Archive for ‘Photo Community Program’

February 3, 2012

Karya Foto Terpilih & Nominasi Program Bandung Kadeudeuh #10

Karya Foto Terpilih
“Dibawah Rel Tak Terpakai Ada Sungai” karya Bobby Muh Ihsan
Seorang anak terlihat sedang memanfaatkan rel kereta api yang sudah tidak terpakai sebagai jembatan penyebrangan untuk melewati sungai yang mengalir dibawahnya. Tampak kurang bersih kan sungai yang berada di bawahnya? Ironis. Ketika wilayah ini berada di belakang sebuah mall terbesar yang sangat megah di Kota Bandung , kebersihan tampaknya kurang diperhatikan. Mungkin perhatian sudah terpusat di suatu tempat sehingga mengabaikan keadaan di sekitar pusat perhatian?

Karya Foto Nominasi
“Kagok” karya Gloria Wibisana
Sebuah mobil berada di Ruang Henti Khusus (RHK) untuk sepeda motor (di Jl.Ir.H.Juanda).

Karya Foto Nominasi
“When Yesterday Meet today” karya Reiza Haritz
Sebuah kombinasi dan pertemuan yang unik antara ‘kemarin’ dengan ‘saat ini’ yang sebenarnya banyak di Bandung ini. Tinggal bagaimana pemerintah dan kita sebagai penduduk kota Bandung, mewarnai perpaduan ini dengan baik.

Karya Foto Nominasi
“Masih ada” karya Sudarmanto Edris
Di tengah maraknya mainan anak-anak modern yang serba elektronis ternyata masih ada yang setia menjajakan mainan anak-anak tradisional tanpa sentuhan listrik.

January 22, 2012

Tulisan & Foto Liputan Program Bukutulis #1 (Bedah Buku Foto & Temu Penulis) bersama Erik Prasetya di Goethe-Institut Bandung

MENJAWAB ESTETIKA FOTOGRAFI
Oleh Galih Sedayu

Estetika Banal. Frasa ini menjadi sebuah perbincangan & dialog menarik saat disuguhkan dalam sebuah program fotografi perdana bernama Bukutulis (Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis) yang digagas oleh APC Institute bekerjasama dengan Goethe-Institut Bandung. Program Bukutulis #1 ini digelar pada tanggal 21 Januari 2012 dengan memanfaatkan sebuah ruang kreatif milik Goethe-Institut Bandung di Jalan RE.Martadinata 48. Program ini dibuat sekaligus mengisi rangkaian kegiatan “Deutscher Fotobuchpreis 2011”, sebuah pameran buku fotografi terbaik karya para fotografer jerman yang berlangsung sejak tanggal 17 Januari hingga 11 februari 2012. Pada kesempatan kali ini, Erik Prasetya, seorang fotografer yang telah berhasil menerbitkan buku fotografi “Jakarta Estetika Banal”, dihadirkan untuk menjadi nara sumber sekaligus pembicara yang mengupas tuntas tentang isi buku tersebut.

Erik Prasetya adalah seorang fotografer kelahiran tahun 1958 asal kota Padang, Sumatera Barat . Ia sempat mengeyam pendidikan kampus di Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai mahasiswa jurusan tambang pada tahun 1977. Saat itu ia pun aktif melakukan kegiatan panjat tebing hingga akhirnya hobi tersebut mempertemukan dirinya dengan Harry Suliztiarto, seorang sahabat yang tidak hanya mengajarkan olah raga  panjat tebing  namun sekaligus menjadi guru fotografi pertama dalam hidupnya. Erik pun pernah bekerja menjadi kontributor foto khusus petualangan di majalah mutiara dan mendapat berbagai penugasan khusus dari wartawan senior Ed Zoelverdi (almarhum). Akhirnya sekitar tahun 1990, ia mulai menekuni esai foto yang ditampilkan pada rubrik “Kamera” majalah tempo. Pada tahun 1997, ia berkesempatan untuk bekerja dalam satu tim bersama Sebastiao Ribeiro Salgado, seorang fotografer kelas dunia asal brazil yang terkenal dengan karya buku fotografinya yang berjudul “Workers”. Sebenarnya Erik Prasetya sudah sejak kecil mengenal kamera, dimana kala ia berumur sepuluh tahun, ibundanya membelikan kamera Yashica Mat. Tak heran ketika ia beranjak dewasa, kecintaannya terhadap dunia fotografi semakin menggebu-gebu.

Program bedah buku ini dimulai pada pukul 15.00 WIB dengan paparan Erik Prasetya tentang berbagai hal di dalam fotografi. Diantaranya adalah mengenai pemilihan karya fotografi. Ia berujar bahwa sangatlah mudah melakukan pemotretan untuk kegiatan yang bersifat komersil, ataupun pemotretan yang dilakukan berdasarkan penugasan dari media. Ketika berhadapan dengan seorang editor misalnya, ia menegaskan bahwa seorang fotografer dapat dengan mudahnya mengirimkan karya foto sesuai dengan keinginan pemesan ataupun editor tersebut. Dengan bahasanya ia menyebutkan bahwa sangatlah mudah mengacc karya foto kita untuk editor. Tetapi menurutnya, hal yang paling sulit dilakukan adalah mengacc karya foto kita kepada diri sendiri.

