Foto Liputan Kegiatan Art Deco Building & Model Photo Contest at Grand Royal Panghegar (Sabtu 1 Oktober 2011)
Artikel Singkat & Liputan Foto Program Bandung A Day @ Tugu Titik Nol Kilometer Bandung (25 September 2011)
25 September 2011. Ratusan warga yang kebanyakan berasal dari kalangan anak-anak muda Kota Bandung, sejak pukul 07.00 wib sudah berkumpul di Tugu Titik Nol Kilometer, Jalan Asia Afrika Bandung. Mereka hadir untuk berkolaborasi pada program “Bandung A Day” demi menyambut hari jadi Kota Bandung yang ke 201 tahun. Bandung A Day adalah sebuah proyek pemotretan yang menceritakan berbagai kehidupan yang terjadi di Kota Bandung selama 24 jam. Isu yang disampaikan melalui visual foto tersebut dapat bercerita mengenai kehidupan pribadi, keluarga, sahabat, komunitas, masyarakat, maupun aktivitas kota yang terjadi selama 1 hari. Program ini digagas oleh APC Institute dengan mengundang seluruh masyarakat umum untuk dapat berkolaborasi dan kemudian mempersembahkan hasil fotonya bagi Kota Bandung. Dengan harapan agar kita semua dapat melihat dengan jelas bagaimana Warga Bandung secara jujur melihat tempat tinggal & kota yang dihuninya beserta nilai-nilai yang telah ditanamkan.
Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, ratusan anak-anak muda kota bandung tersebut terlihat semangat mengumandangkan lagu kebangsaan tersebut. Setelah itu pemaparan program Bandung A Day disampaikan oleh Galih Sedayu dari APC Institute. Dilanjutkan dengan paparan singkat dan dukungan terhadap program ini dari Riadi Rahardja selaku pimpinan Inova Photography School & Bidik Photography for Kids. Beliau menyebutkan sehari sebelumnya sekitar 50 orang anak yang berusia 8 s/d 15 tahun mendahului program ini dengan memotret bersama keliling bandung. Setelah itu doa untuk Kota Bandung pun dilavalkan dalam suasana hening dengan harapan agar bandung selalu dicintai warganya. Program ini akhirnya ditutup dengan lagu Halo Halo Bandung yang dinyanyikan dengan sangat lantang oleh para anak muda Kota Bandung.
Rencananya pada tanggal 3 Oktober 2011 pukul 07.00 wib, hasil karya foto bidikan para warga bandung tersebut akan dipresentasikan di Simpul Space, markas Bandung Creative City Forum (BCCF). Lalu selanjutnya, foto-foto terbaik akan diterbitkan ke dalam sebuah jurnal fotografi bersama yang dapat dilihat oleh semua warga bandung sebagai wujud dan niatan baik demi Kota yang mereka cintai tentunya.
Dirgahayu Kota Bandung yang ke-201 Tahun. -gals-
(c) apc institute
Karya Foto Terpilih & Nominasi Program Bandung Kadeudeuh #5
Karya Foto Terpilih Program Bandung Kadeudeuh #5
Bandung, ya macet (c) Myke Jeanneta
Ruas jalan yang pendek2 dengan banyak persimpangan lampu merah, dan panjang jalan yang tidak pernah bertambah panjang juga ditambah makin banyaknya kendaraan roda dua dan roda empat di jalan menambah kemacetan di kota Bandung. Jangan ditanya di waktu akhir pekan, Bandung sebagai salah satu tujuan wisata belanja dan kuliner makin padat dengan wisatawan yang membawa kendaraan pribadinya ke Bandung, sehingga banyak warga kota yang enggan keluar rumah di akhir pekan bila tidak penting sekali, khawatir terjebak kemacetan. Belum ada upaya pemerintah kota Bandung baik di tingkat kotamadya ataupun provinsi yang berarti untuk mengatasi kemacetan.
