul 10.00 wib s/d 15.00 wib

MATERI WORKSHOP
Business Plan
Strategi Marketing
Negosiasi dengan Klien
Membuat surat perjanjian kerja
Menyusun Program Kerja

JADWAL KEGIATAN
Pukul 10.00-11.00 wib : Pemberian materi bisnis & manajemen fotografi retail oleh Hendrikus Ardianto
Pukul 11.00-12.00 wib : Pemberian materi bisnis & manajemen fotografi alternatif oleh Galih Sedayu
Pukul 12.00-13.00 wib : Makan Siang
Pukul 13.00-15.00 wib : Simulasi, Evaluasi & Tanya Jawab

TEMPAT WORKSHOP
Cawan Photo Space
Surapati Core Blok M32 Lantai 3
Jalan PHH.Mustofa 39
Bandung 40192

TUTOR WORKSHOP
Galih SedayuPemilik APC Institute
Hendrikus Ardianto
Pemilik Papyrus Photo

SYARAT & KETENTUAN

Program ini ditujukan bagi siapapun yang akan/telah memulai bisnis usaha fotografi.

Kelas workshop baru akan berlangsung dengan jumlah peserta minimal sebanyak 7 orang.

Maksimal peserta 25 orang.

BIAYA PENDAFTARAN
Rp 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah) 
Pembayaran dapat dilakukan secara langsung di APC Institute atau melalui transfer ke rek BCA atas nama Christina Listya BW 4370828551 KCP Achmad Yani (bukti transfer dibawa pada saat registrasi ulang). Bagi peserta yang telah mentransfer mohon konfirmasi via sms ke no 022-70160771 atau email ke apc_institute@yahoo.com dengan menyertakan nama, alamat & no telepon.

BATAS AKHIR PENDAFTARAN
Kamis 23 Juni 2011

FASILITAS PESERTA

Handout / modul fotografi

Ruang kelas dengan Air Conditioner (AC) & Ruang Hijau untuk rehat, santai & diskusi

Laptop & LCD Projector untuk simulasi materi peserta

Makan Siang (Lunch)

Sertifikat Workshop

PENDUKUNG PROGRAM
Telingamata Communications
Papyrus Photo
Fotografi Bergerak
Perpustakaan Fotografi Andhika Prasetya
Cawan Photo Space

INFO LANJUT
apc institute
agency, program management & school of photography
surapati core blok m32
jalan phh.mustofa 39 bandung
telepon 022-87242729 / 70160771
contact person: rani (022-92347207)
apc_institute@yahoo.com
facebook/apc institute & twitter @apcinstitute
http://www.apc-institute.com