Archive for June 4th, 2011

June 4, 2011

Karya Foto Pemenang Pos Indonesia Photo Contest 2010

Menjumpai sahabat…

Pada hari Rabu tanggal 13 Januari 2011 pukul 09.00 s/d 14.30 WIB telah dilakukan penjurian POS INDONESIA PHOTO CONTEST 2010 yang bertempat di Gedung Wahana Bhakti PosJalan Banda No 31 Bandung. Lomba Foto dengan tema POS INDONESIA PEREKAT BANGSA yang diselenggarakan oleh PT Pos Indonesia  dan Air Photography Communications ini diikuti oleh 266 peserta dengan jumlah karya foto yang masuk sebanyak 754 buah.

(c) air photography communications

Adapun Para pemenang Pos Indonesia Photo Contest 2010 adalah sebagai berikut:

Pemenang ke-1

Nama: Yudistiro Pranoto

Judul Foto: Di tengah Kemacetan

Alamat: Komp. LKBN Antara II/33 Rt. 05/10 Bintara Jaya Bekasi

Telepon: 08159529698/08881356770

(c) Yudistiro Pranoto

Pemenang ke-2

Nama: Adi Rahmatullah

Judul Foto: Mengarungi Banjir

Alamat: Jl. Babakan Jeruk 3D no. 24 Terusan pasteur Bandung

Telepon: 0817436511/022-2013016

(c) Adi Rahmatullah

Pemenang ke-3

Nama: Tubagus Silahudin

Judul Foto: Pos Keliling

Alamat: Jl. Abimanyu 1/8 Semarang

Telepon: 024-70173166/08122841429

(c) Tubagus Silahudin

Pemenang Harapan ke-1

Nama: Sugede SS

Judul Foto: Po Box

Alamat: Jl. Cisadang 16A Solo 57116

Telepon: 08164231834

(c) Sugede SS

Pemenang Harapan ke-2

Nama: Suroto “Jimboeng”

Judul Foto: Suka Duka Bersama Gembala

Alamat: Bentakan Rt. 01/01 Baki sukoharjo

Telepon: 08564721119/0271-9180129

(c) Suroto “Jimboeng”

Pemenang Harapan ke-3

Nama: Sofyan Effendi

Judul Foto: Di antara pematang sawah

Alamat: Jl. H. Zaini Natsir No. 28-29 Rt.04/010 Cawang II Jak-tim

Telepon: 0818664064

(c) Sofyan Effendi

Pemenang Nominasi ke-1

Nama: Setyo Adi Nugroho

Judul Foto: Perjalanan Untuk Mengantar Surat

Alamat: Jl. Letjen Suprapto No. 63 Ngampilan Yogyakarta

Telepon: 081804321177

(c) Setyo Adi Nugroho

Pemenang Nominasi ke-2

Nama: Joko Kristiono

Judul Foto: Konvoi Tukang Pos

Alamat: Banyu urip wetan tengah A-3ª Surabaya 60254

Telepon: 0818323184

(c) Joko Kristiono

Pemenang Nominasi ke-3

Nama: Sutarya Partadisastra

Judul Foto: Pak Pos Dengan Anak-Anak Korban Banjir

Alamat: Jl. Palasari No. 15 Bandung 40263

Telepon: 081395070768

(c) Sutarya Partadisastra

Pemenang Nominasi ke-4

Nama: Stanlie

Judul Foto: Semangat Bekerja

Alamat: Jl. Perjuangan gg rahayu I No. 25 Rt.01/01 Bekasi 17142

Telepon: 08161169230

(c) Stanlie

Pemenang Nominasi ke-5

Nama: Junaidi

Judul Foto: Surat Buat Nenek

Alamat: Jl. Kandea 2 lorong 116 No. 11 makasar sul-sel 90000

Telepon: 0411-330965/0411-2433356/081328068586

(c) Junaidi

Pemenang Nominasi ke-6

Nama: Sugede SS

Judul Foto: Tugas dan Tugas

Alamat: Jl. Cisadang No. 16A Solo 57116

Telepon: 08164231834

(c) Sugede SS

Pemenang Nominasi ke-7

Nama: Hartono

Judul Foto: Di antara Helm

Alamat: Sarijadi 23/54 Bandung 40162

Telepon: 022-2002506/08122343650

(c) Hartono

Untuk itu masing-masing pemenang akan mendapatkan hadiah dari berupa :