Setelah itu Erik Prasetya memulai paparannya tentang buku fotografi. Baginya, sebuah buku memungkinkan para pembaca untuk masuk ke dalam suasana batin fotografer. Ia mengambil contoh karya foto esai hasil rekaman fotografer Elinor Carucci yang berjudul Closer. Dimana dengan bebasnya ia memotret secara personal seluruh anggota keluarganya, bahkan pada saat berpose telanjang. Kemudian karya foto yang berjudul “Bloodies & Other Bonds” yang dibuat oleh fotografer belanda yang bernama Diana Block, sengaja dipresentasikan olehnya agar kita dapat melihat bahwasanya kadang persepsi orang yang melihat sebuah karya foto bisa saja keliru. Misalnya saja foto yang menggambarkan dua orang pria dewasa kembar yang tengah berpose sambil membuka bajunya, seolah-olah memiliki kesan tabu. Padahal realita sebenarnya yang terjadi pada karya foto tersebut adalah hal-hal biasa yang kerap dilakukan oleh kedua orang pria kembar itu, dari mulai mandi bersama, tidur telanjang bersama dan lain sebagainya.

Kemudian Erik Prasetya bercerita tentang proses kreatif untuk menghasilkan sebuah buku fotografi dari mulai perencanaan awal, pengerjaan dan penerbitan. Kadang pada prosesnya, seringkali ia menemukan beberapa kegagalan. Salah satu contohnya Ia tunjukkan dengan memperlihatkan buku fotografi “Jakarta Estetika Banal” yang pada awal pengerjaannya di desain dengan format vertikal serta dibubuhkan satu buah font huruf “J” berwarna merah di tengah-tengah cover buku. Baginya buku itu malahan tampak seperti buku desain grafis ketimbang buku fotografi. Oleh karena itu, akhirnya format buku tersebut diubah menjadi horizontal dengan meniadakan font huruf “J” yang tadinya ditampilkan di cover depan buku tersebut. Ia pun mengungkapkan pengalamannya tentang proses scan foto sebagai materi buku tersebut, dikarenakan semua karya fotonya dihasilkan dengan media film. Pada akhirnya Ia menemukan sebuah pengetahuan yang sangat berharga bahwa ternyata karya foto yang dihasilkan dari proses scan negatif tidak lebih baik daripada hasil proses scan yang berasal dari karya foto yang telah dicetak sebelumnya. Alhasil ia pun melakukan proses scan ulang terhadap sebagian besar karya fotonya. Lalu ada hal yang menarik yaitu ketika proses mencetak buku foto tersebut, ternyata erik mengawasi secara langsung prosesnya di depan mesin percetakan. Kurang lebih selama  50 jam dengan setia ia menunggu dan mengecek langsung hasil cetakan bukunya satu persatu.

Pada presentasi selanjutnya erik menceritakan hal mengenai buku foto macam apa yang akan dibuat olehnya. Karena menurutnya sebuah buku itu bisa berisikan tentang 2 hal yaitu kebutuhan yang selalu ada atau sesuatu yang baru. Sebagai perumpamaan ia menyebutkan semisal seorang fotografer yang membuat buku foto yang bertajuk “Bandung Kota Kembang” dan seorang fotografer lain yang membuat buku bertajuk “Bandung Kota Kambing”. Pastinya 2 buku tersebut memiliki perbedaan yang mendasar dalam hal cara pendekatannya. Kemudian Erik bercerita mengenai latar belakang pembuatan buku foto estetika banal. Ia mengatakan bahwa saat ini estetika fotografi masih banyak mengekor pada estetika seni rupa, padahal sebenarnya fotografi sangat bisa menyumbangkan estetikanya sendiri. Meskipun sebenarnya ia tidak berusaha untuk memisahkan kedua estetika itu. Menurutnya, dalam sejarah pun, fotografi kebanyakan menjadi milik kelas menengah dan bersifat voyeuristik (mengintip) terhadap the other (yang lain). Sehingga muncul sebuah pertanyaan, “Bisakah fotografi merekam kelasnya sendiri?”

Selanjutnya ia menunjukkan foto karya Sebastiao Salgado yang memvisualkan isu kelaparan dengan obyek 4 orang penduduk di daerah afrika. Lalu ia membandingkan komposisi foto tersebut dengan lukisan-lukisan abad ke-16 yang mencuatkan cerita tentang  Sodom & Gomora. Di sana terlihat beberapa kemiripan komposisi yang dibuat dari karya foto Sebastiao Salgado, dimana rata-rata selalu ada 3 orang yang komposisinya diletakkan di depan dan 1 orang yang diletakkan di belakang. Sebagaimana kita tahu bahwa salgado adalah seorang fotografer yang religius sehingga karya fotonya selalu mengacu pada kisah-kisah yang terjadi di Alkitab agama nasrani. Begitu juga salah satu karya foto James Nachtwey (fotografer perang) yang mendeskripsikan seorang pria kurus kering tengah merangkak di sebuah bencana kelaparan di daerah sudan. Karya fotonya dianggap memiliki kemiripan dengan salah satu karya patung dari seorang seniman dunia.

