(c) apc institute – 2012
Foto Liputan Pembukaan Pameran Foto 100 tahun Taiwan “Retracing Our Steps” di Gedung Indonesia Menggugat – Kamis 29 Maret 2012
Tulisan & Foto Liputan Program Bukutulis #2 (Bedah Buku Foto & Temu Penulis) bersama Riza Marlon (Penulis “Living Treasures of Indonesia”)
RIZA MARLON MELAWAN
Oleh Galih Sedayu
Seribu Riza Marlon tidak akan pernah bisa untuk dapat merekam seluruh kehidupan alam & satwa liar di indonesia. Meski begitu, pendokumentasian tersebut harus tetap kita lakukan.
– Riza Marlon –
Indonesia adalah negara yang menempati urutan kedua terbesar di dunia setelah Brasil dalam hal biodiversity atau keanekaragaman hayati. Meski pendapat ini rasa-rasanya perlu dikaji kembali karena berdasarkan faktanya, sebagian besar masyarakat masih belum sepenuhnya mempercayai tingkat validitas dan akurasi dari data yang dihasilkan oleh penelitian tersebut. Bahkan bukan tidak mungkin sebenarnya Indonesia bisa menempati posisi teratas di planet bumi ini dalam hal kekayaan alam dan keanekaragaman hayati tersebut. Nature & Wildlife Photography. Tema inilah yang diangkat dalam sebuah presentasi & dialog ringan pada sebuah program fotografi yang bernama Bukutulis (Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis) yang digagas oleh APC Institute. Program Bukutulis #2 ini diselenggarakan pada tanggal 4 Februari 2012 di jalan RE.Martadinata No 48 Bandung atas bantuan dan kerjasama Goethe-Institut. Program ini dibuat sekaligus mengisi rangkaian kegiatan “Deutscher Fotobuchpreis 2011”, sebuah pameran buku fotografi terbaik karya para fotografer jerman yang berlangsung sejak tanggal 17 Januari hingga 11 februari 2012. Riza Marlon, seorang fotografer wildlife Indonesia yang telah sukses menerbitkan buku fotografi “Living Treasures of Indonesia”, didaulat untuk menjadi tamu undangan dan nara sumber guna mengupas habis segala hal yang ada di dalam buku tersebut. Sebagai informasi, buku ini merupakan buku foto pertama yang pernah ada mengenai keanekaragaman hayati di Indonesia yang dibuat oleh seorang fotografer anak bangsa sendiri.
Riza Marlon adalah seorang pria sederhana kelahiran kota Jakarta pada tanggal 12 Januari 1960. Caca, begitu sebutan akrab Riza Marlon. Sesungguhnya Caca telah menekuni dunia fotografi sejak bangku SMA. Lalu kemampuan fotografinya semakin berkembang kala caca mengambil kuliah di Universitas Nasional (UNAS) Jakarta. Di kampus tersebut, Caca memilih fakultas biologi, sebuah bidang yang sangat sesuai dengan ketertarikannya pada dunia binatang sejak ia masih kecil. Pada saat itu Caca banyak bergabung dan mengikuti kelompok-kelompok yang berhubungan dengan kehidupan alam liar khususnya dunia binatang seperti kelompok burung, kelompok ular, kelompok primatologi, dan lain sebagainya. Pada saat awal Caca menggeluti dunia fotografi, ia sempat memotret pekerjaan komersil seperti foto produk & foto pernikahan untuk menambah biaya dan uang saku kuliahnya. Baru pada tahun 1990, caca memutuskan untuk mulai serius menekuni pekerjaan memotret binatang dan alam liar. Berbekal biaya sendiri yang sangat terbatas, caca mulai melakukan penjelajahannya di pulau-pulau Indonesia untuk merekam satwa liar. Setelah berkarir selama 20 tahun lebih lamanya, caca akhirnya berhasil membukukan hasil karya fotonya yaitu “Living Treasures of Indonesia” yang telah sukses diluncurkan pada tanggal 5 – 14 November 2011 di Jakarta.
Tepat pukul 15.00 WIB, caca membuka program bukutulis #2 ini dengan sebuah presentasi singkat mengenai nature & wildlife photography. Caca berujar bahwasanya ladang fotografi wildlife ini ibarat sebuah lahan yang kering. Karena secara umum bidang fotografi ini masih sangat jarang peminatnya. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti peralatan fotografi yang mahal, memerlukan fisik yang tangguh serta medan pemotretan yang sangat sulit dijangkau. Padahal caca melihat bagaimana sebenarnya negara Indonesia yang memiliki kurang lebih 17.000 pulau ini, memiliki aset alam & satwa liar yang sangat berharga. Namun demikian tidak banyak orang/individu dan kelompok dari bangsa kita yang mau melakukan sesuatu demi kelangsungan aset alam Indonesia tersebut. Caca mengungkapkan bahwa sebenarnya Indonesia banyak memiliki para ahli binatang tetapi sangat jarang dari mereka yang mengambil tindakan nyata untuk melindungi binatang-binatang tersebut dari kepunahan. Caca menyebutkan ada 4 kelompok satwa liar di Indonesia yaitu kelompok serangga, kelompok binatang menyusui (mammalia), kelompok reptile & amphibian (hervet), serta kelompok burung (aves). Kesemuanya itu tersedia di Indonesia dan menunggu sebuah pendataan visual yang lengkap. Oleh karena itu caca memilih untuk mencurahkan sebagian besar hidupnya dalam mendokumentasikan kehidupan satwa liar Indonesia yang sangat beragam tersebut.