Juara I: Trofi Pos Indonesia & Uang Tunai Rp. 13.000.000,-

Juara II: Trofi Pos Indonesia & Uang Tunai Rp. 9.000.000,-

Juara III: Trofi Pos Indonesia & Uang Tunai Rp. 6.500.000,-

Juara Harapan (3 orang) : Trofi Pos Indonesia & Uang Tunai @ Rp. 2.000.000,-

Juara Nominasi (7 orang) : Trofi Pos Indonesia & Uang Tunai @ Rp. 1.500.000,-

Pajak hadiah ditanggung pemenang.

Selamat kepada para pemenang dan terimakasih kami ucapkan kepada seluruh peserta dan partisipan Pos Indonesia Photo Contest 2010. Sampai jumpa di program selanjutnya. Salam.

June 4, 2011

Karya foto Tribute To Nature Photography & Digital Imaging Exhibition – 2011

KATEGORI DIGITAL IMAGING

(c) Agum Kurniawan, Jakarta – KDI

(c) Ari Sanjaya Lim, Jakarta – KDI

(c) Charles Adi Prabowo, Surabaya – KDI

(c) Diver Dantika, Bandung – KDI

(c) Donni Arifianto, Bandung – KDI

(c) Hendra M, Bandung – KDI

(c) Hendra Mulya, Bandung – KDI

(c) Kaharudin, Batam – KDI

(c) Taufik Noor A, Bandung – KDI

(c) Varhan Christihap, Depok – KDI

KATEGORI FOTOGRAFI

(c) Agus Sucipta, Bali – KF

(c) Agus Sucipta, Bali – KF

(c) Ahmad Samsudin, Semarang – KF

(c) Anom Manik Agung, Bali – KF

(c) Anom Manik Agung, Bali – KF

(c) Dede Sudiana, Bogor – KF

(c) Edison Paulus, Bandung – KF

(c) Hari Agung, Jawa Timur – KF

(c) I Ketut Widiatmika, Bali – KF

(c) IB Ngurah Primarta, Bali – KF

(c) I Made Gede Suherman, Bali – KF

(c) Kristo Joelyanta, Bali – KF

(c) Muhamad Nasrul Akbar, Bandung – KF

(c) Nur Efendi, Bali – KF

(c) Oki Lutfi, Bandung – KF

(c) Ricky Rochimat, Bandung – KF

(c) Sutarya Partadisastra, Bandung – KF

(c) Tamdy Septiandi, Bandung – KF

(c) Kusnadi, Bandung – KF

(c) Kusnadi, Bandung – KF

June 4, 2011

Kisah Wayan Mertayani yang Menjuarai Lomba Foto Internasional berkat Kamera Pinjaman

Kisah Wayan Mertayani patut diacungi jempol. Meski tak punya kamera, gadis 16 tahun asal Karangasem, Bali, itu berhasil menjuarai lomba foto internasional di Belanda. Mei tahun lalu, dia bahkan diundang ke Negeri Kincir Angin tersebut. Kini, Wayan sedang menunggu hadiah uang yang dijanjikan dengan harapan bisa mengurangi kemiskinan keluarganya.

———————————————
CHAIRUL AMRI S., Karangasem
———————————————
Siang itu, langit di atas Pantai Bias Lantang tampak mendung. Meski demikian, pantai di Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, tersebut terlihat indah dipandang. Di pinggir pantai itu, terdapat sebuah rumah sangat sederhana, berukuran sekitar 3 x 4 meter. Semua dinding rumah tersebut terbuat dari gedek (anyaman bambu) dan beratap seng.Itulah rumah Wayan Mertayani. Sehari-hari, gadis 16 tahun tersebut tinggal bersama ibunya, Ni Nengah Kirep, 45, dan adiknya, Ni Nengah Jati, 13. Untuk menyambung hidup, Kirep beternak ayam yang jumlahnya hanya belasan ekor. Selain itu, dia menjadi pemulung barang-barang bekas. Ketika Radar Bali (Jawa Pos Group) berkunjung ke rumahnya siang itu, Wayan sedang bersiap-siap berangkat sekolah. “Saya sekarang kelas satu SMA,” kata Wayan yang akrab disapa Sepi itu karena lahir pas hari raya Nyepi.Melihat kehidupan sehari-hari Wayan yang jauh dari kesan berkecukupan, mungkin tak akan pernah ada yang mengira bahwa gadis berwajah manis tersebut menjadi juara lomba foto internasional di Belanda. Tapi, itulah yang terjadi.Bagaimana ceritanya? Semua itu bermula ketika Wayan berkenalan dengan Mrs Dolly Amarhoseija, turis asal Belanda, Juli 2009. Dari perkenalan tersebut, hubungan mereka kian akrab. Wayan yang sejak kecil bercita-cita menjadi wartawan tertarik pada kamera milik Dolly.

