Archive for June 24th, 2013

June 24, 2013

Photography is dead

Ali Mecca

Oleh Ali Mecca

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa saat ini fotografi merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, kepopuleran fotografi menyeruak ke setiap lini kehidupan masyarakat, melahirkan era yang kita kenal sebagai era budaya visual. Ia hadir di ruang-ruang publik, di kaca angkutan kota, papan reklame, daftar menu makanan, jejaring sosial, bahkan bantal tidur. Fungsinya macam-macam sebagai alat kampanye politik, representasi identitas sosial, iklan prodak, iklan layanan sosial, hingga iklan fotografi itu sendiri (lihat; iklan rokok tentang fotografer perang).

Fotografi sebagai lifestyle

Bersamaan dengan kemajuan ekonomi dan peningkatan kemakmuran di Indonesia, fotografi ikut tumbuh dan berkembang dengan cara yang masif. Akan tetapi, hal ini tidak ditunjang dengan tumbuhnya institusi-institusi pendidikan yang mengajarkan keilmuan fotografi secara komprehensif. Perbincangan fotografi masih berkutat pada masalah teknis dan estetis sahaja, belum menyentuh pada korelasinya dengan sejarah, sosial, budaya, atau filsafat. Jikapun ada, itu masih sekedar riak-riak kecil saja dan melalui komunitas atawa institusi-institusi yang itu-itu saja. Alhasil, dapatlah saya katakan bahwa saat ini fotografi di Indonesia hanyalah lifestyle, ia sekedar komoditi untuk pemuas dahaga masyarakat konsumtif kita yang memaknai medium kamera sebagai simbol kemapanan atau sekadar untuk keren-kerenan.

Pendapat ini bukan tanpa bukti, kita lihat kekacauaan perayaan Waisak di Candi Borobudur beberapa waktu lalu (25/05), sejumlah biksu mengeluhkan banyaknya fotografer yang tetap memotret ketika prosesi doa tengah berlangsung, bahkan dengan mengambil jarak pemotretan yang sangat dekat dan disertai lampu flash. Kejadian ini membuka mata kita bahwa perayaan waisak sudah tidak dimaknai sebagai ritual yang sakral, tetapi hanya dianggap sebagai objek wisata yang dapat dipotret-dieksploitasi sekehendak jari melepas tombol rana. Hal yang tentu saja telah melukai banyak pihak, khusunya umat Buddha yang menjalankan prosesi ibadah tersebut.

Beragam tanggapan di berbagai jejaring sosial bermunculan terkait mencuatnya isu memotret perayaan Waisak tersebut. Melalui akun twitternya, pengelola Candi Borobudur, @BorobudurPark menyatakan “Memotret acara waisak juga tidak dilarang. Akan tetapi banyak fotografer yang tidak tahu sopan santun”. Sementara itu, para pegiat fotografi pun ikut menyayangkan, mereka menyuarakan keprihatinan akan rendahnya etika memotret yang dimiliki oleh “fotografer-fotografer” di Indonesia. Nilai etika, toleransi, dan empati telah digadaikan oleh para “fotografer” ini demi mengejar sebuah tujuan, yakni estetika.

Perkembangan modernisasi dan industrialisasi menyebabkan masyarakat kontemporer kita lebih menyenangi gaya ketimbang makna, lebih menghargai penampilan ketimbang kedalaman, lebih mengejar kulit ketimbang isi (Piliang, 2010:38). Pernyataan ini memiliki makna bahwa tabiat masyarakat kita pada saat ini memang senang melakukan pencitraan sebagai representasi identitas sosialnya. Dalam konteks fotografi dan budaya visual semua orang ingin dilihat sebagai fotografer, namun pemahaman akan ilmu fotografinya masih sekedar di “permukaan”. Salah siapakah ini?

Estetika dan Etika Perwujudan Diri

Dalam studi filsafat, pada awalnya estetika digolongkan dalam persoalan nilai, atau filsafat tentang nilai, sejajar dengan nilai etika. Namun, seiring dengan perkembangannya pada abad-20, filsafat keindahan ini mulai bergeser ke arah keilmuan. Studi estetika yang mulanya merupakan bagian dari pemikiran umum seorang filsuf pada akhirnya mengkhususkan diri pada perbincangan karya-karya seni saja, dengan tetap menggunakan metode spekulatif yang diperkuat oleh ciri empiris. (Sumardjo, 2000:26).