Karya Foto Nominasi Program Bandung Kadeudeuh #5
Perikasa Kesehatan Gratis (c) Sudarmanto Edris
Komunitas Bandung Sehat (KOMBAT) bersama PMI Medical Center melakukan pemeriksaan kesehatan gratis pagi pengunjung kawasan car free day Dago. saat biaya kesehatan makin tak terjangkau, mungkin kegiatan ini bisa menjadi angin segar bagi masyarakat bandung untuk sekadar memeriksakan kondisi kesehatan tanpa perlu mengeluarkan biaya.
Karya Foto Nominasi Program Bandung Kadeudeuh #5
Nuff (Enough Said) (c) Edward Nugroho
Karya Foto Nominasi Program Bandung Kadeudeuh #5
Sawah Terakhir (c) Zulsam Kifli
Pembangunan kadang menggilas apapun yang diinginkannya, termasuk sawah yang berada di tengah Kota Bandung, di perempatan Jalan Buah Batu – Jalan Soekarno Hatta ini. Tak ada lagi kehijauan, tak ada lagi cericit burung, tak ada lagi kerbau menggarap sawah. Kelak anak-anak Kota Bandung hanya mengenal sawah dari buku dan foto saja. Deudeuh teuing Bandung….
Karya Foto Nominasi Program Bandung Kadeudeuh #5
Ngajejer (c) Edi Sujana
Keinginan punya rumah/tempat singgah bernuansa dan hawa pegunungan/bukit bisa dibeli dengan sejumlah rupiah, kapan saja dan dimana saja… jelas sekali daerah perbukitan sekarang sdh menjadi lahan/ladang bagi para pengembang untuk memanjakan keinginan tsb. kita tdk tahu sebuah bukit yg ada dimuka bumi ini (BANDUNG) punya siapa dan milik siapa, yang jelas siapa saja yg mau membangun sesuatu/wahana di daerah lahan bukit bisa dibeli kepada “siapa” (ada uang ada lahan).
Hawa bandung memang surganya bagi siapa-siapa yang suka dimanjakan oleh nuansa dan hawa. Bandung kini bukan bandung doeloe lagi, dimana2 banyak NGAJEJER bangunan/wahana tanpa peduli thd lingkungan,pepohonan,bahkan pura2 tdk tahu kalau ditempat tsb adalah salah satu daerah resapan air. hhhmmmmm
Liputan Foto Program Photo Rendezvous #5 bersama Wiwit Setyoko @ Saung Angklung Udjo (18 Agustus 2011)
Liputan Foto Program Sapunyere {Ngariung Foto, Sauyunan & Buka Puasa Bareng} @ Saung Angklung Udjo (18 Agustus 2011)
Artikel Singkat & Liputan Foto Program Photo Rendezvous #7 oleh Ridwan Kamil di Festival Thanks to Nature (Cibubur, Sabtu 16 Juli 2011)
Tulisan oleh Bellanissa B. Zoditama
Foto oleh Ruli Suryono
APC Institute turut mengisi acara Festival Thanks to Nature yang diadakan oleh Teh Kotak pada hari sabtu tanggal 16 Juli 2011 di Caldera Camp, Kampung Maen, Bumi Perkemahan Cibubur dengan program yang bernama Photo Rendezvous. Photo Rendezvous #7 kali ini mengundang Ridwan Kamil sebagai pembicara. Ridwan Kamil adalah seorang arsitek, pehobi foto, pendiri Urbane Indonesia dan juga pelopor dari program Indonesia Berkebun. Pria kelahiran kota bandung pada tanggal 4 Oktober 1971 ini telah menjadi salah satu arsitek yang popular & inspiratif di kalangan industri rancang bangun di Indonesia. Sejak tahun 2003, ia telah menghasilkan beberapa karya arsitektur di berbagai negara di antaranya Singapura, Thailand dan Cina.
