Archive for ‘articles’

December 9, 2011

Tulisan Singkat & Foto Liputan Program Photo Rendezvous Bersama Oscar Motuloh & Jay Subiyakto @ Cawan Photo Space – Kamis 8 Desember 2011

SEBUAH SIKAP DALAM VISUAL FOTO
Oleh Galih Sedayu

Photography Now. Tema ini diangkat menjadi isu utama dalam program rutin Photo Rendezvous #10 yang digagas oleh APC Institute (air photography communications), bertempat di Cawan Photo Space, Surapati Core blok M32 Bandung. Tamu pembicara program Photo Rendezvous kali ini yaitu Oscar Motuloh dan Jay Subyakto yang dimoderatori oleh Galih Sedayu  selaku pengelola APC Institute. Oscar Motuloh merupakan seorang pewarta foto senior dan kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara di Jakarta. Sedangkan Jay Subyakto adalah seorang fotografer, penata artistik dan sutradara di berbagai  video musik, konser dan iklan.

Moderator Galih Sedayu membuka program diskusi ini dengan sebuah paparan singkat mengenai sejarah dan peran fotografi. Dari mulai fotografi ditemukan pada tahun 1839 oleh Louis Jacques Mande Daquerre, lalu kemunculan fotografi pertama kali di Indonesia yang dibawa oleh Jurrian Munich pada tahun 1841, kemudian pendokumentasian foto yang cukup lengkap tentang Indonesia oleh Walter Woodbury dan James Page tahun 1857, diakhiri dengan fotografer pribumi pertama di Indonesia yaitu Kassian Cephas yang diangkat menjadi fotografer keraton pada tahun 1870 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IV. Sehingga pada akhirnya muncul pertanyaan menyoal perubahan-perubahan apa saja yang signifikan mengenai perkembangan fotografi dari sisi karya foto yang dibuat oleh si pemotret, sejak era dahulu hingga masa kini.

Oscar Motuloh pun menjawab bahwasanya tidak ada yang berubah secara signifikan perihal karya fotografi yang diciptakan oleh fotografer sejak  jaman dulu dan sekarang, selama isu yang dihadirkan adalah content atau isi foto. Karena menurut Oscar, sejatinya media fotografi itu digunakan oleh seorang pemotret untuk menyampaikan opini atau komentar perihal apa yang dilihat oleh masing-masing pemotret. It’s about an art of seeing. Oleh karena itu karya foto yang memiliki muatan dan pesan sosial misalnya, tidak terlepas dari pengaruh ide, wawasan dan skill dari si pemotret. Oscar pun mengumpamakan sebenarnya ketika kita membaca, menulis atau memikirkan sebuah peristiwa tertentu, pada saat itulah muncul sebuah gambar yang terlintas di dalam imajinasi kita sendiri. Karenanya Oscar berpendapat bahwa pada jaman sekarang, sangatlah penting kekuatan sebuah ide dalam menghasilkan karya foto karena ia menjadi landasan utama dalam proses kreatif fotografi yang pada akhirnya menciptakan subyektifitas pada obyek yang direkam. Setelah itu Oscar menyajikan secara visual sebuah iklan FIAT berdurasi kurang lebih 1,5 menit untuk memberikan pemahaman bahwasanya saat ini gambar dan audio dapat menjadi satu kesatuan yang utuh di dalam memaknai sebuah tujuan penyampaian visual. Kemudian Oscar menutup pemaparannya dengan sebuah slide show karya foto hitam putih yang dibuatnya mengenai bencana lumpur lapindo di Sidoarjo. Dimana aransemen musik yang menjadi back sound karya fotonya diciptakan oleh komposer Toni Prabowo dan diisi oleh suara vocal dari Nya Ina Raseuki atau Ubiet. Bila kita lihat, Slide Show yang diberi judul Atlantis Van Java ini bagaikan sebuah eufemisme visual yang menyindir pemerintah dalam menangani bencana lumpur lapindo.

Akhirnya tiba giliran Jay Subyakto yang memaparkan materinya. Slide pertama yang diperlihatkan adalah sebuah tulisan dari salah satu brosur hotel yang dilihatnya, berbunyi “Why not think things that have never been thought before”. Tulisan inilah yang menginspirasi seorang Jay untuk menciptakan karya-karya visual baik itu foto dan video, yang berbeda dari yang lainnya. Ia mengutarakan bahwa mengapa kita harus membuat sebuah karya yang sama dengan orang lain, kenapa kita tidak berani membuat sesuatu yang berbeda atau melawan pakem-pakem yang ada. Ia pun memberikan contoh beberapa karya fotonya yang disajikan Out of Focus, yang mungkin bagi sebagian orang menentang foto hasil bidikannya dan berpendapat bahwa foto tidak fokus itu adalah foto yang gagal. Lalu Jay bercerita pada umumnya banyak perusahaan di Indonesia yang menggunakan jasa sutradara iklan dengan mengimpor mereka dari luar negeri. Sehingga kadang lokasi syutingnya pun dilakukan di luar Indonesia. Padahal menurut jay, semua tim yang diperlukan untuk menggarap iklan itu sudah tersedia dan ada di Indonesia. Dari mulai sutradara, director of photography (dop), hingga digital imaging artist. Untuk itulah Jay selalu memberikan persyaratan kepada semua klien yang ingin menggunakan jasa profesionalnya, agar semua tim kerjanya wajib menggunakan tenaga ahli dari Indonesia dan lokasi syutingnya pun wajib di Indonesia. Prinsip itulah yang dipegang teguh oleh Jay hingga kini karena ia ingin memberikan pemahaman bahwa sudah sepatutnya lah kita harus bangga terhadap Negara Indonesia, terhadap apa yang bangsa kita miliki sekarang.

