Archive for April, 2012

April 4, 2012

Tulisan Kurator pada Katalog Pameran Foto 100 Tahun Republik Cina “Retracing Our Steps”

Courtesy of Kuomintang PartyArchives

SEABAD KEBEBASAN 

The basis of a democratic state is liberty.
-Aristoteles (384-322 SM)
dari “Politics”

Namanya sohor sebagai penggerak  pembebasan  rakyat Cina dari kungkungan kekaisaran Qing  yg luar biasa zalim dan korup.  Pemimpin gerakan “mission imposible”  itu adalah seorang dokter suku Han bernama Sun Wen, namun dunia mengenal namanya sebagai Sun Yat-sen (1866-1925).  Dialah pengobar Revolusi Xinhai yang sukses menumbangkan domino feodalisme Dinasti Qing hingga ke akar sumsumnya.  Revolusi yang menghapuskan 268 tahun tirani imperium Qing, seraya membungkusnya sebagai  keranda akhir sejarah kekaisaran Cina

Masyarakat Cina  mendukung Tiga Prinsip Rakyat yang dikumandangkan Sun Yat-sen menyublim mekar di sanubari mereka. Semboyan yang  menggelorakan perlawanan dari hati yang tertindas dan akan terus kekal bergema  sepanjang masa. Tiga Prinsip Rakyat yang dihembuskan Sun  adalah,  Nasionalisme (Minzu), Demokrasi (Minquan) dan Kesejahteraan Rakyat (Minsheng).  yang dikreasi  dari falsafah Abraham Lincoln, presiden AS semasa perang saudara yang mengibarkan semboyan “dari, oleh dan untuk rakyat”,  dipadu dengan refleksi ajaran bijak filsuf termasyur Cina,  Confusius.  Tiga Prinsip Rakyat Sun  melandasi tetesan  perlawanan rakyat tanpa henti atas karang  tirani yang sebelumnya tak pernah  terbayangkan akan pecah dan hancur berkeping tak bersisa. Kezaliman akhirnya tumpas  oleh tekad membara, kejujuran nurani dan  keagungan jiwa untuk  meraih kebebasan.

Sun Yat-sen diakui sebagai Bapak Republik China. Beliau adalah Pendiri Republik China setelah kemenangan Revolusi pada 10 Oktober 1911. Baik masyarakat di Cina daratan maupun Taiwan, setiap tahun merayakan peringatan kemenangan Revolusi pada 10 Oktober 1911 saat kekaisaran Qing bertekuk lutut dan terpaksa menghamparkan permadani merah mereka untuk  kawulanya.

Penaklukan bersejarah,  menyusul berhasilnya pemberontakan Wuhan, Hubei tahun 1911, yang digerakkan Sun dan kendali lapangannya dipimpin  oleh tangan kanan Sun,  Huang Xing (1874-1916), ahli militer yang kemudian atas jasa perjuangannya diangkat menjadi Pangab pertama Republik Nasionalis Cina. Pada saat krusial itu Sun sendiri tengah berada di Denver, AS melakukan rangkaian kampanye penggalangan dukungan atas gerakan perlawanan  mereka di dunia Barat.

Pameran “The Centennial ROC” yang diselenggarakan pada bulan Oktober 2011 di ruang pamer utama Galeri Foto Jurnalistik Antara, serta pameran “Retracing Our Steps- A Photo Journey Through the ROC’s 1st Century” pada tanggal 29 Maret 2012 di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, mencoba merefleksikan  perjalanan demokrasi  dan proses pembangunan Republik China hingga progresnya seratus tahun kemudian.  Pameran peringatan juga  digelar untuk mengapresiasi sekaligus merayakan kebebasan sebagai  upaya insan  manusia untuk meraih kembali martabat yang tercerabut dan membentangkannya sebagai jalan bagi demokrasi.  “The Centennial”  juga adalah  godam sejarah yang selalu mengingatkan betapa mulianya kebebasan demokrasi bagi kemanusiaan majemuk yang adil dan beradab. Meskipun sejarah pula yang mencatatkan bahwa titian menuju kebebasan selalu penuh  pengorbanan yang terkadang berlumur darah dan air mata. Seperti yang juga dialami Indonesia saat memperjuangkan kemerdekaannya. Atau,  ketika Mahatma Gandhi  memimpin  pembebasan India, serta Nelson Mandela yang memerdekakan rakyat Afrika Selatan dari segregasi apartheid.