Oleh Dolly, Wayan diajari cara memotret. Selanjutnya, kamera digital itu dipinjamkan Dolly kepada Wayan. Betapa gembiranya Wayan saat itu. Berbekal kamera pinjaman milik Dolly, Wayan memotret sejumlah objek di sekitar rumahnya.

Di antara belasan objek yang dibidik Wayan, ada salah satu objek yang menarik perhatian Dolly yang memang menekuni bidang fotografi tersebut. Objek itu adalah potret pohon ubi karet dengan dahan tanpa daun yang tumbuh di depan rumah Wayan. Seekor ayam bertengger di salah satu dahan tanpa daun itu. Ada juga handuk merah jambu dan baju keseharian yang dijemur di bawahnya.

Karena dianggap bagus, atas seizin Wayan, foto tersebut dikirim Dolly ke Belanda untuk mengikuti lomba foto internasional 2009 yang dihelat Yayasan Anne Frank. Tak disangka-sangka, hasil jepretan Wayan dengan objek pohon ubi karet dan ayam itu ternyata memikat 12 fotografer dunia dari World Press Photo yang menjadi juri dalam ajang lomba tersebut. Objek yang dibidik Wayan itu pun akhirnya ditetapkan sebagai juara karena dianggap sangat tepat dengan tema dalam lomba tersebut: Apa Harapan Terbesarmu?.

Kabar membanggakan itu diterima Wayan akhir Desember 2009 melalui Merry. Dia adalah pemilik vila Sinar Cinta di Karangasem, Bali, yang juga teman Dolly. Atas prestasi tersebut, Wayan diundang ke Belanda pada 3 Mei lalu untuk menerima langsung hadiah. Yakni, kamera saku digital, laptop, serta uang Rp 40 juta.

Mengapa membidik ayam yang sedang bertengger di pohon ubi karet itu? “Ayam itu adalah simbol diri dan kehidupan keluarga kami. Ayam itu kalau panas kepanasan dan kalau hujan kehujanan. Sama seperti saya,” jawab Wayan. Lebih lanjut, dia menceritakan, meski punya rumah, rumah yang dia tinggali itu tak ideal disebut rumah. “Karena atapnya seng, kalau panas kami kepanasan. Kalau hujan, kami kehujanan. Sebab, atapnya banyak yang bocor,” ceritanya.

Ketika ditanya, apakah ada yang berubah setelah dia berhasil meraih juara bergengsi itu” Wayan hanya tersenyum. “Nggak ada yang berubah. Sama saja seperti dulu. Kami masih tinggal di gubuk ini. Kalau pun ada yang berubah, ya, saya banjir sanjungan, he” he” he?,” kata Wayan dibarengi tawanya yang renyah. Terutama sanjungan dari teman-teman sekolah dan bapak/ibu gurunya.

Wayan mengakui, sejak dia mendapatkan penghargaan dari Yayasan Anne Frank, pandangan orang terhadap keluarganya berubah. Dulu, baik dia maupun ibunya kerap menuai cibiran dari sebagian warga. Meski demikian, apa yang pernah dia raih, rupanya tak membuat Wayan besar kepala. Dia masih tetap menjalani hidupnya seperti sebelum mendapatkan penghargaan. “Tentu saya bersyukur. Tapi, saya juga tidak mau berlebihan,” kata penggemar berat novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata ini.