Ada beberapa karya visualnya dalam bentuk iklan yang dipresentasikan pada program Photo Rendezvous ini. Diantaranya iklan salah seorang pengusaha tenun, iklan produk citra dan iklan produk rokok Gudang Garam. Banyak hal menarik yang disampaikan olehnya ketika menggarap iklan-iklan tersebut. Seperti pada saat Jay diminta untuk menggarap iklan produk kecantikan citra. Saat itu ia memberikan persyaratan kepada kliennya bahwa ia tidak mau mengambil gambar adegan wanita yang sedang lulur ataupun menampilkan kulit seorang wanita yang tadinya hitam lalu tiba-tiba berubah menjadi putih setelah menggunakan produk citra tersebut. Jay ingin membuat sebuah konsep baru bahwa ia ingin menampilkan sisi lain dari seorang wanita yaitu kekuatannya sehingga menjadi identik dengan produk kecantikan tersebut. Setelah iklan itu ditayangkan, ternyata Jay tidak pernah mendapatkan pekerjaan itu lagi. Meski begitu ia cuek karena baginya sangat penting untuk menjadi berbeda dan membuat karya-karya yang baru. Lalu ketika Jay membuat iklan visual Gudang Garam, ia pun memilih lokasi syuting di Lapindo dengan menggunakan ratusan tentara sebagai pemainnya, sembari (sebenarnya) menyindir soal bencana lumpur tersebut. Alhasil iklan tersebut hanya dapat tayang sepekan di TV karena langsung mendapat kecaman dan teguran dari Bakrie Group. Sebegitunya. Tapi walaubagaimanapun, misi seorang Jay pada saat itu telah berhasil karena ratusan juta masyarakat Indonesia sempat melihat tayangan visual tersebut. Bila kita lihat, garapan visual apik yang dibuat oleh seorang Jay merupakan cuplikan-cuplikan fotografis yang sangat kental. Dia mencoba untuk menjahit pesan, harapan dan provokasi yang menggelora dalam dirinya sehingga menjadi sebuah kain yang utuh dalam bentukan visual yang diciptakannya. Bila kita bertanya kepada Jay, apa yang menjadi relevansi antara karya-karyanya dengan isu Photography Now? Mungkin baginya adalah sebuah cara lain, cara pandang dan cara pemahaman baru dalam menyikapi sebuah isu yang ditiupkan bersama dengan sebuah prinsip yang menjunjung tinggi kebenaran serta nilai-nilai yang mulia bagi masyarakat kita. Tentunya kita semua harus memiliki sikap optimis bahwa fotografi mampu untuk itu.

(c) APC Institute – 2011

September 25, 2011

Artikel Singkat & Liputan Foto Program Bandung A Day @ Tugu Titik Nol Kilometer Bandung (25 September 2011)

25 September 2011. Ratusan warga yang kebanyakan berasal dari kalangan anak-anak muda Kota Bandung, sejak pukul 07.00 wib sudah berkumpul di Tugu Titik Nol Kilometer, Jalan Asia Afrika Bandung. Mereka hadir untuk berkolaborasi pada program “Bandung A Day” demi menyambut hari jadi Kota Bandung yang ke 201 tahun. Bandung A Day adalah sebuah proyek pemotretan yang menceritakan berbagai kehidupan yang terjadi di Kota Bandung selama 24 jam. Isu yang disampaikan melalui visual foto tersebut dapat bercerita mengenai kehidupan pribadi, keluarga, sahabat, komunitas, masyarakat, maupun aktivitas kota yang terjadi selama 1 hari. Program ini digagas oleh APC Institute dengan mengundang seluruh masyarakat umum untuk dapat berkolaborasi dan kemudian mempersembahkan hasil fotonya bagi Kota Bandung. Dengan harapan agar kita semua dapat melihat dengan jelas bagaimana Warga Bandung secara jujur melihat tempat tinggal & kota yang dihuninya beserta nilai-nilai yang telah ditanamkan.

Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, ratusan anak-anak muda kota bandung tersebut terlihat semangat mengumandangkan lagu kebangsaan tersebut. Setelah itu pemaparan program Bandung A Day disampaikan oleh Galih Sedayu dari APC Institute. Dilanjutkan dengan paparan singkat dan dukungan terhadap program ini dari Riadi Rahardja selaku pimpinan Inova Photography School & Bidik Photography for Kids. Beliau menyebutkan sehari sebelumnya sekitar 50 orang anak yang berusia 8 s/d 15 tahun mendahului program ini dengan memotret bersama keliling bandung. Setelah itu doa untuk Kota Bandung pun dilavalkan dalam suasana hening dengan harapan agar bandung selalu dicintai warganya. Program ini akhirnya ditutup dengan lagu Halo Halo Bandung yang dinyanyikan dengan sangat lantang oleh para anak muda Kota Bandung.