Menurut caca, fotografi alam & satwa liar itu sangat erat hubungannya dengan berbagai hal yaitu kejujuran, menangkap momen & merekam sejarah alam (dokumentasi). Lalu caca memulai slide show karya foto satwa hasil bidikannya dan bercerita banyak tentang sejumlah pengalaman yang ditemui di lapangan. Misalnya saja ketika caca ikut memotret proses penangkapan gajah sumatera di alam liar yang diinisiasi oleh pemerintah setempat dengan maksud melindungi gajah-gajah tersebut dan menempatkannya di sebuah cagar alam. Karena di lapangan banyak cara-cara yang keliru ketika proses penangkapan dan penangkaran, akhirnya dari 13 ekor gajah yang berhasil ditangkap, 8 ekor diantaranya mati sia-sia sebelum sempat diselamatkan. Kemudian caca memperlihatkan foto-foto satwa liar seperti badak sumatra, babi rusa, ular pit-viper, julang Sulawesi, bondol jawa, cendrawasih papua, dan masih banyak lagi. Ada foto dan cerita menarik yang disampaikan oleh caca mengenai seekor burung yang bernama burung pintar. Menurutnya burung tersebut tidaklah menarik secara fisik. Tetapi keunikannya terletak ketika burung tersebut membuat sarang dengan diameter lebih kurang 1,5 meter yang dilakukannya selama 6 bulan. Dalam kurun waktu itu burung tersebut rajin mengumpulkan barang-barang apapun yang ditemuinya untuk kemudian dijadikan sarang. Dari mulai batu kerikil, ranting pohon, bahkan hingga bungkus indomie dan batu baterai ABC. Dengan tekun burung tersebut membawa satu persatu barang-barang yang tidak terpakai tersebut di dalam paruhnya sambil meloncat perlahan dan kemudian menjadikan sebuah sarang. Alasan burung pintar ini membuat sarang tersebut adalah untuk menarik lawan jenisnya sehingga pada saatnya nanti burung yang tertarik itu akan dikawininya. Sangat terbayang alangkah uletnya usaha burung pintar ini untuk mencari pasangan dan niat besarnya untuk kawin. Setelah itu caca melanjutkan presentasinya mengenai berbagai ancaman terhadap alam dan flora fauna di Indonesia. Dari mulai pembukaan lahan untuk perkebunan hingga perburuan satwa liar yang tidak terkendali. Dalam foto-foto tersebut kita bisa melihat berbagai peristiwa yang mengkhawatirkan seperti binatang kera yang diburu di Sulawesi, berbagai ular sanca yang dikuliti, dan masih banyak lagi.
Setelah sesi presentasi mengenai nature & wildlife photography, caca mempersilahkan para peserta bukutulis untuk bertanya. Pertanyaan pertama yang dilontarkan yaitu mengenai hal apa yang dilakukan caca ketika mengetahui bahwasanya ada ancaman terhadap alam & kehidupan satwa liar di Indonesia. Lalu caca bercerita pengalaman masa mudanya ketika masa kuliah. Pada saat itu caca bersama dengan para sahabatnya kerap sekali melakukan pengaduan dan laporan baik secara lisan maupun tertulis mengenai berbagai pelanggaran dan pengrusakan terhadap alam yang mereka temui di lapangan. Hasilnya? Tak ada, menurut caca. Pemerintah maupun instansi terkait biasanya tidak bereaksi dan mengambil tindakan nyata terhadap semua laporan yg telah diterima oleh masyarakat. Hingga akhirnya caca pun kesal dan merasa letih dengan semuanya serta kemudian mengambil sikap untuk melawan itu semua melalui fotografi. Bagaimanapun juga kita harus mengakui bahwa perlawanan caca mengenai ancaman terhadap alam & kehidupan satwa liar yang dituangkan ke dalam bentuk buku fotografi “Living Treasures of Indonesia” terbukti cukup efektif. Bahkan Museum Library salah satu perpustakaan terbesar di dunia yang ada di inggris mengajukan permohonan untuk mengkoleksi buku foto karya Riza Marlon tersebut. Ironisnya, museum arsip nasional Indonesia belum pernah sekalipun menghubungi caca untuk mendapatkan buku foto tersebut. Padahal apabila pihak museum arsip nasional Indonesia memintanya, caca berniat untuk memberikan beberapa buku fotonya secara cuma-cuma.
Pertanyaan selanjutnya yang dilontarkan salah satu peserta lebih bersifat teknis. Merek kamera apa yang digunakan oleh caca untuk merekam foto-foto satwa liar tersebut. Lalu caca berujar bahwa ia tidak fanatik terhadap merek kamera tertentu. Karena caca pun pernah menggunakan kamera dari segala merek ketika memotret di lapangan. Yang terpenting adalah hasil akhir berupa karya foto terbaik yang kita miliki ujarnya. Lalu caca pun mengambil contoh bahwa sekitar tahun 2007 ada sebuah lembaga yang membuat program pendokumentasian perburuan ikan paus yang dilakukan oleh para nelayan lamalera di Nusa Tenggara Timur. Yang ditugaskan untuk memotret peristiwa perburuan ikan paus tersebut adalah para penduduk setempat dan nelayan lamalera. Mereka diberikan pinjaman kamera saku/poket untuk mendokumentasikan segala kegiatan perburuan ikan paus tersebut selama 7 bulan dimana sebelumnya caca memberikan pelatihan fotografi singkat kepada mereka. Ternyata hasilnya di luar dugaan. Foto-foto yang mereka rekam banyak memiliki kualitas yang baik meski mereka sebenarnya bukanlah fotografer profesional. Jadi menurut caca bahwa kamera itu adalah alat sehingga bukan menjadi kendala untuk memotret sesuatu yang kita senangi.