Kebebasan demokrasi bukanlah takdir yang jatuh dari langit,  dia harus diraih dengan pengorbanan apapun,  atas nama  kemuliaan insan  manusia.

Oscar Motuloh
Tommy Lee
Galih Sedayu
Kurator

Courtesy of Kuomintang PartyArchives

中華民國  建國百年回顧攝影展

自由為民主國家的基石

–亞里斯多德

他之所以受人敬仰,因為他是拯救被清朝專制和腐敗政權壓迫的中國人民的救星,這位啟動“不可能任務”的革命運動發起人,名叫孫文,漢族醫生,世人稱他為孫逸仙或孫中山先生(1866-1925)。他和同志們發動的辛亥革命,徹底推翻清朝長達268年的封建政權,他是結束中國君主專政的偉人。

中國人民逐漸認同孫中山先生所主張的三民主義,激發被壓迫者內心對自由民主的嚮往,世代流傳。中山先生宣揚民主、民權、民生的三民主義,是效法美國前總統林肯在內戰期間宣揚的“民有、民治、民享”的立國原則,並結合中國偉大哲學家孔子的儒家思想。孫中山先生的三民主義以人民為基礎,在人民的決心、誠實與良知的引領下,終於讓中國君主專政的政權,粉碎地不留任何痕跡。

孫中山先生於1911年10月10日辛亥革命成功之後,創建中華民國,並成為中華民國的國父。無論在中國大陸或台灣,兩地人民在每年的10月10日都會分別慶祝辛亥革命成功的意義。

孫中山先生的革命得力助手黃興(1874-1916),1911年在湖北武漢發動起義時,中山先生還在美國的丹佛市宣傳推翻滿清政權的活動,希望能夠得到西方世界的支持。清朝專制政權在民主自由的大趨勢下,不得不放下政權,黃興也因建國有功,擔任中華民國首任三軍總參謀長。

2011年10月間,在安塔拉通訊社新聞攝影藝廊舉辦“中華民國建國百年攝影展”,以及2012年3月29日在萬隆舉辦建國百年回顧攝影展的目的,都是為了忠實呈現在臺灣的中華民國,建國100年來的發展過程,讓觀賞民眾有機會透過歷史影像,瞭解這個自由民主國家曾經走過的坎坷道路。歷史記載,邁向自由的道路永遠必須通過流血流淚的犧牲,就好像印尼在爭取獨立自由時必須面對的各種犧牲,或者甘地領導印度走向自由,曼德拉從南非的黑人種族隔離制度中,把南非人民帶上自由民主的大道。

自由民主的果實並非天上掉下來的運氣,它必須通過各種的犧牲來爭取。

策展人

奧斯卡‧蒙督魯

李東明

佳里‧瑟答優

Courtesy of Kuomintang PartyArchives

A HUNDRED YEARS OF FREEDOM

The basis of a democratic state is liberty.
-Aristoteles (384-322 SM)
dari “Politics”

His name had been so famous as a Chinese people freedom movement initiator from the occupation of Qing Empire which was so cruel and full of corruption. The leader of that “mission impossible” movement was a doctor from the Han clan named Sun Wen. The world recognizes him as Sun Yat-sen (1866-1925). He was the one who inspired the Xinhai Revolution which successfully blew down the feudalism of the Qing Dinasty until its roots. The revolution which vanished 268 years of tyranny by the Qing Empire also noted as the end of autocratic monarchy in Chinese history.

People of China supported and lived with the Three Principles of the People by Sun Yat-sen. The slogan which stirred up a resistance from the suppressed souls would resound forever. Sun’s theory of the Three Principles of the People, which are Nationalism (Minzu), Democracy (Minquan) and People’s Welfare (Minsheng), were derived from the philosophy by Abraham Lincoln, the former President of the United States during the civil war. He introduced the slogan “of the people, by the people, for the people.” The philosophy then was combined with a reflection of a wisdom taught by Confucius, a world-famous philosopher from China. Sun’s Three Principles of the People served as a basis for the perpetual people’s struggle against tyranny which had never been predicted to be shattered into pieces. Guided by people’s determination, integrity and conscious, the revolution finally destroyed the tyrannical regime.