Rencananya pada tanggal 3 Oktober 2011 pukul 07.00 wib, hasil karya foto bidikan para warga bandung tersebut akan dipresentasikan di Simpul Space, markas Bandung Creative City Forum (BCCF). Lalu selanjutnya, foto-foto terbaik akan diterbitkan ke dalam sebuah jurnal fotografi bersama yang dapat dilihat oleh semua warga bandung sebagai wujud dan niatan baik demi Kota yang mereka cintai tentunya.

Dirgahayu Kota Bandung yang ke-201 Tahun. -gals-

(c) apc institute

July 21, 2011

Artikel Singkat & Liputan Foto Program Photo Rendezvous #7 oleh Ridwan Kamil di Festival Thanks to Nature (Cibubur, Sabtu 16 Juli 2011)

Tulisan oleh Bellanissa B. Zoditama
Foto oleh Ruli Suryono

APC Institute turut mengisi acara Festival Thanks to Nature yang diadakan oleh Teh Kotak pada hari sabtu tanggal 16 Juli 2011 di Caldera Camp, Kampung Maen, Bumi Perkemahan Cibubur dengan program yang bernama Photo Rendezvous. Photo Rendezvous #7 kali ini mengundang Ridwan Kamil sebagai pembicara. Ridwan Kamil adalah seorang arsitek, pehobi foto, pendiri Urbane Indonesia dan juga pelopor dari program Indonesia Berkebun. Pria kelahiran kota bandung pada tanggal 4 Oktober 1971 ini telah menjadi salah satu arsitek yang popular & inspiratif  di kalangan industri rancang bangun di Indonesia. Sejak tahun 2003, ia telah menghasilkan beberapa karya arsitektur di berbagai negara di antaranya Singapura, Thailand dan Cina.

Dalam kesempatan kali ini, beliau memaparkan foto-foto arsitektur yang memiliki tema tentang keselarasan antara ruang huni dengan alam. Foto-foto tersebut menampilkan tentang berbagai macam bangunan indah baik di dalam ataupun di luar negeri, yang dapat mempengaruhi psikologi bagi manusia yang melihatnya. Menurutnya, manusia modern saat ini banyak terjangkit fenomena “urban stress” dimana mereka kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar karena terlalu lama menghabiskan waktu di dalam ruangan. Untuk itu diperlukan yang namanya ruang publik dengan area hijau yang ditanami pepohonan sehingga kita akan mendapatkan kesegaran baru yang membuat nyaman dan tenang. Ridwan kamil telah menjelajah sekitar 100 kota di seluruh dunia. Ia melihat bahwa di kota-kota dunia seperti london, pemerintahnya cukup peduli untuk membangun ruang publik yang dapat dinikmati oleh setiap warganya ketimbang membangun jalan tol.

Ridwan Kamil pun turut mempelopori Indonesia Berkebun yang telah berkembang di beberapa kota besar di Indonesia, salah satunya adalah Bandung. Konsepnya adalah dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong dan memberikan bibit kepada para partisipan untuk menanam berbagai macam tanaman yang dapat dimanfaatkan seperti sayur-sayuran dan lain sebagainya. Ia menyebutkan di jepang, hampir semua roof top bangunan seperti hotel  ditanami berbagai macam tumbuhan hijau sehingga lebih menyerupai hutan ketimbang ruang kota. Diharapkan melalui foto-foto yang dipresentasikan, dapat membangun kesadaran masyarakat untuk ikut serta dalam pelestarian lingkungan dan mulai mencari cara untuk menghijaukan ruang-ruang public yang tidak terpakai. Karena menurut Ridwan Kamil, salah satu ciri kota yang sehat yaitu apabila anak-anak atau orang tua tidak merasa takut bila keluar rumah. Mereka akan merasa nyaman apabila banyak ruang hijau kota yang dapat dijadikan tempat untuk bermain.

July 19, 2011

Artikel Singkat & Liputan Foto Program Narsis & Aksi Komunitas Foto (Nasakom) #2 oleh KLJI Bandung (Cibubur 16 Juli 2011)

Tulisan oleh Bellanissa B. Zoditama
Foto oleh Ruli Suryono

Pada hari Sabtu tanggal 16 Juli 2011 bertempat di Caldera Camp, Kampung Maen, Bumi Perkemahan Cibubur, Teh Kotak mengadakan sebuah event Festival “Thanks To Nature”. Selain bertujuan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap lingkungan, Thanks to Nature juga merupakan event untuk membagi semangat bersyukur, sekaligus menjadi weekend getaway dengan melepas kerinduan akan alam. Spiritnya adalah ekspresi rasa syukur, aksi, motivasi, dan sikap yang positif terhadap alam. Program ini memiliki beberapa stage dengan mengambil nama dari alam, yaitu Stage Api, Stage Langit, Stage Air, Stage Bumi, Stage Angin, dan Stage Sinema Alam yang kesemuanya memiliki kegiatan yang berbeda & unik.

APC Institute bekerja sama dengan Komunitas Lubang Jarum Bandung (KLJ) ikut ambil bagian dalam acara tersebut. Pada event Thanks to Nature ini, KLJ Bandung menjadi tamu kehormatan untuk mengisi program Narsis & Aksi Komunitas Foto atau Nasakom yang kedua kalinya. Dimana program yang pertama sempat menghadirkan Komunitas Lensa Manual atau Kolam Bandung.Komunitas Lubang Jarum adalah sebuah kumpulan para pecinta proses rekam fotografi purba yang menggunakan berbagai media unik seperti kaleng atau kardus/kotak. Meski dalam perkembangannya komunitas ini telah bercabang menjadi berbagai kelompok, namun dasar dan prinsip yang dipakai tetap sama. Komunitas Lubang Jarum sendiri telah tersebar di 17 kota yang ada di Indonesia dan sangat aktif mengadakan kegiatan seperti pameran, hunting foto, workshop, dan lain sebagainya.