Kemudian beberapa pertanyaan tentang bagaimana pasar fotografi wildlife di indonesia, proses-proses apa yang dilakukan sebelum pemotretan, foto apa yang paling membuat caca terkesan hingga masalah ijin & copyright mengenai pemotretan satwa liar, diajukan oleh beberapa penanya dalam sesi tanya jawab. Caca pun menjawab satu per satu segala pertanyaan yang diajukan itu dengan sabar. Untuk masalah pasar fotografi wildlife, ia menyebutkan bahwa pasarnya masih terbuka lebar. Biasanya perusahaan-perusahaan asing maupun lokal, LSM dan biro foto di Indonesia membutuhkan sejumlah foto satwa liar baik itu untuk keperluan kartu pos, kalendar tahunan dan lain-lain. Sehingga caca menjadikan peluang itu semua menjadi bisnis penyewaan stok foto. Caca membaginya ke dalam kelas-kelas tertentu dengan harga sewa yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat kesulitan memotret, kelangkaan obyek, & sistem sewa. Pada umumnya caca hanya memberikan hak pakai kepada para penyewa foto selama kurun waktu tertentu, bukan memberikan seluruh hak cipta karyanya (copyright). Caca pun bercerita bagaimana pentingnya sebuah riset dan pengumpulan informasi yang dilakukan sebelum pemotretan. Sehingga dengan modal yang ada, caca bisa secara optimal mendapatkan karya foto sesuai yang diinginkannya. Caca juga bercerita tentang salah satu pengalaman yang mengesankan ketika ia mendapat penugasan untuk memotret burung cendrawasih di papua. Untuk memotret burung cendrawasih yang sedang menari, caca musti mendaki gunung selama 24 jam lamanya pada ketinggian 2000 meter.
Setelah sesi tanya jawab tentang nature & wildlife photography selesai, caca memaparkan tahapan-tahapan mengenai proses pembuatan buku dari mulai pengumpulan data & foto, seleksi/kurasi foto, proses layout buku, penulisan teks, pembuatan contoh buku (mock up), pencarian sponsor, pengurusan ISBN dan ijin penerbitan, hingga proses proof print & proof reader sebelum kemudian buku tersebut dicetak. Buku foto karya caca ini dibuat dengan edisi bahasa inggris dan disusun berdasarkan pola sebaran bio-geografi yang menyangkut kehidupan satwa liar di Indonesia. Sebenarnya wacana untuk menerbitkan buku foto ini sudah muncul 2 tahun sebelum buku tersebut diluncurkan. Tetapi pada pelaksanaannya, caca mengalami kesulitan untuk mencari penerbit yang bersedia untuk mencetak bukunya. Padahal karya foto dan desain bukunya sudah ada dan tinggal siap untuk dicetak.Namun tetap saja banyak penerbit yang tidak percaya bahwa buku semacam ini bisa laku di pasaran. Akhirnya caca memutuskan untuk menerbitkan sendiri buku fotonya. Kegigihan caca selanjutnya bertemu dengan sebuah kesempatan besar. Salah satu pemilik percetakan ternama di Jakarta (Indonesia Printer) akhirnya bersedia membantu caca dengan mencetak buku fotonya meski sistemnya caca harus berhutang. Padahal waktu itu caca sudah menentukan tanggal dan membuat publikasi tentang peluncuran buku fotonya. Karena waktu yang sangat singkat dan usaha caca untuk mendapatkan uang untuk biaya cetak sekitar 250 juta rupiah tidak membuahkan hasil, akhirnya caca bersedia menerima tawaran tersebut. 3 jam sebelum peluncuran bukunya, caca hanya membawa 5 buah buku, sementara proses pencetakan buku foto tersebut masih berjalan . Tepat saat buku fotonya diluncurkan akhirnya sekitar 150 buah buku dikirimkan dari tempat percetakan ke tempat pameran foto berlangsung. Meski sebenarnya jumlah buku foto yang dicetak oleh caca secara keseluruhan sebanyak 1000 buku. Walaubagaimanapun, caca menyadari dan memaklumi situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Sebulan kemudian ternyata caca mampu melunasi hutangnya kepada pihak percetakan dari uang hasil penjualan bukunya.
Saat ini caca pun merasa sedikit lebih tenang sambil tetap berkarya untuk membuat buku foto selanjutnya. Di penghujung perbincangan, caca pun berkata bahwa ia mensyukuri segala jerih payahnya dalam hidup sehingga mampu melalui 2 buah momen terbesar yang ia alami. Momen yang pertama adalah ketika ia berhasil lulus kuliah di Universitas Nasional Jakarta dengan segala upaya dan daya juangnya. Seperti yang ia ceritakan bahwa pada saat kuliah ia mengalami berbagai hal yang sulit dari mulai mencari uang dengan memotret untuk membiayai kuliahnya hingga harus hidup dengan berpindah dari kost-an teman yang satu ke kost-an teman yang lain bak kaum nomaden. Lalu momen kedua adalah terwujudnya cita-cita untuk menerbitkan buku foto karyanya sendiri. Dari semua cerita yang ia sampaikan, setidaknya kita semua mendapat pelajaran berharga dari seorang Riza Marlon bahwa kecintaan, totalitas dan keyakinan pada akhirnya dapat membawa kita ke jalan yang dituju. Dan caca membuktikan semuanya itu kepada kita agar kelak ada orang yang meneruskan jejak perlawanannya terhadap ancaman bagi kehidupan flora fauna di Indonesia melalui fotografi. Demi sebuah hembusan nafas yang selalu ditiupkan oleh alam dan satwa liar di bumi pertiwi ini.