Sesungguhnya seorang Erik Prasetya sebenarnya menawarkan sebuah cara dan pendekatan lain ketika merekam obyek yang difotonya hingga menjadi sebuah buku. Meski sebenarnya ia pun mengakui bahwasanya ia tidak lepas dari pengaruh pendekatan fotografi klasik semisal romantisme, metaforisme, dan jurnalisme. Pendekatan Estetika Banal (begitu ia menyebutnya), digunakan oleh erik ketika membuat karya fotonya. Ia mencoba untuk tidak memotret drama keseharian. Ia mencoba untuk membuat hubungan dengan obyek yang direkam menjadi lebih dialogis. Ia pun berusaha mencari pola sintagmatik yang tepat untuk menggambarkan hal-hal yang bersifat paradigmatik pada karya fotonya.

Akhirnya muncul sesi tanya jawab setelah paparan Erik Prasetya selesai. Tema, seorang mahasiswa Unpas menanyakan perihal tentang mengapa karya foto Erik dalam buku “Jakarta Estetika Banal”nya, selalu menyertakan puisi-puisi karya Chairil Anwar, Goenawan Muhamad, Joko Pinurbo, Wiji Thukul dan Zen Hae. Lalu Erik pun menjawab bahwasanya puisi-puisi tersebut ia butuhkan untuk menjadi kait bagi segala cerita dan tema yang ada di dalam karya fotonya. Sebagai contoh puisi  dari Goenawan Muhamad yang berbunyi “Di kota itu gerimis, kata orang, telah jadi logam”. Sesudah puisi tersebut, dalam bukunya Erik menampilkan foto seorang petani kerang hijau di daerah Cilincing, Jakarta. Ia mengemukakan bahwa relevansi foto tersebut dengan kata-kata puisi karya Goenawan Muhamad sangatlah erat. Karena di saat musim hujan, petani kerang hijau selalu libur untuk mencari nafkah. Bukan karena kekurangan kerang hijau, tetapi mereka tidak berani mengambil kerang hijau pada saat musim hujan berlangsung dikarenakan kerang-kerang tersebut mengandung kadar merkuri (logam) yang sangat tinggi. Tentunya kita semua tahu bahwa kerang hijau memiliki kemampuan menahan merkuri di dalam tubuhnya ketika hujan. Inspirasi menggunakan puisi Goenawan Muhamad tersebut sebenarnya muncul tatkala Erik melakukan obrolan kecil dengan seorang petani daun bawang di tepi kali malang, Jakarta. Petani itu mengatakan bahwa setiap kali hujan, daun bawangnya pasti bolong-bolong terkena kandungan logam yang dihasilkan dari curah hujan kota Jakarta. Dari peristiwa-peristiwa tersebut, seharusnya kita dapat melihat betapa parahnya polusi di kota Jakarta.

Pernyataan tentang buku foto “Jakarta Estetika Banal” diungkapkan oleh Deni Sugandi (ketua pinhole bandung & pemilik fotolisis) dan Sandi Jaya Saputra (Fotografer Lepas & Asisten Lab Foto Fikom Unpad). Menurut mereka berdua, karya foto Erik yang ditampilkan dalam buku tersebut tidak mencerminkan tentang makna banal sesungguhnya serta tidak menjawab pertanyaan tentang estetika banal itu sendiri, meski sebenarnya mereka pun tidak menjelaskan dengan gamblang perpektif banal seperti apa yang diharapkan dalam tampilan visual. Kemudian Erik pun menjawab bahwa pada dasarnya ia mengakui bahwa tidak semua foto yang ia buat dalam bukunya merupakan terjemahan visual tentang banal sesungguhnya. Baginya sangat sulit untuk membuat sebuah pendekatan estetika banal yang akurat dan mutlak benar. Tapi setidaknya menurut erik ada upaya untuk memberikan sebuah peluang lain dalam estetika fotografi dengan tidak menampilkan dominasi karya foto piktorial. Memang menurut catatan saya, dari sejumlah buku fotografi resmi yang diterbitkan oleh fotografer Indonesia dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, buku foto “Jakarta Estetika Banal” ini memiliki pendekatan dan eksekusi yang berbeda (entah apapun itu namanya) dibandingkan dengan buku foto yang yang lain. Menurut saya, mungkin satu-satunya buku foto yang memiliki kemiripan ide dan eksekusi dengan buku Erik Prasetya adalah buku foto karya Kusnadi yang berjudul “Fotografi Seni Kusnadi” yang dibuat pada tahun 1994.