Pada acara Thanks to Nature ini, Deni Sugandi sebagai Ketua KLJI Bandung memberikan sebuah presentasi tentang proses merekam dengan kamera lubang jarum yang diliput secara langsung oleh Stasiun Metro TV. Para pengunjung juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi secara langsung menyaksikan pembuatan kamera lubang jarum yang menggunakan kotak kemasan/kardus Teh Kotak yang sudah kosong. Terlihat sekali antusiasme pengunjung untuk mencoba menggunakan kamera lubang jarum ini. Hal ini dapat terlihat dengan banyaknya pengunjung yang mengunjungi stan KLJI Bandung. Mereka bertanya-tanya tentang komunitas ini dan juga ikut terjun langsung dalam pengambilan objek foto dengan menggunakan kamar gelap yang disediakan oleh KLJI Bandung. Menurut Deni, diharapkan setelah mengikuti acara ini, pengunjung dapat turut mengapresiasi seni rekam fotografi sebagai bagian dari gaya hidup, sekaligus mengolah rasa, merekam dunia melalui lubang kecil yaitu kamera lubang jarum.

July 5, 2011

Artikel Singkat & Foto Liputan Program Ngopi #1 bersama Rama Surya @ Cawan Photo Space (3 Juli 2011)

Tulisan oleh Bellanissa B. Zoditama
Foto oleh Ivan Fachrurezha

Pada hari minggu tanggal 3 juli 2011, APC Institute mengadakan sebuah program baru yang bernama NGOPI atau Ngobrol Santai dan Tukar Pikiran Soal Fotografi. Dimana pada program yang baru pertama kali dihadirkan ini, APC Institute berkesempatan mengundang Rama Surya, yaitu salah seorang Fotografer Kenamaan Indonesia yang telah mempublikasikan sebuah buku foto esai dengan judul “Yang Kuat Yang Kalah”. Rama Surya pun pernah memiliki kesempatan langka yaitu menjadi asisten fotografer dunia asal brasil, Sebastiao Salgado ketika ia berkunjung ke Indonesia.

Bertempat di Cawan Photo Space, acara yang berlangsung selama 2 jam ini memperlihatkan tentang foto-foto hasil perjalanan seorang Rama Surya ke negeri tirai bambu, Cina. Proses merekam Negara China ini dilakukan olehnya sejak tahun 2006 hingga sekarang dalam visual hitam-putih yang merupakan ciri khas karya seorang Rama Surya. Foto-foto itu nantinya akan dibuat menjadi sebuah buku fotografi yang dapat dilihat oleh masyarakat di seluruh dunia. Presentasi foto yang dipaparkan oleh Rama Surya pada program Ngopi #1 berjudul China: A Journey. Foto-foto tersebut memperlihatkan tentang potret kehidupan di sudut-sudut kota China dan provinsi-provinsi yang membagi wilayah China dalam pandangan seorang Rama Surya.

Pada saat program ini berlangsung, Rama Surya meminta para peserta program untuk melihat sebuah buku yang berjudul ‘China 50 years inside the peoples Republic: Essay by Rae Yang’ untuk dijadikan bahan perbandingan & diskusi. Rama Surya pun sempat mengatakan bahwa sebelum ia melakukan perjalanan, ia banyak membaca buku & literatur tentang China dan berpesan betapa pentingnya melihat situasi tempat yang akan dikunjungi agar kemudian kita bisa fokus untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Menurut Rama Surya, setiap fotografer mempunyai ideologi masing-masing dan harus siap dengan segala sesuatu yang baru. Karena setiap momen yang muncul tidak dapat diulang dan serba tidak pasti. Oleh karena itu dalam setiap perjalanannya, Rama Surya selalu siap membawa perlengkapan fotografi berikut aksesorisnya yang ia simpan ke dalam sebuah tas. Itulah yang membuat Rama Surya begitu total dalam menjalankan profesinya sebagai seorang fotografer. Ia berprinsip bahwa setiap hari kita musti mengasah mata kita dan merekam dengan cepat kejadian-kejadian yang tidak pernah sama.

June 30, 2011

Artikel Singkat & Foto Liputan Program Photo Rendezvous #6 @ Gedung Indonesia Menggugat (Kamis 30 Juni 2011)

SANG VISIONER VISUAL

Tulisan oleh Galih Sedayu
Foto oleh Ivan Fachrurezha

Program Photo Rendezvous kembali dihadirkan oleh APC Institute di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) pada hari kamis tanggal 30 Juni 2011. Photo Rendezvous kali keenam ini digelar berbarengan dengan Pameran Foto “Aku Melihat Indonesia” yang berisikan tentang foto-foto dokumenter salah seorang pemimpin Bangsa Indonesia, Bung Karno. Photo Rendezvous yang merupakan program edukasi fotografi bagi masyarakat umum ini mendatangkan dua orang pembicara yaitu Diah Pitaloka & Yurri Erfansyah. Diah Pitaloka merupakan kurator sekaligus ketua panitia penyelenggara Pameran Foto Bung Karno yang digelar dari tanggal 24 Juni 2011 s/d 30 Juni 2011 di GIM dalam rangka memperingati bulan Bung Karno. Sedangkan Yurri Erfansyah adalah seorang jurnalis atau wartawan foto yang saat ini bekerja di media online, “Bandungnewsphoto”.