(c) apc institute – 2012
Tulisan & Foto Liputan Program Bukutulis #1 (Bedah Buku Foto & Temu Penulis) bersama Erik Prasetya di Goethe-Institut Bandung
MENJAWAB ESTETIKA FOTOGRAFI
Oleh Galih Sedayu
Estetika Banal. Frasa ini menjadi sebuah perbincangan & dialog menarik saat disuguhkan dalam sebuah program fotografi perdana bernama Bukutulis (Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis) yang digagas oleh APC Institute bekerjasama dengan Goethe-Institut Bandung. Program Bukutulis #1 ini digelar pada tanggal 21 Januari 2012 dengan memanfaatkan sebuah ruang kreatif milik Goethe-Institut Bandung di Jalan RE.Martadinata 48. Program ini dibuat sekaligus mengisi rangkaian kegiatan “Deutscher Fotobuchpreis 2011”, sebuah pameran buku fotografi terbaik karya para fotografer jerman yang berlangsung sejak tanggal 17 Januari hingga 11 februari 2012. Pada kesempatan kali ini, Erik Prasetya, seorang fotografer yang telah berhasil menerbitkan buku fotografi “Jakarta Estetika Banal”, dihadirkan untuk menjadi nara sumber sekaligus pembicara yang mengupas tuntas tentang isi buku tersebut.
Erik Prasetya adalah seorang fotografer kelahiran tahun 1958 asal kota Padang, Sumatera Barat . Ia sempat mengeyam pendidikan kampus di Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai mahasiswa jurusan tambang pada tahun 1977. Saat itu ia pun aktif melakukan kegiatan panjat tebing hingga akhirnya hobi tersebut mempertemukan dirinya dengan Harry Suliztiarto, seorang sahabat yang tidak hanya mengajarkan olah raga panjat tebing namun sekaligus menjadi guru fotografi pertama dalam hidupnya. Erik pun pernah bekerja menjadi kontributor foto khusus petualangan di majalah mutiara dan mendapat berbagai penugasan khusus dari wartawan senior Ed Zoelverdi (almarhum). Akhirnya sekitar tahun 1990, ia mulai menekuni esai foto yang ditampilkan pada rubrik “Kamera” majalah tempo. Pada tahun 1997, ia berkesempatan untuk bekerja dalam satu tim bersama Sebastiao Ribeiro Salgado, seorang fotografer kelas dunia asal brazil yang terkenal dengan karya buku fotografinya yang berjudul “Workers”. Sebenarnya Erik Prasetya sudah sejak kecil mengenal kamera, dimana kala ia berumur sepuluh tahun, ibundanya membelikan kamera Yashica Mat. Tak heran ketika ia beranjak dewasa, kecintaannya terhadap dunia fotografi semakin menggebu-gebu.
Program bedah buku ini dimulai pada pukul 15.00 WIB dengan paparan Erik Prasetya tentang berbagai hal di dalam fotografi. Diantaranya adalah mengenai pemilihan karya fotografi. Ia berujar bahwa sangatlah mudah melakukan pemotretan untuk kegiatan yang bersifat komersil, ataupun pemotretan yang dilakukan berdasarkan penugasan dari media. Ketika berhadapan dengan seorang editor misalnya, ia menegaskan bahwa seorang fotografer dapat dengan mudahnya mengirimkan karya foto sesuai dengan keinginan pemesan ataupun editor tersebut. Dengan bahasanya ia menyebutkan bahwa sangatlah mudah mengacc karya foto kita untuk editor. Tetapi menurutnya, hal yang paling sulit dilakukan adalah mengacc karya foto kita kepada diri sendiri.
Setelah itu Erik Prasetya memulai paparannya tentang buku fotografi. Baginya, sebuah buku memungkinkan para pembaca untuk masuk ke dalam suasana batin fotografer. Ia mengambil contoh karya foto esai hasil rekaman fotografer Elinor Carucci yang berjudul Closer. Dimana dengan bebasnya ia memotret secara personal seluruh anggota keluarganya, bahkan pada saat berpose telanjang. Kemudian karya foto yang berjudul “Bloodies & Other Bonds” yang dibuat oleh fotografer belanda yang bernama Diana Block, sengaja dipresentasikan olehnya agar kita dapat melihat bahwasanya kadang persepsi orang yang melihat sebuah karya foto bisa saja keliru. Misalnya saja foto yang menggambarkan dua orang pria dewasa kembar yang tengah berpose sambil membuka bajunya, seolah-olah memiliki kesan tabu. Padahal realita sebenarnya yang terjadi pada karya foto tersebut adalah hal-hal biasa yang kerap dilakukan oleh kedua orang pria kembar itu, dari mulai mandi bersama, tidur telanjang bersama dan lain sebagainya.
Kemudian Erik Prasetya bercerita tentang proses kreatif untuk menghasilkan sebuah buku fotografi dari mulai perencanaan awal, pengerjaan dan penerbitan. Kadang pada prosesnya, seringkali ia menemukan beberapa kegagalan. Salah satu contohnya Ia tunjukkan dengan memperlihatkan buku fotografi “Jakarta Estetika Banal” yang pada awal pengerjaannya di desain dengan format vertikal serta dibubuhkan satu buah font huruf “J” berwarna merah di tengah-tengah cover buku. Baginya buku itu malahan tampak seperti buku desain grafis ketimbang buku fotografi. Oleh karena itu, akhirnya format buku tersebut diubah menjadi horizontal dengan meniadakan font huruf “J” yang tadinya ditampilkan di cover depan buku tersebut. Ia pun mengungkapkan pengalamannya tentang proses scan foto sebagai materi buku tersebut, dikarenakan semua karya fotonya dihasilkan dengan media film. Pada akhirnya Ia menemukan sebuah pengetahuan yang sangat berharga bahwa ternyata karya foto yang dihasilkan dari proses scan negatif tidak lebih baik daripada hasil proses scan yang berasal dari karya foto yang telah dicetak sebelumnya. Alhasil ia pun melakukan proses scan ulang terhadap sebagian besar karya fotonya. Lalu ada hal yang menarik yaitu ketika proses mencetak buku foto tersebut, ternyata erik mengawasi secara langsung prosesnya di depan mesin percetakan. Kurang lebih selama 50 jam dengan setia ia menunggu dan mengecek langsung hasil cetakan bukunya satu persatu.