Pada dasarnya, estetika ilmiah bekerja dengan bantuan ilmu-ilmu lain, seperti psikologi, sosiologi, antropologi, dan lain sebagainya. Dalam praktek fotografi yang tujuannya adalah “keindahan”, seharusnya estetika ilmiah ini dapat dijadikan sebagai dasar ilmu oleh para pelaku fotografi di Indonesia, karena ia berfungsi sebagai sebuah landasan yang menjadi fundamen dalam proses berkarya. Inilah tugas berat yang diemban para akademisi fotografi dari setiap institusi pendidikan untuk memberikan pemahaman tersebut. Jika fotografi hanya dipandang sebagai produk ekonomi dan penghasil produk ekonomi, maka nilainya menjadi rendah. Sebagaimana yang dikatakan Kattsof, nilai kegiatan akali jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nilai barang-barang ekonomi, karena dalam dirinya sendiri kegiatan akali sudah mengandung kebaikan, jauh lebih bersifat produktif dibandingkan dengan barang-barang ekonomi (Kattsof, 2004: 358).

Ketika dihadapkan pada persoalan seperti diatas, seharusnya kita sudah memiliki kesadaran ilmiah untuk menentukan pendekatan apa yang selanjutnya dilakukan, karena kesadaran ilmiah akan membawa kita pada penggalian yang lebih mendalam lagi. Pendekatan ilmu Antropologi adalah hal yang paling relevan dalam permasalahan ini. Metode penelitiannnya yang dikenal dengan istilah etonografi dapat dipergunakan untuk mengkaji persoalan budaya macam perayaan Hari Waisak. Layaknya seorang peneliti sosial, etnografi akan membantu fotografer mendapatkan pemahaman yang sistematik mengenai aktivitas atau gejala kebudayaan suatu masyarakat. Pada akhirnya kita akan mendapatkan pemahaman yang dalam tentang subjek yang akan kita potret, lalu kesadaran etika berfotografi akan tumbuh seiring dengan kedalaman pemahaman tersebut.

Akan tetapi, tidak usahlah terlalu muluk dengan meminta para “fotografer” ini menggunakan metode penelitian etnografi sebelum melakukan aktivitas fotografinya, karena metode tersebut memang membutuhkan waktu yang cukup lama, berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Riset kecil-kecilan dengan memanfaatkan berbagai artikel di internet pun kiranya sudah cukup guna mendapat gambaran umum tentang perayaan hari suci agama Buddha ini. Harapannya adalah, agar kejadian-kejadian seperti ini tidak berulang terus menerus di setiap tahun, di setiap ritual keagamaan yang lain. Selain itu langkah tersebut diharapkan juga dapat memperluas wacana fotografi sebagai ilmu pengetahuan, sehingga fotografi indonesia tidak lagi hanya mempersoalkan underover, tajam-tidak tajam, “indahtak indah, CanonNikon, dst, melainkan diperbincangkan lebih luas lagi melalui relasinya dengan sejarah, kondisi sosial, kebudayaan, dan filsafat.

Fotografi telah mati?

Pada masa-masa awal kelahiran fotografi yang dikembangkan oleh Joseph Nichore Nicephore Niepce (1765-1833), Louis Jacques Mande Daguerre (1787-1851), dan William Henry Fox Talbot (1800-1877), fotografi dianggap sebagai ancaman utama oleh para pelukis realis dan naturalis, karena ketepatannya yang sangat tinggi dalam memproduksi realitas. Seorang pelukis realis asal Perancis bernama Paul Delaroche lalu berkata “Mulai hari ini, lukisan telah mati”. (Ajidarma, 2002: 2)

Meskipun dalam konteks yang berbeda, namun masihlah dapat dipertanggungjawabkan relevansinya apabila saya meminjam kalimat dari Paul Delaroche untuk menyoroti perkembangan fotografi di Indonesia saat ini, bahwa “Mulai hari ini, Fotografi telah mati!”. Fotografi mati secara gagasan, fotografi mati secara etika, terkubur di bawah estetika yang dangkal.

Daftar Pustaka

Ajidarma, Seno Gumira. Kisah Mata, Galang Press, Yogyakarta, 2001

Kattsof, Louis O. Pengantar Filsafat, Penerbit Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta. 2004

Sumardjo, Jakob. Filsafat Seni, Penerbit ITB, Bandung. 2000

Piliang, Yasraf Amir. Dunia Yang aDilipat, Pustaka Matahari, Bandung. 2010

* Tulisan yang dimuat di blog ini atas seizin penulis yang bersangkutan