Secara umum Diah Pitaloka telah mengkurasi foto-foto tentang Bung Karno yang jumlahnya sangat banyak sehingga terpilih 101 buah foto untuk dipamerkan. Foto-foto ini ada yang didapatnya dari IPPHOS, Koleksi DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, Keluarga Megawati Soekarno Putri, maupun orang-orang yang menyumbangkan album foto tentang Bung Karno secara Sukarela. Hanya saja pada saat proses pemilihan foto tersebut, beberapa diantaranya telah rusak sehingga sulit direstorasi. Diah pun akhirnya mau tidak mau membaca buku-buku, literatur & sejarah perjalanan tentang Bung Karno agar pemilihan foto tersebut berkaitan dengan realitas sejarah yang telah ditulis. Faktor momentum menjadi salah satu kunci bagi Diah dalam memilih gambar-gambar tersebut.

Akhirnya foto-foto yang dipamerkan pun sangat beragam. Di sana banyak terlihat foto-foto Bung Karno yang bersanding dengan para tokoh dunia seperti Fidel Castro, Che Guevara & Mao-Tse Tung. Selain itu ada pula foto Bung Karno yang terlihat akrab dengan masyarakat kecil. Ada cerita yang menarik yaitu foto Bung Karno yang tengah menyalami Jenderal Sudirman. Menurut yang Diah baca dari berbagai sumber, banyak yang menyebutkan bahwa pada saat itu Bung Karno meminta adegan ia bersalaman dengan Jenderal Sudirman tersebut diulang. Mungkin Bung Karno merasa bahwa foto yang diambil sebelumnya kurang sempurna di mata beliau. Jadi pada intinya adalah Bung Karno sangat memperhatikan hal-hal kecil termasuk yang menyangkut citra visual tentang dirinya. Karena Ia sadar benar bahwa citra visual itu (foto) nantinya akan sangat berharga dan menjadi sejarah yang tak terlupakan di kemudian hari. Cerita ini tentunya mengingatkan kita pada karya foto Joe Rosenthal yang dibuat tahun 1945, yaitu foto para serdadu Amerika yang tengah mengibarkan bendera AS di bukit surobachi. Menurut sejarah, adegan foto inipun sebenarnya diulang agar kelihatan lebih heroik dan sempurna.

Yurri Erfansyah berbicara tentang konteks foto dokumenter jaman dahulu dibandingkan dengan masa kini. Yurri berpendapat seharusnya di era sekarang ini, para fotografer semakin dituntut untuk menciptakan karya-karya foto yang semakin berkualitas dibandingkan dengan jaman dahulu yang sarat dengan keterbatasan teknologi. Selain itu Yurri menampilkan beberapa karya foto dokumenter yang ia buat dari mulai demo, ariel peter pan, gubernur jabar sampai foto bencana.

Pada intinya, saat ini mesti dibangun kesadaran bersama untuk menyelamatkan karya-karya foto masa lalu terutama yang erat kaitannya dengan sejarah bangsa kita. Karena banyak sekali karya foto tentang bangsa kita yang disimpan secara apik & teratur oleh bangsa lain, bukan oleh bangsa kita. Tentunya juga perlu dibarengi dengan mengarsipkan karya foto masa kini sebagai kajian sejarah untuk masa yang akan datang. Hingga akhirnya bangsa kita memiliki “identitas visual” agar Bangsa Indonesia selalu tercatat di dalam sejarah peradaban dunia.

June 28, 2011

Artikel Singkat & Liputan Foto Program Nasakom bersama Kolam Bandung @ Cawan Photo Space (24 juni 2011)

Tulisan oleh Bellanissa B. Zoditama
Foto oleh Ivan Fachrurezha

APC Institute bekerja sama dengan Komunitas Lensa Manual Bandung atau KOLAM Bandung mengadakan sebuah program reguler yang bertajuk NASAKOM (Narsis dan Aksi Komunitas foto) yang diadakan pada hari Jumat, 24 Juni 2011 bertempat di Cawan Photo Space, Surapati Core blok M32. KOLAM sendiri adalah sebuah wadah komunikasi para penggemar fotografi digital dan analog yang menggunakan lensa-lensa manual.

Pada acara yang dimulai pada pukul 19.30 WIB ini, para anggota KOLAM Bandung yang diwakili oleh salah satu anggotanya yaitu Ujang Hidayat atau yang dikenal dengan sebutan Ujang Bedog, bercerita tentang sejarah berdirinya KOLAM. Komunitas Lensa Manual terbentuk dari beberapa orang penggemar kamera manual. Awalnya orang-orang ini hanya mengoleksi lensa manual, saling berbagi informasi dan jual beli lensa. Komunitas ini sudah berdiri selama satu tahun, dan memiliki harapan tersendiri bahwa setiap orang dapat memakai lensa apapun dan dapat memanfaatkannya dengan baik. Jadi tidak sekedar melihat berdasarkan merek. Menurut Ujang Bedog yang mahir mengutak-atik lensa manual, lensa Nikon bisa dipasang pada kamera Fuji, lensa Leica bisa dipakai kamera Canon, bahkan tak jarang komponen tak terpakai dari berbagai lensa dapat “dikanibal” menjadi lensa baru. Dulunya, Komunitas Lensa Manual Bandung sempat menamakan diri Budak Baong Bandung atau Anak Nakal Bandung. Hanya saja karna dikuatirkan nama tersebut memiliki tafsir yang negatif akhirnya diganti menjadi KOLAM Bandung. Ujang Bedog turut andil membentuk komunitas ini dengan merangkul para pembeli lensa manual di warung fotonya di Jalan Terusan Pasirkoja, Bandung.