Meski begitu, Erik menepis anggapan keliru dengan mengatakan bahwa ia tidak mempersoalkan ataupun berusaha memisahkan antara estetika fotografi dengan estetika seni rupa. Baginya buku yang ia buat adalah sebentuk perlawanan kecil yang ia coba dilakukan (meski tidak sempurna) untuk mengekspan berbagai peluang estetika yang ada. Bukan mengajak orang untuk meninggalkan estetika seni rupa ataupun mengajak orang untuk membuat karya dengan estetika fotografi. Lalu ada Danu (seorang pecinta fotografi dan punya hobi menyulam) yang memberikan opini bahwa seharusnya seorang fotografer lebih banyak memiliki referensi literature tulis  yang lebih banyak ketimbang referensi visual. Kemudian Erik pun menjawab bahwa ketika seorang fotografer berkarya, referensi itu sesungguhnya bisa didapat dari segala hal entah itu novel, film, buku cerita dan sebagainya. Tepat pukul 17.15 WIB, program bukutulis ini akhirnya berakhir. Sebelum ditutup, Erik sempat berujar bahwa ia menyadari apabila buah karyanya yang telah digarap selama 25 tahun itu tidak selesai hingga di buku foto “Jakarta Estetika Banal”saja. Erik memiliki harapan semoga dalam kurun waktu 3 atau 4 tahun ke depan, ia memiliki kesempatan untuk menerbitkan sebuah buku fotografi yang lain. Tentunya dengan cara seorang Erik Prasetya. Dimana kita bisa bebas memilih. Suka atau tidak suka.

(c) apc institute – 2012

January 21, 2012

Liputan Foto Program Riung Sinema #6 di Goethe-Institut Bandung – 21 Januari 2012

(c) apc institute – 2012

January 13, 2012

BUKUTULIS #2 – Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis bersama Riza Marlon (Penulis Buku “Living Treasures of Indonesia)…{CLOSED}

Menjumpai sahabat…

APC Institute bekerjasama dengan Goethe-Institut Bandung mempersembahkan sebuah program fotografi yaitu

BUKUTULIS #2
Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis

TENTANG PROGRAM
Bukutulis merupakan sebuah program berbagi ilmu, wawasan & pengalaman yang dikemas dalam sebuah presentasi & tanya jawab langsung dari seorang fotografer dan anak bangsa yang telah berhasil menerbitkan buku fotografi sendiri. Program yang digagas oleh APC Institute ini bertujuan untuk melahirkan serta menularkan inspirasi dan ide baru di kalangan pelaku kreatif yang lain dengan harapan agar mereka dapat menelurkan karya fotografinya ke dalam sebuah buku fotografi. Karena salah satu ciri bangsa yang maju adalah bangsa yang telah banyak menerbitkan berbagai informasi, ilmu & wawasan yang mereka dapatkan untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat luas. Sejatinya, sebuah buku foto adalah kitab pengalaman visual yang tak pernah sirna ditelan oleh peradaban.

PEMBICARA
Riza Marlon
Fotografer Wild Life & Penulis Buku “Living Treasures of Indonesia”

WAKTU
Sabtu 4 Februari 2012
Pukul 15.00 – 17.00 WIB

TEMPAT
Goethe-Institut Bandung
Jalan RE. Martadinata No 48
Bandung

*Bagi sahabat yang ingin hadir mohon menuliskan nama, nomor handphone & asal institusi/kampus/klub di kolom “comments” pada posting ini.

FREE ENTRY!!

Mari bergerak bersama kami…

INFO LANJUT
apc institute
photography network centre
education – commercial – management
surapati core blok m32
jl. phh. mustofa 39 bandung
ph. +62-22-87242729 / 70160771
apc_institute@yahoo.com
facebook: apc institute & twitter: @apcinstitute
http://www.airfotonetwork.wordpress.com

January 11, 2012

RIUNG SINEMA #6 – Program Pemutaran Film & Dialog Fotografi “The Bangbang Club” karya Steven Silver…{CLOSED}

Menjumpai sahabat…

APC Institute bekerjasama dengan Goethe-Institut Bandung mengundang sahabat untuk hadir di program

RIUNG SINEMA #6
Program Pemutaran Film & Dialog Fotografi

TENTANG PROGRAM
Riung Sinema adalah sebuah program pemutaran film-film karya sutradara ternama di dunia seperti Martin Scorsese, Akira Kurosawa, Oliver Stone, Steven Spielberg, Woody Allen, Stanley Kubrick, Francis Ford Coppola, David Linch, Joel & Ethan Coen, Steven Soderberg, Quentin Tarantino, Ang Lee, Wong Kar-Wai, dan lain lain. Setelah para partisipan melihat & menyimak film tersebut secara bersama-sama, program ini kemudian dilanjutkan dengan dialog dan diskusi interaktif yang melibatkan audience tentang isi, makna & kajian visual yang dihadirkan pada film tersebut. Program ini diprakarsai oleh APC Institute yang bertujuan untuk menggali dan memperdalam wawasan visual yang didapat dari sebuah film dan kemudian mampu diterapkan ke dalam disiplin fotografi.

FILM
THE BANGBANG CLUB

SUTRADARA
STEVEN SILVER

WAKTU
Sabtu 21 Januari 2012
Pukul 13.00 – 14.30 WIB

TEMPAT
Goethe-Institut Bandung
Jalan RE. Martadinata No 48
Bandung

SINOPSIS SINGKAT
Film ini menggambarkan tentang kisah nyata dari sebuah kelompok fotografer perang yang terdiri 4 orang pemuda yaitu Greg Marinovich, Joao Silva, Kevin Carter & Ken Oosterbroek. Mereka terikat oleh jalinan persahabatan dengan tujuan yang sama yaitu untuk menceritakan kebenaran kepada dunia melalui profesi jurnalis. Mereka semua mempertaruhkan nyawanya untuk bercerita kepada dunia tentang betapa keras dan ganasnya situasi di sebuah daerah menjelang pemilihan bebas yang pertama kali dilakukan di Afrika Selatan pada awal tahun 1990. Foto-foto tentang situasi politik yang panas di sana akhirnya menghasilkan Pulitzers tetapi sekaligus ada harga yang harus dibayar oleh mereka. Film ini dibuat berdasarkan buku yang ditulis oleh Greg Marinovich dan Joao Silva, serta dibintangi oleh Ryan Phillippe, Malin Akerman dan Taylor Kitsch.