Sun Yat-sen was crowned as the Founding Father of the Republic of China following the Revolution victory on October 10, 1911. Nowadays, People both in mainland China and Taiwan celebrate the Revolution victory annually.

The historical victory following the successful Wuhan rebellion, Hubei in 1911, was initiated by Sun and led by his supporter, Huang Xing (1874-1916), a military expert,  who was then announced as the first military commander of the Republic of China. At that crucial moment, Sun was in Denver, Colorado, U.S.A. campaigning for their struggle against Qing regime.

The exhibition of “The Centennial ROC”, first held on October 2011 in the main showroom of the Galeri Foto Jurnalistik Antara, then the exhibition of “Retracing Our Steps- A Photo Journey Through the ROC’s 1st Century” on March 2012 in Bandung’s Gedung Indonesia Menggugat, try to reflect the democratic journey and development progress throughout the one hundred years of the Republic of China. “The Centennial ROC” also reminds how great freedom is to a plural and civilized society, although history also records that freedom takes sacrifice, bloods and tears. This is also what Indonesia experienced when it struggled for its independence. Or when Mahatma Gandhi led the freedom movement in India and Nelson Mandela who freed people in South Africa from the apartheid policy.

The freedom of democracy will not be achieved without pain. It must be achieved by every possible sacrifice, in the name of dignity.

Oscar Motuloh
Tommy Lee
Galih Sedayu
Curators

April 3, 2012

REKAM JEJAK 100 TAHUN REPUBLIK CINA

Courtesy of Kuomintang PartyArchives

REKAM JEJAK 100 TAHUN REPUBLIK CINA
Oleh Galih Sedayu

Meletusnya salah satu peristiwa besar bersejarah di dunia yakni Revolusi Cina (Xìnhài Gémìng)  pada tanggal 10 Oktober 1911, meninggalkan sebuah nama besar yang selalu melekat di dinding sejarah Cina Modern. Dialah Sun Yat-sen (1866 – 1925), seorang anak petani miskin kelahiran  Guang Dong Cina, yang berhasil meruntuhkan kekaisaran Dinasti Qing (1644 – 1911) yang sangat korup dan penuh intrik di bawah kepemimpinan Kaisar Pu Yi yang saat itu masih berumur 5 tahun. Sebuah film bertajuk “The Last Emperor” yang diproduksi tahun 1987 hasil sentuhan sutradara Bernardo Bertolucci ataupun film “1911 Revolution” yang dibintangi oleh Jackie Chan (yang berperan sebagai Huang Xing) & Winston Chao (yang berperan sebagai Sun Yat-sen), dapat menjadi gambaran nyata tentang peristiwa bersejarah tersebut. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 12 Februari 1912 ini sekaligus menjadi pertanda berakhirnya sistem pemerintahan monarki (kerajaan) di Cina yang telah berlangsung selama berabad-abad, dan kemudian digantikan oleh sistem republik yang diusung oleh Sun Yat-sen. Akhirnya Sun Yat-sen pun menjadi tokoh yang paling berjasa di dalam kelahiran Republik Cina pada tahun 1912 dan kemudian ia pun menjabat menjadi presiden Republik Cina pada tahun 1923 hingga tahun 1925. Setelah Sun Yat-sen wafat pada tanggal 12 Maret 1925, perjuangan untuk menyatukan Cina berhasil diteruskan oleh Chiang Kai Shek di bawah pemerintahan nasionalis Kuomintang. Meski akhirnya Chiang Kai Shek mesti tersingkir ke Pulau Formosa (Taiwan) setelah meletusnya perang saudara antara kelompok nasionalis dengan komunis. Tetapi dengan tetap merayakan hari kemerdekaan yang berlangsung hingga kini setiap tanggal 10 Oktober (10-10) yang terkenal dengan sebutan “Double Ten” di Taiwan.