Pada presentasi selanjutnya erik menceritakan hal mengenai buku foto macam apa yang akan dibuat olehnya. Karena menurutnya sebuah buku itu bisa berisikan tentang 2 hal yaitu kebutuhan yang selalu ada atau sesuatu yang baru. Sebagai perumpamaan ia menyebutkan semisal seorang fotografer yang membuat buku foto yang bertajuk “Bandung Kota Kembang” dan seorang fotografer lain yang membuat buku bertajuk “Bandung Kota Kambing”. Pastinya 2 buku tersebut memiliki perbedaan yang mendasar dalam hal cara pendekatannya. Kemudian Erik bercerita mengenai latar belakang pembuatan buku foto estetika banal. Ia mengatakan bahwa saat ini estetika fotografi masih banyak mengekor pada estetika seni rupa, padahal sebenarnya fotografi sangat bisa menyumbangkan estetikanya sendiri. Meskipun sebenarnya ia tidak berusaha untuk memisahkan kedua estetika itu. Menurutnya, dalam sejarah pun, fotografi kebanyakan menjadi milik kelas menengah dan bersifat voyeuristik (mengintip) terhadap the other (yang lain). Sehingga muncul sebuah pertanyaan, “Bisakah fotografi merekam kelasnya sendiri?”
Selanjutnya ia menunjukkan foto karya Sebastiao Salgado yang memvisualkan isu kelaparan dengan obyek 4 orang penduduk di daerah afrika. Lalu ia membandingkan komposisi foto tersebut dengan lukisan-lukisan abad ke-16 yang mencuatkan cerita tentang Sodom & Gomora. Di sana terlihat beberapa kemiripan komposisi yang dibuat dari karya foto Sebastiao Salgado, dimana rata-rata selalu ada 3 orang yang komposisinya diletakkan di depan dan 1 orang yang diletakkan di belakang. Sebagaimana kita tahu bahwa salgado adalah seorang fotografer yang religius sehingga karya fotonya selalu mengacu pada kisah-kisah yang terjadi di Alkitab agama nasrani. Begitu juga salah satu karya foto James Nachtwey (fotografer perang) yang mendeskripsikan seorang pria kurus kering tengah merangkak di sebuah bencana kelaparan di daerah sudan. Karya fotonya dianggap memiliki kemiripan dengan salah satu karya patung dari seorang seniman dunia.
Sesungguhnya seorang Erik Prasetya sebenarnya menawarkan sebuah cara dan pendekatan lain ketika merekam obyek yang difotonya hingga menjadi sebuah buku. Meski sebenarnya ia pun mengakui bahwasanya ia tidak lepas dari pengaruh pendekatan fotografi klasik semisal romantisme, metaforisme, dan jurnalisme. Pendekatan Estetika Banal (begitu ia menyebutnya), digunakan oleh erik ketika membuat karya fotonya. Ia mencoba untuk tidak memotret drama keseharian. Ia mencoba untuk membuat hubungan dengan obyek yang direkam menjadi lebih dialogis. Ia pun berusaha mencari pola sintagmatik yang tepat untuk menggambarkan hal-hal yang bersifat paradigmatik pada karya fotonya.
Akhirnya muncul sesi tanya jawab setelah paparan Erik Prasetya selesai. Tema, seorang mahasiswa Unpas menanyakan perihal tentang mengapa karya foto Erik dalam buku “Jakarta Estetika Banal”nya, selalu menyertakan puisi-puisi karya Chairil Anwar, Goenawan Muhamad, Joko Pinurbo, Wiji Thukul dan Zen Hae. Lalu Erik pun menjawab bahwasanya puisi-puisi tersebut ia butuhkan untuk menjadi kait bagi segala cerita dan tema yang ada di dalam karya fotonya. Sebagai contoh puisi dari Goenawan Muhamad yang berbunyi “Di kota itu gerimis, kata orang, telah jadi logam”. Sesudah puisi tersebut, dalam bukunya Erik menampilkan foto seorang petani kerang hijau di daerah Cilincing, Jakarta. Ia mengemukakan bahwa relevansi foto tersebut dengan kata-kata puisi karya Goenawan Muhamad sangatlah erat. Karena di saat musim hujan, petani kerang hijau selalu libur untuk mencari nafkah. Bukan karena kekurangan kerang hijau, tetapi mereka tidak berani mengambil kerang hijau pada saat musim hujan berlangsung dikarenakan kerang-kerang tersebut mengandung kadar merkuri (logam) yang sangat tinggi. Tentunya kita semua tahu bahwa kerang hijau memiliki kemampuan menahan merkuri di dalam tubuhnya ketika hujan. Inspirasi menggunakan puisi Goenawan Muhamad tersebut sebenarnya muncul tatkala Erik melakukan obrolan kecil dengan seorang petani daun bawang di tepi kali malang, Jakarta. Petani itu mengatakan bahwa setiap kali hujan, daun bawangnya pasti bolong-bolong terkena kandungan logam yang dihasilkan dari curah hujan kota Jakarta. Dari peristiwa-peristiwa tersebut, seharusnya kita dapat melihat betapa parahnya polusi di kota Jakarta.