Pada akhirnya, tujuan dibentuknya komunitas lensa manual ini yaitu mengajak orang-orang belajar tentang esensi dasar ilmu fotografi dengan penggunaan lensa manual. Sehingga mampu melatih rasa ketika memotret dan bukan menyerahkannya kepada teknologi atau kecanggihan alat semata. Ke depan harapan dari KOLAM Bandung sendiri adalah mereka ingin terus melakukan kegiatan memotret dan membuat sebuah pameran foto.

June 27, 2011

Artikel Singkat & Liputan Foto Program Business & Management Workshop of Photography (BMW) @ Cawan Photo Space (25 Juni 2011)

Tulisan oleh Bellanissa B. Zoditama

Pada  hari Sabtu tanggal 25 Juni 2011, APC Institute mengadakan sebuah progam dengan nama Business and Management Workshop of Photography atau disingkat dengan BMW. Acara ini bertujuan untuk memberikan wacana serta harapan baru kepada peserta workshop agar dapat menerapkan berbagai metoda, menyerap pengalaman & mengembangkan wawasan yang disampaikan oleh para pembicara ke dalam sebuah bisnis usaha fotografi yang baru atau telah dimulai. Peserta workshop yang hadir berasal dari berbagai kalangan diantaranya Firdaus Herlambang (pengusaha distro), Dedy Eka Saputra (freelance fotografer yang tinggal di lampung), Rani Fikria Hanifah (mahasiswi STISI), Reka Anisa Mulyaningsih (pengusaha bidang IT), Wahyu Loekito (mahasiswa IMTelkom), Rizki Rachmat (mahasiswa), Reza Prasetya (mahasiswa lulusan Itenas), Ivan Fachrurezha (mahasiswa IMT Telkom) & Wahyu Prasetya (mahasiswa IMTelkom). Dalam workshop ini menghadirkan dua pembicara sekaligus yaitu Galih Sedayu, selaku pemilik dari APC Institute, dan juga Hendrikus Ardianto, selaku pemilik Papyrus Photo. Acara yang berlangsung selama 6 jam ini mulai dari pukul 10.00 WIB hingga 15.00 WIB dan dibagi menjadi beberapa sesi. Sesi pertama yaitu pemberian materi bisnis & manajemen fotografi alternative oleh Galih Sedayu serta pemberian materi bisnis & manajemen fotografi ritel oleh Hendrikus Ardianto. Kemudian dilanjutkan dengan simulasi pembuatan business plan, presentasi, evaluasi, dan tanya jawab.

Business and Management Workshop of Photography ini menjelaskan tentang dasar-dasar bisnis dan manajemen yang terkait dengan dunia fotografi. Ada beberapa bidang yang terkait dengan bisnis foto yaitu wedding photography, commercial photography, documentation photography, stock photography, digital photography, courses of photography, dll. Menurut Galih Sedayu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memulai bisnis. Di antaranya adalah mempersiapkan sebuah business plan, merancang marketing strategy. Setelah itu lakukan prinsip seperti moto perusahaan sepatu Nike, just do it. Dan jangan takut untuk membuat kesalahan, karna hidup dengan melakukan kesalahan lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa. Dan terakhir, diperlukan kesadaran manajemen dalam mengelola bisnis tersebut agar berjalan dengan baik.

Pada sesi terakhir dalam acara workshop ini, para peserta dibagi kedalam beberapa kelompok. Selama 45 menit, masing-masing kelompok diberikan waktu untuk membuat sebuah business plan tentang usaha foto mereka. Setelah waktu berdiskusi selesai, mereka pun segera memberikan presentasi tentang hasil business plan mereka di depan para pembicara dan para kelompok lainnya. Hasilnya cukup menarik. Ada kelompok yang mempresentasikan tentang bisnis fotografi khusus yang mendokumentasikan momen keluarga, bisnis restoran yang membawa konsep fotografi di dalamnya, serta bisnis studio foto khusus fashion dengan tema konseptual. Semua business plan yang dipaparkan oleh masing-masing kelompok sangatlah menarik, namun harus membutuhkan realisasi yang nyata untuk mencapainya. Dan mengutip pembicaraan dari Hendrikus Andrianto bila ingin berbisnis harus memikirkan tiga cara yaitu, Berani Mencoba, Berani Bersaing, dan Berani Gagal.

(c) apc institute – 2011

June 11, 2011

Artikel & Foto Liputan Program Fashion On Stage Photo Competition 2011

Tulisan oleh Bellanissa B. Zoditama
Foto oleh Ruli Suryono

Pada hari Sabtu, tanggal 11 Juni 2011 bertempat di Graha Mandala Siliwangi Bandung dan bertepatan dengan acara “Pameran Komputer Indonesia” yang bertajuk ”Gelegar Pesta Komputer”, Canon dan Chip Foto Video Digital (CFVD) bekerjasama dengan APC institute dan Dyandra menyelenggarakan sebuah lomba fotografi yang diberi nama “Fashion On Stage Competition 2011”. Acara ini sudah berlangsung setiap tahun, dan ini.adalah kali keenam acara ini diselenggarakan.