*Bagi sahabat yang ingin hadir wajib menuliskan nama, nomor hp & asal institusi/kampus/klub di kolom “comments” pada posting ini.

FREE ENTRY!!!

Mari bergerak bersama kami…

INFO LANJUT
APC Institute
air photography communications
agensi, edukasi & manajemen fotografi
surapati core blok m32
jalan phh.mustofa 39 bandung
telepon 022-87242729 / 70160771
apc_institute@yahoo.com
facebook: apc institute & twitter: @apcinstitute
http://www.airfotonetwork.wordpress.com

January 11, 2012

BUKUTULIS #1 – Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis bersama Erik Prasetya (Penulis Buku “Jakarta Estetika Banal”)…{CLOSED}

Menjumpai sahabat…

APC Institute bekerjasama dengan Goethe-Institut Bandung mempersembahkan sebuah program fotografi yaitu

BUKUTULIS #1
Bedah Buku Fotografi & Temu Penulis

TENTANG PROGRAM
Bukutulis merupakan sebuah program berbagi ilmu, wawasan & pengalaman yang dikemas dalam sebuah presentasi & tanya jawab langsung dari seorang fotografer dan anak bangsa yang telah berhasil menerbitkan buku fotografi sendiri. Program yang digagas oleh APC Institute ini bertujuan untuk melahirkan serta menularkan inspirasi dan ide baru di kalangan pelaku kreatif yang lain dengan harapan agar mereka dapat menelurkan karya fotografinya ke dalam sebuah buku fotografi. Karena salah satu ciri bangsa yang maju adalah bangsa yang telah banyak menerbitkan berbagai informasi, ilmu & wawasan yang mereka dapatkan untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat luas. Sejatinya, sebuah buku foto adalah kitab pengalaman visual yang tak pernah sirna ditelan oleh peradaban.

PEMBICARA
Erik Prasetya
Fotografer & Penulis Buku “Jakarta Estetika Banal”

WAKTU
Sabtu 21 Januari 2012
Pukul 15.00 – 17.00 WIB

TEMPAT
Goethe-Institut Bandung
Jalan RE. Martadinata No 48
Bandung

*Bagi sahabat yang ingin hadir mohon menuliskan nama, nomor handphone & asal institusi/kampus/klub di kolom “comments” pada posting ini.

FREE ENTRY!!

Mari bergerak bersama kami…

INFO LANJUT
APC Institute
air photography communications
agensi, edukasi & manajemen fotografi
surapati core blok m32
jalan phh.mustofa 39 bandung
telepon 022-87242729 / 70160771
apc_institute@yahoo.com
facebook: apc institute & twitter: @apcinstitute
http://www.airfotonetwork.wordpress.com

January 2, 2012

Karya Foto Terpilih & Nominasi Program Bandung Kadeudeuh #9

Karya Foto Terpilih
“Kami di Tembok Pasupati” karya Gloriya Wibisana
Sosok pria dan wanita yang seolah berada di jendela berwarna ungu pada tembok Pasupati, tepatnya dekat perempatan Cihampelas-Pasteur.

Karya Foto Nominasi
“Pasoepati bridge in my way” karya Rezza Pradana Putra

Karya Foto Nominasi
“Semarak Hijau Gedung Sate” karya Pristanto Muhammad
Gedung Sate yang pada masa Hindia Belanda itu disebut Gouvernements Bedrijven (GB), peletakan batu pertama dilakukan oleh  Johanna Catherina Coops. Bangunan yang anggun mempesona dengan gaya arsitektur unik mengarah kepada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa. Gedung yang menjadi pusat pemerintah Jawa Barat dapat disaksikan masyarakat umum dari dekat dengan “efek hijau” pada tiap lekukan bangunan ini.

Karya Foto Nominasi
“One Purpose” karya Reindy Gustyawan
One Purpose yang artinya “Satu Tujuan”. Karena mengapa, bisa kita lihat barisan-barisan yang berjejer itu menuju satu kesatuan yang memiliki satu tujuan yaitu batu yang berdiri di puncak. Diharapkan Kota Bandung sedikit demi sedikit dari tahap awal yang terus dilalui dengan semangat pembangunan sehingga bisa mencapai puncak, Kota Bandung dapat menjadi Kota Bermartabat dengan pembangunan oleh para pemimpin-pemimpin yang jujur dan adil di mata rakyat Indonesia juga di mata Dunia.