Pernyataan tentang buku foto “Jakarta Estetika Banal” diungkapkan oleh Deni Sugandi (ketua pinhole bandung & pemilik fotolisis) dan Sandi Jaya Saputra (Fotografer Lepas & Asisten Lab Foto Fikom Unpad). Menurut mereka berdua, karya foto Erik yang ditampilkan dalam buku tersebut tidak mencerminkan tentang makna banal sesungguhnya serta tidak menjawab pertanyaan tentang estetika banal itu sendiri, meski sebenarnya mereka pun tidak menjelaskan dengan gamblang perpektif banal seperti apa yang diharapkan dalam tampilan visual. Kemudian Erik pun menjawab bahwa pada dasarnya ia mengakui bahwa tidak semua foto yang ia buat dalam bukunya merupakan terjemahan visual tentang banal sesungguhnya. Baginya sangat sulit untuk membuat sebuah pendekatan estetika banal yang akurat dan mutlak benar. Tapi setidaknya menurut erik ada upaya untuk memberikan sebuah peluang lain dalam estetika fotografi dengan tidak menampilkan dominasi karya foto piktorial. Memang menurut catatan saya, dari sejumlah buku fotografi resmi yang diterbitkan oleh fotografer Indonesia dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, buku foto “Jakarta Estetika Banal” ini memiliki pendekatan dan eksekusi yang berbeda (entah apapun itu namanya) dibandingkan dengan buku foto yang yang lain. Menurut saya, mungkin satu-satunya buku foto yang memiliki kemiripan ide dan eksekusi dengan buku Erik Prasetya adalah buku foto karya Kusnadi yang berjudul “Fotografi Seni Kusnadi” yang dibuat pada tahun 1994.
Meski begitu, Erik menepis anggapan keliru dengan mengatakan bahwa ia tidak mempersoalkan ataupun berusaha memisahkan antara estetika fotografi dengan estetika seni rupa. Baginya buku yang ia buat adalah sebentuk perlawanan kecil yang ia coba dilakukan (meski tidak sempurna) untuk mengekspan berbagai peluang estetika yang ada. Bukan mengajak orang untuk meninggalkan estetika seni rupa ataupun mengajak orang untuk membuat karya dengan estetika fotografi. Lalu ada Danu (seorang pecinta fotografi dan punya hobi menyulam) yang memberikan opini bahwa seharusnya seorang fotografer lebih banyak memiliki referensi literature tulis yang lebih banyak ketimbang referensi visual. Kemudian Erik pun menjawab bahwa ketika seorang fotografer berkarya, referensi itu sesungguhnya bisa didapat dari segala hal entah itu novel, film, buku cerita dan sebagainya. Tepat pukul 17.15 WIB, program bukutulis ini akhirnya berakhir. Sebelum ditutup, Erik sempat berujar bahwa ia menyadari apabila buah karyanya yang telah digarap selama 25 tahun itu tidak selesai hingga di buku foto “Jakarta Estetika Banal”saja. Erik memiliki harapan semoga dalam kurun waktu 3 atau 4 tahun ke depan, ia memiliki kesempatan untuk menerbitkan sebuah buku fotografi yang lain. Tentunya dengan cara seorang Erik Prasetya. Dimana kita bisa bebas memilih. Suka atau tidak suka.
(c) apc institute – 2012
Tulisan Singkat & Foto Liputan Program Ngopi #2, “Sosialisasi Pembuatan Taman Foto Bandung” @ Taman Cempaka Bandung
Rabu 28 Desember 2011. Tanggal ini menjadi momen bersejarah karena pada saat itu lah, lahir sebuah komunitas kreatif baru di Kota Bandung. Mereka menamakan dirinya Komunitas Taman Foto Bandung (TFB). Komunitas ini terbentuk dari keprihatinan bersama karena terbengkalai dan tak terurusnya sejumlah taman kota di bandung sekaligus harapan positif untuk bisa mengelola sebuah taman kota di bandung dengan kegiatan kreatif. Dan langkah kecil ini akan dimulai terlebih dahulu oleh Komunitas Fotografi meski tentu nantinya akan melibatkan teman-teman komunitas lain pada saat pelaksanaan programnya.
Ide pembentukan komunitas ini hadir di sela-sela program NGOPI #2 (Ngobrol Santai & Tukar Pikiran Soal Fotografi) yang membahas tema “Sosialisasi Pembuatan Taman Foto Bandung”. Sarasehan sore ini dikemas secara sederhana dimana semua yang hadir duduk di bawah pohon yang rindang dan beralaskan tikar sambil menikmati gorengan dan air mineral. Nara sumber Ridwan Kamil & Galih Sedayu membuka program ini dengan sebuah paparan singkat mengenai pentingnya memanfaatkan ruang hijau publik atau taman kota sehingga paru-paru sebuah kota bisa menjadi lebih hidup. Dalam program ini hadir beberapa individu dan komunitas yaitu Puput, Arief Setiawan, Faqihza, Ivan, Hikmah, Reza Pradana (Capture IMTelkom), Wirawan (PAF), Adi Barnas (Teh Kotak), Rijal (Spektrum Unpad & Jatinangor Kamera), Ary, Malik (Pony Itenas), Oki, Risanti (Bidik Stikom), Harry R.S, M Haikal (Bulb Bandung), Hani Rosidaini (NG Bandung), dan Mia Damayanti Sjahir.