Wayan mengatakan, hidup keluarganya memang masih jauh dari berkecukupan. Ayahnya meninggal, sejak Wayan masih balita. Untuk menyambung hidup, ibu Wayan bekerja serabutan. Selain beternak ayam dan menjadi pemulung, sang ibu, Kirep, juga berjualan makanan di tepi pantai. Tapi, untuk aktivitas ini, Kirep mengaku terpaksa berhenti. Itu karena sebulan terakhir ini kesehatannya terganggu. “Ibu saya terkena gangguan ginjal. Sebenarnya sejak 2003 lalu. Tapi, akhir-akhir ini sering kumat,” papar Wayan yang kisah hidupnya telah dibukukan dengan judul  Potret Terindah dari Bali ini.

“Ginjal kanan saya kumat lagi. Kalau angkat yang berat-berat terasa sakit,” ujar Kirep, yang siang itu mendampingi puteri sulungnya. Dengan kondisi seperti itu, Kirep lebih banyak di rumah. Pagi hari dia hanya memulung. Selesai itu, dia pun kembali ke rumah untuk memasak serta mengurus ternak ayam serta kambing yang dia gembalakan di pinggiran pantai.

Dari ternak-ternak itulah, keluarga Kirep melanjutkan hidupnya. Kadang kala, dia terpaksa menjual kambing agar Wayan dan adiknya, Jati, bisa bersekolah. Termasuk, untuk makan sehari-hari bagi keluarganya.

“Seminggu lalu, saya terpaksa menjual ayam. Laku Rp 50 ribu. Kebetulan uang itu untuk biaya sekolah Wayan dan Jati,” katanya. “Tiga minggu lalu saya melepas satu ekor kambing untuk dijual. Soalnya saya sudah bingung cari uang dapur dan uang untuk sekolah anak-anak saya,” tambahnya, dengan kedua mata menerawang.

Saat ini, Wayan sedang menunggu hadiah uang senilai Rp 40 juta yang menjadi haknya atas prestasi yang diperoleh di Belanda. “Uang itu sedang diurus Bu Merry,” kata Wayan, dengan mata berbinar penuh harap. Dia mengatakan, uang itu rencananya untuk membeli tanah, selanjutnya dibangun rumah. Sebab, rumah yang ditempati Wayan saat ini, bukan lah rumahnya sendiri. “Rumah itu bukan milik kami. Kami hanya disuruh menempati oleh orang yang kasihan dengan nasib kami,” tutur Wayan.

Dengan nada bergetar, Wayan menceritakan, bahwa semula dia tinggal di rumah kakek dari ayahnya. Tapi, setelah sang ayah meninggal, tanpa alasan jelas, Kirep, Wayan dan adiknya  yang saat itu masih balita, diusir oleh keluarga sang kakek. Selanjutnya, Wayan tinggal di rumah kakek dari ibunya. Di sini pun, nasib Wayan tak mujur.

Tak berapa lama, Kirep, Wayan dan adiknya juga diusir. Beruntung, dalam kondisi terkatung-katung itu, ada seorang yang iba. Dia adalah pemilik lahan pengeringan garam yang terletak di pinggiran Pantai Bias Lantang, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem. Di atas lahan itu, kebetulan ada rumah, dan Kirep diperbolehkan tinggal di sana bersama dua anaknya, sampai sekarang.

Kisah pilu Wayan ini sudah dibukukan dengan judul Potret Terindah dari Bali yang disusun Pande Komang Suryanita. “Saya sangat berharap mendapat royalti dari buku itu. Rencananya akan kami buat tambahan membeli tanah dan membangun rumah,” katanya.(jpnn/kum)

Sumber artikel diambil dari Jawa Pos National Network (JPNN)

June 4, 2011

BANDUNG KADEUDEUH – Bertutur Tentang Kota Bandung Melalui Karya Fotografi

Menjumpai sahabat…

air foto network mengundang para sahabat untuk berkolaborasi pada program

BANDUNG KADEUDEUH – Bertutur Tentang Kota Bandung Melalui Karya Fotografi
Bandung Kadeudeuh atau Bandung Kesayangan adalah sebuah gerakan kolektif moral yang merupakan cara untuk bertutur tentang Kota Bandung melalui karya fotografi & tulisan singkat. Karya-karya ini kemudian akan dimuat & dipublikasikan secara online setiap bulan untuk dapat di “Share” kepada khalayak umum. Setelah itu, karya foto & tulisan tersebut akan dicetak ke dalam sebuah “Jurnal” sebagai bentuk pertanggung jawaban kepada publik.