Karya Foto Nominasi
“Monumen di kala minggu pagi” karya Aldy Giraldie

December 29, 2011

Tulisan Singkat & Foto Liputan Program Ngopi #2, “Sosialisasi Pembuatan Taman Foto Bandung” @ Taman Cempaka Bandung

Rabu 28 Desember 2011. Tanggal ini menjadi momen bersejarah karena pada saat itu lah, lahir sebuah komunitas kreatif baru di Kota Bandung. Mereka menamakan dirinya Komunitas Taman Foto Bandung (TFB). Komunitas ini terbentuk dari keprihatinan bersama karena terbengkalai dan tak terurusnya sejumlah taman kota di bandung sekaligus harapan positif untuk bisa mengelola sebuah taman kota di bandung dengan kegiatan kreatif. Dan langkah kecil ini akan dimulai terlebih dahulu oleh Komunitas Fotografi meski tentu nantinya akan melibatkan teman-teman komunitas lain pada saat pelaksanaan programnya.

Ide pembentukan komunitas ini hadir di sela-sela program NGOPI #2 (Ngobrol Santai & Tukar Pikiran Soal Fotografi) yang membahas tema “Sosialisasi Pembuatan Taman Foto Bandung”. Sarasehan sore ini dikemas secara sederhana dimana semua yang hadir duduk di bawah pohon yang rindang dan beralaskan tikar sambil menikmati gorengan dan air mineral. Nara sumber Ridwan Kamil & Galih Sedayu membuka program ini dengan sebuah paparan singkat mengenai pentingnya memanfaatkan ruang hijau publik atau taman kota sehingga paru-paru sebuah kota bisa menjadi lebih hidup. Dalam program ini hadir beberapa individu dan komunitas yaitu Puput, Arief Setiawan, Faqihza, Ivan, Hikmah, Reza Pradana (Capture IMTelkom), Wirawan (PAF), Adi Barnas (Teh Kotak), Rijal (Spektrum Unpad & Jatinangor Kamera), Ary, Malik (Pony Itenas), Oki, Risanti (Bidik Stikom), Harry R.S, M Haikal (Bulb Bandung), Hani Rosidaini (NG Bandung), dan Mia Damayanti Sjahir.

Karena ide yang baik adalah ide yang diwujudkan, maka pada saat itu juga tim kerja langsung dibentuk untuk merealisasikan ide taman foto bandung tersebut. Untuk tim program kreatif diserahkan kepada Reza Pradana, M Haikal, Arief Setiawan, Hikmah, Wirawan, Adi, Rijal & Harry RS. Lalu tim penyusunan proposal dipegang oleh Ivan, Malik, & Ary. Tim humas & media diberikan kepada Puput, Faqihza, Risanti, Hani Rosidaini & Mia Damayanti Sjahir. Kemudian untuk tim perizinan & desain pembuatan taman foto bandung diemban oleh Galih Sedayu & Ridwan Kamil. Setelah itu kita pun sepakat untuk bertemu 2 minggu lagi di tempat yang sama untuk membahas proposal ide pembentukan Taman Foto Bandung yang sudah siap dipresentasikan kepada semua instansi terkait. Bayangkan nanti ada sebuah Taman Foto Bandung yang memiliki Amphiteater, Toilet Bersih, Panil Karya Foto, Ruang Kreatif Terbuka, Area Wifi yang diisi oleh program-program kreatif seperti Workshop, Seminar, Klinik, Ekskursi, Bedah Buku, Lomba, Diskusi, Pameran & Festival Fotografi. Semoga menjadi nyata agar taman kota kita tidak pernah merasa kesepian.

(c) apc institute – 2011

December 17, 2011

NGOPI #2 – Ngobrol Santai & Tukar Pikiran Soal Fotografi: “Sosialisasi Pembuatan Taman Fotografi Bandung”…{CLOSED}

Menjumpai Sahabat

APC Institute & Bandung Creative City Forum/BCCF mengundang para sahabat untuk menghadiri program

NGOPI #2
Ngobrol Santai & Tukar Pikiran Soal Fotografi

TEMA
Sosialisasi Pembuatan Taman Fotografi Bandung

LATAR BELAKANG
Taman Kota sejatinya merupakan sebuah Ruang Publik yang dapat diakses secara bersama-sama oleh Komunitas. Di Kota Bandung, ada sekitar 600 lebih taman dan hanya sekitar 200 taman yang masih dapat difungsikan. Komunitas menjadi salah satu harapan agar taman-taman tersebut dapat dikelola dengan baik dan menjadi lebih hidup dengan program-program yang diusung oleh komunitas tersebut. Komunitas Fotografi diharapkan mampu untuk berkolaborasi dalam sebuah semangat demi kelangsungan taman-taman tersebut yang menjadi paru-paru kota. Taman Fotografi Bandung seharusnya menjadi sebuah solusi yang kongkrit di dalam menjawab isu tentang kekosongan ruang publik di Kota Bandung. Masyarakat harus menyadari bahwa intervensi ruang publik dengan berbagai ide positif sangat diperlukan agar Kota Bandung selalu ada yang mencintai. Semoga Taman Fotografi Bandung dapat segera terwujud di tahun 2012.