Karena ide yang baik adalah ide yang diwujudkan, maka pada saat itu juga tim kerja langsung dibentuk untuk merealisasikan ide taman foto bandung tersebut. Untuk tim program kreatif diserahkan kepada Reza Pradana, M Haikal, Arief Setiawan, Hikmah, Wirawan, Adi, Rijal & Harry RS. Lalu tim penyusunan proposal dipegang oleh Ivan, Malik, & Ary. Tim humas & media diberikan kepada Puput, Faqihza, Risanti, Hani Rosidaini & Mia Damayanti Sjahir. Kemudian untuk tim perizinan & desain pembuatan taman foto bandung diemban oleh Galih Sedayu & Ridwan Kamil. Setelah itu kita pun sepakat untuk bertemu 2 minggu lagi di tempat yang sama untuk membahas proposal ide pembentukan Taman Foto Bandung yang sudah siap dipresentasikan kepada semua instansi terkait. Bayangkan nanti ada sebuah Taman Foto Bandung yang memiliki Amphiteater, Toilet Bersih, Panil Karya Foto, Ruang Kreatif Terbuka, Area Wifi yang diisi oleh program-program kreatif seperti Workshop, Seminar, Klinik, Ekskursi, Bedah Buku, Lomba, Diskusi, Pameran & Festival Fotografi. Semoga menjadi nyata agar taman kota kita tidak pernah merasa kesepian.
(c) apc institute – 2011
Liputan Kemilau Nusantara Photo Contest 2011 @ CHIP Foto Video Edisi Desember 2011
Foto Liputan Program Penjurian Pos Indonesia Photo Contest 2011
Pada hari Jumat tanggal 9 Desember 2011 telah dilaksanakan penjurian program Pos Indonesia Photo Contest 2011 dengan tema Transformasi Pos Indonesia. Program yang telah berlangsung sejak tahun 2006 ini diselenggarakan oleh PT Pos Indonesia bekerja sama dengan APC Institute. Penjurian lomba foto ini bertempat di Gedung Wahana Bhakti Pos, Lantai 8, Jalan Banda No 31 Bandung yang dimulai dari pukul 13.00 WIB dan berkahir pukul 17.00 WIB. Lomba foto ini diikuti oleh 270 peserta yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Adapun jumlah karya foto yang masuk sebanyak 948 karya foto. Dewan juri lomba foto ini terdiri dari 5 orang yaitu Dudi Sugandi (Wartawan Foto Senior Pikiran Rakyat), Galih Sedayu (Fotografer & Pengelola APC Institute, Jay Subyakto (Sutradara & Penata Artistik), Oscar Motuloh (Kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara) dan Tavip Parawansa (Direktur Keuangan PT Pos Indonesia). Para Dewan Juri akhirnya berhasil memilih 25 karya foto terbaik yang terdiri dari 3 orang pemenang utama, 2 orang pemenang harapan dan 20 orang pemenang favorit. Rencananya pengumuman pemenang akan dilaksanakan pada tanggal 22 Desember 2011 di jakarta. Selamat kepada para pemenang dan terima kasih kepada seluruh partisipan program Pos Indonesia Photo Contest 2011.
(c) APC Institute – 2011
Tulisan Singkat & Foto Liputan Program Photo Rendezvous Bersama Oscar Motuloh & Jay Subiyakto @ Cawan Photo Space – Kamis 8 Desember 2011
SEBUAH SIKAP DALAM VISUAL FOTO
Oleh Galih Sedayu
Photography Now. Tema ini diangkat menjadi isu utama dalam program rutin Photo Rendezvous #10 yang digagas oleh APC Institute (air photography communications), bertempat di Cawan Photo Space, Surapati Core blok M32 Bandung. Tamu pembicara program Photo Rendezvous kali ini yaitu Oscar Motuloh dan Jay Subyakto yang dimoderatori oleh Galih Sedayu selaku pengelola APC Institute. Oscar Motuloh merupakan seorang pewarta foto senior dan kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara di Jakarta. Sedangkan Jay Subyakto adalah seorang fotografer, penata artistik dan sutradara di berbagai video musik, konser dan iklan.
Moderator Galih Sedayu membuka program diskusi ini dengan sebuah paparan singkat mengenai sejarah dan peran fotografi. Dari mulai fotografi ditemukan pada tahun 1839 oleh Louis Jacques Mande Daquerre, lalu kemunculan fotografi pertama kali di Indonesia yang dibawa oleh Jurrian Munich pada tahun 1841, kemudian pendokumentasian foto yang cukup lengkap tentang Indonesia oleh Walter Woodbury dan James Page tahun 1857, diakhiri dengan fotografer pribumi pertama di Indonesia yaitu Kassian Cephas yang diangkat menjadi fotografer keraton pada tahun 1870 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IV. Sehingga pada akhirnya muncul pertanyaan menyoal perubahan-perubahan apa saja yang signifikan mengenai perkembangan fotografi dari sisi karya foto yang dibuat oleh si pemotret, sejak era dahulu hingga masa kini.
Oscar Motuloh pun menjawab bahwasanya tidak ada yang berubah secara signifikan perihal karya fotografi yang diciptakan oleh fotografer sejak jaman dulu dan sekarang, selama isu yang dihadirkan adalah content atau isi foto. Karena menurut Oscar, sejatinya media fotografi itu digunakan oleh seorang pemotret untuk menyampaikan opini atau komentar perihal apa yang dilihat oleh masing-masing pemotret. It’s about an art of seeing. Oleh karena itu karya foto yang memiliki muatan dan pesan sosial misalnya, tidak terlepas dari pengaruh ide, wawasan dan skill dari si pemotret. Oscar pun mengumpamakan sebenarnya ketika kita membaca, menulis atau memikirkan sebuah peristiwa tertentu, pada saat itulah muncul sebuah gambar yang terlintas di dalam imajinasi kita sendiri. Karenanya Oscar berpendapat bahwa pada jaman sekarang, sangatlah penting kekuatan sebuah ide dalam menghasilkan karya foto karena ia menjadi landasan utama dalam proses kreatif fotografi yang pada akhirnya menciptakan subyektifitas pada obyek yang direkam. Setelah itu Oscar menyajikan secara visual sebuah iklan FIAT berdurasi kurang lebih 1,5 menit untuk memberikan pemahaman bahwasanya saat ini gambar dan audio dapat menjadi satu kesatuan yang utuh di dalam memaknai sebuah tujuan penyampaian visual. Kemudian Oscar menutup pemaparannya dengan sebuah slide show karya foto hitam putih yang dibuatnya mengenai bencana lumpur lapindo di Sidoarjo. Dimana aransemen musik yang menjadi back sound karya fotonya diciptakan oleh komposer Toni Prabowo dan diisi oleh suara vocal dari Nya Ina Raseuki atau Ubiet. Bila kita lihat, Slide Show yang diberi judul Atlantis Van Java ini bagaikan sebuah eufemisme visual yang menyindir pemerintah dalam menangani bencana lumpur lapindo.