Bandung Kadeudeuh #6 (c) Gilang Gautama

Bandung Kadeudeuh #7 (c) Husnul Khatimah

Bandung Kadeudeuh #8 (c) Myke Jeanneta

SYARAT & KETENTUAN

Terbuka untuk masyarakat umum.

Program ini diadakan setiap sebulan sekali.

Obyek foto yang dikirim dapat berupa visualisasi sebuah harapan baru, kritik sosial maupun realitas peristiwa tentang segala sesuatu yang menyangkut Kota Bandung. Entah itu mengangkat isu potret sosial, ruang kota, komunitas kreatif, transportasi, kegiatan ekonomi, masyarakat urban, heritage, dsb.

Peserta bebas menggunakan jenis kamera apapun (kamera DSLR, pocket, lubang jarum/pinhole, lomo, analog/film, hp, dll).

Jumlah foto yang dikirimkan bebas dan ditulis keterangan tentang: judul foto, tulisan singkat (maksimal 1 halaman), nama, alamat, nomor telepon & email.

Karya Foto disimpan dalam format jpeg dengan sisi terpanjang 1200 pixel dan hanya dikirim melalui email ke airfotonetwork@gmail.com selambat-lambatnya setiap tanggal terakhir di akhir bulan.

Olah foto digital diperkenankan selama tidak menambah atau mengurangi isi foto.

Hak cipta karya foto merupakan milik fotografer atau pemotret. air foto network tidak berhak menggunakan foto-foto yang terpilih ataupun yang masuk tanpa seijin dari fotografer/pemotret yang bersangkutan kecuali untuk keperluan yang berhubungan dengan program ini.

Karya foto yang terpilih akan dimuat di http://www.airfotonetwork.com setiap tanggal 2 di awal bulan.

Peserta tidak dipungut biaya apapun (Gratis).

air foto network menyediakan sertifikat penghargaan & merchandise t-shirt kepada 1 orang peserta dengan karya foto & tulisan terbaik.

Demikian informasi yang kami berikan, kolaborasi para sahabat merupakan energi kreatif bagi kami.

Mengalir sampai jauh…

INFO LANJUT
air foto network
agensi, edukasi & manajemen fotografi
surapati core blok m32
jl. phh. mustofa 39 bandung 40192
ph. +62-22-87242729
airfotonetwork@gmail.com
facebook / air foto network
twitter @airfotonetwork
http://www.airfotonetwork.com

 

June 4, 2011

Foto Terpilih & Nominasi Program Bandung Kadeudeuh #2

Foto Terpilih program Bandung Kadeudeuh #2

Bukit Dago (c) Edi Sujana

Pembangunan gedung bertingkat sudah mulai memasuki perbukitan, daerah resapan air semakin terserap oleh semen dan pasir gedung megah, seperti yg saya lihat di daerah bukit dago timur. sementara ditengah kota sdh tak ada tempat lagi dikarenakan “hareurin”.. Oh Bandung deudeuh teuing!!! “kamana deui simkuring rek leleson bari ngiuhan…..???”

Foto nominasi program Bandung Kadeudeuh #2

Tata Ruang (c) Berpi Hanafi

Penataan ruang Kota Bandung yang kacau menjadikan Kota kita sebagai kota yang sakit. Padahal kota Bandung merupakan kota Tujuan Wisata.

Foto nominasi program Bandung Kadeudeuh #2

Fly Over Pasupati (c) Myke Jeanneta

FLY OVER PASUPATI atau Jembatan Layang Pasupati adalah jembatan yang menghubungkan bagian utara dan timur Kota Bandung melewati lembah Cikapundung. Panjangnya 2,8 km dan lebarnya 30-60 m. Jembatan ini dibangun dengan menggunakan konstruksi cable-stayed. Tujuan utamanya untuk memecah kemacetan di kota Bandung. Fly Over Pasupatipun tak luput dari kemacetan, sebagai pintu utama masuk ke dalam maupun ke luar kota Bandung melalui pintu tol Pasteur terutama diakhir pekan.

June 4, 2011

Highlight Video of Tribute to Nature Photo Exhibition 2011

Video Highlight Program Tribute to Nature (Photography & Digital Imaging Exhibition) di Gedung Indonesia Menggugat tanggal 22 s/d 24 April 2011 yang diselenggarakan oleh APC Institute, Teh Kotak & Telingamata Communications.

http://www.youtube.com/watch?v=5SvCuJDUIsQ