Jumlah peserta yang mengikuti kompetisi foto ini sebanyak 190 orang. Diantaranya ada peserta yang langsung datang dari Negara Malaysia. Selain itu ada juga peserta yang berasal dari Bali, Lampung, Jakarta, Sumedang dan tentunya peserta dari Kota Bandung yang paling mendominasi acara ini. Acara ini sangat diminati oleh para fotografer amatir maupun profesional. Terbukti dengan membludaknya jumlah peserta yang mendaftar via on the spot yang sangat antusias untuk mengikuti lomba ini, meskipun dari pihak panitia sudah membatasi jumlah peserta. Bahkan saat stand pendaftaran sudah ditutup pun, orang-orang yang ingin mendaftar terus berdatangan.

Hal ini tidak terlepas dari hadiah dari lomba ini, dengan total hadiah sebesar Rp 20.000.000,00. Juara pertama sendiri mendapatkan sebuah kamera DSLR Canon EOS 60D Body. Tidak heran antusiasme dari peserta begitu tinggi, karena dengan biaya pendaftaran ‘hanya’ sebesar Rp 35.000,00 mereka mendapatkan total hadiah yang begitu fantasis bila berhasil memenangkan lomba.

Tidak hanya lomba fotografi saja, pada acara ini juga diadakan sebuah doorprize dari Kingston dan juga Canon untuk para peserta dan penonton yang berhasil menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh MC. Dalam lomba fotografi Fashion On Stage Competition 2011 ini sendiri dibagi menjadi empat sesi dimana dua sesi untuk peserta bernomor genap, dan sesi lainnya untuk peserta bernomor ganjil.

Selain lomba fotografi, acara ini juga diselingi dengan sebuah seminar yang bernama ‘Mata Hawa’ dimana pembicaranya adalah seorang fotografer perempuan yang bernama Utami Dewi Godjali salah seorang pendiri wedding fotografi yang bernama Empat Pijar. Dalam acara ini, Teh Memi, begitu nama panggilannya membagi pengalaman dan ceritanya tentang bagaimana seni fotografi itu tidak hanya memotret sebuah subjek benda hidup, namun juga objek-objek benda mati yang kita sendiri jarang melihatnya menjadi sesuatu yang menarik untuk difoto. Dalam setiap hasil foto yang dia potret, dia selalu bermain dengan komposisi dasar warna, dengan warna-warna cerah dan juga objek yang tidak terduga hingga memiliki filosofi hidup tersendiri.

Acara ‘Mata Hawa’ sendiri berlangsung selama satu jam, dan kemudian dilanjutkan dengan pengumuman juara Lomba Fotografi Fashion On Stage Photo Competition 2011. Dalam lomba ini terdiri dari 3 dewan juri yang berasal dari berbagai profesi, yaitu Kama Adritya (CFVD Jakarta), Dudi Sugandi (Redaktur Foto Pikiran Rakyat), dan Krisna Satmoko ( Profesional Fotografer). Sebelum diumumkan nama-nama para pemenang, terlebih dahulu MC, Teh Rima, membacakan 10 besar peserta yang mempunyai hasil jepretan foto terbaik, yang terdiri dari 9 orang laki-laki dan 1 orang perempuan. Dan setelah menunggu beberapa menit, pengumuman juara pun diumumkan, dan yang berhasil mendapatkan juara I yaitu Aditya Wibawa.

Pada acara ini saya juga sempat bertanya kepada dua orang peserta lomba fotografi “Fashion On Stage Photo Competition 2011”yang bernama Arya dan Mariska terkait dengan acara ini, berikut penuturan mereka:

Arya (mahasiswa Institut Manajemen Telkom, angkatan 2008)

Arya adalah seorang mahasiswa Institut Manajemen Telkom angkatan 2008, dan lomba fotografi ini merupakan debut pertamanya menjadi peserta dalam sebuah acara besar. Arya sendiri sudah mendalami dunia fotografi sejak setahun yang lalu dan bergabung dalam sebuah komunitas fotografi di kampusnya yang bernama Capture.

Mariska (asal Bandung)

Mariska mengetahui acara ini karena dia tergabung dalam komunitas Canon Indonesia. Menurutnya, kekurangan acara ini adalah panggung yang terlalu kecil dan sempit yang tidak sebanding dengan jumlah peserta, sehingga susah untuk bergerak mencari angle yang bagus.

Demikian hasil liputan Fashion On Stage Photo Competition 2011 kali ini. Sampai jumpa di program selanjutnya. Ayo terus berkarya!!