NARA SUMBER
Ridwan Kamil (Ketua BCCF)
Galih Sedayu (Fotografer & Pegiat Fotografi)

TEMPAT
Taman Kota di Jalan Anggrek
(Dekat pertigaan jalan kemuning dan jalan pudak)
Bandung

WAKTU
Rabu 28 Desember 2011
Pukul 15.00 wib – 17.00 wib

TURUT MENGUNDANG
Wartawan Foto Bandung/WFB, Aliansi Jurnalis Indonesia/AJI Bandung, Forum Diskusi Wartawan Bandung/FDWB, Komunitas Pemotret Bandung (KPB), Perhimpunan Amatir Foto (PAF), Brigade Poto #, Pinhole Bandung (Kampi & KLJ Bandung), Klastic, LFM-ITB, Maphac Clubs, Jepret IMA-G ITB, Performa UPI, MM, Hobi Foto Bandung, Geuring Photography, 25 Graphy, Komunitas Seni Fotografi, Kolam/Komunitas Lensa Manual Bandung, Capslock, Capture IM Telkom, Forum Fotografi Kampus (FFK), Spektrum Unpad, Kokang Itenas, Pony Itenas, Bidik Stikom, Parasastra Unpad, AF Unpar, Potret Unpar, Jepret Unisba, Steril, Titik Fokus, ISO 77, JPOP, Illuminati, Medicourse, Sekolah Foto Tcap Budhi Ipoeng, Satya Bodhi, Humanika, Inova, Fotolisis, Wastoe59, Lensa 135, Bandung Daily Photo.

KETERANGAN
Program ini bebas untuk umum dan tidak dikenakan biaya (Free).
Bagi sahabat yang ingin hadir mohon menuliskan nama, nomor handphone & asal institusi/kampus/klub di kolom “comments” pada posting ini.

Mari bergerak bersama kami…

INFO LANJUT
APC Institute
air photography communications
agensi, edukasi & manajemen fotografi
surapati core blok m32
jalan phh.mustofa 39 bandung
telepon 022-87242729 / 70160771
contact person: rani (022-92347207)
apc_institute@yahoo.com
facebook: apc institute & twitter: @apcinstitute
http://www.airfotonetwork.wordpress.com

December 9, 2011

Tulisan Singkat & Foto Liputan Program Photo Rendezvous Bersama Oscar Motuloh & Jay Subiyakto @ Cawan Photo Space – Kamis 8 Desember 2011

SEBUAH SIKAP DALAM VISUAL FOTO
Oleh Galih Sedayu

Photography Now. Tema ini diangkat menjadi isu utama dalam program rutin Photo Rendezvous #10 yang digagas oleh APC Institute (air photography communications), bertempat di Cawan Photo Space, Surapati Core blok M32 Bandung. Tamu pembicara program Photo Rendezvous kali ini yaitu Oscar Motuloh dan Jay Subyakto yang dimoderatori oleh Galih Sedayu  selaku pengelola APC Institute. Oscar Motuloh merupakan seorang pewarta foto senior dan kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara di Jakarta. Sedangkan Jay Subyakto adalah seorang fotografer, penata artistik dan sutradara di berbagai  video musik, konser dan iklan.

Moderator Galih Sedayu membuka program diskusi ini dengan sebuah paparan singkat mengenai sejarah dan peran fotografi. Dari mulai fotografi ditemukan pada tahun 1839 oleh Louis Jacques Mande Daquerre, lalu kemunculan fotografi pertama kali di Indonesia yang dibawa oleh Jurrian Munich pada tahun 1841, kemudian pendokumentasian foto yang cukup lengkap tentang Indonesia oleh Walter Woodbury dan James Page tahun 1857, diakhiri dengan fotografer pribumi pertama di Indonesia yaitu Kassian Cephas yang diangkat menjadi fotografer keraton pada tahun 1870 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IV. Sehingga pada akhirnya muncul pertanyaan menyoal perubahan-perubahan apa saja yang signifikan mengenai perkembangan fotografi dari sisi karya foto yang dibuat oleh si pemotret, sejak era dahulu hingga masa kini.

Oscar Motuloh pun menjawab bahwasanya tidak ada yang berubah secara signifikan perihal karya fotografi yang diciptakan oleh fotografer sejak  jaman dulu dan sekarang, selama isu yang dihadirkan adalah content atau isi foto. Karena menurut Oscar, sejatinya media fotografi itu digunakan oleh seorang pemotret untuk menyampaikan opini atau komentar perihal apa yang dilihat oleh masing-masing pemotret. It’s about an art of seeing. Oleh karena itu karya foto yang memiliki muatan dan pesan sosial misalnya, tidak terlepas dari pengaruh ide, wawasan dan skill dari si pemotret. Oscar pun mengumpamakan sebenarnya ketika kita membaca, menulis atau memikirkan sebuah peristiwa tertentu, pada saat itulah muncul sebuah gambar yang terlintas di dalam imajinasi kita sendiri. Karenanya Oscar berpendapat bahwa pada jaman sekarang, sangatlah penting kekuatan sebuah ide dalam menghasilkan karya foto karena ia menjadi landasan utama dalam proses kreatif fotografi yang pada akhirnya menciptakan subyektifitas pada obyek yang direkam. Setelah itu Oscar menyajikan secara visual sebuah iklan FIAT berdurasi kurang lebih 1,5 menit untuk memberikan pemahaman bahwasanya saat ini gambar dan audio dapat menjadi satu kesatuan yang utuh di dalam memaknai sebuah tujuan penyampaian visual. Kemudian Oscar menutup pemaparannya dengan sebuah slide show karya foto hitam putih yang dibuatnya mengenai bencana lumpur lapindo di Sidoarjo. Dimana aransemen musik yang menjadi back sound karya fotonya diciptakan oleh komposer Toni Prabowo dan diisi oleh suara vocal dari Nya Ina Raseuki atau Ubiet. Bila kita lihat, Slide Show yang diberi judul Atlantis Van Java ini bagaikan sebuah eufemisme visual yang menyindir pemerintah dalam menangani bencana lumpur lapindo.