Akhirnya tiba giliran Jay Subyakto yang memaparkan materinya. Slide pertama yang diperlihatkan adalah sebuah tulisan dari salah satu brosur hotel yang dilihatnya, berbunyi “Why not think things that have never been thought before”. Tulisan inilah yang menginspirasi seorang Jay untuk menciptakan karya-karya visual baik itu foto dan video, yang berbeda dari yang lainnya. Ia mengutarakan bahwa mengapa kita harus membuat sebuah karya yang sama dengan orang lain, kenapa kita tidak berani membuat sesuatu yang berbeda atau melawan pakem-pakem yang ada. Ia pun memberikan contoh beberapa karya fotonya yang disajikan Out of Focus, yang mungkin bagi sebagian orang menentang foto hasil bidikannya dan berpendapat bahwa foto tidak fokus itu adalah foto yang gagal. Lalu Jay bercerita pada umumnya banyak perusahaan di Indonesia yang menggunakan jasa sutradara iklan dengan mengimpor mereka dari luar negeri. Sehingga kadang lokasi syutingnya pun dilakukan di luar Indonesia. Padahal menurut jay, semua tim yang diperlukan untuk menggarap iklan itu sudah tersedia dan ada di Indonesia. Dari mulai sutradara, director of photography (dop), hingga digital imaging artist. Untuk itulah Jay selalu memberikan persyaratan kepada semua klien yang ingin menggunakan jasa profesionalnya, agar semua tim kerjanya wajib menggunakan tenaga ahli dari Indonesia dan lokasi syutingnya pun wajib di Indonesia. Prinsip itulah yang dipegang teguh oleh Jay hingga kini karena ia ingin memberikan pemahaman bahwa sudah sepatutnya lah kita harus bangga terhadap Negara Indonesia, terhadap apa yang bangsa kita miliki sekarang.
Ada beberapa karya visualnya dalam bentuk iklan yang dipresentasikan pada program Photo Rendezvous ini. Diantaranya iklan salah seorang pengusaha tenun, iklan produk citra dan iklan produk rokok Gudang Garam. Banyak hal menarik yang disampaikan olehnya ketika menggarap iklan-iklan tersebut. Seperti pada saat Jay diminta untuk menggarap iklan produk kecantikan citra. Saat itu ia memberikan persyaratan kepada kliennya bahwa ia tidak mau mengambil gambar adegan wanita yang sedang lulur ataupun menampilkan kulit seorang wanita yang tadinya hitam lalu tiba-tiba berubah menjadi putih setelah menggunakan produk citra tersebut. Jay ingin membuat sebuah konsep baru bahwa ia ingin menampilkan sisi lain dari seorang wanita yaitu kekuatannya sehingga menjadi identik dengan produk kecantikan tersebut. Setelah iklan itu ditayangkan, ternyata Jay tidak pernah mendapatkan pekerjaan itu lagi. Meski begitu ia cuek karena baginya sangat penting untuk menjadi berbeda dan membuat karya-karya yang baru. Lalu ketika Jay membuat iklan visual Gudang Garam, ia pun memilih lokasi syuting di Lapindo dengan menggunakan ratusan tentara sebagai pemainnya, sembari (sebenarnya) menyindir soal bencana lumpur tersebut. Alhasil iklan tersebut hanya dapat tayang sepekan di TV karena langsung mendapat kecaman dan teguran dari Bakrie Group. Sebegitunya. Tapi walaubagaimanapun, misi seorang Jay pada saat itu telah berhasil karena ratusan juta masyarakat Indonesia sempat melihat tayangan visual tersebut. Bila kita lihat, garapan visual apik yang dibuat oleh seorang Jay merupakan cuplikan-cuplikan fotografis yang sangat kental. Dia mencoba untuk menjahit pesan, harapan dan provokasi yang menggelora dalam dirinya sehingga menjadi sebuah kain yang utuh dalam bentukan visual yang diciptakannya. Bila kita bertanya kepada Jay, apa yang menjadi relevansi antara karya-karyanya dengan isu Photography Now? Mungkin baginya adalah sebuah cara lain, cara pandang dan cara pemahaman baru dalam menyikapi sebuah isu yang ditiupkan bersama dengan sebuah prinsip yang menjunjung tinggi kebenaran serta nilai-nilai yang mulia bagi masyarakat kita. Tentunya kita semua harus memiliki sikap optimis bahwa fotografi mampu untuk itu.
















































































































