Dalam kesempatan kali ini, beliau memaparkan foto-foto arsitektur yang memiliki tema tentang keselarasan antara ruang huni dengan alam. Foto-foto tersebut menampilkan tentang berbagai macam bangunan indah baik di dalam ataupun di luar negeri, yang dapat mempengaruhi psikologi bagi manusia yang melihatnya. Menurutnya, manusia modern saat ini banyak terjangkit fenomena “urban stress” dimana mereka kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar karena terlalu lama menghabiskan waktu di dalam ruangan. Untuk itu diperlukan yang namanya ruang publik dengan area hijau yang ditanami pepohonan sehingga kita akan mendapatkan kesegaran baru yang membuat nyaman dan tenang. Ridwan kamil telah menjelajah sekitar 100 kota di seluruh dunia. Ia melihat bahwa di kota-kota dunia seperti london, pemerintahnya cukup peduli untuk membangun ruang publik yang dapat dinikmati oleh setiap warganya ketimbang membangun jalan tol.
Ridwan Kamil pun turut mempelopori Indonesia Berkebun yang telah berkembang di beberapa kota besar di Indonesia, salah satunya adalah Bandung. Konsepnya adalah dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong dan memberikan bibit kepada para partisipan untuk menanam berbagai macam tanaman yang dapat dimanfaatkan seperti sayur-sayuran dan lain sebagainya. Ia menyebutkan di jepang, hampir semua roof top bangunan seperti hotel ditanami berbagai macam tumbuhan hijau sehingga lebih menyerupai hutan ketimbang ruang kota. Diharapkan melalui foto-foto yang dipresentasikan, dapat membangun kesadaran masyarakat untuk ikut serta dalam pelestarian lingkungan dan mulai mencari cara untuk menghijaukan ruang-ruang public yang tidak terpakai. Karena menurut Ridwan Kamil, salah satu ciri kota yang sehat yaitu apabila anak-anak atau orang tua tidak merasa takut bila keluar rumah. Mereka akan merasa nyaman apabila banyak ruang hijau kota yang dapat dijadikan tempat untuk bermain.
Artikel Singkat & Liputan Foto Program Narsis & Aksi Komunitas Foto (Nasakom) #2 oleh KLJI Bandung (Cibubur 16 Juli 2011)
Tulisan oleh Bellanissa B. Zoditama
Foto oleh Ruli Suryono
Pada hari Sabtu tanggal 16 Juli 2011 bertempat di Caldera Camp, Kampung Maen, Bumi Perkemahan Cibubur, Teh Kotak mengadakan sebuah event Festival “Thanks To Nature”. Selain bertujuan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap lingkungan, Thanks to Nature juga merupakan event untuk membagi semangat bersyukur, sekaligus menjadi weekend getaway dengan melepas kerinduan akan alam. Spiritnya adalah ekspresi rasa syukur, aksi, motivasi, dan sikap yang positif terhadap alam. Program ini memiliki beberapa stage dengan mengambil nama dari alam, yaitu Stage Api, Stage Langit, Stage Air, Stage Bumi, Stage Angin, dan Stage Sinema Alam yang kesemuanya memiliki kegiatan yang berbeda & unik.
APC Institute bekerja sama dengan Komunitas Lubang Jarum Bandung (KLJ) ikut ambil bagian dalam acara tersebut. Pada event Thanks to Nature ini, KLJ Bandung menjadi tamu kehormatan untuk mengisi program Narsis & Aksi Komunitas Foto atau Nasakom yang kedua kalinya. Dimana program yang pertama sempat menghadirkan Komunitas Lensa Manual atau Kolam Bandung.Komunitas Lubang Jarum adalah sebuah kumpulan para pecinta proses rekam fotografi purba yang menggunakan berbagai media unik seperti kaleng atau kardus/kotak. Meski dalam perkembangannya komunitas ini telah bercabang menjadi berbagai kelompok, namun dasar dan prinsip yang dipakai tetap sama. Komunitas Lubang Jarum sendiri telah tersebar di 17 kota yang ada di Indonesia dan sangat aktif mengadakan kegiatan seperti pameran, hunting foto, workshop, dan lain sebagainya.