Sun Yat-sen membekali masyarakat Cina dengan tiga prinsip rakyat (San Min Cu I) yang juga menjadi azas ideologi politiknya. Tiga prinsip tersebut yang telah lama divisikan oleh Sun Yat-sen sejak ia mendirikan T’ung meng Hui (Liga Revolusioner Gabungan) pada tahun 1905 terdiri dari Nasionalisme (Minzu), Demokrasi (Minquan), dan Sosialisme/Kesejahteraan Rakyat (Minsheng). Prinsip Sun Yat-sen ini pun menginspirasi Tokoh Proklamator Indonesia, Bung Karno, untuk kemudian diterapkan dalam merumuskan pancasila. Bung Karno pun mengakui hal tersebut seperti yang ia utarakan dalam rapat BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945. Dimana antara lain Bung karno menyatakan bahwa ketika ia berumur 16 tahun, saat duduk di bangku sekolahan H.B.S. di Surabaya pada tahun 1918, ajaran tentang kebangsaan dari Sun Yat-sen di dalam tulisannya “San Min Cu I” atau “The THREE people’s Principles”, benar-benar tertanam di dalam dirinya. Sehingga Bung Karno pun berujar kala itu, “Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr.Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah bahwasanya Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat dengan sehormat-hormatnya merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen, sampai masuk ke liang kubur.” Kemudian prinsip “San Min Cu I” yang diusung oleh Sun Yat-sen ini digabungkan dengan ajaran dari guru Bung Karno yaitu A.Baars dari Belanda yang menyatakan “Jangan berpaham kebangsaan, tetapi berpahamlah rasa kemanusiaan seluruh dunia.” Sehingga dari kedua orang inilah Bung Karno mengolah dan merumuskan sila-sila dari Pancasila menjadi: Kebangsaan Indonesia (yang kemudian menjadi “Persatuan Indonesia”), Peri Kemanusiaan (yang kemudian menjadi Kemanusiaan yang adil dan beradab), Mufakat atau demokrasi (yang kemudian menjadi Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan). Kemudian Bung Karno menambahkannya sendiri dengan azas Ketuhanan (yang kemudian menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa).

Tahun 2012 ini menjadi genap seabad sejak Sun Yat-sen mendirikan Republik Cina pada tahun 1912. Untuk memperingati 100 tahun perjuangan rakyat Republik Cina serta seraya mengumandangkan simbol kebebasan yang mereka perjuangkan ke seluruh dunia, maka Pameran Foto yang bertajuk “Retracing Our Steps – A Photo Journey through  the ROC’s 1st Century”digelar di Kota Bandung. Pameran Foto ini diselenggarakan berkat kerja sama antara Taipei Economic & Trade Office (TETO) Jakarta, Goverment Information Office (GIO), dan APC Institute serta didukung oleh Taiwan Business Club Bandung & Galeri Foto Jurnalistik Antara. Pameran Foto “Retracing Our Steps” ini berlangsung sejak tanggal 29 Maret 2012 (yang menjadi hari pemuda Republik Cina) hingga 11 April 2012 di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan No.5 Bandung. Gedung Indonesia Menggugat (GIM) menjadi tempat yang dipilih untuk penyelenggaraan Pameran Foto ini, atas dasar kesamaan semangat kebebasan yang lahir dari gedung bersejarah ini. Dimana Gedung Indonesia Menggugat tersebut dahulu merupakan gedung ruang peradilan Belanda yang bernama “Landraad”, yang merupakan tempat Bung Karno ditangkap dan diadili pada tanggal 4 Juni 1927 demi memperjuangkan sebuah kemerdekaan. Sebanyak 40 buah karya foto yang mengulas sejarah Republik Cina sejak 100 tahun silam hingga masa kini, disuguhkan bagi masyarakat yang ingin mengenal banyak tentang negara Taiwan atau Republik Cina. Pameran Foto ini sesungguhnya merupakan sebuah pesan kepada dunia mengenai arti sebuah kedaulatan negara dan pentingnya membangun hubungan antar manusia di dunia. Yang bebas dari belenggu tirani serta jauh dari tubuh yang terkekang. Karena walaubagaimanapun merdeka adalah jawaban satu-satunya.

April 2, 2012

Artikel Berita Program MUSIKAMERA #3 di Koran Pikiran Rakyat – Minggu 1 April 2012

Scanned from Pikiran Rakyat Newspaper – apc institute