(c) apc institute – 2011

May 30, 2011

Catatan Singkat & Liputan “Photo Rendezvous” ke-3 : Bedah Buku Fotografi 64 bersama Goenadi Haryanto @ Cawan Photo Space

Tulisan oleh Levana Lelev (Mahasiswi Unisba)

Fotografi oleh Ivan Fachrurezha (Mahasiswa IMTelkom)

Pada hari Selasa tanggal 15 Maret 2011, APC Institute telah menyelenggarakan programPhoto Rendezvous yang ke-3 dengan tema “Bedah buku Fotografi 64” yang menghadirkan Bapak Goenadi Haryanto sebagai penulis & pembuat buku tersebut. Pak Gun (sebutan akrab beliau), merupakan seorang arsitek & fotografer yang sudah tidak asing lagi namanya dan menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Beliau telah memberikan banyak sumbangsih bagi kemajuan dunia fotografi, salah satu bentuk dedikasinya tertuang dalam sebuah karya buku yang berjudul “Buku Fotografi 64”. Dimana ada slogan yang menarik di dalam buku tersebut yaitu “Jika engkau memotret, maka engkau adalah kawanku”.

Hujan deras yang mengguyur kota bandung pada waktu sore itu, tidak menurunkan semangat para pecinta fotografi dalam diskusi bedah buku kali ini. Antusiasme para partisipan yang begitu besar untuk dapat berbagi pengetahuan bersama menjadikan kehangatan tersendiri pada ruang kreatif Cawan Photo Space.

Buku ini memang mempunyai keunikan tersendiri yakni selain judul yang berupa angka “64” menjadi sebuah tanda tanya besar bagi para partisipan untuk mengetahui “ada apa dibalik angka 64?”, bagaimana proses dibalik pembuatan buku tersebut ?”, bagaimana proses pemotretan berbagai foto di dalam buku tersebut dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya.

Pembicaraan hangat dimoderatori oleh Kang Galih Sedayu yang mengupas berbagai cerita dibalik pembuatan buku tersebut. Dalam pembicaraan tersebut, beliau mengatakan bahwa buku ini ditulis sebagai suatu ungkapan syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan berbagai kesempatan dan talenta fotografi kepadanya. Sehingga di dalam berbagai kegiatan, beliau “berjumpa” dengan Allah, untuk mengasihi ciptaan – Nya yang tak terbatas itu. Barbagai pengalaman rohani itu beliau sampaikan kepada teman – teman yang mempunyai minat dan kerinduan yang sama. Karena itulah slogan yang beliau pilih adalah “ Jika engkau memotret, engkau adalah kawanku. Menurut beliau, angka 64 menjadi penting karena pertama, buku ini diterbitkan pada hari ulang tahunnya yang ke 64. Kedua, Ada kelompok fotografi di Amerika yang menamai kumpulannya sebagai f:64, yaitu bukaan diagfragma terkecil pada lensa format besar. Ketiga, Pola mengajar yang beliau gunakan dalam kelas fotografi dasar, menggunakan kerangka 6 langkah untuk sukses membuat foto dan 4 sifat dasar cahaya. Keempat, beliau adalah salah satu penggemar The Beatles, tentu lirik lagu “When I am Sixty four” turut berperan sebagai inspirator judul. Kelima, Format pasfoto paspor adalah 4×6 cm, 1946 adalah tahun kelahiran beliau. Jadi pas-lah sudah, apa yang menjadi angka 64 sebagai pilihan.

Setelah presentasi selesai, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Ada sebuah pertanyaan yang menarik, yakni pertanyaan yang justru dikeluarkan oleh Pak Gun kepada para partisipan yang hadir. Pak Gun bertanya, “Mari kita Pikirkan, sesudah kita memotret, apa yang kita lakukan setelah itu?”. Berbagai jawaban yang muncul dari para partisipan diantaranya, untuk keperluan sharing, untuk keperluan komersial, sebagai bahan ilustrasi, sebagai materi pameran, hingga terdapat jawaban untuk ditimbun kata mereka. Hal ini menjadi sebuah dilema tersendiri bagi sebagian fotografer. Menurut pak Gun, hal tersebut tidak lah salah namun alangkah lebih baik apabila kita dapat membuat sebuah Buku Fotografi. Karena hal ini akan menjadi sesuatu yang unik dan berharga dimana kita dapat berbagi pengetahuan dan dapat membangun serta membangkitkan semangat fotografi sepanjang masa melalui sebuah buku.

Pak Gun pun mengutarakan berbagai cerita menarik dalam proses pembuatan buku tersebut. Diantaranya kendala dari pembuatan buku tersebut, yaitu keterbatasannya sebagai manusia, seperti keterlibatan fisik, emosi dan pikiran yang tentunya sangat melelahkan. Apalagi pada saat proses pembuatan buku tersebut, Pak Gun sempat mendapat serangan jantung hingga mengharuskan ia menkonsumsi obat setiap hari. Ketika itu beliau sempat berpesan kepada anaknya, bila terjadi sesuatu yang menimpanya karena penyakit jantung, sang anak harus tetap menyelesaikan buku tersebut. Namun setiap kendala tersebut pada akhirnya dapat diselesaikan. Baginya semua seperti air yang mengalir dan semua dapat diselesaikan karena kehendak Sang Pencipta dan rekan – rekan yang telah memberikan kontribusi yang sangat besar hingga buku tersebut dapat direalisasikan.

Acara bedah buku yang dimulai sejak pukul 15.00 wib tersebut akhirnya berakhir pada pukul 18.00 wib, lebih lama dari waktu yang seharusnya yaitu pukul 17.00 wib. Acara ini diakhiri dengan foto bersama yang menambah kehangatan sore itu. Terimakasih kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berpartisipasi dalam Program Photo Rendezvous. Sampai jumpa di program yang berikutnya.

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)