Pada acara Thanks to Nature ini, Deni Sugandi sebagai Ketua KLJI Bandung memberikan sebuah presentasi tentang proses merekam dengan kamera lubang jarum yang diliput secara langsung oleh Stasiun Metro TV. Para pengunjung juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi secara langsung menyaksikan pembuatan kamera lubang jarum yang menggunakan kotak kemasan/kardus Teh Kotak yang sudah kosong. Terlihat sekali antusiasme pengunjung untuk mencoba menggunakan kamera lubang jarum ini. Hal ini dapat terlihat dengan banyaknya pengunjung yang mengunjungi stan KLJI Bandung. Mereka bertanya-tanya tentang komunitas ini dan juga ikut terjun langsung dalam pengambilan objek foto dengan menggunakan kamar gelap yang disediakan oleh KLJI Bandung. Menurut Deni, diharapkan setelah mengikuti acara ini, pengunjung dapat turut mengapresiasi seni rekam fotografi sebagai bagian dari gaya hidup, sekaligus mengolah rasa, merekam dunia melalui lubang kecil yaitu kamera lubang jarum.
Artikel Singkat & Foto Liputan Program Ngopi #1 bersama Rama Surya @ Cawan Photo Space (3 Juli 2011)
Tulisan oleh Bellanissa B. Zoditama
Foto oleh Ivan Fachrurezha
Pada hari minggu tanggal 3 juli 2011, APC Institute mengadakan sebuah program baru yang bernama NGOPI atau Ngobrol Santai dan Tukar Pikiran Soal Fotografi. Dimana pada program yang baru pertama kali dihadirkan ini, APC Institute berkesempatan mengundang Rama Surya, yaitu salah seorang Fotografer Kenamaan Indonesia yang telah mempublikasikan sebuah buku foto esai dengan judul “Yang Kuat Yang Kalah”. Rama Surya pun pernah memiliki kesempatan langka yaitu menjadi asisten fotografer dunia asal brasil, Sebastiao Salgado ketika ia berkunjung ke Indonesia.
Bertempat di Cawan Photo Space, acara yang berlangsung selama 2 jam ini memperlihatkan tentang foto-foto hasil perjalanan seorang Rama Surya ke negeri tirai bambu, Cina. Proses merekam Negara China ini dilakukan olehnya sejak tahun 2006 hingga sekarang dalam visual hitam-putih yang merupakan ciri khas karya seorang Rama Surya. Foto-foto itu nantinya akan dibuat menjadi sebuah buku fotografi yang dapat dilihat oleh masyarakat di seluruh dunia. Presentasi foto yang dipaparkan oleh Rama Surya pada program Ngopi #1 berjudul China: A Journey. Foto-foto tersebut memperlihatkan tentang potret kehidupan di sudut-sudut kota China dan provinsi-provinsi yang membagi wilayah China dalam pandangan seorang Rama Surya.
Pada saat program ini berlangsung, Rama Surya meminta para peserta program untuk melihat sebuah buku yang berjudul ‘China 50 years inside the peoples Republic: Essay by Rae Yang’ untuk dijadikan bahan perbandingan & diskusi. Rama Surya pun sempat mengatakan bahwa sebelum ia melakukan perjalanan, ia banyak membaca buku & literatur tentang China dan berpesan betapa pentingnya melihat situasi tempat yang akan dikunjungi agar kemudian kita bisa fokus untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Menurut Rama Surya, setiap fotografer mempunyai ideologi masing-masing dan harus siap dengan segala sesuatu yang baru. Karena setiap momen yang muncul tidak dapat diulang dan serba tidak pasti. Oleh karena itu dalam setiap perjalanannya, Rama Surya selalu siap membawa perlengkapan fotografi berikut aksesorisnya yang ia simpan ke dalam sebuah tas. Itulah yang membuat Rama Surya begitu total dalam menjalankan profesinya sebagai seorang fotografer. Ia berprinsip bahwa setiap hari kita musti mengasah mata kita dan merekam dengan cepat kejadian-kejadian yang tidak pernah sama.



















































