Akhirnya tiba giliran Jay Subyakto yang memaparkan materinya. Slide pertama yang diperlihatkan adalah sebuah tulisan dari salah satu brosur hotel yang dilihatnya, berbunyi “Why not think things that have never been thought before”. Tulisan inilah yang menginspirasi seorang Jay untuk menciptakan karya-karya visual baik itu foto dan video, yang berbeda dari yang lainnya. Ia mengutarakan bahwa mengapa kita harus membuat sebuah karya yang sama dengan orang lain, kenapa kita tidak berani membuat sesuatu yang berbeda atau melawan pakem-pakem yang ada. Ia pun memberikan contoh beberapa karya fotonya yang disajikan Out of Focus, yang mungkin bagi sebagian orang menentang foto hasil bidikannya dan berpendapat bahwa foto tidak fokus itu adalah foto yang gagal. Lalu Jay bercerita pada umumnya banyak perusahaan di Indonesia yang menggunakan jasa sutradara iklan dengan mengimpor mereka dari luar negeri. Sehingga kadang lokasi syutingnya pun dilakukan di luar Indonesia. Padahal menurut jay, semua tim yang diperlukan untuk menggarap iklan itu sudah tersedia dan ada di Indonesia. Dari mulai sutradara, director of photography (dop), hingga digital imaging artist. Untuk itulah Jay selalu memberikan persyaratan kepada semua klien yang ingin menggunakan jasa profesionalnya, agar semua tim kerjanya wajib menggunakan tenaga ahli dari Indonesia dan lokasi syutingnya pun wajib di Indonesia. Prinsip itulah yang dipegang teguh oleh Jay hingga kini karena ia ingin memberikan pemahaman bahwa sudah sepatutnya lah kita harus bangga terhadap Negara Indonesia, terhadap apa yang bangsa kita miliki sekarang.

Ada beberapa karya visualnya dalam bentuk iklan yang dipresentasikan pada program Photo Rendezvous ini. Diantaranya iklan salah seorang pengusaha tenun, iklan produk citra dan iklan produk rokok Gudang Garam. Banyak hal menarik yang disampaikan olehnya ketika menggarap iklan-iklan tersebut. Seperti pada saat Jay diminta untuk menggarap iklan produk kecantikan citra. Saat itu ia memberikan persyaratan kepada kliennya bahwa ia tidak mau mengambil gambar adegan wanita yang sedang lulur ataupun menampilkan kulit seorang wanita yang tadinya hitam lalu tiba-tiba berubah menjadi putih setelah menggunakan produk citra tersebut. Jay ingin membuat sebuah konsep baru bahwa ia ingin menampilkan sisi lain dari seorang wanita yaitu kekuatannya sehingga menjadi identik dengan produk kecantikan tersebut. Setelah iklan itu ditayangkan, ternyata Jay tidak pernah mendapatkan pekerjaan itu lagi. Meski begitu ia cuek karena baginya sangat penting untuk menjadi berbeda dan membuat karya-karya yang baru. Lalu ketika Jay membuat iklan visual Gudang Garam, ia pun memilih lokasi syuting di Lapindo dengan menggunakan ratusan tentara sebagai pemainnya, sembari (sebenarnya) menyindir soal bencana lumpur tersebut. Alhasil iklan tersebut hanya dapat tayang sepekan di TV karena langsung mendapat kecaman dan teguran dari Bakrie Group. Sebegitunya. Tapi walaubagaimanapun, misi seorang Jay pada saat itu telah berhasil karena ratusan juta masyarakat Indonesia sempat melihat tayangan visual tersebut. Bila kita lihat, garapan visual apik yang dibuat oleh seorang Jay merupakan cuplikan-cuplikan fotografis yang sangat kental. Dia mencoba untuk menjahit pesan, harapan dan provokasi yang menggelora dalam dirinya sehingga menjadi sebuah kain yang utuh dalam bentukan visual yang diciptakannya. Bila kita bertanya kepada Jay, apa yang menjadi relevansi antara karya-karyanya dengan isu Photography Now? Mungkin baginya adalah sebuah cara lain, cara pandang dan cara pemahaman baru dalam menyikapi sebuah isu yang ditiupkan bersama dengan sebuah prinsip yang menjunjung tinggi kebenaran serta nilai-nilai yang mulia bagi masyarakat kita. Tentunya kita semua harus memiliki sikap optimis bahwa fotografi mampu untuk itu.

(c) APC Institute – 2011